
Tiga bulan berlalu, keadaan Afwi sudah membaik, sejak satu bulan lalu ia sudah masuk kerja namun hanya melakukan aktivitas ringan. Sesuai dengan rencananya, begitu sembuh ia akan melamar Nayla. Begitu mendengar rencana lamaran putranya, Yasmin dan keluarga segera menyiapkan lamaran untuk Nayla, sedangkan Afwa akan melamar Kirana tiga bulan lagi setelah selesai penugasan di Sumatra.
"Bunda, apa semua sudah disiapkan, Bund? jangan sampai ada yang kurang lho!" pinta Afwi pada Yasmin melalui via telepon.
"Kamu tenang saja, bunda sudah menyiapkan semuanya, nanti bunda video semuanya jika masih ada yang kurang kamu bilang saja."
"Siap, Bunda, kirim saja videonya segera!"
Setelah bertelepon dengan sang bunda, Afwi merebahkan tubuhnya di tempat tidur, pikirannya menerawang membayangkan betapa bahagianya jika saat lelah pulang kerja seperti ini, Nayla sudah ada di sisinya.
Dua hari setelah menelpon bundanya, Afwi menerima video semua perlengkapan yang akan di bawa saat lamarannya nanti. Afwi sungguh kagum dengan pilihan bunda dan omanya, sepertinya ia tak perlu lagi menambah apapun. Hanya saja yang membuatnya sedih adalah adik dan kakaknya tak bisa ikut dalam acara lamaran. Hanya kedua orang tuanya, oma, opanya yang ikut. Kakek Danuarta tak bisa ikut karena keadaan kesehatan nenek Ratna kurang baik.
Sesuai waktu yang sudah di rencanakan, Sabtu malam ini Afwi dan keluarganya mendatangi rumah Nayla untuk melamar, beberapa pengawal menurunkan barang bawaan untuk acara lamaran. Sampai di rumah Nayla mereka di sambut hangat oleh pak Mahendra, orang tua pak Mahendra dan bunda Nana.
"Assalamualaikum," ucap Yudha dan keluarga
"Waalaikumsalam, pak Yudha sekeluarga," ucap pak Mahendra sambil menjabat tangan Yudha ditambah pelukan hangat persaudaraan.
Bunda Nana dan orang tua pak Mahendra juga menyambut hangat Yudha dan keluarganya.
"Mari silahkan masuk, Bapak, Ibu, ucap bunda Nana dengan suara lembut.
"Terima kasih," ucap Yasmin sambil mengulas senyum ramah.
Setelah semua duduk, art pak Mahendra mulai menyuguhkan makanan dan minuman, barang hantaran untuk lamaran sudah di masukkan ke rumah pak Mahendra. Kemudian bunda Nana menjemput Nayla ke kamar, ia mendampingi Nayla sampai duduk di ruang keluarga. Nayla tersenyum ramah pada keluarga calon suaminya. Nayla terlihat sangat cantik dengan balutan gamis warna peach dan hijab pashmina. Tentu saja hal itu membuat Afwi begitu surprise, kecantikan Nayla serasa berkali kali lipat dari biasanya sebelum ia memakai hijab. Setelah Nayla duduk, Yudha memulai pembicaraan tentang maksud kedatangannya.
"Sebelumnya, saya mau mengucapkan terima kasih pada pak Mahendra sekeluarga, sudah menerima kedatangan kami dengan sangat baik. Tujuan kami ke datang ke sini adalah untuk melamar Nayla untuk menjadi istri dari putra kami Afwi Shakta Yudhatama."
"Pak Yudha sekeluarga, kami juga sangat senang dengan kedatangan keluarga anda, apalagi pak Dimas juga turut hadir dalam acara ini, sungguh ini kehormatan bagi saya dan keluarga saya. Mengenai lamaran untuk putri saya Nayla, saya serahkan pada putri saya, karena dialah yang akan menjalaninya," ucap pak Mahendra
"Bagaimana, Nay, apa kamu menerima lamaran Afwi sebagai calon suamimu?" tanya pak Mahendra pada putrinya yang sedang menunduk malu.
Begitu mendengar pertanyaan sang ayah, Nayla mengangkat wajahnya, meski gugup ia berusaha bersikap tenang.
