
Dokter kembali memeriksa keadaan Raka, setelah Raka di bawa ke ruang CT scan di bagian kepala. Sewaktu memeriksa sang dokter mendengar gumaman dari Raka yang memanggil nama seseorang. Namun keadaan Raka masih belum sadar, sang dokter kemudian keluar dari ruang HCU dimana Raka di rawat untuk menemui keluarga Raka.
"Keluarga bapak Raka!" panggil sang dokter.
Mendengar panggilan dokter, Dinda, Kirana dan Kiara yang tadi duduk di kursi tunggu sontak langsung berdiri dan menghampiri dokter yang memeriksa Raka.
"Saya, Dok," sahut Dinda sambil berjalan mendekati dokter.
"Keadaan pak Raka masih belum sadar dan belum stabil di sebabkan benturan di kepalnya cukup parah kita akan perkembangannya nanti, dan kalau boleh saya tahu siapa yang bernama Afwa dan Kirana?" tanya dokter setelah menjelaskan keadaan Raka.
"Saya Kirana, Dok, dan Afwa adalah kekasih saya, ada apa ya, Dok?" tanya Kirana yang langsung menyahut pertanyaan dokter.
"Tadi di alam bawah sadarnya, pak Raka memanggil dua nama tersebut, sebelumnya saya minta maaf, saya harus menyampaikan ini, saya tidak tahu masalah apa yang di hadapi pak Raka, saya sarankan agar dua nama yang di sebut pak Raka tadi bisa di sini. Agar bisa mengajak berkomunikasi dengan pak Raka meski pikiran beliau masih di alam bawah sadar, siapa tahu dengan begitu, pak Raka bisa cepat sadar!" jelas sang dokter.
Mendengar penjelasan dokter Dinda menghembuskan nafas kasar, sedangkan Kirana hanya tertunduk, dia tak tahu apakah boleh memanggil Afwa ke sini.
"Ibu, sekarang bukan saatnya egois, minta kak Afwa kesini, siapa tahu ini permintaan terakhir ayah," ucap Kiara yang sedari tadi diam, namun perkataanya justru membuat ibunya marah.
"Ara!, jaga bicaramu!"
"Kenapa dengan perkataan ku, sampai kapan ibu tak merestui kak Kiran dan kak Afwa?, apa menunggu ayah nggak ada dulu?, kalau sampai ayah kenapa-napa atau sampai meninggal aku nggak akan memaafkan ibu?" tukas Kiara emosi, dia sudah tidak tahan dengan keegoisan ibunya.
Mendengar perdebatan Kiara dan ibunya, Kirana merasa jengah, ia pun angkat bicara juga tentang saran sang dokter.
"Sudah, sudah jangan ribut, ini rumah sakit!, aku akan memberitahu kak Afwa agar dia segera ke sini entah ibu suka atau tidak!" ucap Kirana kemudian langsung berlalu meninggalkan ibu dan adiknya, ia menuju taman rumah sakit. Ia duduk di kursi taman sambil menakupkan kedua telapak tangannya, tangisnya pecah saat itu juga. Kirana mencoba meluapkan segala apa yang dia rasa sejak tadi.
Setelah merasa tenang, ia mengambil ponsel dan berusaha menghubungi Afwa namun tak tersambung,. Kirana lalu mengirimkan pesan ke Afwa.
"Kak, aku mohon segera ke rumah sakit, ayah ingin ketemu," itulah pesan Kirana pada Afwa.
Kirana kembali memasukkan ponsel ke dalam slim bagnya, ia menyandarkan punggungnya di kursi taman, matanya terpejam seolah menyimpan beban yang berat.
__ADS_1
Di kantor militer Afwa yang baru saja rapat dinas dengan para komandan baru bisa membuka ponselnya. Kegiatannya yang padat sejak subuh tak memungkinkan dirinya bisa segera ke rumah sakit. Betapa terkejutnya Afwa mendapati lima panggilan tak terjawab dan satu pesan dari sang kekasih. Segera Afwa menemui sang komandan untuk meminta ijin menjenguk Kolonel Raka, sang komandan mengijinkannya, sang komandan juga cukup terkejut mengetahui rekan seprofesinya mengalami kecelakaan dan ternyata putri dari Kolonel Raka adalah kekasih dari salah satu anggotanya sendiri.
