
Selesai shalat berjamaah, Aryana mencium punggung tangan Fahmi tanda takzim, dan dibalas oleh Fahmi dengan ciuman di kening Aryana. Suami mencium kening istrinya di saat-saat tertentu, seperti waktu suami berangkat dan pulang kerja, sebelum dan sesudah tidur, alasannya sebagai tanda bahwa suamilah pelindung dan penenang bagi istrinya agar sang istri merasa nyaman dan bahagia.
"Ya Allah, ternyata rasanya begini punya seorang istri yang sholehah, menutup auratnya, sejuk dipandang mata, selalu mengingatkan untuk beribadah kepadamu Ya Rabb," batin Fahmi dalam hati setelah melepas ciuman di kening Aryana.
"Terima kasih ya Allah, kau kirimkan imam yang baik dalam kehidupanku, semoga kami selalu bisa istiqomah di jalan-Mu ya Rabb. Melihat Om Fahmi berpakaian seperti rasanya hatiku begitu damai," ucap Aryana dalam hati yang mengagumi penampilan suaminya dengan pakaian koko warna putih dan sarung serta peci hitam.
"Sayang, kok memandangku seperti itu?, apa aku terlihat tampan dengan pakaian seperti ini hemm?" tanya Fahmi membuat Aryana tersipu malu karena kedapatan memandangi wajah suaminya dengan intens.
"Ya, Honey, kamu terlihat lebih tampan dan lebih muda dengan pakaian seperti ini, adem di hati melihatnya," jawab Aryana jujur.
"Kalau begitu tiap hari aku pakai pakaian seperti ini saja ya, Sayang?"
"Eh jangan dong, masa ke kantor pakai pakaian seperti ini, ya pas di rumah aja, Honey, pergi ke masjid atau menghadiri pengajian."
"Ya kan biar hatimu selalu adem."
"Tapi nggak gitu juga kali, ke kantor pakai koko dan sarung."
"Aku hanya bercanda, Honey, yuk lepas mukenanya dan istirahat kamu pasti sudah capek!" ajak Fahmi.
Aryana melepas mukenanya sedangkan Fahmi melepas sarung dan baju kokonya. Kemudian Fahmi membawa Aryana untuk berbaring di ranjang. Mereka tidur saling berhadapan, Fahmi membelai lembut wajah istri kecilnya yang ia tunggu selama tujuh belas tahun.
"Sayang akhirnya kita menikah juga ya, rasanya ini bagaikan mimpi untukku," ucap Fahmi sambil sesekali membenarkan anak rambut Aryana.
"Aku juga tidak menyangka akan menikah dengan seseorang aku panggil Om sejak kecil hampir seumuran dengan bunda, dan aku dengan berani mengambil keputusan besar menikah dengan Om Fahmi di usia yang masih sangat muda," ucap Aryana sambil membelai wajah Fahmi yang berhadapan dengannya.
"Ayo kita segera tidur, agar besok bisa lebih segar!" ajak Fahmi yang langsung membawa tubuh Aryana ke pelukannya, tak lupa Fahmi mendaratkan ciuman di kening Aryana, tak lama terdengar dengkuran halus dari Fahmi pertanda pria itu sudah masuk ke alam mimpi.
Sedangkan Aryana begitu sulit memejamkan matanya, ada sesuatu yang menyesakkan dadanya. Biasanya laki-laki akan agresif dan tidak sabaran untuk menjamah tubuh istrinya di malam pertama tapi apa yang ia dapati, suaminya malah sudah tertidur. Aryana perlahan menyingkirkan tangan Fahmi yang memeluknya, pelan-pelan ia bangun dari tempat tidur, ia membuka pintu balkon kamarnya, hamparan pemandangan di atas balkon kamarnya terlihat sangat indah namun tak seindah suasana hatinya malam ini.
"Mungkin tubuhku kurang berisi dan kurang **** dimata Om Fahmi sehingga ia tak tertarik melakukannya padaku, huh, wajar Om Fahmi tak tertarik dengan tubuhku, memang siapa yang mau dengan tubuh tak berisi seperti ini, apalagi jantungku yang mengalami kelainan, tak menarik sama sekali, kau harus sadar Aryana dengan kondisimu," ucap Aryana dalam hati, tak terasa bulir bening keluar dari matanya.
Fahmi yang sedang tertidur, tiba-tiba merasa ada sesuatu yang hilang disampingnya, ia meraba sebelahnya. Ia langsung bangkit dari tidurnya ketika menemukan Aryana tak disisinya, ia memanggil sang istri namun tak ada jawaban. Sampai Fahmi menemukan siluet seseorang duduk termenung di kursi balkon kamar.
