
Pagi menjelang, Fahmi dan Aryana sudah berpakaian rapi tinggal menunggu sarapan. Kali ini mereka akan sarapan di balkon kamar hotel yang mereka tempati. Tak lama kemudian pelayan mengantar pesanan makanan mereka, Fahmi benar-benar menikmati kebersamaannya pagi ini.
"Sayang, setelah ini kita langsung ke rumah orang tuaku, kita akan tinggal di sana dua hari dan setelah itu kita bulan madu ke Maldives," ucap Fahmi setelah menyelesaikan sarapannya.
Aryana yang masih menghabiskan sarapannya, langsung menghentikan aktivitas makannya.
"Kita akan ke rumah mami papi hari ini?" tanya Aryana memastikan.
"Iya, kenapa kau tampak terkejut?, itu kan hal yang wajar setelah menikah seorang istri menginap atau tinggal di rumah mertuanya," ucap Fahmi santai namun tidak dengan Aryana, rasa ragu menghampirinya, rumor menantu perempuan diperlakukan tidak baik oleh ibu mertua ada dalam pikirannya meski sekarang mami Miranda sudah menerimanya tapi tinggal satu atap dengan mertua membuatnya inscure pada dirinya sendiri.
"Tidak, tidak apa-apa," jawab Aryana singkat, ia tak ingin banyak bicara, sebisa mungkin ia menyembunyikan kegundahan hatinya.
Setelah menyelesaikan sarapan, Fahmi dan Aryana langsung meluncur ke rumah keluarga Pratama, setelah hampir dua jam akhirnya mereka sampai di rumah megah keluarga Pratama.
"Assalamualaikum," ucap Aryana dan Fahmi bersamaan.
"Waalaikumsalam," terdengar jawaban dari dalam.
"Eh Den Fahmi, ini istri Aden?" tanya bi Amah.
"Iya kenalkan ini istri saya Aryana," ucap Fahmi mengenalkan sang istri.
"Eleh-eleh cantik pisan atuh Den," puji bi Amah.
"Terima kasih bi pujiannya," ucap Aryana.
"Papi mami ada bi?" tanya Fahmi.
"Ada Den, mari masuk!, tuan tidak ke kantor, katanya mau nungguin menantunya datang," jawab bi Amah.
"Oh begitu, lalu dimana mereka, katanya mau menyambut malah nggak kelihatan," ucap Fahmi menggerutu.
"Tuan dan nyonya ada di taman belakang, Den," ucap bi Amah
Fahmi mengajak Aryana masuk lebih dalam ke rumah mewahnya hampir sama dengan rumah opa Dimas sedangkan rumahnya sendiri juga mewah tapi tak sebesar rumah opa Dimas dan rumah mertuanya. Fahmi mengajak Aryana ke taman belakang.
"Katanya mau menyambut tapi malah berduaan disini," ucap Fahmi setelah melihat papi dan maminya malah mengobrol di taman belakang.
Tuan dan nyonya Pratama langsung melihat ke asal suara, setelah tahu siapa pemilik suara yang sedang menggerutu itu, tuan dan nyonya Pratama menyunggingkan senyum bahagia.
"Kalian, kenapa mau datang tidak kasih kabar?" tanya mami Miranda sambil berjalan mendekat ke arah Fahmi dan Aryana.
"Kami ada urusan yang harus segera diselesaikan," jawab Fahmi.
"Memang urusan apa?" tanya papi.
"Ya urusan otw buatin cucu buat kalian lah, memang apa lagi," jawab Fahmi santai namun wajah Aryana sudah memerah karena malu suaminya membahas hal vulgar di depan mertuanya.
__ADS_1
"Maksudmu kamu buat cucu kita di rumah ini?" tanya papi Pratama.
"Bukan begitu, Pi, kita mau menginap disini dua hari setelah itu aku dan Aryana akan pergi bulan madu ke Maldives, nah buat cucu kalian itu di sana," jawab Fahmi yang membuat ia sukses mendapat cubitan dari istrinya.
"Kamu mesum banget sih Honey, malu tau di depan papi mami," ucap Aryana sambil berbisik di telinga Fahmi.
"Mesum sama istri sendiri nggak apa-apa dari pada mesum sama istri orang, lagian kalo suami nggak mesum debay nya nggak bakal jadi kan," ucap Fahmi malah tambah ngelantur.