"Bismillahirrahminirrahiim, saya bersedia menerima lamaran abang Afwi," ucap Nayla yang di sambut suka cita oleh semuanya terutama Afwi yang berdebar sejak tadi. Meskipun ia yakin sang kekasih akan menjawab iya, namun terbersit juga ketakutan dalam dirinya jika tiba-tiba Nayla menolak lamarannya karena dunia pennuh dengan kemungkinan
"Alahamdulillahirrabil'alamiin," ucap semua orang di ruangan tersebut.
Kemudian Yasmin mewakili Afwi menyematkan cicin di jari manis Nayla sebagai tanda dinterimannya sang putra menjadi calob suami Nayla.
"Terima kasih ya, Sayang kamu mau menerima putra bunda yang seperti kulkas itu," ucap Yasmin setelah menyematkan cincin di jari manis Nayla.
"Sama-sama, Tante, justru saya yang berterima kasih, abang Afwi bersedia menjadi pendamping hidup saya dan keluarga Tante mau menerima saya apa adanya," ucap Nayla dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.
__ADS_1
Mendengar ucapan Nayla Yasmin langsung memeluk calon menantunya itu, ia mengerti perasaan Nayla, karena ia juga pernah merasa di poisisi Nayla dan juga Afwi pernah menceritakan keraguan Nayla pada cinta Afwi.
Melihat suasana yang berubah haru tersebut bunda Nana berinisiatif untuk mengalihkan perhatian semua keluarga untuk bersiap menyantap makan malam.
"Bapak, ibu, mohon maaf, kami persilahkan untuk makan malam bersama!" ajak bunda Nana.
"Mari pak Yudha, bu Yasmin, pak Dimas, bu Dewi, kita makan malam terlebih dahulu setelah itu kita bicarakan lagi tentang acara pernikahan Afwi dan Nayla!"
Mereka akhirnya menyantap makan malam yang di sediakan oleh pak Mahendra, saat makan malam Afwi tak henti-hentinya mencuri pandang pada Nayla yang malam itu terlihat sangat cantik.
"Ipda Afwi!, tidak usah mencuri-curi pandang sama Nay, nanti kalau sudah sah, kamu bisa pandangi Nay sepuasnya!" tegur pak Mahendra yang ternyata memperhatikan gerak gerik calon menantunya itu.
Mendengar ucapan pak Mahendra semua orang di meja makan terkekeh pelan kecuali Afwi dan Nayla yang menahan malu. Seusai makan malam, mereka melanjutkan perbincangan membahas masalah pernikahan.
"Pak Yudha, sebaiknya mulai besok Afwi segera mengurus pengajuan nikah ke kantor," ucap pak Mahendra.
"Saya setuju dengan pendapat pak Mahendra, lebih cepat lebih baik, kami berencana meskipun pernikahan Afwi dan kakaknya, Afwa berbeda tanggal namun untuk acara ngunduh mantu, Afwa dan Afwi akan disamakan waktunya agar lebih efisien," ucap Yudha.
"Hal itu tak masalah, saya tahu kesibukan pak Yudha, pasti akan melelahkan jika bolak balik mantu, ha...ha...," ucap pak Mahendra sembari bercanda.
"Bagaimana, Nay, kamu nggak keberatan kan kalau acara ngunduh mantu Afwi dan kamu bareng dengan kakaknya Afwi?" tanya Yasmin.
"Tidak, Tante, saya sama sekali tidak keberatan, saya justru senang bisa bareng dengan ngunduh mantunya kakaknya abang Afwi," jawab Nayla.
"Syukurlah kalau kamu tidak keberatan, tenang saja jarak pernikahanmu dan Afwa tidak lama," ucap Yasmin merasa lega karena Nayla tak keberatan dengan rencananya.
"Ya, saya mengerti, kita dari memiliki adat yang sama, kami tunggu kedatangan pak Mahendra ke tempat kami," ucap Yudha.
Setelah selesai membicarakan beberapa hal tentang persiapan pernikahan Afwi dan Nayla, Yudha dan keluarganya pamit pulang. Pak Mahendra mengantar Yudha dan keluarganya sampai ke halaman rumah, sedangkan Afwi meminta waktu sebentar untuk berpamitan dengan Nayla.
"Dek, malam ini kamu cantik banget, abang sangat terkejut lihat penampilan kamu," ucap Afwi membuat Nayla bersemu merah.
"Abang, bisa aja gombalnya."
