
Di kampus, Aryana mengikuti kuliah dengan baik, semua pelajaran dari dosen ia mudah mengeri karena kecerdasan otaknya, beberapa teman sekelasnya mulai respek dengan Aryana, satu-satunya mahasiswa yang mengenakan hijab di kelas dan juga sangat pintar.
"Boleh kenalan?" sapa seorang mahasiswa laki-laki yan tiba-tiba duduk di depan Aryana saat dirinya duduk sambil membaca di kursi taman dekat kelas mereka.
Mendengar sebuah suara menyapanya tiba-tiba, Aryana mendongakkan kepalanya melihat siapa yang menyapanya.
"Anda siapa?" tanya Aryana.
"Aku Mike, teman sekelas denganmu," ucap Mike sambil mengulurkan tangannya tapi hanya di sambut dengan senyuman, Aryana tidak menjabat uluran tangan Mike.
"Boleh, aku Aryana," sambil tersenyum.
"Kau dari Indonesia?" tanya Mike
"Iya," jawab Aryana singkat.
"Kau ini sepertinya irit bicara sekali dan kau sepertinya berteman baik dengan anak penjual bunga itu," ucap Mike membuat Aryana mengerenyitkan dahinya bingung, siapa yang di maksud anak si penjual bunga.
"Siapa yang kau maksud anak penjual bunga?" tanya Aryana bingung.
"Siapa lagi kalau bukan gadis berkacamata yang sering bersamamu," jawab Mike.
Mendengar jawaban pria di sebelahnya ini ingin sekali Aryana memukul kepala Mike dengan buku yang sedang di pegangannya.
"Tuan Mike yang terhormat jika menyebut nama orang anda harus menyebut dengan benar, teman saya itu juga punya nama. Anda jangan memandang seseorang dari luarnya, karena belum tentu anda bisa lebih baik dari orang yang anda pandang rendah!" ucap Aryana kemudian meninggalkan Mike sendiri di kursi taman. Mike terdiam mendengar ucapan teman barunya itu.
"Berani sekali dia bicara seperti itu padaku, huh kalau bukan karena hukuman dari Daddy ku, aku sudah pasti masuk di kelas khusus bukan di kelas biasa seperti ini," batin Mike kesal karena di acuhkan oleh seorang wanita.
Aryana berjalan menuju ruang kelasnya kembali, sambil menunggu jam mata kuliah berikutnya tiba, maksud hati ingin menyegarkan pikiran dengan membaca di taman, tapi malah bertemu pria menyebalkan seperti Mike.
"Dasar pria menyebalkan, enak saja main menghina orang lain, aku jadi nyesel kenapa dulu tidak minta kak Afwi mengajariku jurus karate walau cuma dasar, paling tidak bisa untuk sedikit menghajar muka pria seperti Mike yang sok kecakepan itu," umpat Aryana dalam hati.
"Ana!, kenapa mukamu begitu?" tanya Jessie yang baru saja masuk ke kelas.
"Aku tidak apa-apa, Jessie," jawab Aryana sedikit terkejut karena kedatangan Jessie yang tiba-tiba.
Mendengar jawaban Aryana, Jessie merasa tenang karena ternyata temannya baik-baik saja. Ia lalu segera duduk di kursi sebelah Aryana dan tak lama dosen yang mengajar mata kuliah berikutnya sudah datang, semua mahasiswa sudah masuk ke kelas untuk menerima kuliah, tak terkecuali Mike, ia menatap Aryana sinis karena sudah berani bersikap cuek padanya.
"Wanita aneh, dia memang pantas berteman dengan gadis anak si penjual bunga itu," umpat Mike dalam hati kesal sambil menatap sinis ke arah Aryana.
Sedangkan di perusahaan Fahmi, mendapat laporan dari Juan bahwa pertemuan Fahmi dengan rektor universitas xxx akan di jadwalkan besok siang jam sebelas di ruang rektor universitas dan Fahmi pun menyetujuinya sekalian ia ingin melihat kondisi kampus dimana istrinya menempuh kuliah.