"Sudah-sudah jangan buat istrimu tambah malu, ajak istrimu ke kamarmu membereskan barang-barang kalian setelah itu ajak Aryana ke ruang keluarga kita akan ngobrol-ngobrol di sana pinta mami Miranda.
"Baik, Mi, ayo sayang kita ke kamarku dulu untuk menaruh barang-barangmu!" ajak Fahmi.
"Pi, Mi, kita ke atas dulu ya!" pamit Aryana pada kedua mertuanya.
"Iya, sana masuklah ke kamar Fahmi, sudah lama ia tak menempatinya!" ucap mami Miranda.
Fahmi lalu mengajak Aryana ke lantai dua di mana kamarnya berada. Kamar yang sudah lama tidak ia tempati karena setelah lulus SMA Fahmi langsung kuliah kedokteran di Singapura dan sekaligus mengambil spesialis jantung di negeri singa itu, hanya sesekali ia pulang jika libur kuliah dan setelah berhasil menamatkan kuliah spesialisnya, ia langsung bekerja di rumah sakit Permata milik keluarganya dan setelah satu tahun bekerja di rumah sakitnya sendiri, Fahmi mendapat tawaran menjadi dokter di rumah sakit ME di Singapura, demi mengasah kemampuannya juga pengalamannya, Fahmi menerima tawaran di rumah sakit ME.
"Masuklah Sayang, ini kamarku!" pinta Fahmi
Aryana memasuki kamar sang suami yang cukup luas, ia mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan kamar sang suami. Cukup rapi dan bersih.
"Kamu suka sayang?" tanya Fahmi sambil memeluk Aryana dari belakang.
"Suka, cukup luas dan bersih, kamu sepertinya jarang menempati kamar ini," ucap Aryana.
"Wanita mana yang pernah masuk kemari?" tanya Aryana.
Fahmi yang mendengar pertanyaan sang istri reflek melepas pelukannya dan memutar tubuh istrinya agar menghadap padanya.
"Jangan berfikir macam-macam!, sebelum kamu hanya mami dan bi Amah yang masuk ke kamar ini, mamipun jarang, lebih sering bi Amah karena ia bertugas membersihkan kamarku hampir setiap hari entah itu aku ada ataupun aku tidak ada di rumah," terang Fahmi yang dibalas senyuman oleh sang istri.
"Aku percaya pada dokter bucinku ini," ucap Aryana sambil memencet hidung sang suami gemas.
"Jangan nakal, nanti yang di bawah on, kalau itu terjadi kamu harus tanggung jawab!" ucap Fahmi balik menggoda istri kecilnya.
"Ih..., mesum lagi dech, sudah ah aku mau bereskan barang-barang dulu, nggak enak sama papi mami kalau terlalu lama menunggu kita," ucap Aryana lalu berjalan ke kopernya dan membereskan barang-barangnya.
"Honey, pakai lemari yang mana buat menaruh ini?" tanya Aryana.
"Di sini," tunjuk Fahmi pada sebuah pintu yang yang ternyata walk in closed, berjajar banyak lemari dan rak sepatu sebagian sudah terisi sebagian masih kosong.
"Yang mana punyaku?" tanya Aryana
"Yang ini aku kosongkan khusus untukmu, sebenarnya aku ingin langsung mengisinya, tapi aku lebih menghargai baju-baju pilihanmu, aku hanya membelikan ini sebagian mami yang belikan," ucap Fahmi sambil membuka satu almari besar yang sebagian sudah terisi baju tidur wanita yang sangat tipis dan transparan bahkan ada yang mirip jaring laba-laba milik Spiderman.
Melihat apa isi lemari yang diperuntukan untuknya Aryana jadi tertegun, ia tak mengira kemesuman sang suami sudah sampai stadium empat dan benar-benar tak tertolong, bisa-bisanya hanya pakaian yang bisa membuatnya masuk angin yang ada dipikirannya.
__ADS_1
"Huh, dasar!, kenapa semua suami selalu hobby menyetok pakaian tidur kurang bahan seperti ini hanya untuk memuaskan pusakanya yang selalu di steel siaga satu jika sudah berurusan dengan urusan ranjang, hah ternyata hidupku tak jauh-jauh dari kisah novel romantis yang aku baca," umpat Aryana dalam hati.
