Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 86


__ADS_3

Tengat waktu enam bulan yang di berikan mami mertuanya berusaha di maksimalkan dengan baik oleh Aryana. Meski tidak setiap hari namun Aryana dan Fahmi cukup intens mengerjakan tender besar mereka, bahkan tak segan Aryana yang meminta duluan dan Fahmi sangat senang dengan perubahan sang istri yang lebih aktif di pembuatan tender mereka. Dalam keyakinan yang di anut keduanya sebagai muslim, seorang istri yang meminta duluan dalam urusan berjima, si istri akan mendapatkan pahala yang lebih besar.


*Siapa saja seorang istri yang menawarkan diri untuk suaminya dengan suka-rela, maka: 1) Allah akan mengharamkan dirinya dari api neraka; 2) memberinya pahala dua ratus ibadah Haji dan Umroh; 3) dicatatkan untuknya dua ratus ribu kebaikan; 4) diangkat untuknya dua ratus ribu derajat di Surga.


Dan siapa saja seorang istri yang masuk bersama suaminya dalam satu selimut, maka malaikat dari bawah 'Arsy memanggilnya, "Mulailah duluan olehmu perbuatan itu (merangsang suami): 1) Maka Allah akan mengampuni untukmu dari dosamu yang telah lalu dan yang akan datang; 2) Dan Allah akan mencatat untuknya pahala seorang yang memerdekan seratus budak; 3) Dan mencatat untuknya dari setiap sehelai rambut dengan satu kebaikan.


Lima bulan telah berlalu dari waktu yang di berikan oleh mami Miranda kepada Aryana untuk segera hamil, namun Aryana belum merasakan gejala-gejala kehamilan pada umumnya, ia hanya merasa kepalanya hanya sering pusing, dan Aryana berfikir mungkin karena ia terlalu banyak memforsir pikirannya untuk tugas kuliah yang banyak juga janjinya pada mami mertuanya yang harus ia tepati.


"Kepalaku kenapa pusing begini lagi ya, tapi makin lama kenapa semakin pusing," gumam Aryana dalam hati sambil tangannya memegang kepalanya yang terasa berat dan pandangan Aryana menjadi kabur. Tubuh Aryana limbung dan akhirnya pingsan di kamar mandi.


Fahmi yang sudah bersiap ke kantor kebingungan mencari sang istri ketika bibi Mey mengatakan bahwa nyonya mudanya belum turun ke bawah untuk sarapan sama sekali. Fahmi kemudian naik ke lantai dimana kamarnya berada untuk mencari istrinya.


"Sayang...!, kamu dimana?, ayo sarapan dulu nanti telat ke kampus lho!" panggil Fahmi ketika sampai di kamar namun tak ada sahutan dari sang istri. Lalu Fahmi menuju kamar mandi karena mungkin sang istri asyik berendam dan lupa waktu, tapi sayangnya Aryana tak pernah berendam terlalu lama.


"Apa di kamar mandi ya, berendam di bath-up kelamaan, tapi di hari kerja begini mana mungkin Aryana terlalu lama berendam," gumam Fahmi dalam hati, kemudian ia melangkahkan kakinya membuka pintu kamar mandi dan alangkah terkejutnya Fahmi melihat istrinya tergeletak di kamar mandi rasanya jantung Fahmi ingin lepas keluar.


"Astagfirullah, Sayang!, kau kenapa?" ucap Fahmi sambil merengkuh tubuh istrinya, menepuk-nepuk pipi istrinya agar segera sadar. Namun mata Aryana masih tetap terpejam, akhirnya Fahmi mengangkat tubuh Aryana yang masih terbalut jubah mandi untuk di tidurkan ke tempat tidur, untung Fahmi masih bisa mengontrol kepanikannya sehingga tak melupakan bahwa dirinya juga seorang dokter. Fahmi mengambil alat kedokterannya yang masih ia simpan di kamar, ia langsung memeriksa sang istri, ia juga memeriksa denyut nadi di tangan istrinya. Wajahnya yang tadi terlihat panik dan ketakutan berganti dengan senyum yang cerah, ia menghujani wajah istrinya yang masih pingsan dengan ciuman kasih sayang dan kebahagiaan.


"Sayang, tahu kah kau, kau akan segera jadi ibu, dan aku akan segera menjadi seorang ayah, kita berhasil memenangkan tender itu, Sayang," ucap Fahmi sambil membelai wajah istrinya setelah menghujaninya dengan ciuman.


