
Tak terasa usia kandungan Aryana sudah menginjak tujuh bulan, karena mengandung anak kembar ukuran perut Aryana yang hamil tujuh bulan besarnya sudah seperti sembilan bulan. Hal itu membuat Fahmi semakin over protektif dengan Aryana. Fahmi selalu cepat pulang jika pekerjaannya sudah selesai. Meeting di luar kota ia serahkan pada orang-orang kepercayaannya, jika ada acara yang urgent di pekerjaan luar kota maka Fahmi baru akan turun tangan sendiri. Hari ini Fahmi mengantar Aryana untuk pemeriksaan kandungan di rumah sakit.
"Apa kabar dokter Fahmi, Aryana?" sapa dokter Sarah sambil mempersilahkan dua sahabatnya duduk.
"Kabar kami baik," jawab Fahmi.
"Kau mau periksa kandunganmu, Aryana?" tanya dokter Sarah.
"Iya, kami ingin tahu perkembangan bayi kami setelah tujuh bulan ini," jawab Aryana sambil mengelus perutnya yang sudah membesar meski kandungannya baru berusia tujuh bulan.
"Baiklah ayo naik ke bed!" pinta dokter Sarah.
Aryana naik ke bed dengan di bantu Fahmi dan salah seorang perawat, Aryana berbaring dengan menghadap satu layar yang terhubung dengan alat usg. Sarah mulai memeriksa kandungan Aryana, sedangkan Fahmi berdiri di sebelah Aryana dan ia juga ikut melihat gambar apa yang terlihat di layar.
"Aryana ini bayi triplet kalian, dan ini adalah suara detak jantungnya," ucap dokter Sarah menjelaskan gambar dan suara yang terlihat dan terdengar di monitor.
Fahmi yang juga ikut memperhatikan layar tersebut sangat terharu, matanya berkaca-kaca, dengan usianya yang sudah tidak muda lagi
ia masih di beri kepercayaan akan menjadi ayah tiga anak kembar dari rahim seorang wanita yang ia tunggu selama tujuh belas tahun.
"Bagaimana keadaannya anak-anak kami, Dok?" tanya Aryana yang juga menitikkan air matanya.
"Keadaan mereka semua sehat, masih belum ingin tahu jenis kelaminnya?" jawab dokter Sarah sekaligus bertanya apa Fahmi dan Aryana menghendaki mengetahui jenis kelamin calon triplet mereka. Pasalnya setiap kali periksa kandungan baik Fahmi maupun Aryana tidak ingin tahu jenis kelamin janinnya, sepasang suami istri itu ingin jenis kelamin triplet jadi kejutan saja.
"Tidak dok, biar nanti jadi kejutan," jawab Aryana.
"Tapi kalau kalian tahu jenis kelaminnya dari sekarang, kalian bisa mempersiapkan kebutuhan calon-calon anak kalian," ucap dokter Sarah.
"Itu gampang, Dok, kami belanja seadanya dulu nggak banyak, kami akan memilih warna-warna netral yang bisa cocok untuk laki-laki ataupun perempuan," ucap Fahmi menimpali.
"Oke, jika itu kalian tak ingin tahu jenis kelamin triplet ponakan ku ya sudah, itu hak kalian," ucap dokter Sarah sambil tersenyum meski hatinya cukup heran dengan pasutri hadapannya ini.
Jika pasangan calon ayah dan ibu antusias ingin mengetahui jenis kelamin bayinya biar bisa menyiapkan ini itu secara tepat namun berbeda dengan cara berfikir Fahmi dan Aryana.
" Ini aku resepkan obat dan vitamin, agar kandunganmu kuat dan sehat," ucap dokter Sarah.
"Terima kasih dokter Sarah, kalau begitu kami pamit," ucap Fahmi lalu bangkit dari duduknya tak lupa ia juga membantu sang istri untuk berjalan keluar dari ruangan dokter Sarah.
Fahmi dan Aryana kemudian menuju bagian Farmasi untuk menebus resep yang di berikan dokter Sarah. Begitu tahu siapa yang menebus resep, orang bagian Farmasi langsung mempersilahkan Fahmi dan Aryana menunggu di ruang khusus, dan hal tersebut tidaklah mengherankan karena Fahmi juga salah satu pemegang saham di rumah sakit ME tersebut.
Setelah obat mereka jadi, Fahmi dan Aryana segera meninggalkan ruangan khusus tersebut, Aryana meminta Fahmi mampir ke supermarket karena susu hamil dan beberapa barang kebutuhan di rumah sudah hampir habis.
