
Nayla kembali merasa canggung ketika keluarga dari sang kekasih kembali masuk ke dalam ruang rawat inap Afwi.
"Ehkhm... sudah sembuh kangennya?" ucap Yudha menyindir putra keduanya.
"Ayah apaan sih?" ucap Afwi merasa malu di goda seperti itu oleh ayahnya.
"Makannya cepatlah sembuh, *ojo aleman mengko ra ndang mari-mari, bisa-bisa nikahnya di undur tahun depan!" ucap Yudha masih senang menggoda anaknya, apalagi dengan menggunakan bahasa jawa dan hanya Fahmi tak di mengerti dengan maksud bahasa jawa itu.
"Ayah, siapa yang aleman, apa ayah pikir aku senang sakit begini?" kesal Afwi pada ayahnya.
Yasmin yang melihat kelakuan suami dan anak lelakinya segera menengahi agar tak sampai panjang.
"Ayah, sudahlah jangan goda Afwi terus ah, anak baru sakit juga!" tegur Yasmin membuat Aryana dan Afwi terkekeh.
Di tengah perbincangan hangat keluarga, dokter yang menangani Afwi melakukan visit pasien, saat masuk ke ruang rawat inap Afwi dokter tersebut menunduk hormat pada Fahmi dan keluarganya.
"Selamat siang, dokter Fahmi, Tuan Yudha!" sapa dokter tersebut di ikuti satu orang perawat.
"Siang, Dokter!" balas Fahmi dan Mr. Yudha.
"Selamat siang juga Mr. Afwi!, bagaimana kabarmu hari ini, ada keluhan?" tanya dokter tersebut.
"Siang juga dokter, kabar saya baik, hanya di bagian perut samping masih nyeri," jawab Afwi jujur, karena luka yang cukup dalam maka penyembuhannya juga akan memakan waktu lama.
Dokter tersebut kemudian memeriksa keadaan Afwi di bantu perawat untuk mengukur tekanan darah Afwi dan mencatat tentang kondisi Afwi.
"Hal itu wajar Mr. Afwi, karena luka anda cukup dalam sampai anda harus koma beberapa hari," ucap sang dokter.
"Kira-kira berapa lama akan pulih seperti semula?" tanya Afwi dengan muka yang ditekuk
"Kurang lebih tiga bulan, tapi itupun tergantung kondisi fisik pasien dan pengobatan selama pemulihan," jawab dokter tersebut.
"Lalu kapan saya boleh pulang dan kembali ke Indonesia?"
"Satu minggu lagi, anda boleh pulang dan kembali ke Indonesia."
"Lama sekali, apa tidak bisa satu atau dua hari lagi?" tawar Afwi karena terkejut mendengar jawaban sang dokter.
"Ehm..., kita lihat saja nanti perkembangannya ya, jika keadaan anda membaik lebih cepat, anda bisa pulang dari rumah sakit kurang dari satu minggu."
__ADS_1
Afwi melihat ke arah adik iparnya, berharap ia bisa pulang secepatnya, namun Fahmi yang di lihat kakak iparnya dengan sorot mata permohonan malah pura-pura tidak tahu.
Setelah memeriksa Afwi dan memberi arahan, dokter keluar dari ruang rawat inap dengan mengulas senyum pada ceo Pratama group dan keluarganya.
"Afwi kenapa kau tampak kesal setelah diperiksa dokter?" tanya Yasmin yang melihat perubahan raut muka putra keduanya yang di tekuk sempurna.
"Aku sedang kesal dengan dokter pedofil itu, dasar adik ipar tak ada akhlak!" jawab Afwi kesal.
"Siapa maksudmu, aku!" tunjuk Fahmi pada dirinya sendiri.
"Iyalah, siapa lagi? yang jadi adik iparku hanya kamu!" sungut Afwi.
"Heh, dasar kakak ipar tak tau terima kasih, kalau bukan karena aku meminta perawatan terbaik untukmu, kakak ipar akan lebih dari satu minggu di rumah sakit. Obat yang di berikan padamu ada yang harus di datangkan dari Amerika, dokter yang menanganimu adalah dokter senior ME yang sudah pengalaman, coba apa gajimu murni sebagai polisi cukup untuk membiayai pengobatanmu di rumah sakit se kelas ME ini!" kini giliran Fahmi yang bersungut, ceo Pratama group itu tak terima di tuduh tak mau membantu mempercepat kepulangan Afwi.
