Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 23


__ADS_3

Aryana menerima buket bunga tersebut dengan kebingungan, sedangkan semua orang yang ada di meja yang sama dengan Aryana juga terbengong heran kecuali dua kakak kembarnya dan sang bunda, tiga orang tersebut tahu siapa yang memberi buket bunga tersebut.


"Wah-wah sepertinya putrimu punya pengagum rahasia," seloroh Raka memecah keheningan.


"Ana!, apa ada seorang laki-laki yang menyukaimu?" tanya sang ayah menyidik.


"Tidak," jawab Aryana singkat meski harus membohongi ayahnya, ia belum siap memberitahu siapa pria yang menyukainya.


"Sepertinya aku harus waspada, putriku yang masih belia sudah ada yang naksir, Ana siapapun laki-laki yang berani menyukaimu suruh dia menemui ayah, kalau tidak jangan harap dia bisa mendekatimu!" titah sang ayah membuat Afwa dan sang bunda saling pandang.


"Wah, kak Aryana beruntung banget di sukai laki-laki yang romantis, so sweet deh, itu ost drakor kesukaan aku, cowoknya tajir, cakep pisan euy," seloroh Kiara dengan gaya centilnya sambil membayangkan aktor korea kesukaannya.


Hampir semua orang berkomentar tentang kejadian yang barusan terjadi, namun yang menjadi topik hanya diam saja, Aryana masih merasa syok dengan keberanian om Fahmi menunjukkan perasaan cinta padanya di depan semua orang meski orang-orang itu tidak mengetahui siapa pria misterius itu selain kakak kembar Aryana dan Yasmin.


Setelah kehebohan kejutan yang diberikan pria misterius, keadaan kembali kondusif. Raka kemudian berpamitan agar Yudha dan keluarganya bisa segera beristirahatlah sejenak karena selepas ashar Yudha dan keluarganya harus segera kembali ke kotanya.


"Yud, kami sangat berterima kasih atas kunjungan mu ke sini, kalau aku punya waktu kami yang ganti akan mengunjungimu. Sekarang kami pamit pulang dulu sekali lagi terima kasih atas undangan makan siangnya dan sepertinya kamu harus waspada putri cantikmu sudah ada yang mengincar," ucap Raka berpamitan pada Yudha dengan disertai candaan.


"Sama-sama, kita sahabat sudah selayaknya selalu menjalin keharmonisan, dan untuk saranmu yang terakhir, aku pasti akan selalu waspada," ucap Yudha sambil nenepuk bahu sahabatnya kemudian diakhiri dengan pelukan persahabatan ala mereka.


Keluarga Raka menyalami satu persatu keluarga Yudha, Yasmin dan Dinda cipika cipiki dan berpelukan seolah engan berpisah.


"Dinda, kalau liburan mainlah ke rumah, aku merindukan kalian," ucap Yasmin setelah mengurai pelukannya.


"Iya, Yas, Insyaallah, nanti kalau anak-anak libur sekolah dan nggak banyak kegiatan di persit aku akan main ke rumah sekalian pulang kampung," ucap Dinda.


Pada saat giliran Kirana berpamitan dengan Afwa, Kirana mengajak Afwa menjauh sedikit dari orang tua mereka lalu Kirana menyerahkan sebuah paper bag pada Afka.


"Kak, ini ada sedikit buah tangan dariku, semoga berkenan di hati kakak, maaf aku nggak bisa kasih kakak barang yang mahal," ucap Kirana malu-malu membuat Afwa makin gemas melihat teman semasa kecilnya ini, andai tak ada anggota keluarga yang lain ia ingin sekali memeluk dan mendaratkan ciuman di kening gadis di depannya ini.


"Terima kasih, kamu sudah mau repot-repot memberiku buah tangan, apapun yang kau beri aku akan sangat menghargainya, aku tak perduli dengan harganya namun perasaan orang yang memberikannya, bahkan gelang coupel kita dulu hanya seharga sepuluh ribu saja tapi bagiku nilai gelang itu lebih dari ratusan milyar," ucap Afwa membuat Kiran merasa tersanjung, dan tak terasa sebulir bening keluar dari sudut matanya.


Melihat Kirana menutikkan air mata, secara reflek Afwa langsung merengkuh tubuh gadis cantik di depannya ini ke dalam pelukannya.


"Jangan menangis, aku hanya mau pulang ke rumah dan balik ke asrama, bukan pergi untuk tugas perang," ucap Afwa sambil memeluk Kirana.

__ADS_1


Tanpa Afwa dan Kirana sadari banyak pasang mata yang menyaksikan drama pamitan mereka dengan pandangan yang sulit diartikan, saat Afwa memeluk Kirana tadi Afwi langsung menutup mata Azka dan Aryana menutup mata Kiara, adegan barusan tidak baik untuk kesehatan anak-anak dibawah umur namun Azka dan Kiara yang matanya di tutup justru merasa kesal.


"Mbak Aryana kenapa sih tutup mata aku, lagi enak-enak lihat drakor secara live malah diganggu!" ucap Kiara kesal.


"Kak Afwa resek ah pakai nutup mata aku segala, aku kan sudah besar!" ucap Azka juga kesal dengan tindakan sang kakak yang tiba-tiba menutup matanya.


Sedangkan para orang tua hanya geleng-geleng kepala, namu dalam hati mereka sudah menyiapkan banyak pertanyaan untuk anak mereka masing-masing.


"Wah-wah anak lu kenapa nurunin hal yang nggak bener dari lu Yud, main peluk anak gadis gue, aja belum halal juga, dulu gue aja sebelum ijab qobul paling banter cuma pegang tangan emaknya si Kiran, dasar anak jaman sekarang!" umpat Raka.


