Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 99


__ADS_3

Di Singapura, setelah makan malam itu, keesokan harinya papi dan mami Fahmi bertolak pulang ke Indonesia, Fahmi dan Aryana menyempatkan mengantar papi dan maminya ke bandara meskipun mereka naik jet pribadi.


"Fahmi jaga istri kamu baik-baik, bayi dalam kandungannya adalah penerus keturunan keluarga Pratama, apalagi kehamilan Aryana adalah kehamilan kembar yang papi dengar akan banyak beresiko tinggi!" pinta papi Pratama saat akan menaiki jet pribadinya.


"Iya, Pi, aku akan selalu ingat pesan papi, aku akan mengutamakan anak dan istriku di atas segalanya setelah Tuhan," ucap Fahmi mantap menangapi pesan papinya.


Setelah saling mengucap pesan dan salam perpisahan, papi dan mami Fahmi segera menaiki jet pribadinya. Fahmi dan Aryana masih menunggu di bandara sampai jet pribadi Pratama group take off. Setelah melihat jetpri yang di tumpangi orang tuanya sudah fly, Fahmi mengajak istrinya pulang, dengan posesif Fahmi merangkul pundak sang istri.


"Honey, tadi apa yang papi katakan padamu saat akan naik jetpri tadi?" tanya Aryana saat mereka berjalan ke luar dari bandara.


"Papi, cuma berpesan agar aku selalu menjaga kamu dan anak-anak kita yang masih di perutmu itu dengan baik, karena tiga janin yang selalu kamu bawa kemana-mana itu adalah pewaris Pratama group," jawab Fahmi.


"Papi perhatian banget ya, Honey, sosoknya lembut dan hangat seperti opa Dimas," ucap Aryana menyamakan papi mertuanya dengan sang opa, tiba-tiba Aryana jadi merindukan opanya yang kadang lucu dan kocak saat bersama keluarganya tapi jangan ditanya saat masih jadi tentara bisa bikin merinding karena sikap tegasnya.


"Kamu rindu keluargamu ya, Sayang?" tanya Fahmi tiba-tiba.


"Rindu, tentu saja aku rindu, tapi dengan keadaanku yang seperti ini tidak mungkin aku pulang ke tanah air," jawab Aryana.


"Jika kamu tak bisa pulang ke Indonesia, mereka bisa datang ke sini," ucap Fahmi.


"Aku tak mau kehamilanku merepotkan siapapun, Honey, termasuk orang tuaku," ucap Aryana.


Mendengar perkataan istrinya, Fahmi hanya menghembuskan nafas panjang, dari dulu begitulah sifat sang istri, selalu saja memikirkan perasaan dan kepentingan orang lain. Kadang Fahmi merasa takut dengan sifat sang istri yang seperti ini, Fahmi takut jika suatu saat sang istri akan mengambil keputusan tanpa memikirkan dirinya sendiri.


"Sayang, kalau kau rindu dengan mereka tidak ada salahnya jika, keluargamu yang datang kemari, paling tidak Azka yang kemari jika dia sedang libur sekolah, bukannya tahun kemarin bundamu dan Azka yang kesini, kalau kedua kakak kembarmu itu tidak mungkin karena mereka menempuh pendidikan militer jadi tidak bisa ijin sesuka hati," ujar Fahmi memberi pengertian pada Aryana.


"Baiklah, nanti aku akan tanya Azka, kapan dia libur sekolah, aku akan minta dia main ke sini," ucap Aryana mau mendengarkan saran dari sang suami.


"Aku janji, Sayang kalau kamu sudah lulus kuliah kedokteran di sini, kita akan kembali ke Indonesia," ucap Fahmi sambil mencium kening Aryana.


Tak terasa mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di rumah, supir membukakan pintu mobil, tapi hanya Aryana yang turun, Fahmi harus segera kembali ke kantor.


"Aku lanjut ke kantor, ya Sayang, hati-hati di rumah!" ucap Fahmi sebelum Aryana turun dari mobil, tak lupa Fahmi mendaratkan ciuman di kening, pipi dan perut Aryana. Selesai berpamitan dengan sang istri dan calon anaknya, Fahmi segera meninggalkan rumah menuju ke kantornya.


.


Di Indonesia seorang pria paruh baya berseragam polisi lengkap tengah duduk di dalam mobil mengamati seorang gadis yang dengan ceria dan semangat sedang melayani pembeli di warung lumpianya. Di raut wajah gadis itu tak terlihat rasa kesedihan, ia tampak begitu menikmati aktifitasnya berjualan lumpia.