"Honey, habis dari sini kita ke supermarket ya, susu hamilku sudah habis, sekalian ada barang kebutuhan rumah yang ingin aku beli!" pinta Aryana saat mereka berada diparkir rumah sakit
"Baik tuan putri, kita akan ke supermarket," ucap Fahmi sambil mendaratkan ciuman gemas di pipi Aryana yang chuby karena efek kehamilannya.
Tak lama Fahmi membelokkan mobilnya ke sebuah supermarket yang cukup besar dan lengkap. Sampai di dalam supermarket Fahmi menemani istrinya berbelanja dengan mendorong troly. Selesai mendapatkan belanjaan yang di inginkan, Fahmi dan Aryana menuju kasir, namun saat sampai di kasir Fahmi dan Aryana melihat sedikit perdebatan antara seorang pembeli dengan petugas kasir, sang pembeli yang sedang berdebat dengan petugas kasir sedang dalam keadaan mengandun.
"Nona, kenapa harga yang dipajang tidak sesuai dengan yang di komputer, ini pembohongan namanya saya tidak terima!" protes seorang pembeli yang sedang hamil tersebut.
"Maaf, nyonya, tapi harga yang benar yang di input di komputer, dan maaf atas ketidaknyamanan ini," ucap petugas kasir tersebut.
__ADS_1
"Maaf-maaf, kalau begitu saya nggak jadi beli susu ini, aku kira harganya yang di rak itu ternyata dua kali lipat lebih mahal!" ucap ibu hamil tersebut kemudian segera berlalu dari meja kasir.
Wanita hamil itu pergi dengan rasa kecewa sambil mengelus perutnya yang besar.
"Maaf ya sayang, mama bulan ini tidak bisa kasih kamu susu, semoga kamu mengerti yab sayang, mama sayang sama kamu," ucap wanita hamil tersebut, lalu keluar dari area supermarmaket.
Pemandangan itu tak lepas dari perhatian Fahmi dan Aryana. Sekarang giliran Aryana berada di meja kasir, Aryana melihat dua kotak susu hamil yang tidak jadi di beli wanita tersebut masih berada di meja kasir.
"Nona, dua kotak susu ini biar saya beli apa boleh?" tanya Aryana saat belanjaannya selesai di hitung.
"Tentu saja nyonya," jawab petugas kasir tersebut sambil tersenyum, apalagi saat si petugas kasir melihat wajah tampan Fahmi yang berdiri di belakang Aryana.
Setelah membayar semua belanjaan Fahmi dan Aryana segera berlalu dari meja kasir, namun sebelum Fahmi melanjutkan langkah menyusul sang istri, Fahmi memberikan sebuah kartu nama pada petugas kasir tersebut.
"Berikan kartu nama ini pada pemeilik supermarket ini, katakan padanya jika supermarketnya masih ingin berdiri segera hubungi saya!" pinta Fahmi tenang namun ada aura yang menyeramkan saat ia mengatakan tentang hal itu pada petugas kasir.
Sedangkan Aryana menghentikan langkahnya saat menyadari suaminya tak berjalan di sampingnya. Ia menoleh ke belakang dan melihat sang suami dengan tersenyum berjalan menuju ke arahnya.
"Kau kemana saja, Honey?" tanya Aryana sedikit kesal saat Fahmi sudah di depannya.
"Maaf Sayang, tadi ada kolega bisnis yang menyapa sebentar," jawab Fahmi beralasan.
"Cowok apa cewek?" tanya Aryana memicing curiga.
"Cowok, Sayang, jangan cemburu gitu dong!, eh tapi kamu kenapa membeli susu yang tidak jadi di beli ibu tadi?" tanya Fahmi saat ingat sang istri membeli susu untuk ibu hamil yang tidak jadi di beli oleh seorang pembeli wanita.
"Ya, aku pikir kita bisa menemukan ibu yang hamil tadi, kasihan dia pasti sangat membutuhkan susu tadi untuk calon bayinya," jawab Aryana membuat Fahmi gemas.
"Honey apaan sih main cubit-cubit segala," ucao Aryana protes.
"Habis gemas sih."
Fahmi dan Aryana keluar dari supermarket tersebut, Aryana mengedarkan pandangan ke sekitar pintu masuk supermarket berharap masih bisa bertemu dengan wanita hamil yang tidak jadi membeli susu tadi.
"Kelihatannya dia sudah pergi dari supermarkey ini, Honey," sesal Aryana yang sepertinya terlambat menemukan wanita hamil tersebut.
