
Fahmi meminta ijin untuk masuk ke ruang ICU tempat Aryana di rawat, Fahmi diberi ijin khusus masuk ke ruang ICU karena direktur rumah sakit tempat Aryana di rawat tahu siapa Fahmi karena di ruang ICU tidak setiap saat sembarang orang boleh masuk ke ruang tersebut.
Fahmi mendekat ke bed pasien dimana tubuh Aryana terbaring di sana, beberapa peralatan medis penunjang kehidupan terpasang di tubuh Aryana. Sungguh pemandangan yang membuat hati Fahmi sesak.
"Sayang..., ayo bangun, kamu nggak kangen sama Om. Setelah sembuh kita tunangan ya sayang, mau kamu konsep apa untuk pertunangan kita nanti?, sebenarnya Om langsung ingin menikah denganmu tapi Om ingin kamu bahagia dengan duniamu dulu, menikmati masa mudamu bersama teman-teman sebayamu. Jadi nanti kita tunangan dulu ya. Om akan lebih banyak di Indonesia buat jagain kamu. Sekarang kamu bagun ya buka mata kamu, Om nggak sanggup lihat kamu seperti ini," ucap Fahmi dengan suara parau sambil menggenggam jari tangan Aryana.
Sebuah tepukan mendarat di pundak Fahmi membuat pria itu mendongakan kepalanya.
"Pulanglah dulu, istrirahatlah, kamu juga harus pikirkan kesehatanmu, jangan sampai mamimu tambah tak suka dengan putriku," ucap Yudha.
Mendengar perkataan Yudha menyingung tentang maminya mata Fahmi mengernyit heran.
"Apa maksudmu mamiku akan tambah tak suka pada Aryana?" tanya Fahmi.
"Aku dan papa sudah menyelidiki tentang insiden penusukan pada Aryana, meskipun hasil penyelidikan belum selesai, tetapi sebelum insden terjadi, Aryana sempat bertemu dengan mamimu. Mamimu menemui Aryana sepulang sekolah dan mengajaknya pergi entah kemana lalu terjadilah insiden yang menimpa Aryana karena menolong mamimu, teman sekolah Aryana sempat memfoto nomor polisi mobil tersebut dan foto pada saat Aryana masuk ke mobil yang kemungkinan mamimu ada di mobil tersebut," jawab Yudha.
Mendengar penuturan Yudha, rahang Fahmi mengeras, jika benar apa yang dikatakan Yudha , pasti maminya mengatakan hal-hal yang bukan-bukan pada gadisnya.
"Jadi aku mohon sebagai seorang ayah, selesaikan dulu apapun masalahmu dengan mamimu, baru setelah itu kamu menemui Aryana, aku tak mau putriku tersakiti lagi, jadi sekarang pulanglah!" pinta Yudha.
Mendengar perkataan Yudha, rasa sesak di dadanya dan rasa bersalah pada Aryana semakin besar, dalam hati ia bertekad tetap akan menikahi Aryana dengan atau tanpa restu maminya. Dengan berat hati Fahmi meninggalkan ruang ICU dimana Aryana dirawat, sebelum pergi Fahmi mencium kening Aryana lembut.
"Om, pulang dulu ya Sayang, cepat sembuh, besok Om kesini lagi," ucap Fahmi lalu mencium kening Aryana kemudian ia segera keluar ruang ICU, sampai di luar ia berpamitan dengan Yasmin dan beberapa anggota keluarga yang masih menunggu di luar ruangan.
Fahmi segera meninggalkan rumah sakit ia menuju apartemenya, ia ingin istirahat sebentar karena dirinya merasa sangat lelah. Besok ia baru akan menemui maminya sebelum maminya pulang ke kota J.
Keesokan harinya, Fahmi pergi menemui maminya di mansion keluarga Pratama di kota S. Sampai di rumah Fahmi langsung memasuki rumah dan mencari maminya.
"Mami! panggil Fahmi dengan berteriak.