"Sayang kenapa disini?" tanya Fahmi sambil memegang kedua pundak sang istri dari belakang.
__ADS_1
"Aku cuma tak bisa tidur saja, jadi aku melihat pemandangan luar dari sini," jawab Aryana bohong.
Fahmi lalu membalikan tubuh Aryana untuk menghadapnya, betapa terkejutnya Fahmi ketika melihat wajah Aryana dengan mata sedikit sembab, masih terlihat jejak sisa air mata di pipinya.
"Kamu menangis, Sayang?, kenapa hemm?" tanya Fahmi dengan tatapan menyelidik.
"Memang aku terlihat menangis?" ucap Aryana yang malah balik bertanya.
"Kamu nggak bisa bohong sama aku Sayang, katakan ada apa?, atau kau mau besok pagi ayahmu melihat wajahmu yang seperti ini dan langsung menghajar ku," ucap Fahmi.
"Honey, aku minta maaf padamu," ucap Aryana yang membuat Fahmi heran.
"Minta maaf padaku soal apa, aku tidak mengerti?"
"Maaf karena bentuk tubuhku tak menarik, dan tidak bisa membuatmu mau melakukan hal itu di malam pertama kita," jawab Aryana.
Mendengar perkataan istri kecilnya, Fahmi mencoba mencerna apa maksud perkataan istrinya tersebut, sejenak ia berfikir dan akhirnya matanya membulat sempurna setelah tau apa yang di maksud gadis yang baru satu hari ia halalkan itu.
"Sayang, kenapa kau bisa-bisanya berfikir seperti itu, aku tidak melakukannya malam ini bukan karena aku tidak tertarik dengan tubuhmu tapi karena aku lebih mengutamakan kesehatanmu, apa kau lupa suamimu ini juga seorang dokter, jadi aku tahu kapan aku bisa melakukannya dengan riwayat kesehatanmu yang cenderung tak stabil. Kalau aku laki-laki seperti apa yang kau pikirkan, untuk apa aku menjaga keperjakaanku menunggumu selama tujuh belas tahun. Kau tahu saat tadi kau memintaku membantumu melepas kancing belakang gaunmu juniorku sudah on, tapi karena kau terlihat lelah maka aku menahannya," ujar Fahmi membuat Aryana merasa bersalah telah salah sangka pada suaminya.
"Sudahlah, mulai sekarang apapun yang menjadi beban pikiranmu, kamu harus bicara jujur padaku, jangan disimpan sendiri dan mengambil kesimpulan sendiri yang pada akhirnya malah akan melukai dirimu sendiri, sekarang kamu tanggung jawabku, fisikmu, hatimu dan semua yang berhubungan denganmu adalah tanggung jawabku. Ayahmu sangat posesif sekali padamu, jika sampai dia tahu setetes air matamu jatuh karena kelalaian ku maka ia tak akan segan-segan membawamu kembali, jadi aku mohon apapun itu jujurlah padaku, oke?" pinta Fahmi sambil membawa Aryana ke dalam pelukannya, mencium pucuk kepala Aryana berkali-kali. Fahmi benar-benar takut kehilangan cinta yang sudah susah payah ia dapatkan.
Fahmi kemudian mengajak istrinya kembali ke ranjang untuk beristirahat. Aryana membenamkan wajahnya ke dada bidang Fahmi, dan Fahmi pun tidur dengan memeluk Aryana dari depan. Tak berapa lama Aryana tertidur pulas di pelukan Fahmi. Dipandanginya wajah cantik Aryana yang sekarang sudah sah menjadi istrinya. Namun Fahmi tidak boleh gegabah dalam urusan ranjang dan memiliki anak. Usia Aryana masih sangat muda untuk mengandung apalagi kelainan jantung yang di derita Aryana. Fahmi memikirkan bagaimana menjalani hubungan intim yang aman dengan Aryana. Ia tak mau Aryana salah faham lagi seperti malam ini.
"Aryana sayang kenapa kamu bisa berfikir aku tak menginginkanmu, sejak kau masih kecil hatiku sudah menjadi milikmu, bisa-bisanya kamu berfikir aku tak mau berhubungan intim denganmu. Aku menantikan hari itu tiba, namun mengingat riwayat kesehatanmu dan usiamu yang masih sangat muda, aku tidak boleh egois, I love yo my wife," ucap Fahmi dalam hati lalu ia mencium kening, mata, pipi dan bibir Aryana.