"Ya sorry Ka, ntar gue bilangin si Afwa, kalau perlu lulus SMA mereka langsung tunangan," ucap Yudha.


"Kalau gue sih setuju aja, tapi belum tentu Dinda setuju, soalnya Afwa kan bercita-cita jadi tentara sedangkan Dinda nggak mau anak-anaknya punya suami tentara," ucap Raka.


"Kenapa Dinda nggak setuju anak gadisnya menikah dengan tentara?" tanya Yudha heran.


"Dinda nggak mau anak-anak kami menanggung beban rindu dan tanggung jawab yang besar seperti dirinya, melewati semua moment penting dalan hidupnya dan anak-anaknya tanpa kehadiran seorang suami," ucap Raka yang terdengar agak sendu.


"Aku mengerti perasaan Dinda, dia bahkan sudah hampir menyerah di ruang HCU saat melahirkan Kirana, kalau bukan dokter Fahmi yang berusaha memotivasi istrimu di alam bawah sadarnya saat berusha mengembalikan detak jantung Dinda, maka ia tak akan di sisimu sekarang, kita serahkan semua pada takdir Allah," ucap Yudha sambil matanya menerawang seolah kilasan masa lalu kelahiran anak sahabatnya yang penuh drama.


"Sudah jangan nangis lagi nanti jelek lho, kita kan masih bisa kirim kabar lewat hp, yang penting jaga ini selalu untukku karena aku selalu menjaga ini untukmu," ucap Afwa samil menunjuk dada Kirana dan dadanya sendiri.


"Iya Kak, aku selalu menunggumu," ucap Kirana lalu berusaha tersenyum di depan Afwa.


"Nah gitu dong baru itu gadisku, yuk kita gabung dengan yang lain, om Raka dan tante Dinda pasti sudah menunggumu!" ajak Afwa lalu mengandeng tangan Kirana menuju ke tempat keluarganya tadi menunggu.


Sampai di tempat orang tua mereka tadi menunggu, Afwa melepaskan gandengan tangannya pada Kirana. Sedangkan semua orang yang ada di situ bersikap pura-pura tidak tahu atas drama pamitan Afwa dan Kirana.


"Yud, kami pulang dulu, hati-hati semoga selamat sampai tujuan," ucap Raka kemudian mengajak anak dan istrinya segera meninggalkan hotel Dewantara.


Setelah kepulangan Raka dan keluarganya, Yudha menatap tajam Afwa, mendapat tatapan mengerikan dari sang ayah membuat Afwa tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, mentalnya harus kuat sekarang.


"Segera kemasi barang kalian jangan ada yabg sampai tertinggal dua puluh menit lagi!" titah sang ayah membuat anak-anaknya terkejut karena ini belum masuk waktu shalat ashar


"Apa!, sekarang Yah bukannya masih nanti bada ashar?" ucap Afwi sedikit protes.

__ADS_1


"Ayah ada urusan mendadak ke Kodam bersama Pangdam, makanya cepat kalian berkemas, sebentar lagi Revanda akan menjemput kita!" perintah sang ayah tegas.


Mendengar perintah sang ayah, keempat anaknya segera bergegas ke kamar masing-masing mengerutu dengan sikap sang ayah.


"Tahu begini nggak usah liburan bareng ayah saja!" gerutu Aryana.


"Iya disaat happy-happy malah ijin," gerutu Afwi.


"Kalau begini rasanya liburan rasa perang!" gerutu Afwa


"Ayah nggak asyik," ucap Azka menimpali dengan mencebikkan bibirnya.


Sedangkan Yasmin berusaha menenangkan sang suami yang masih mode dongkol dengan Afwa.


"Mas, sudahlah, nanti kita bisa bicara baik-baik dengan Afwa!" pinta Yasmin.


"Aku agak malu dengan Raka, Bund," ucap Yudha.


"Iya tapi nggak harus anak kita yang lain mena imbasnya, disuruh siap-siap dua puluh menit dari sekarang, menghadap pangdam kan masih besok, siang bada dzuhur kan, kenapa minta anak-anak pulang sekarang?" tanya Yasmin.


"Maaf aku harus melakukan ini," ucap Yudha lalu bergegas pergi ke kamarnya meninggalkan Yasmin dibelakangnya. Melihat tingkah suaminya Yasmin cuma bisa mengelus dada sambil berigstifar dalam hati.


"Astagfirullah hal adzim, ya Allah Gusti paringono pangapura, paringano sabar ya Allah. (Ya Gusti Allah berilah hamba pengampunan berilah hamba kesabaran ya Allah)," ucap Yasmin sambil mengelus dadanya kemudian menyusul suaminya ke kamar hotel.


Di tempat lain, disebuah jet pribadi, Fahmi memandang ke luar jendela pesat dengan sendu. Sebentar lagi jet pribadinya lepas landas, meninggalkan negara dimana ia meninggalkan separuh jiwanyan di sini. Selaku berharap dan berdoa bahwa sang belahan jiwa akan selalu sehat dan baik-baik saja. Meski ia sudah menempatkan pengawal terbaik untuk melindungi belahan jiwanya secara diam-diam dan melaporkan apa saja yang terjadi pada pujaan hatinya namun ia tetap saja merasa khawatir.


"Sampai kapanpun aku akan mencintaimu, dan tak akan pernah melepasmu, aku akan memperjuangkan cinta ini meski ayahmu dan satu bataliyon menghajarku sekalipun," ucap Fahmi dalam hati.


__________________________________________


Sabar ya dokter Fahmi, author ingin melihat perjuanganmu untuk gadis kecil kesaayanganmu.


Please, Like, Vote, Coment, Rate and Favorit


Thank You

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2