Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 179. Pernikahan Afwa


__ADS_3

Afwa tersenyum setelah terkejut mendengar pengakuan Kirana, ia duduk di dengan posisi berhadapan lalu membelai kepala Kirana dengan lembut. Merasakan perlakuan Afwa yang begitu lembut, membuat jantung Kirana semakin tak karuan.


"Kiran, Sayang..., kau tak perlu konsultasi dengan kakak iparku tentang jantungmu, cukup konsultasi dengan suamimu ini," ucap Afwa lembut membuat Kirana salting.


"Kenapa begitu?" tanya Kirana.


"Kau sungguh mengemaskan, Sayang, sudah nikah sah juga masih malu-malu begini, kaya baru kenal kemarin saja. Kiran, jantungmu berdebar lebih kencang bukan karena ada kelainan dengan jantungmu tetapi, kau merasa gugup menjelang pernikahan kita. Sekarang aku mau tanya kenapa kamu harus gugup jika di dekatku, kita sepuluh tahun bersama lho?"


"Kiran gugup karena kak Afwa menjelang pernikahan terlihat ganteng banget dari keluarga sultan lagi, kadang aku sampai inscure dengan diriku sendiri, aku takut tak cukup baik mendampingi kakak," ucap Kirana membuat Afwa makin tersenyum lebar.


"Hei lihat aku, Sayang, kita sudah kenal sangat lama, aku sangat tahu segala hal tentangmu, perjuangan kita mendapat restu dari ibumu, cinta kita penuh liku, sakit, dan air mata, jadi aku mohon jangan pernah inscure dengan dirimu sendiri, kalau masalah aku ganteng itu bukan salahku, sudah dari sananya begini," ucap Afwa yang langsung mendapat cubitan dari Kirana.


"Kakak, narsis banget sih, nyesel aku tadi bilang begitu."


"Ha...ha...dasar ya kau ini, kau juga sangat cantik hari ini, tiada hari yang membahagiakan hatiku selain saat hari kelulusanku di Akmil dan hari ini, separuh agamaku sudah tercapai bersama wanita yang aku cintai yaitu kamu istriku," ucap Afwa lalu dengan lembut mendaratkan bibirnya di bibir Kirana yang menggodanya sedari tadi.


Sepasang insan manusia yang baru saja sah menjadi suami istri itu berpagut mesra menyalurkan hasrat dan gelora yang membuncah.


"Kak, sebaiknya kita ganti baju dulu, aku gerah dengan kebaya ini!" pinta Kirana setelah Afwa melepaskan pangutan di bibirnya.


"Baiklah, sini aku bantu!" ucap Afwa membuat Kirana justru tambah malu.


"Aku bisa sendiri."


"Yakin bisa?, reseleting baju kamu ada di belakang lho."


Dengan malu-malu Kirana akhirnya menerima bantuan suaminya untuk membuka kebaya yang di pakainya. Afwa pun tak melewatkan moment romantis yang menguntungkan baginya. Kebaya pengantin Kirana sudah meluncur ke bawah. Tampaklah kulit Kirana yang mulus kuning langsat, Afwa mengecup pundak Kirana yang terbuka, membuat Kirana merasakan desiran aneh, ada semacam sengatan listrik yang menjalar ke tubuhnya.


"Kak..."


Mendengar satu kata yang cukup sensual di telinganya, justru membuat Afwa memeluknya dari belakang dan meletakan dagunya di pundak sang istri yang terbuka. Tentu saja hal ini membuat Kirana semakin gugup karena meskipun ia berpacaran dengan Afwa sepuluh tahun tetapi, ia tak pernah melakukan hal lebih. Baru kali ini tubuh Kirana di sentuh dengan intim oleh laki-laki yang bestatus suaminya mulai malam ini. Di tambah wangi maskulin yang keluar dari tubuh Afwa membuat pikiran Kirana semakin melayang.


"Aku sangat mencintaimu, Kirana," ucap Afwa mesra dengan posisi masih memeluk Kirana dari belakang.


"Aku juga mencintaimu, Kak, sangat, jangan pernah tinggalkan aku, Kak," ucap Kirana dan terasa sebulir bening menetes mengenai tangan Afwa yang melingkar di pinggangnya.


Afwa membalikan tubuh Kirana agar menghadapnya, di sekanya air mata sang istri dengan jarinya, di kecupnya dua mata Kirana yang sudah di genangi oleh air mata.


"Jangan menangis!, aku tak akan meninggalkanmu, hanya maut yang berhak memisahkan kita. Kaulah masa depanku, belahan jiwaku, jantungku dan nyawaku."