Afwi yang mendengar penjelasan adik iparnya merasa bersalah, ia sudah salah mengira pada Fahmi.
"Abang, harus minta maaf sama dokter Fahmi dia sudah sangat baik bantu abang untuk segera sembuh, ia juga mengizinkan aku tingga di rumahnya bersama ayah dan bundamu. Adik ipar abang ini juga menyiapkan transportasi untuk aku dan kedua orang tuamu selama di Singapura. Coba berapa biaya yang harus aku keluarkan kalau aku menginap di hotel?" ucap Nayla menasehati Afwi dan mengatakan apa saja kebaikan Fahmi yang sudah di lakukan untuk membantunya.
Fahmi tersenyum tipis, ketika mendengar Nayla menasehati kakak iparnya yang sepertinya sudah menemukan pawangnya.
"Maafkan aku adik ipar, aku tak tahu kalau pengorbananmu sebesar itu," ucap Afwi menyesal.
"Terima kasih, dokter Fahmi Arya Pratama, tak salah aku merestuimu dengan adikku, meski perbedaan usia kalian terlampau jauh tapi adikku sangat bahagia bersamamu," ucap Afwi sambil mengulas senyum tipis pada sikap adik iparnya yang berusia sangat matang.
"Tentu saja, kalau kami tak saling cinta mana mungkin kami bisa melalui jatuh bangun berkali-kali mempertahankan hubungan kami, dan sekarang kami sudah memiliki tiga malaikat kecil duplikatku dan Aryana juga bonus malaikat cantik penyelemat hidup Aryana," ucap Fahmi tersenyum banga pada kisah hidupnya yang unik.
"Afwi kami akan pulang dulu sebentar, dan Fahmi akan kembali ke kantor, dia sudah cukup lama mangkir dari pekerjaannya karena mengurusmu, sedangkan Nayla biar di sini saja menunggumu nanti selepas ashar biar Nayla pulang dan istirahat," ucap Yasmin memberi tahu rencananya.
"Tak apa, Bunda yang penting ada salah satu yang menemaniku di sini karena aku belum bisa ke kamar mandi sendiri," ucap Afwi.
"Halah...itu mah maunya kak Afwi aja, seneng tuh bund di temani sama ayang beb," seloroh Aryana yang langsung mendapat tatapan tajam dari sang kakak.
"Bener juga, lebih baik bunda pulang sama Nayla biar ayah yang jaga kamu," ucap Yasmin meralat permintaannya tadi, yang otomatis langsung membuat Afwi membulatkan matanya. Waktu ber manis-manis ria dengan sang kekasih terancam gagal total.
"Bund, kok rencananya berubah sih, biar Nay aja yang di sini, ayah dan bunda yang pulang dulu saja," protes Afwi membuat kedua orang tuanya terkekeh begitu juga Fahmi dan Aryana.
Nayla yang menjadi bagian dari pembicaraan tersebut merasa sangat malu karena sikap Afwi yang tak segan menunjukkan kebucinan pada dirinya.
Yudha segera menengahi tawar menawar antara istri dan anaknya itu.
__ADS_1
"Sudah-sudah biar Nay yang di sini, tapi cuma sampai ashar, malamnya biar ayah yang tunggu, kasihan Nayla kalau harus malam-malam jaga kamu. Lagi pula kalian belum menikah tak baik lama-lama berdua!" putus Yudha final.
Meski tak begitu sejtuju dengan putusan sang ayah, Afwi manut-manut saja, ia tak berani jika mantan anggota pasukan khusus yang berstatus ayahnya itu sudah memutuskan sesuatu. Bagi Afwi lumayan bisa berdua bersama Nayla meski cuma sebentar dari pada tidak sama sekali.
"Bunda, setuju dengan keputusan ayah, itu akan lebih aman untuk Nayla dan Afwi," ucap Yasmin sambil tersenyum, ia tahu pasti anak keduanyan itu kesal dengan ayahnya tapi tak bisa berbuat apa-apa.
