
Setelah sarapan pagi bersama, Fahmi, Aryana dan Yudha pergi ke rumah sakit K dimana Raka di rawat sedangkan Yasmin tidak ikut karena membantu menjaga keempat cucunya bersama dengan para oma dan opa, mereka mengajak para batita itu pergi jalan-jalan, tentu saja dengan pengawalan keluarga Dewantara.
"Assalamualaikum!" ucap Yudha, Fahmi dan Aryana bersamaan.
Waalaikumsalam," jawab Dinda dengan ekspresi terkejut melihat siapa yang datang bersama Yudha.
"Dokter Fahmi!, Aryana!" lirih Dinda.
"Tante apa kabar?" tanya Aryana yang langsung menghampiri Dinda, mencium dan memeluk sosok wanita sahabat sang bunda.
"Ka-kabar tante baik, hanya om Raka yang tidak baik," jawab Dinda.
"Kalian benar-benar pulang ke tanah air?" tanya Dinda lagi seakan tak percaya melihat dokter Fahmi dan Aryana benar-benar pulang ke negara asal bahkan menyempatkan menjenguk suaminya.
"Boleh kami lihat om Raka?" tanya Aryana.
"Boleh, mari!" ajak Dinda untuk masuk ke ruang HCU.
Fahmi melihat kondisi Raka yang terbaring tak berdaya dengan semua alat bantu medis penunjang kehidupan yang menempel di tubuhnya. Fahmi menyentuh denyut nadi Raka dan memeriksa bagian mata Raka yang masih saja betah terpejam.
"Boleh saya lihat hasil CT scan dan hasil lab yang lain?" tanya Fahmi pada Dinda
"Boleh, tapi saya simpan di luar, sebaiknya kota bicara di luar saja!" ajak Dinda yang di iyakan oleh semuanya.
"Memang kau bisa, sudah lama kamu tak bekerja menjadi dokter," ucap Yudha meragukan Fahmi.
"Ayah mertua, meski aku lama tak ke praktek tapi aku belum lupa semua ilmu kedokteran yang aku miliki," ucap Fahmi membalas ucapan sang ayah mertua yang meragukan kemampuannya sebagai dokter.
"Ayah sudahlah, jangan seperti itu, mas Fahmi sangat tau apa yang harus dia lakukan, meski sekarang tak aktif di rumah sakit ia tak akan melupakan ilmu kedokterannya!" tegur Aryana pada sang ayah yang selalu saja seolah mencari celah untuk merusak suasana hati suaminya, dan untungnya sang suami sudah kebal dengan kelakuan ayah mertuanya itu.
Fahmi mengeluarkan ponsel dari sakunya, lalu menghubungi seseorang, dengan uang dan kekuasaan maka semua akan di dapat dengan mudah.
Fahmi
"Hallo, Pak Kurniawan apa kabar?"
Dokter Kurniawan
"Oh dokter Fahmi, apa kabar suatu kehormatan anda bersedia menelpon saya, apa anda masih di Singapura?"
Fahmi
"Tidak, saya sedang pulang kampung bersama istri dan anak-anak kami, dan sekarang saya sedang berada di depan ruang HCU rumah sakit anda, apa bisa kita bertemu sebentar?"
Dokter Kurniawan
"Apa!, anda jangan bercanda, Dok!"
Fahmi
__ADS_1
"Saya tak bohong, datanglah kesini jika tak percaya, saya di sini bersama istri dan ayah mertua saya Yudhatama Dewantara!"
Mendengar apa yang di ucapkan Fahmi, dokter Kurniawan selaku direktur rumah sakit K sangat terkejut, kenapa kedatangan orang sepenting dokter Fahmi tak terdeteksi oleh para stafnya, di tambah ceo DW group ada di sana membuat ia seolah kehabisan oksigen.
"Ba-baik, dokter Fahmi saya akan menemui anda di ruang HCU."
Dokter Kurniawan segera meninggalkan semua pekerjaannya dan langsung setengah berlari menuju ruang HCU yang terletak dua lantai di bawah kantornya.
Dokter Kurniawan sudah sampai di depan ruang HCU dengan nafas sedikit terengah-engah membuat beberapa perawat yang kebetulan melintas di area tersebut heran, Dinda, Aryana dan Yudha juga menatap heran dengan kehardiran seorang dokter yang tiba-tiba di depan mereka.
"Maaf saya tidak tahu kehadiran anda dokter Fahmi sehingga tidak memberikan sambutan yang baik pada anda," ucap dokter Kurniawan penuh hormat pada Fahmi.