Mata mereka saling bertaut, Kirana memandang wajah suaminya yang begitu tampan, tubuhnya yang gagah dan atletis membuatnya tak akan bisa berpaling. Afwa juga memandang wajah istrinya yang sangat cantik dengan rambut panjang yang terurai indah. Setelah puas berpandangan, Afwa memeluk Kirana erat sambil mencium pucuk kepala sang istri, seolah ia engan untuk melepasnya.


Setelah beberapa saat mereka mengurai pelukannya, Afwa masih tak bisa melepaskan pandangan dari sang istri tercinta.


"Kita ganti baju dulu, lalu istirahat, agar besok kita tampil fresh, aku akan menahan diri malam ini, aku tahu kamu lelah. Tapi besok jangan harap bisa menghindar!"


Afwa dan Kirana kemudian berganti baju sebelum istrirahat, malam ini mereka sepakat untuk menunda malam pertama karena besok pagi masih ada resepsi yang harus di lakukan. Setelah berganti baju Afwa tidur sambil memeluk Kirana, wajah mereka berdekatan dan saling memandang.


"Aku nggak nyangka, Kak akhirnya setelah penantian panjang kita bisa bersatu dalam ikatan yang sah, kau tahu Kak, saat ibu tak merestui kita hatiku hancur, seolah aku ingin mati saja jika tak bisa bersamamu," ucap Kirana sambil menatap sendu wajah tampan suaminya yang ada di hadapannya.


"Itu adalah masa lalu, sejarah perjuangan cinta kita, jangan di ingat terus!, yang penting sekarang pikirkan masa depan kita. Sekarang kamu sepenuhnya tanggung jawabku, akun harus menjadi orang pertama yang menjadi sandaran hangat bagimu," ucap Afwa kemudian membawa kepala Kirana ke dalam dekapannya.


Kirana begitu menikmati kehangatan pelukan Afwa, teman masa kecilnya yang sekarang menjadi suaminya yang sah secara agama dan negara. Dalam hati Kirana berjanji akan menjaga rumah tangganya sampai maut memisahkan.


.

__ADS_1


.


Pagi mulai menyapa, sayup.adzan subuh sudah terdengar mengalun indah, memanggil para umat muslim menghadap penciptanya. Dua sejoli yang menjadi pasangan pengantin baru masih bergelung selimut, namun Afwa yang sudah terbiasa bangun pagi terlebih dulu membuka matanya ketika adzan subuh berkumandang. Ia melihat di sampingnya seorang wanita cantik yang sekarang berstatus istrinya itu. Perlahan ia membangunkan Kirana dengan kelembutan, kalau saja rekan kerjanya di kesatuan melihat lembutnya Afwa pada istrinya pasti akan jadi trending topik paling hot. Pasalnya Afwa meskipun kadang ramah tapi ia terlihat sangat datar dingin juga cuek, terutama pada wanita, persis sebelas duabelas dengan sang ayah dan saudara kembarannya yang laki-laki, yang terlihat smile hanya sang princes Aryana.


"Sayang...ayo bangun sudah subuh, kita shalat dulu, hari ini kita mau resepsi lho!" ucap Afwa sembari membelai kepala sang istri agar segera bangun.


"Eugh..., sudah subuh ya, Kak?" ucap Kirana sambil mengerjab-ngerjabkan matanya karena masih mengantuk.


"Iya, ayo subuh dulu!, jadi ibu persit nggak boleh malas."


Meski masih mengantuk dan lelah, Kirana akhirnya beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu. Setelah selesai Kirana mengelar sajadah di belakang Afwa lalu memakai mukenanya. Dua rekaat subuh berjamaah sudah selesai di lakukan Afwa dan Kirana. Ini adalah shalat pertama meraka secara berjamaah sebagai suami istri. Selesai shalat Kirana meraih tangan Afwa untuk salim dan Afwa membalas dengan ciuman di kening Kirana. Ah sungguh indah pemandangan ini.


"Kamu bahagia jadi istriku?" tanya Afwa.


"Sangat bahagia, Kak, saat seperti inilah yang aku impikan, melakukan semua hal bersamamu terutama shalat berjamaah seperti ini," jawab Kirana.


Kemudian moment romantis itupun ambyar dengan ketukan pintu kamar Kirana.


Tok tok


"Kiran! apa kau sudah bangun?"


"Sudah, Bu, sebentar!"


Ceklek, Kirana membuka pintu kamar dengan masih memakai mukena


"Kamu sudah shalat?" tanya Dinda sang ibu.


"Sudah, Bu, baru saja selesai jamaah sama Kak, Afwa," jawab Kirana.