Suara adzan terdengar, Aryana berusaha membuka matanya yang terasa berat, ia ingin bangun tapi terasa berat, ternyata tangan Fahmi melingkar memeluk dirinya, seolah dalam tidurpun sang suami tak mau melepaskannya. Sejenak Aryana memandangi wajah tampan suaminya, kulit putih bersih, hidung mancung, alis agak tebal dan bibir tipis nan menawan. Tangan Aryana terulur membelai wajah sang suami, bibir Aryana menyunggingkan senyuman, pikirannya traveling, ia membayangkan jika mereka punya anak laki-laki pasti akan setampan sang suami. Tiba-tiba sebuah suara membuat Aryana menghentikan kegiatannya membelai wajah Fahmi.
"Sudah selesai mengagumi wajah suamimu ini?" ucap Fahmi dengan keadaan mata yang masih tertutup.
Mendengar suara sang suami yang tiba-tiba, Aryana langsung menarik tangannya dari wajah Fahmi dan segera bergegas turun dari ranjang namun ia kalah cepat dengan sang suami yang berhasil menarik tangannya sehingga ia jatuh ke dada bidang Fahmi.
"Mau kabur kemana hemm?, kamu harus bertanggung jawab setelah menyentuh wajahku!" ucap Fahmi dengan senyum smirknya.
"Ma-maaf, Honey, kalau aku menganggu tidurmu," ucap Aryana gugup membuat Fahmi tertawa.
__ADS_1
"Kau benar-benar mengemaskan, sama suami sendiri masih gugup begitu, kamu mau pegang bagian tubuhku yang mana juga boleh, apalagi yang ini sangat boleh," ucap Fahmi sambil mengarahkan tangan Aryana mengelus juniornya yang masih tertutup celana pendek dan hal itu membuat Aryana tersentak kaget sekaligus malu.
"Ih...kamu mesum, Honey!, ayo kita shalat subuh dulu nanti keburu habis waktunya," ucap Aryana yang langsung buru-buru turun dari ranjang menuju kamar mandi, sedangkan Fahmi tertawa melihat reaksi Aryana yang memegang juniornya meski tidak secara langsung. Sedangkan di kamar mandi Aryana sedang menangkan degup jantungnya.
"Astaga, ternyata punya honey sebesar itu, bagaimana mungkin bisa masuk ke punyaku, kalau di paksa pasti sakit, oh ya Tuhan mikir apa sih aku ini kok jadi ikutan mesum kaya suamiku, aku harus segera mandi lalu shalat," batin Aryana dan ia pun segera mandi agar bisa segera melaksanakan shalat subuh.
Setelah Aryana selesai mandi dan sekalian berwudhu, Fahmi segera ke kamar mandi, setelah itu mereka berdua melaksanakan shalat subuh berjamaah. Aryana mengambil ponselnya setelah shalat tanpa melepas mukenanya, ia membuka aplikasi Al-Quran, ia mengaji sebentar, melihat itu hati Fahmi rasanya seperti disiram air yang menyejukkan, sungguh wanita yang langka, didikan Yasmin dan Yudha memang luar biasa. Meskipun Aryana terlahir dari keluarga kaya bahkan boleh dikatakan Aryana anak sultan namun cara dia bersikap sangat santun dan jangan lupakan ke sholehanya.
"Shadaqallahul ‘adzim," ucap Aryana mengakhiri bacaan Al-Qur'an nya.
Cup
Satu ciuman mendarat di kening Aryana setelah Aryana selesai mengaji.
"Jika tiap hari seperti ini, aku akan betah di rumah," ucap Fahmi.
"Kenapa?"
"Sudah ada bidadari surga di rumah, jadi malas keluar rumah," jawab Fahmi.
"Kamu selalu lebay, Honey, yuk kita keluar jalan-jalan sekitar hotel sekalian menemui papi, mami dan keluargamu yang lain!" ajak Aryana.
"Oke Tuan Putri, aku ganti baju dulu, masa mau jalan-jalan pakai sarung dan koko," ucap Fahmi yang membuat Aryana tertawa.
Tak lama sepasang pengantin baru itu turun ke bawah untuk menikmati udara dan pemandangan pagi sekalian sarapan bersama keluarga Fahmi yang masih di hotel.
________________________________________
Hai Readers maaf baru bisa up, maaf juga MP nya Om Fahmi dan Aryana pending dulu ya tapi nanti ada kok.
Jangan lupa like, vote, coment, rate dan favorit
Thank You
Bersambung...
__ADS_1