"Abang nggak gombal, sungguh, abang harap kamu istiqomah berpenampilan seperti ini, dan abang harap perubahan kamu ini bukan karena abang atau hal apapun, tapi memang kamu melakukannya karena mentaati perintah Allah."
"InsyaAllah, Nay akan istiqomah, memang sejak ketemu keluarga abang, hatiku merasa tergerak, aku merasa malu pada diri sendiri juga malu pada Allah baru sekarang bisa melakukan perubahan."
"Tak apa, selagi jantung masih berdetak, kita tak boleh berhenti memohon ampunan dari Allah dan berubah menjadi seseorang yang lebih baik. Abang harap apapun yang terjadi ke depannya jangan pernah membuka hijab kamu, karena zaman sekarang banyak kaum wanita yang mulanya berhijab setelah dapat suatu masalah justru melepas hijabnya, mungkin mereka melakukan itu sebagai bentuk protes pada Allah tentang hidupnya yang berubah buruk."
"Nay, akan selalu ingat pesan, Abang, Nay juga berharap apapun yang terjadi ke depan cinta abang sama, Nay akan terus bertambah."
"Semoga, ya, Dek, kita hanya manusia bisanya hanya berusaha dan berdoa, kita saling mendoakan yang terbaik untuk hubungan kita ke depan, semoga acara pernikahan kita dan kak Afwa nanti berjalan lancar"
__ADS_1
"Aamiin...," ucap Nayla mengaminkan doa dan harapan Afwi.
Setelah berpamitan secara khusus dengan Nayla, Afwi bergabung kembali dengan orang tuanya juga opa dan omanya yang ternyata masih berbincang dengan papa Nayla dan bunda Nana.
"Sudah selesai melepas rindunya?" goda opa Dimas yang melihat cucunya mendekat pada mereka.
"Ah, opa seperti tak pernah muda saja," cebik Afwi kesal.
"Sudah selesai bicara dengan, Nay?" tanya Yasmin.
"Sudah, Bunda," jawab Afwi.
Rombongan keluarga, Afwi meninggalkan halaman rumah pak Mahendra, mereka nenuju hotel karena rumah rumah pak Mahendra ada di Semarang sedangkan Yudha berada di Jakarta. Kebetulan pak Mahendra yang di tugaskan di Bandung, sudah di tugaskan di Semarang lagi.
Sampai hotel, mereka langsung masuk ke kamar masing-masing, tapi Afwi malah ikutan nyelonong masuk ke kamar orang tuanya dan langsung mendudukan tubuhnya ke sofa kamar, tentu saja hal itu membuat Yudha kesal.
"Hei, bocah, kenapa kau ikut masuk ke kamar ayah dan bunda?"
"Aku masih pingin ngobrol dengan kalian, apa tak boleh?"
"Ngobrolnya besok saja, ayah dan bunda capek," ucap Yudha.
"Halah, paling juga mau ehem ehem sama bunda," ucap Afwi blak-blakan.
"Afwi jaga bicara kamu, ya ! mana ada begitu?" ucap Yasmin juga kesal dengan putrnya itu.
"Ya maaf deh, aku cuma pingin ngobrol sebentar aja."
"Mau ngobrol apa memanganya?" tanya Yasmin.
"Bagaimana pendapat bunda tentang perubahan penampilan, Nayla?"
"Menurut bunda bagus sih, Kirana juga sudah berhijab juga, tapi bunda berharap perubahan Nayla bukan karena melihat penampilan bunda atau apapun, bunda berharap perubahan Nayla karena ingin mendekatkan diri pada Allah."
"Aku tadi juga bilang begitu sama, Nay, dan Nay bilang ia akan istiqomah berhijab."
"Syukurlah kalau Nay punya pemikiran seperti itu."
"Afwi minta kak Afwa nikahnya jangan kelamaan, selesai tugas langsung pengajuan, ayah bantu kak Afwa biar cepet gitu!" pinta Afwi dengan nada memelas.
"Iya-iya, tanpa kamu mintapun ayah sudah ngerti, ayah paham dengan putra ayah yang dingin kaya kulkas ini sepertinya bukan ayah dan bunda yang pingin ehem ehem tapi kamu," ucap Yudha membuat Afwi membulatkan matanya.
_____________________________________________
__ADS_1
Please, Like, Vote, Komentar, Rate and Favorit
Thank You