Sang mami yang sedang berada di kamar bergegas turun ke bawah, tuan Pratama yang ada di halaman belakangpun kaget mendengar teriakan Fahmi dan bergegas menuju ruang tengah. Di ruang tengah tuan Pratama dan nyonya Miranda di tatap tajam oleh Fahmi, sorot mata kemarahan terlihat jelas di wajahnya.
"Fahmi, ada apa?, kenapa teriak-teriak?" tanya nyonya Miranda.
"Mami!, apa sebelum kejadian mami menemui Aryana?" tanya Fahmi emosi.
__ADS_1
"Atas dasar apa kamu berani menuduh mami begitu?" tanya nyonya Miranda mengelak
"Ini, apa mami masih mau mengelak!" ucap Fahmi sambil melempar beberapa foto yang membuktikan pertemuan nyonya Miranda dan Aryana.
Nyonya Miranda terlihat gugup setelah melihat foto-foto itu, dia sudah tak bisa mengelak lagi.
"Ya benar mami menemui gadis itu," ucap Miranda mengaku.
"Apa yang mami katakan pada Aryanaku?" tanya Fahmi.
"Aku bicara baik-baik dengannya agar mau meninggalkanmu," jawab nyonya Miranda jujur karena sudah tak ada gunanya lagi mengelak.
"Kenapa mami lakukan itu?" tanya Fahmi.
"Karena mami ingin wanita yang terbaik, yang sehat yang bisa melahirkan keturunan Pratama, ingat Fahmi kamu anak tunggal kami, kami hanya ingin yang terbaik untukmu," jawab nyonya Miranda.
"Hah, apa mami bilang, yang terbaik untukku, wanita yang terbaik untukku?, ini mami lihat baik-baik wanita-wanita seperti ini yang mami bilang terbaik untukku, apa wanita-wanita ****** seperti ini yang mami inginkan melahirkan keturunan Pratama?!" ucap Fahmi dengan nada tinggi sambil menaruh berkas dengan sedikit kasar ke atas meja, berkas yang berisi informasi tentang wanita-wanita berkelas yang dipilih oleh orang tuanya untuk di jodohkan dengannya.
Nyonya Miranda dengan pelan meraih berkas itu, lalu melihat apa isi berkas tersebut, matanya membola melihat foto-foto tak sesnonoh wanita-wanita yang dipilihnya untuk mengeser posisi Aryana di hati Fahmi.
"Aku tahu mami tidak akan percaya hanya dengan foto, baiklah aku akan berikan tontonan yang menarik untuk mami agar mami bisa merasakan puber kedua dengan papi. Evan! bawa sini laptopnya!" panggil Fahmi pada Evan yang menunggu di luar.
Evan yang menunggu di luar segera masuk ke dalam rumah sang bos, ia lalu menyalakan laptop dan memutar video hasil rekaman cctv dan kamera tersembunyi untuk mengetahui siapa sebenarnya calon nyonya Fahmi yang dibangakan oleh maminya.
Begitu Evan memutar video, mami dan papi Yudha benar-benar terkejut dan tak menyangka anak dari kolega bisnisnya yang terpandang mampu melakukan hal yang tak bermoral seperti itu.
"Wanita seperti itu yang akan mami pilih untuk mengandung benihku?" tanya Fahmi sinis setelah melihat reaksi kaget kedua orang tuanya setelah melihat rekaman video tersebut.
"Lebih baik aku menikah dengan wanita yang memiliki kekurangan fisik dari pada aku menikah dengan wanita yang sehat secara fisik tapi memiliki kekurangan moral dan akhlak," ucap Fahmi lagi dengan nada sinis, sekarang ia yakin kedua orang tuanya kalah telak terutama maminya yang terlihat shock saat melihat video tersebut.
Kedua orang tua Fahmi terduduk lemas di kursi setelah melihat semua bukti yang dibawa Fahmi, mereka sungguh tak menyangka wanita yang terlihat anggun dan berkelas bisa melakukan hal tak bermoral seperti itu.