"Kau begitu ceria dengan kegiatanmu yang baru, kau tampak ceria tanpa beban, sepertinya kau begitu menikmati hidupmu tanpa papa, apa kau benar-benar membenci papa, Nak, apa kau sama sekali tak merindukan papa?" batin pria paruh baya yang menangis di dalam hatinya.


Melihat atasannya terdiam lama sambil terus memandangi warung lumpia dimana seorang gadis dengan penuh semangat melayani pembeli, sang ajudan pun bertanya pada atasannya tersebut.


"Ijin bertanya, Ndan, apa Komandan ingin menemui nona?" tanya sang ajudan.


"Apa dia mau menemuiku, Mirza?" tanya sang komandan padanya.


"Ijin, Ndan, kalau Komandan tidak mencoba, Komandan tidak akan tahu reaksi nona," ucap Mirza menjawab pertanyaanl sang komandan yang tak lain adalah Kombes Mahendra Bagaskara, papa dari Nayla.

__ADS_1


"Kamu turunlah, belilah semua lumpia yang di jual putriku!" pinta Kombes Mahendra pada Mirza sambil memberikan puluhan lembar uang berwarna merah.


"Siap, Ndan!" ucap Mirza menerima uang sang sang komandan lalu keluar dari mobil menuju warung lumpia yang berada di seberang jalan.


Sampai di warung tersebut, Mirza menyapa putri sang komandan dengan ramah sebelum ia memesan lumpia.


"Selamat siang, Mbak!" ucap Mirza ramah.


Nayla yang mendengar seseorang menyapanya langsung mengangkat wajahnya karena sedari tadi ia sibuk dengan lumpianya.


"Siang," balas Nayla ramah, namun saat melihat seragam polisi yang di pakai Mirza, Nayla mengerenyitkan dahinya.


"Ya, Mas, ada apa ya?" sambung Nayla setelah melihat yang menyapanya berseragam polisi.


"Saya mau membeli semua lumpia jualan mbak," jawab Mirza.


"Apa!, membeli semua lumpia dagangan saya?" tanya Nayla terkejut.


Dalam hati Nayla sudah bisa menebak, pasti ini kerjaan papanya tapi ia tidak bisa banyak bertanya pada pria berseragam polisi di depannya ini karena ia harus menyembunyikan identitasnya.


"Maaf jika saya lancang, tapi buat apa bapak membeli semua lumpia saya?" tanya Nayla.


"Alhamdulillah, Mbak saya baru dapat rezeki saya mau bagi-bagi lumpia ke rekan-rekan saya di kantor," jawab Mirza memberi alasan, dan alasan yang diberikan Mirza cukup masuk akal.


"Baik, tapi tunggu dulu ya, Mas, karena saya harus menggoreng lumpianya dulu!" pinta Nayla pada Mirza.


Kemudian Nayla dengan cekatan menggoreng semua lumpia, sesekali ia mengelap keringat di dahinya dengan sapu tangan. Aktifitas menggoreng cukup membuatnya gerah.


"Ya Tuhan seandainya bukan putri komandan, aku akan langsung ajak dia pengajuan dan akan aku jadikan Bhayangkari ku," batin Mirza sewaktu melihat penampilan Nayla yang sederhana namun terlihat cantik alami membuat para pria pasti kagum pada makhluk cantik di depannya ini.


Setelah sekitar kurang lebih setengah jam lebih lumpia pesanannya sudah selesai di buat, Nayla membungkus lumpia menjadi dua plastik untuk membedakan lumpia yang isi rebung dan lumpia yang isi sayur.


"Ini, Mas pesanannya, yang kresek ini yang isi rebung, dan yang ini yang isi sayur, tapi maaf ya Mas saya tidak bisa menjual semua lumpia saya sama Mas, karena saya baru ingat tadi ada yang pesan tiga kotak lumpia," ucap Nayla sambil menyerahkan dua kantong kresek lumpia.


"Oh nggak apa-apa mbak, berapa semuanya? ucap Mirza.


"Semuanya sembilan ratus ribu, Mas," jawab Nayla.


Mirza segera memberikan uang sejumlah yang di sebutkan Nayla, setelah itu Mirza segera pergi meninggalkan warung lumpia milik Nayla, melihat pria berseragam polisi itu meninggalkan warungnya, Nayla memperhatikan keman polisi itu pergi. Nayla melihat pria muda berseragam polisi tadi masuk ke dalam sebuah mobil, dan ketika mobil yang di kendarai pria berseragam polisi itu melaju agak pelan di depan warungnya, Nayla sekilas melihat seperti wajah sang papa ada di dalam mobil tersebut.


"Papa," ucap Nayla dalam hati.


.