"Ya, Bu, suruh tunggu sebentar aku dan kak Afwa mandi dulu," ucap Kirana kemudian menutup pintu kembali setelah ibunya pergi.


"Ada apa Kiran?" tanya Afwa.


"Ibu, kasih tahu MUA nya sudah nunggu."


"Ya sudah kamu mandi duluan saja, soalnya kamu kan pasti lebih ribet dandanya."


"Kakak, pakai baju PDU?"


"Iya ada, aku simpan di lemari kamu biar nggak kusut, kemarin bunda sekalian bawa."


Kirana kemudian segera mandi sedangkan, Afwa memainkan ponselnya sedang membalas pesan dari Afwi.


Tak lama kemudian, keduanya sudah selesai mandi dan keluar kamar untuk menemui MUA.


"Selamat pagi mbak Kirana, perkenalkan saya Gea yang akan merias mbak."


"Oh iya, enaknya dimana ya mbak Gea?"


"Di kamar mbak Kiran saja bagaimana?"


"Baiklah, kita ke kamar saya saja."


Kiran bersama Gea dan satu orang asisten masuk ke kamar Kirana untuk merias, sedangkan Afwa berbincang dengan Raka sambil meminum teh.

__ADS_1


Setelah sekitar dua jam lebih akhirnya riasan Kirana selesai, Afwa juga sudah memakai seragam militer PDU. Tak dipungkiri ketampanan Afwa berkali-kali lipat saat memakai seragam militer, wajah dan postur tubuhnya hampir mirip Yudha ketika masih muda.


Pukul sembilan pagi kedua mempelai selesai di rias, Afwa dan Kirana memasuki mobil pengantin yang akan membawa meraka ke gedung tempat resepsi pernikahan akan di gelar. Setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit, Afwa dan Kirana beserta keluarga sudah sampai di gedung resepsi. Tepat pukul sepuluh acara resepsi pernikahan militer dengan pedang pora di mulai.


Kirana dengan balutan gaun pengantin muslim warna hijau terlihat sangat cantik. Semua mata sangat mengagumi ketampanan dan kecantikan kedua mempelai. Para orang tua berkaca melihat Afwa dan Kirana berjalan di menuju pelaminan dengan upacara pedang pora. Mereka mengingat masa-masa mereka menikah dulu.


"Jadi ingat, kita nikah dulu ya, Yah," ucap Yasmin sambil bergelayut manja pada Yudha.


"Iya, tak terasa kini anak-anak kita yang menikah dengan cara yang sama." ucap Yudha yang di balas senyuman oleh sang istri.


Di sudut lain Raka dan Dinda juga merasakan rasa haru yang mendalam, terutama Raka, karena sebentar lagi ia akan berpisah dengan putri tercintanya. Namun meski ada perasaan kehilangan, Raka juga merasa bahagia karena putrinya akan berada di tangan pria yang tepat, pria yang ia yakini bisa membahagiakan putri sulungnya melebihi dirinya.


Resepsi pernikahan Afwa dan Kirana berlangsung khidmat dan juga cukup meriah, senyum kedua mempelai tak luntur saat menerima ucapan selamat dari para tamu. Acara makin meriah dan penuh haru ketika salah satu artis tanah air yang diundang menyanyikan lagu Yang Terbaik Bagimu yang menceritakan masa kecil seorang anak beesama ayahnya dari Ada Band, bersamaan dengan ditayangkannnya foto-foto kedua mempelai saat masih kecil hingga dewasa bersama dengan ayah mereka masin-masing. Afwa dan ayah Yudha dan Kirana bersama ayah Raka.


Tuhan, tolonglah


Sampaikan sejuta sayangku untuknya


Ku t'rus berjanji


Takkan khianati pintanya


Ayah, dengarlah


Betapa sesungguhnya ku mencintaimu


'Kan kubuktikan


Ku mampu penuhi maumu


Andaikan detik itu


'Kan bergulir kembali


Kurindukan suasana


Basuh jiwaku


Membahagiakan aku


Yang haus akan kasih dan sayangmu


'Tuk wujudkan segala


Sesuatu yang pernah terlewati


Selesai lagu itu dinyanyikan, beberapa anggota keluarga menitikkan air matanya tak terkecuali kedua mempelai, yang akhirnya Afwa dan Kirana bangun dari duduknya di pelaminan menuju ayah masing-masing dan memeluknya dengan erat.


______________________________________


Sudah dulu ya author juga ikutan nangis ini.


I love you Ayah semoga sehat selalu.


Please Like, Vote, Komentar Rate and Favorit

__ADS_1


Thank You


__ADS_2