"Bagaimana?, apa sekarang masih belum merestui aku dan Aryana?" tanya Fahmi santai sambil duduk di depan kedua orang tuanya.
"Kami menyerah, setelah Aryana sembuh bawalah dia kepada kami, kami ingin mengenalnya lebih dekat," ucap tuan Pratama.
__ADS_1
"Bagaimana dengan mami?" tanya Fahmi.
"Kalau papimu sudah bilang begitu mami bisa apa," ucap nyonya Miranda.
"Sungguhkah mami merestui kami?" mami tidak bohong?" tanya Fahmi sekali lagi karena kurang yakin dengan maminya.
"Ya mami ikhlas merestui kalian," ucap nyonya Miranda.
"Terima kasih mami, papi, aku janji setelah Aryana sembuh aku akan bawa dia bertemu mami dan papi," ucap Fahmi gembira lalu mencium papi dan maminya lalu berpamitan untuk menjenguk pujaan hatinya di rumah sakit.
"Semoga Aryana memang yang terbaik untuk putra kita ya Pi," ucap nyonya Miranda setelah Fahmi pergi meninggalkan rumah.
"Ya semoga," sahut tuan Pratama.
Dengan perasaan lega dan gembira, Fahmi melajukan mobilnya ke arah rumah sakit tempay Aryana di rawat, rasanya ia tak sabar untuk memberitahu kabar bahagia ini pada keluarga Aryana. Akhirnya sampailah Fahmi ke rumah sakit yang dituju, ia mempercepat langkahnya agar cepat sampai di ruang ICU tempat Aryana dirawat, namun ia sedikit heran kenapa bed tempat Aryana dirawat sudah dibersihkan dan tak terlihat Aryana terbaring di sana. Fahmi lalu bertanya pada perawat jaga di ruang ICU tersebut.
"Sus, pasien yang menempati bed ini dimana ya kok tidak ada?" tanya Fahmi pada salah seorang perawat.
"Oh, pasien korban penusukan itu, nona Aryana?" tanya perawat tersebut yang dijawab anggukan oleh Fahmi.
"Maaf Pak, pagi tadi nona Aryana sudah dipindahakan ke rumah sakit lain oleh pihak keluarga," jawab perawat jaga tersebut membuat Fahmi terkejut.
"Apa!, kenapa tiba-tiba dipindahkan ke rumah sakit lain, apa keadaanya parah dan alat disini tak menunjang?" tanya Fahmi tak sabar.
"Sekali lagi saya mohon maaf, untuk masalah itu kami tidak tahu, kalau bapak ingin tahu kenapa nona Aryana tiba-tiba dipindahkan pihak keluarga silahkan bapak menemui kepala ruang bagian ICU, kantornya ada disebalah sana," jawab perawat tersebut sambil menjnjukkan sebuah ruangan pada Fahmi.
Tanpa menunggu lama Fahmi bergegas menemui kepala ruang bagian ICU, sampai disana Fahmi bertemu dokter Firman, dokter Firman juga tidak bisa memberi informasi dimana rumah sakit Aryana dipindahkan, dokter Firman hanya bisa memberi informasi tentang kondisi terakhir Aryana. Aryana belum siuman namun semuanya dinyatakan baik oleh dokter tinggal pemulihan dan menunggu Aryana sadar. Hal itu membuat Fahmi frustasi dimana ia harus mencari Aryananya, satu tempat yang terlintas di pikiran Fahmi untuk mendapat informasi yaitu rumah Aryana, setelah berpamitan dengan dokter Firman, Fahmi segera meninggalkan rumah sakit melajukan mobilnya menuju rumah Aryana berharap ia bisa mendapatkan informasi dimana gadisnya berada, syukur-syukur bisa bertemu dengan Aryana.
__________________________________________
Haduh dibawa kemana ya si cantik kesayangan Om Fahmi ya?
Please Like, Votez Coment, Rate and Favorit
Thank You
__ADS_1
Bersambung...