__ADS_1
Keesokan harinya tepat pukul sebelas siang Fahmi tiba di universitas xxx untuk bertemu dengan rektor. Mobil yang di tumpangi Fahmi memasuki halaman universitas nampak satu mobil di belakang Fahmi yang berisi para pengawalnya. Kehadiran Fahmi membuat kampus sedikit heboh, penampilan Fahmi yang masih terlihat muda dan tampan membuat para mahasiswi berhalu di pikiranya masing-masing.
"Eh lihat itu dokter Fahmi salah satu penyandang dana di kampus ini," ucap salah seorang mahasiswi.
"Beneran?, katanya sudah tua tapi penampilannya masih seperti cowok umur dua puluh lima, kalau begini sih aku mau jadi yang keberapapun," ucap mahasiswi dengan pikiran ngawurnya.
Banyak pasang mata mahasiswi menatap Fahmi dengan tatapan memuja dan berceloteh tidak jelas melihat penampilan Fahmi.
Di tengah kasak kusuk para mahasiswi Jessi dan Aryana memandang heran dengan kejadian yang ada di kampus, tak biasanya para mahasiswa berkerumun seperti memperhatikan sesuatu yang penting.
"Jessi, apa kau tahu kenapa para mahasiswi saling bergerombol seolah melihat sesuatu yang menarik?" tanya Aryana yang sedang memandang heran pada para mahasiswi.
"Aku tidak tahu," jawab Jessie.
Aryana lalu berinisiatif mendekati salah satu mahasiswi yang bergerombol dan bertanya siapa tahu ada pengumuman penting pikir Aryana.
"Permisi, apa boleh tahu ini ada acara apa, kenapa banyak mahasiswi bergerombol di sini?" tanya Aryana.
"Tidak ada acara apa-apa, hanya salah seorang penyandang dana kampus ini datang ke sini," jawab salah seorang mahasiswi.
"Tapi kenapa seheboh ini?" tanya Aryana lagi.
"Kau pasti mahasiswa baru, jadi kau tidak tahu betapa tampannya penyandang dana itu yang di kabarkan ceo perusahaan besar dan kabarnya dia masih singel, ya siapa tahu dia melirik salah satu dari kami untuk di jadikan istri," ucap salah seorang mahasiswi berambut pirang dengan penuh percaya diri.
Fahmi sudah terlihat masuk ke ruang rektor, sampai di ruangan ia di sambut hangat oleh pria paruh baya yaitu rektor universitas xxx yang bernama Profesor Albert.
"Selamat siang dokter Fahmi, senang kita bertemu lagi," ucap profesor Albert.
"Siang, senang bertemu dengan anda prof," ucap Fahmi kemudian ia dipersilahkan duduk oleh profesor Albert.
"Ada hal penting apa sehingga seorang ceo Pratama group mengajak saya untuk bertemu?" tanya profesor Albert sambil tersenyum.
"Ini masalah kinerja para bawahan anda, prof," jawab Fahmi.
"Maksudnya?" tanya profesor Albert
"Beberapa anak buah anda di kampus ini sudah melakukan hal tak menyenangkan pada istri saya ketika hari pertama ia masuk kuliah di kampus ini, jawab Fahmi yang membuat profesor Albert terkejut.
"Sungguhkah, kenapa bisa itu terjadi?" ucap profesor yang malah balik bertanya.
"Kenapa anda bertanya kepada saya, seharusnya saya yang bertanya kepada anda," ucap Fahmi sedikit kesal.
__ADS_1
"Maaf atas ketidaknyamanan ini, dokter Fahmi, saya akan mengusut insiden ini," ucap profesor Albert.