Di dalam mobil Mahendra menatap dua kantong kresek yang memuat lumpia buatan putrinya, ia tak menyangka putri buah cintanya dengan istri pertamanya memilih kehidupan sederhana dan jauh darinya padahal niatnya menikah lagi agar sang putri masih bisa merasakan kasih sayang seorang ibu. Nayla meninggalkan rumah dengan alasan ingin mandiri dan tak ingin hidup satu atap dengan ibu tirinya tanpa mengatakan apa alasan kenapa dia tak mau menerima Galuh sebagai ibu sambungnya.


"Ijin bicara, Ndan, apa Komandan tak ingin mencicipi lumpia buatan nona Nayla, sepertinya sangat enak apalagi masih hangat," ucap Mirza.

__ADS_1


"Nanti saja di kantor, dan satu hal lagi Mirza, jangan katakan pada ibu apapun tentang Nayla hari ini!" pinta Mahendra.


"Siap, Ndan!" ucap Mirza, meski banyak tanda tanya di hatinya kenapa bu Mahendra tak boleh tahu tentang Nayla saat ini.


Mobil yang di tumpangi Kombes Mahendra sudah sampai di kantor, Mahendra meminta Mirza untuk membagi-bagikan lumpia buatan putrinya ke anggotanya.


"Mirza, tolong ambilkan saya enam lumpia lalu bawa ke ruangan saya, sisanya bagikan ke para anggota!" perintah Kombes Mahendra.


"Siap!" ucap Mirza lalu membawa dua kantong kresek lumpia ke dapur yang ada di belakang kantor, ia meminta pak Man OB kantor untuk mengambilkan piring. Mirza lalu menaruh tiga lumpia isi rebung dan tiga lumpia isi sayur. setelah menaruh enam buah lumpia ia meminta pak Man mengantar enam buah lumpia ke ruangan Kombes Mahendra.


"Pak Man, tolong antar ini ke ruangan Kombes Mahendra, dan satu dus ini buat pak Man dan OB yang lain!" pinta Mirza pada pak Man.


"Iya, Pak Mirza, siap, tapi kalau boleh tahu inj dalam rangka apa ya Pak Mirza bagi-bagi lumpia?" tanya pak Man.


"Bukan saya, tapi Kombes Mahendra, tadi mampir ke tempat temannya, eh dibawain lumpia banyak, tapi jangan bilang ke siapa-siapa kalau ini dari pak Kombes!" jawab Mirza sambil meminta pak Man untuk merahasiakan tentang siapa yang memberi lumpia.


"Memang kenapa, Pak?" tanya pak Man.


"Kamu seperti tidak tahu aja seperti apa istri Kombes Mahendra yang sekarang," jawab Mirza memelankan suaranya.


"Oh begitu, ya ya saya ngerti, saya juga nggak mau berurusan dengan bu Mahendra yang sekarang, bisa runyam. Semoga Kombes Mahendara rezekinya banyak ya, baik kalau begitu saya antar ini dulu ke ruangan pak Mahendra," ucap pak Man kemudian segera membawan piring berisi lumpia ke ruang Kombes Mahendra.


Sedangkan Mirza membawa lumpia yang lain untuk di bagikan ke anggota polisi yang lain, dan tentu saja rekan-rekannya sangat senang mendapat rezeki nompolok.


"Briptu Mirza tumben beli lumpia banyak banget," ucap salah seorang temannya.


"Ya Alhamdulillah lagi dapat rezeki lebih," ucap Mirza sambil ikut menikmati lumpia buatan sang putri komandan yang sulit ia gapai.


"Semoga rezeki kamu lancar, Briptu Mirza," ucap salah seorang temannya.


"Sering-sering aja seperti ini, ya nggak?" ucap teman Mirza yang lain.


"Doakan saja, semoga rezeki saya lancar, jadi bisa sering nraktir kalian," ucap Mirza sanbil tersenyum menangapi perkataan teman-temanya.


Di ruangannya Kombes Mahendra sedang mencicipi lumpia buatan putri tercintanya.


"Ini lumpia paling enak yang pernah aku makan, Intan sayang, putri kita sangat pintar memasak seperti dirimu, andai kamu masih di sisiku, kita akan menikmati lumpia buatan putri kita bersama-sama," batin Mahendra dalam hati dengan rasa sesak di dadanya.


_______________________________________


Author juga mau lho pak Kombes dapat lumpia gratis.


Hallo readers, kemarin memang cuma dikit nulisnya soalnya, saya lagi tidak enak badan.


Tetap dukung author ya, kasih Like, Votez Coment, Rate and Favorit.


Thank You

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2