Penantian mereka selama dua tahun terbayar sudah, tidak ada yang membahagiakan bagi Fahmi selain mengetahui benihnya berhasil tumbuh di rahim istri kesayangannya, bidadari nya yang ia tunggu sampai tujuh belas tahun. Tak lama Aryana tersadar dari pingsannya, ia berusaha membuka matanya yang berat, saat membuka mata ia melihat sang suami yang sudah berdandan rapi menggenggam erat tangannya sambil tersenyum, namun ada sesuatu yang berbeda dari suaminya yaitu sebuah stetoskop mengalung indah di leher suaminya.


"Honey, aku kenapa?, kepalaku juga pusing dan kau kenapa memakai stetoskop?" ucap Aryana yang begitu sadar dari pingsannya memberondong suaminya dengan banyak pertanyaan.


"Satu-satu dong nanyanya, Sayang, baru juga sadar dari pingsan," ucap Fahmi tersenyum.


"Kau memeriksaku, Honey?, aku sakit apa?" tanya Aryana lagi dengan raut wajah takut.


"Iya aku memeriksamu, tapi kamu jangan khawatir, Sayang, pingsanmu kali ini sebagai tanda tender yang kita kerjakan bersama-sama sudah gol, sekarang hasilnya ada di sini," ucap Fahmi sambil mengelus perut istrinya yang masih rata.


Aryana yang mendengar ucapan suaminya, merasa tak percaya, setitik bening tiba-tiba keluar dari pelupuk matanya, rasanya semua bagai mimpi untuknya.


"Honey, kau tidak bohong kan?, kau bukan dokter kandungan bagaimana kau bisa memastikan?" tanya Aryana bodoh sambil menyeka air matanya. Fahmi yang mendengarnya malah terkekeh, pertanyaan istrinya benar-benar konyol.


"Sayang, meski aku bukan dokter kandungan tapi, aku bisa mendeteksi bagaimana denyut nadi wanita yang sedang hamil atau tidak, dan semua dokter pasti di ajari mendeteksi kehamilan meskipun bukan dokter kandungan. Kau belum dapat pelajaran ini?" ucap Fahmi yang di jawab gelengan kepala oleh Aryana.

__ADS_1


"Ok, kalau begitu, aku bantu ganti baju, kemudian sarapan lalu kita ke dokter Sarah agar kamu lebih percaya dan sekalian untuk memeriksa keadaanmu.


"Baiklah, tapi kepalaku masih sedikit pusing," ucap Aryana sambil memegangi kepalanya yang masih pusing.


"Maka dari itu, aku bantu gaji baju, aku ambilkan baju kamu dulu," ucap Fahmi kemudian ke ruang wardrobe memilihkan baju ganti untuk istrinya sekaligus hijabnya, dengan telaten ia membantu Aryana berganti baju dan memakai hijabnya.


Setelah membantu istrinya berganti baju, Fahmi menuntun Aryana turun ke bawah untuk sarapan, dengan hati-hati Fahmi membantu Aryana duduk dan mengambilkan makanan untuk Aryana.


"Rotinya mau di kasih selai apa, Sayang?" tanya Fahmi pada Aryana.


"Rasa strobery dan coklat," jawab Aryana.


"Ok tuan putri," ucap Fahmi dengan hati berbunga-bunga melayani sarapan sang istri yang sedang mengandung buah cinta mereka.


"Maaf ya Honey, aku jadi menyusahkan mu, seharusnya aku yang melayanimu, ini malah sebaliknya," ucap Aryana sendu sambil menatap suaminya yang masih mengolesi roti tawar dengan selai.


"Sayang, kau ini bicara apa, ini sudah tugasku, aku senang dan aku menantikan saat-saat seperti ini, melayanimu saat kau mengandung buah cinta kita," ucap Fahmi sambil mengelus perut Aryana setelah selesai mengolesi roti untuk sarapan sang istri.


"Makasih, Honey, kamu mau jadi suami siaga," ucap Aryana sambil membelai wajah suaminya yang sangat tampan meski usianya sangat jauh darinya.


Selesai sarapan, Fahmi langsung membawa Aryana ke rumah sakit ME untuk menemui dokter Sarah. Dalam perjalanan Fahmi tak henti-hentinya mengusap perut Aryana yang masih rata dengan tersenyum, sesekali ia memperingatkan supirnya untuk berhati-hati seolah-olah mereka sedang membawa barang-barang yang mudah pecah.