"Dan satu lagi prof, tolong ajarkan pada semua anak buah anda untuk tidak memandang orang dari kulit luarnya saja!" pinta Fahmi dengan tatapan mengintimidasi.
"Baik dokter Fahmi saya akan memperbaiki kinerja semua yang bekerja di kampus ini, tapi saya ingin tahu kenapa dokter Fahmi tidak mengabari saya kalau istri anda akan masuk pada pihak kampus?" tanya profesor Albert.
"Apa itu penting?, istriku itu wanita unik dan langka, dia lebih suka berbaur dengan kalangan biasa makanya kemarin ia menolak aku daftarkan di kelas khusus," ujar Fahmi menceritakan bagaiman dan seperti apa istrinya.
Profesor Albert yang mendengar penjelasan Fahmi begitu terkejut dan rasanya ia tak percaya masih ada wanita yang kaya namun tidak gila hormat.
"Anda sangat beruntung memiliki istri seperti itu," puji profesor Albert.
"Maka dari itu tidak ada seorangpun yang boleh melukai bidadari ku ini," ujar Fahmi bangga.
"Baik nanti saya akan memberikan arahan dan bimbingan pada semua dosen dan karyawan di universitas ini," ucap sang rektor.
"Baik, terima kasih atas pengertian profesor, saya tunggu realisasi ucapan anda prof," ucap Fahmi tenang namun tersirat ketegasan dalam setiap ucapannya.
Mendengar ucapan profesor, Fahmi mengangguk mengerti, ia pun kemudian berpamitan pada profesor untuk kembali, namun sebelum keluar dari ruang rektor, Fahmi memberikan sebuah amplop pada sang rektor.
"Ini apa dokter Fahmi?" tanya profesor Albert ketika menerima sebuah amplop dari dokter Fahmi.
"Tolong anda urus nama-nama yang ada di amplop itu, berikan mereka sedikit kuliah agar lebih bisa menghargai orang lain, sebenarnya aku bisa melakukannya sendiri tapi saya rasa anda lebih berhak memberikan kuliah tambahan untuk mereka," ucap Fahmi kemudian segera keluar dari ruang rektor di ikuti dengan dua pengawalnya.
Sampai di luar gedung Fahmi menghentikan langkahnya, pandangannya menyapu ke semua sudut gedung. Pada saat itu sudah tak terjadi kehebohan lagi karena hampir semua mahasiswa sudah masuk ke kelasnya masing-masing.
"Hem sepertinya aku merindukan istri kecilku, aku ingin melihatnya sebentar, gumam Fahmi sambil tersenyum. Ia lalu melangkahkan kakinya ke gedung dimana kelas reguler untuk kalangan biasa berada.
Akhirnya Fahmi sampai di gedung kelas reguler, ia berjalan menuju kelas kedokteran, beberapa ruangan ia lewati sampai pada satu ruang kelas ia mengentikan langkahnya dari balik jendela ia melihat bidadari nya sedang serius mengikuti perkuliahan. Fahmi menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. Hanya dengan melihat bidadari nya saja ia sudah sangat bahagia, ia bangga dengan bidadari nya, mempunyai cara yang unik dalam menjalani kehidupannya dengan nyaman dan tak pernah menuntut hal-hal yang berat, rendah hati dan memiliki jiwa sosial yang tinggi.
"Belajarlah yang rajin my wife, aku akan selalu mendukungmu, I love you so much my wife, forever," ucap Fahmi dalam hati.
Setelah melihat istrinya sejenak, Fahmi melangkahkan kaki keluar dari gedung kelas reguler, ia langsung menuju ke mobil, Fahmi langsung kembali ke perusahaan karena masih banyak pekerjaan yang tertunda.
__________________________________________
Maaf belum bisa doubel up ya karena kesibukan author di dunia nyata.
Tidak hanya Aryana yang butuh dukungan tetapi author juga.
Please Like, Vote, Coment, Rate and Favorit
__ADS_1
Thank You
Bersambung...