"Kalau dia sudah pergi ya sudah, nggak usah di cari, mungkin susu ini belum rezeki dia, lagian kita 'kan nggak tahu nama dan alamat wanita itu," ucap Fahmi.
"Kau benar, Honey, mungkin susu ini belum rezeki wanita tadi."
"Kalau begitu ayao kita pulang, kamu harus segera istrirahat!" ajak Fahmi sambil mengandeng sang istri ke tempat dimana mobil mereka terparkir.
Mobil yang di kendarai Fahmi dan Aryana, keluar dari supermarket tersebut, namun saat berhenti di lampu merah yang tak jauh dari supermarket tersebut, Aryana melihat sosok wanita hamil yang sedari tadi, wanita itu kelihatan sedang menunggu kendaraan umum.
"Honey lihat itu!, itu kan wanita hamil yang kita cari tadi!"
"Iya, ya, terus gimana?"
"Ya samperin lah, my husband!"
"Tapi jalan ini searah, kita baru bisa putar jika sudah sampai belokan sebelah sana."
__ADS_1
"Ya nggak apa-apa yang penting bisa ketemu sama wanita itu!"
"Baiklah, semoga wanita itu tak kemana-mmana," harap Fahmi karena lokasi ia harus ia berbalik memutar agak jauh.
Akhirnya Fahmi melajukam mobilnya dan berbalik arah agar bisa berada di lokasi tempat wanita hamil yang misterius tadi terlihat. Ternyata keberuntungan ada dipihak Fahmi, wanita hamil yang tidak jadi membeli susu di supermarket tadi masih berada di tempatnya. Fahmi menuntun istrinya untuk menemui wanita hamil yang ia cari sejak tadi.
"Maaf permisi nyonya!" sapa Fahmi sambil menyentuh sedikit bahu wanita itu.
Wanita hamil itu langsung menoleh ke asal suara karena merasa ada yang memanggil dan menyentuh bahunya. Seketika wanita itu terkejut ada sepasang suami istri tersenyum padanya.
"Kalian panggil saya?" tanya wanita hamil yang tidak jadi membeli susu di supermarket tadi.
"Iya, Nyonya," jawab Aryana.
"Saya tidak kenal kalian, jadi untuk apa kalian menemui saya?"
"Maaf, nyonya, sebelumnya kenalkan saya Aryana dan ini suami saya Fahmi, maksud kami ke sini ingin memberikan ini," ucap Aryana sambil memberikan satu kantong plastik berisi dua kotak susu hamil rasa strobery.
Wanita asing itu tidak langsung menerima kantong belanjaan berisi susu tadi, ia nampak memperhatikan terlebih dahulu apa isi kantibg tersebut.
"Apa ini?" tanya wanita asing itu.
"Ini susu hamil yang tidak jadi anda beli di supermarket tadi," jawab Aryana.
"Aku tidak mau di kasihani, lagipula aku tidak kenal kalian dan untuk apa juga kalian susah-susah membelikan susu pada orang yang tidak kalian kenal?" tanya wanita asing tersebut dengan nada tak suka.
"Nyonya, saya harap anda tidak tersinggung dengan apa yang kami lakukan, istri saya hanya ingin berempati saja, karena kalian sama-sama sedang mengandung jadi istri saya merasa anda sangat membutuhkan susu hamil tersebut agar bayi yang anda kandung tetao sehat, jadi terimalah susu ini, kami tak bermaksud apapun hanya ingin menolong nyonya dan calon anak nyonya sebagai sesama manusia," ujar Fahmi menjelaskan agar wanita itu mengerti niat baik sang istri.
"Baiklah demi menghargai istri anda, saya menerima susu ini," ucap wanita asing itu.
"Nyonya kalau boleh kami tahu siapa namamu?" tanya Aryana sambil tersenyum entah kenapa ia merasa dekat dengan wanita asing yang juga tengah mengandung seperti dirinya.
"Kalian ingin tahu nama saya?, baiklah, nama saya Pamela, panggil saja mela."
__________________________________________
Maaf baru bisa up karena sejak lima hari kemarin bahkan sampai hari ini author sedang mengurusi masa depan author di dunia nyata.
Baca juga dua karya author terbaru yang ikut lomba menulis di NT, please dukungannyanya
Like, Vote, Coment, Rate and masukan ke Favorit
Catatan Hati Maharani (YAAW Season 6)
The Assistant ( Mengubah Takdir kategori wanita).
Thank You
__ADS_1
Bersambung...