Afwa sedikit berlari menyusuri koridor rumah sakit, sebelum ke rumah sakit Afwa sudah menelpon Kirana untuk menanyakan dimana Raka di rawat.
"Kiran!" panggil Afwa pada Kiran yang tengah duduk di kursi tunggu pasien, sedangkan Dinda dan Kiara pulang ke rumah terlebih dahulu.
"Kakak," ucap Kirana dengan tatapan sendu.
Perlahan Afwa mendekat dimana Kirana duduk, Afwa ikut duduk di samping Kirana, dan tangan kanannya langsung merengkuh tubuh Kirana untuk bersandar di bahunya.
"Om Raka pasti akan baik-baik saja, ia prajurit yang kuat, aku rasa sekarang ia pun juga pasti berjuang untuk sembuh dan bangkit demi keluarganya," ucap Afwa sambil menautkan jemarinya ke jemari Kirana dengan posisi Kirana menyandarkan kepalanya di bahu Afwa.
"Tapi aku takut," ucap Kirana.
"Kita akan sama-sama selalu berdoa untuk kesembuhan ayah ya." ucap Afwa.
"Kak, masuk yuk lihat ayah, kata dokter tadi ayah sempat menyebut nama kita, dan kata dokter kita berdua harus sering mengajak ayah bicara biar ayah cepat sadar!" ajak Kirana.
Afwa dan Kirana masuk ke ruang HCU di mana Raka di rawat.
"Ayah..., kak Afw datang Yah, ayo bangun kami sayang ayah, hiks...hiks...," ucap Kirana lalu menangis.
Melihat Kirana menangis, Afwa kembali merengkuh tubuh ramping sang kekasih.
"Sudah jangan menangis seperti ini, meski ayahmu belum sadar dari tidur panjangnya, namun jauh di dasar hatinya, di alam bawah sadarnya, beliau bisa merasakan kesedihanmu!" ucap Afwa berusaha menenangkan Kirana.
"Bagaimana jika ayah tak kunjung sadar?" tanya Kirana.
"Kita bisa meminta pihak rumah sakit untuk memindahkan ayahmu ke RSPAD di Jakarta, atau minta bantuan Fahmi agar ayah kamu bisa mendapat perawatan terbaik di Singapura," saran Afwa.
"Kakak pikir, kita punya uang banyak, meski ayah berpangkat kolonel kalau harus dirawat di Singapura kita mau bayar pakai apa?"
__ADS_1
"Soal biaya tak usah dipikirkan, adik iparku yang sultan itu bisa membantumu."
"Aku nggak mau merepotkan orang lain, Kak," ucap Kirana sendu.
"Orang lain bagaimana?, keluarga kita sudah seperti saudara, jika sampai ayah bundaku melihat kondisi om Raka seperti ini mereka tidak akan tinggal diam, dan nanti sore ayah dan bunda akan sampai di Semarang," ucap Afwa yang membuat Kirana mengurai pelukannya dan menatap Afwa.
"Benarkah?, om Yudha dan tante Yasmin akan ke sini?" tanya Kirana tak percaya.
"Tentu kau pikir aku bohong.".
"Bu-bukan maksudku berkata seperti itu."
Perlahan Afwa memegang tangan Raka, dalam hati ia berjanji akan mewujudkan impian sahabat sang Ayah.
"Aku berjanji akan memperjuangkan cinta kami dan mendapat restu dari tante Dinda, maka dari itu Om bangun!" batin Afwa.
Setelah sekitar seperempat jam Afwa dan Kirana keluar dari ruang HCU, dan di luar Dinda dan Kiara sudah berada di kursi tunggu.
"Tante apa kabar?" tanya Afwa sambil menyalami tangan Dinda.
"Kabar tante ya seperti ini, seperti yang kau lihat," jawab Dinda.
Setelah mengucapkan pertanyaan basa-basi itu, Afwa duduk di ruang tunggu pasien bersama Kirana. Tidak ada yang membuka suara, Afwa hanya menggenggam tangan Kirana seolah memberi kekuatan, dan pandangan tersebut tak luput dari pandangan Dinda.
_____________________________________
Maaf ya readers, kalau cuma segini, soalnya otak author sedang fokus di persiapan pre test, 🙏🏻
Please, Like, Vote, Coment, Rate and Hadiah
Thank You
__ADS_1