"Makanya segeralah menikah kakak ipar, agar bisa aman sentosa jika sakit begini," sahut Fahmi dengan nada mengejek.
"Maunya juga begitu tapi kau lihat saja keadaanku seperti ini," ucap Afwi kesal.
Waktu semakin siang, sesuai rencana, Yudha, Yasmin dan Aryana kembali ke rumah, sedangkan Fahmi kembali ke kantor, karena semanjak ia ikut mengurusi kondisi Afwi banyak perkerjaannya yang tertunda, meskipun ada asisten kepercayaan dan sekretaris tapi banyak hal yang harus ia tangani sendiri dalam mengurus perusahaan sebesar Pratama group.
Kini di dalam kamar rawat inap tinggal Afwi dan Nayla. Sungguh hati Afwi sangat bahagia pada saat begini ada sang kekasih yang menemani.
"Bang, kenapa melihat, Nay sampai segitunya, apa ada yang salah dari wajahku?" tanya Nayla yang heran melihat Afwi memandanginya dengan intens.
"Ya, memang ada yang salah dari wajah kamu, yaitu wajah kamu selalu cantik, Dek" jawab Afwi yang terdengar mengombal.
"Ah, Abang bisa aja," ucap Nayla setelah itu ia tiba-tiba terdiam membuat Afwi sedikit heran.
"Dek, apa kok, tiba-tiba diam? apa ucapanku ada yang salah?"
"Tidak, Bang, tidak apa-apa, tapi...boleh aku tanya sesuatu sama Abang?"
"Tanya saja aku pasti akan jawab dengan jujur."
"Begini, Abang kan anak orang kaya dan pengusaha, kenapa tak memilih membantu Om Yudha di perusahaan? kenapa malah milih pekerjaan abdi negara ini?, resiko tinggi, gaji hanya standar pemerintah, apalagi sekarang ini institusi tempat abang kerja sedang di guncang beberapa masalah besar yang berakibat kepercayaan masyarakat berkurang cukup signifikan?" tanya Nayla.
Mendengar pertanyaan Nayla, Afwi menghela nafas panjang seakan ada sesuatu yang menyesakkan dadanya.
"Sebenarnya dulu abang ingin masuk Akmil bareng dengan kak Afwa, meskipun kita beda sekolah saat SMA. Kak Afwa di terima di SMA Taruna Nusantara Magelang, sedangkan aku dan Aryana sekolah di SMA Negeri favorit pertama di kota kami. Entah kenapa saat mau daftar Akmil pikiranku berubah ingin sekolah di Akpol saja. Sebenarnya ayah terlihat begitu keberatan karena aku dan kak Afwa malah memilih berkarir di dunia militer, namun bunda memberikan pengertian pada ayah sehingga aku dan kak Afwa tenang dalam meraih cita-cita kami. Kalau soal badai yang sedang menimpa instotusi abang, itu adalah sebuah proses menjadi sesuatu yang lebih baik. Semakin tinggi pohon angon yang menerpanya akan juga semakin besar. Soal gaji aku tak mempermasalahkannya, yang penting kita kerja jujur biar barokah. Allah tidak tidur, tak ada yang terlepas dari-Nya segala apa yang terjadi di langit dan di bumi, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Segala Sesuatu. Buktinya kasus yang sekarang terjadi menimpa institusi kami tak lepas dari kehendak Allah. Ini sudah takdir, Dek. Semoga dengan badai yang menimpa intitusi pemerintah dimana abang bekerja sekarang bisa menjadikan negara kita lebih aman, makmur yang baldatun thoyyibatun wa rabbun ghofur," ucap Afwi panjang lebar menjelaskan tentang profesi yang sudah dipilihnya.
*ojo aleman mengko ra ndang mari-mari: jangan manja nanti tidak sembuh-sembuh
__________________________________________
Aduh...meleleh hati adek bang, Ipda Afwi I love you full banyak-banyak, semoga harapan abang Afwi di kabulkan Allah, author bantu doa ya.
Please, Like, Vote, Komentar, Rate and Favorit
__ADS_1
Maaf baru up, Thank You