"Kalau istrinya semuda itu, bisa betah setiapa hari di rumah, pantas saja si bos jarang lembur dan jarang ke luar kota atau ke luar negeri, ternyata di rumah punya istri secantik ini," gumam supir Fahmi.


Supir Fahmi yang lama mengajukan resign tiga bulan yang lalu, jadi supir yang baru ini belum pernah melihat istri majikannya, karena untuk Aryana supir yang di pekerjakan adalah perempuan, namun jika Aryana pergi bersama temannya makan ia lebih suka menggunakan transportasi umum tetapi Fahmi tetap mengawasi Aryana dari jauh.


Sampai di rumah sakit, Fahmi memeluk pinggang istrinya posesif sehingga menjadi pusat perhatian banyak orang yang berada di rumah sakit termasuk dokter dan perawat yang kebetualan lewat.


"Honey, jangan begini, banyak orang melihat kita, aku tak enak!" protes Aryana pada Fahmi.


"Biarkan saja, kau istri sahku bukan simpananku, untuk apa mengurusi mereka," ucap Fahmi menaggapi protes istrinya.


Mendengar penuturan suami bucinnya ini, Aryana merasa jengah, selalu saja seperti itu, akhirnya Aryana hanya pasrah dengan suami tindakan posesif sang suami yang sebebenarnya ia angap lebay. Kalau saja dua kakak kembarnya dan ayahnya melihat sikap suaminya ini, Aryana yakin ketiga pria kesayangannya itu akan muntah di tempat.


Tibalah mereka di ruang praktek dokter Sarah, suster Felin yaitu asisten dokter Sarah sudah menyambut mereka di depan ruang praktek dokter Sarah.

__ADS_1


"Selamat pagi dokter Fahmi, apa kabar?" tanya suster Felin.


"Kabar baik suster, apa dokter Sarahnya ada?" tanya Fahmi.


"Ada dok, anda sudah di tunggu di dalalm," ucap suster Felin.


Fahmi lalu mengajak Aryana langsung masuk ke dalam ruang praktek dokter Sarah karena pasangan pasutri itu datang terlalu pagi sehingga belum ada pasien yang datang.


"Wah, mimpi apa aku semalam mendapat kunju ngan ceo Pratama group sepagi ini sampai aku tak sempat mengurus kedua anakku," ucap dokter Sarah.


"Ayolah dokter Sarah jangan begitu, nanti aku beri bonus sebagai kompensasi," ucap Fahmi sambil duduk santai di kursi pasien di depan sahabat dokternya itu.


"Baiklah, aku setuju, hai nyonya Fahmi apa kabar, apa kebucinan sahabatku ini menyusahkan mu?" tanya dokter Sarah sambil terkekeh.


"Iya, dokter," jawab Aryana jujur.


"Baiklah, sekarang berbaringlah aku akan memeriksamu!" pinta doktee Sarah.


Aryana kemudian membaringkan tubuhnya di bed pasien dengan di bantu Fahmi dan suster Felin. Dokter Sarah mulai memeriksa kandungan Aryana dengan alat yang tersambung ke layar dengan tampilan gambar empat dimensi. Terlihat calon janin yang baru sebesar biji kacang.


"Nyonya Aryana, dokter Fahmi, lihat itu calon bayi kalian, istrimu benar-benar positif hamil, dan bisa kalian lihat ada berapa titik hitam yang besarnya hanya sebiji kacang itu?" tanya dokter Sarah.


Fahmi dan Aryana memperhatikan titik hitam yang terekam di layar sesuai perintah dokter Sarah, agak lama pasangan pasutri itu memperhatikan layar monitor yang terhubung dengan alat usg. Begitu menyadari sesuatu, tengorokan Fahmi tercekat ia tak mampu bicara, hanya sebulir bening tiba-tiba menetes dari matanya.


*Sumber : Google, Laman Pustaka Ilmu Sunii Salafiyah.


__________________________________________


Hayo apa yang di lihat dokter Fahmi?


Setiap episode di beberapa episode, termasuk ini 1500 kata lebih, sampai pedes nih mata, jadi


Jangan lupa Like, Vote, Coment, Rate and Favorit.


Thank You 💐

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2