"Tak apa, saya yang seharusnya minta maaf sudah merepotkan anda," ucap Fahmi merendah.
"Ada apa gerangan dokter Fahmi tiba-tiba berada di rumah sakit K?" tanya dokter Kurniawan.
"Saya sedang membesuk sahabat saya, yaitu Kolonel Raka yang mengalami kecelakaan sekitar dua minggu yang lalu, dan keadaannya sekarang masih koma," jawab Fahmi membuat dokter Kurniawan terkejut.
"Apa, jadi sahabat anda ada yang di rawat di sini?"
"Iya, dan sampai sekarang belum menunjukkan perkembangan yang berarti, maka dari itu apa boleh saya bertemu dengan dokter yang bertanggung jawab merawat Kolonel Raka?"
"Boleh, tentu saja boleh, tapi saya lihat daftar dulu siapa dokter yang merawat sahabat anda," ucap dokter Kurniawan yang kemudian menelpon sesorang untuk menanyakan tentang Raka.
"Dokter Fahmi, maaf anda harus menunggu sekitar satu jam karena dokter yang bertanggung jawab merawat pak Raka sedang melakukan operasi," ucap dokter Kurniawan setelah mematikan sambungan telponnya.
"Dokter Fahmi, Nyonya, pak Yudha silahkan anda bisa menunggu di ruang tamu direktur!" pinta dokter Kurniawan.
"Baiklah kalau begitu, tapi jika ada apa-apa atau membutuhkan sesuatu anda bisa memanggil saya!"
"Baik, terima kasih."
"Kalau begitu saya undur diri."
"Silahkan."
Sepeninggal dokter Kurniawan, Dinda mendekat pada Fahmi, ia ingin tahu ada hubungan apa dokter Fahmi dengan seseorang yang terlihat penting di rumah sakit.
"Dokter Fahmi, siapa orang tadi?" tanya Dinda karena merasa nama suaminya tadi di sebut sebut dalam pembicaraan.
"Dia tadi adalah dokter Kurniawan, direktur rumah sakit K ini," jawab Fahmi.
"Apa!, jadi kamu kenal dengan direktur rumah sakit ini?" pekik Dinda kaget.
"Dinda, kamu tak usah kaget begitu, direktur rumah sakit mana yang tak kenal dengan Fahmi, dokter pedofil yang sudah menikahi putriku, dia cukup terkenal di seantero rumah sakit, terutama di pulau Jawa," seloroh Yudha.
"Ayah, apaan sih berkata seperti itu!" tegur Aryana tak terima sang ayah menyebut suaminya dokter pedofil.
"Tidak apa-apa, Sayang, aku sudah biasa mendengar hal seperti itu dari ayah mertua," ucap Fahmi tenang karena setiap kali bertemu dengan ayah mertuanya hal seperti ini bisa saja terjadi.
__ADS_1
"Apa yang anda bicarakan dengan dokter Kurniawan tentang suamiku?" tanya Dinda.
"Aku hanya ingin bertemu dengan dokter yang bertanggung jawab merawat suamimu, aku ingin mendengar langsung darinya tentang pengobatan suamimu selama di sini, jika memang tak ada perkembangan yang signifikan, aku ingin menawarkan bantuan agar Raka bisa di rawat di Singapura, itupun jika kamu mengijinkan," jawab Fahmi yang membuat Dinda mematung, ia tak menyangka akan mendapat tawaran bantuan seperti ini.
"Ta-tapi ka-kalau ke Singapura kami tak punya biayanya," ucap Dinda setelah sadar dari keterkejutannya.
"Soal biaya kau tak usah khawatir, aku yang akan mengurusnya yang penting om Raka segera sembuh dan bisa beraktivitas kembali dan yang paling penting bisa menikahkan putrinya, dan bisa segera mengendong cucu-cucunya yang lucu-lucu nantinya, apa kau tak ingin seperti Yasmin dan Yudha, bermain dengan cucu-cucunya?" ucap Fahmi.
Mendengar ucapan Fahmi, hati Dinda merasa sesak, andai ia tak kerasa kepala dengan keegoisannya, mungkin sekarang Afwa dan Kirana sudah menikah, Kirana mungkin sedang mengandung dan suaminya tak perlu terbaring tak berdaya di rumah sakit dengan alat medis penunjang kehidupan. Mungkin ia akan menerima tawaran Fahmi, bukan karena Fahmi yang menanggung semuanya tapi agar ia segera melihat sang suami segera bangun dan sehat seperti sedia kala.