"Sayang, kok malah melamun?" tanya Fahmi menepuk bahu Aryana sehingga membuat lamunannya pudar.
"Eh, iya, ini baru aku mau masukin, bisa tolongin bawa kesini baju-bajuku yang ada di atas tempat tidur!" pinta Aryana pada suaminya.
"Ok, Sayang," ucap Fahmi kemudian melangkahkan kakinya mengambil baju-baju milik istrinya yang berada di tempat tidur.
Setelah selesai merapikan barang-barangnya Fahmi dan Aryana turun ke bawah tepatnya ke ruang keluarga untuk menemui papi dan maminya.
"Maaf Pi. Mi, membuat kalian menunggu," ucap Fahmi tak enak.
"Tak apa, duduklah!" pinta papi Pratama.
"Apa rencana kalian setelah ini?" tanya papi Pratama.
"Aku dan Aryana akan honeymoon ke Maldives selama seminggu kemudian akan kami tutup honeymoon kami dengan umroh ke tanah suci, setelah itu kami akan langsung ke Singapura karena aku sudah mendaftarkan Aryana kuliah kedokteran di universitas xx di sana," jawab Fahmi.
"Bagus juga rencanamu, papi sih setuju saja, asal jangan lupa segera buatkan papi mami cucu," ucap papi.
"Kalau itu papi tenang saja, kamu selalu mengusahakan yang terbaik, ya nggak Sayang," ucap Fahmi sambil tersenyum melihat istrinya, dan Aryana tahu apa arti senyuman mesum itu.
"Insyallah, Pi, Mi, doakan saja yang terbaik, kami hanya manusia, yang hanya bisa berusaha tentang hasilnya itu hak Allah, kapan seorang hamba akan diberi amanah seorang anak, karena itu tanggung jawab yang berat tak hanya di dunia tapi juga di akhirat, seorang anak bisa membawa orang tuanya ke neraka ataupun ke surga," ucap Aryana yang membuat keduanya semakin kagum dengan pemikiran seperti itu, umurnya belum genap sembilan belas tahun tapi cara berpikirnya seperti wanita berusia tiga puluh tahun.
"Pemikiran kamu sungguh di luar ekspektasi kami," ucap mami Miranda.
"Meski saya menjadi cucu dari seorang Dimas Aji Dewantara pemilik DW group tapi ayah saya seorang tentara, bunda saya hanya orang biasa, yang sejak kecil melakukan semuanya sendiri, ayah dan bunda mengajarkan kami kesederhanaan, cinta dan kasih sayang antar sesama, jadi saya dan kedua kakak kembar saya tanpa disadari telah belajar kecerdasan secara emosional, cukup dengan mendengar dan melihat apa yang ada di sekitar kita, kita sudah bisa menentukan apa yang harus kita lakukan selanjutnya dalam mengambil keputusan. Di tambah didikan ayah yang ala-ala militer itu membuat kami harus belajar disiplin dalam segala hal, makanya saya memilih sekolah di sekolah negeri, di sana saya bisa belajar banyak hal yang tidak bisa saya temui jika saya sekolah di sekolah khusus orang-orang kaya" ujar Aryana yang sukses membuat kedua mertuanya tertegun.
"Uluh-uluh istriku, sepertinya kamu nggak usah masuk kedokteran saja, jadi sosiolog saja deh," ucap Fahmi gemas mendengar penuturan istrinya.
"Honey apaan sih?" ucap Aryana sambil menepis tangan Fahmi yang memencet hidung mancungnya yan mungil.
"Kalian ini seperti anak kecil saja, pantas saja Fahmi begitu bucin padamu," ucap papi Pratama.
"Ini sudah jam makan siang ayo kita makan dulu, nanti keburu dingin!" ajak mami Miranda.
Mereka berempat pun segera menuju ruang makan, berbagai masakan sudah terhidang, mami Miranda memang menyuruh pelayan memasak yang spesial untuk menyambut anggota baru keluarga Pratama yaitu Aryana.
_________________________________________
Maad readers baru bisa up, author lagi banyak kerjaan di dunia nyata menjelang PAS 1 🙏
Jangan lupa Like, Vote, Komentar, Rate and Favorit
Thank You
Bersambung....
__ADS_1