"Saya akan bicarakan dulu dengan anak-anak dan orang tua mas Raka juga orang tua saya, dokter Fahmi," jawab Dinda.
"Baiklah, tak apa, tapi kalau bisa secepatnya, jika kau dan keluargamu setuju, Raka bisa berangkat ke Singapura bersama kami," ucap Fahmi.
"Dan aku akan membantu proses perijinan Raka secara militer," ucap Yudha menimpali.
"Terima kasih atas semua bantuan kalian, aku tak tahu harus bilang apa dan bagaimana cara membalas semua kebaikan kalian," ucap Dinda terharu.
"Kau tak perlu membalas apa-apa pada kami, kita ini satu keluarga sudah kewajiban saling membantu, hanya saja jika nanti Raka sudah sadar dan sembuh aku minta menurutlah apa yang Raka katakan, dia seorang prajurit yang baik dan bertanggung jawab juga setia kawan. Seorang prajurit itu sudah banyak mengalami tekanan dalam pekerjaannya, berpacu dengan waktu dan takdir, saat seorang prajurit menikah ia berharap akan ada rumah untuk ia pulang, ada pelukan hangat dari istri dan anak-anaknya. Jadi jangan menambah beban pikirannya dengan hal-hal konyol dan tak penting!" ujar Yudha memberi pengertian kepada Dinda agar merubah sikapnya pada Raka.
"Iya, Mas Yudha, saya tahu, saya salah, jika mas Raka sadar nanti aku akan minta maaf, dan akan merubah sikapku," ucap Dinda sendu.
"Ya, semoga Allah masih memberikan kesempatan itu," ucap Yudha yang membuat hati Dinda makin teriris.
Tak terasa sudah satu jam akhirnya, Fahmi di minta ke ruang direktur rumah sakit karena dokter yang menangani Raka sudah selesai operasi, dengan diantar seorang perawat Fahmi dan Yudha menuju ruang direktur, sedangkan Aryana menemani Dinda di ruang tunggu.
Sampai di ruang direktur Fahmi dan Yudha di sambut hangat oleh dua orang dokter, siapa lahi kalau bukan dokter Kurniawan dan dokter Prasetyo biasa di panggil dokter Pras.
"Dokter Fahmi, pak Yudha kenalkan ini dokter Prasetyo biasa di panggil dokter Pras beliau adalah dokter yang bertanggung jawab menangani pak Raka," ucap dokter Kurniawan sambil mengenalkan Fahmi dan Yudha dengan dokter Pras.
"Senang berkenalan dengan anda dokter Pras," ucap Fahmi sambil menjabat tangan dokter Pras.
"Saya juga sangat senang bertemu dengan anda, suatu kehormatan saya bisa duduk bersama dengan dokter internasional seperti anda," ucap dokter Pras.
"Terima kasih, tapi anda terlalu berlebihan, saya hanya beruntung saja, ha...ha...."
"Oh ya kata dokter Kurniawan ada yang ingin anda bicarakan dengan saya tentang pasien bernama bapak Raka, benarkah?"
"Iya, benar, saya ingin menanyakan bagaimana hasil pemeriksaan pertama sampai pemeriksaan hari ini, dan bagaimana perkembangannya?"
Dokter Pras kemuadian menjelaskan kondisi pertama Raka sewaktu di rawat di rumah sakit K sampai sekarang.
"Begitulah dokter Fahmi riwayat medis pak Raka, jika pihak keluarga menghendaki pak Raka di pindahkan ke rumah sakit lain yang fasilitas dan tenaga medisnya lebih baik dari rumah sakit K ini, kami tidak bisa mencegahnya karena itu adalah hak pasien, kami sudah berusaha namun tak ada respon apapun dari pak Raka," ucap dokter Pras.
"Itu baru rencana, dokter Pras, saya juga menunggu keputusan dari keluarga pak Raka, kalau mereka nanti akhirnya tak mau memindahkan Raka berobat ke luar negeri, saya juga tak memaksa, saya menawarkan bantuan saja karena calon menantu pak Raka adalah kakak ipar saya, kakak ipar saya itulah yang meminta bantuan saya untuk membantu mencarikan perawatan terbaik untuk calon mertuanya," ucap Fahmi membuat dua dokter di depannya terkejut.
__________________________________________
Please, Like, Vote, Coment, Rate and Hadiah
__ADS_1
Thank You