
Afwi mencoba menenangkan pikirannya, ia tak boleh gegabah mengambil keputusan. Ia pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu, sekalian melaksanakan shalat witir tiga rekaat untuk menenangkan fikirannya, setelah merasa agak tenang ia mengambil Al-Quran lalu membaca surat Al-Mulk. Kebiasaan yang di ajarkan Yasmin pada anak-anaknya salah satunya adalah shalat witir dan membaca surat Al-Mulk sebelum tidur.
Bukan tanpa sebab Yasmin mengajarkan anak-anaknya membiasakan membaca surat Al-Mulk dimalam hari menjelang tidur, karena hal tersebut sesuai dengan ajaran Rasulullah seperti tercatat dalam hadis dari Abu Huroiroh, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
Ada surat dari Alquran yang terdiri dari 30 ayat, surat tersebut dapat memberikan syafa’at bagi 'temannya' (yakni orang yang banyak membacanya) sehingga orang tersebut diampuni dosanya, yaitu: Surat Tabarokalladzi bi yadihil mulk." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
"Shadaqaullahuladziim," ucap Afwi mengakhiri surat Al Mulk yang ia baca, lalu ia membaca doa setelah membaca Al-Quran.
Afwi kemudian meletakkan Al-Quran di nakas, ia duduk di tepi ranjang memikirkan apa yang harus ia lakukan selanjutnya untuk menjernihkan kesalahpahaman dengan Nayla. Ia mengambil ponsel yang ada kontak Nayla, ia mencoba menghubungi namun masih belum aktif, akhirnya Afwi memutuskan untuk mengirim pesan padan Nayla.
✉️" Dek, maaf abang baru buka pesan kamu, abang ada pekerjaan yang sangat penting, abang inging sekali menemui kamu, banyak yang ingin abang bicarakan denganmu, tapi sekali lagi maaf untuk sementara ini kita belum bisa ketemu, dan kemungkinan ponsel abang akan jarang aktif, tapi percayalah, Dek, abang nggak pernah mendua, abang setia sama kamu, begitu pekerjaan abang selesai abang akan menemuimu dan papamu untuk lamar kamu, jaga diri baik-baik, selamat malam sayangku, I love you," Afwi.
Begitu selesai mengetik pesan, Afwi langsung menyimpan ponselnya ke tempat semula, sebelum tidur ia mengecek semua CCTV melalui laptopnya, setelah memastikan semua aman ia merebahkan tubuhnya ke tempat tidur. Tubuh Afwi terasa lelah sekali, untuk menjaga keamanan Medina sering ia hanya bisa tidur dua sampai tiga jam sehari, tapi ia sangat menyukai profesinya ini meskipun penuh dengan bahaya, padahal sang ayah sudah menawarkan mengelola Dewantara group namun Afwi memilih masuk ke Akademi Kepolisian. Akhirnya Afwi terlelap karena rasa kantuk yang menyerangnya sangat kuat.
Pagi menjelang, Nayla sudah memulai aktifitasnya seperti biasa, ia mengecek ponselnya sejak semalam. Terlihat banyak panggilan tak terjwab dari Afwi sejak semalam, matanya membulat sempurna ketika melihat chat dari Afwi.
"Apa maksud bang Afwi?, apa dia tahu aku melihatnya bersama seorang wanita di hotel Star?" tanya Nayla dalam hati.
Tak lama pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang, siapa lagi kalau bukan Dio.
"Mbak, ayo sarapan dulu ?" ajak Dio dari luar.
"Sebentar nanti mbak, ke ruang makan!" sahut Nayla dari dalam.
Nayla kemudian keluar kamar menuju ruang makan, di sana sudah ada Dio yang sedang menikmati secangkir teh, melihat kakaknya bergabung di meja makan, senyuman tersungging di bibir Dio.
"Pagi, Mbak, gimana tidurnya semalam, nyenyak?" tanya Dio setelah meletakkan cangkir teh ke meja.
"Pagi juga, tidurku nyenyak karena merasa sangat capek," ucap Nayla.
Dio dan Nayla kemudian mulai menyantap sarapan yang sudah terhidang dengan menu telur balado dan oseng tempe cabai hijau. Di sela-sela makan Dio menanyakan sesuatu pada Nayla.
"Mbak, apa abang Afwi sudah memberi kabar pada mbak Nay?" tanya Dio.
"Sudah, baru tadi pagi mbak bacanya karena semalam ponsel mbak matikan," jawab Nayla dengan wajah kesal.
__ADS_1
"O...pantas semalam aku yang kena teror abang, ternyata ponsel di off," ucap Dio pura-pura kesal.
"Teror gimana sih maksudnya, mbak nggak ngerti?"
"Ya abang Afwi telpon aku nanya ini itu, panik dia mbak nggak balasan pesan atau telponnya."
"Syukurin, siapa suruh dia gandeng-gandeng cewek keluar hotel, cewek mana coba yang nggak negatif thinking lihat cowoknya seperti itu," sungut Nayla sambil mengunyah makanannya dengan perasaan kesal.
"Mbak, aku yakin cewek itu hanya teman, mbak harus percaya sama abang Afwi, maaf bukannya aku belain abang Afwi karena aku juga seorang laki-laki, temanku dulu banyak dengan sifat mereka yang macam-macam, ada yang playboy, ada yang suka php, ada juga yang setia sama pacar, jadi aku bisa menilai abang Afwi itu setia sama, mbak Nay," ucap Dio.
"Bener juga kata kamu, Dio, tapi chat terakhir yang di kirimkan ke mbak tadi malam sepertinya ada yang aneh," ucap Nayla sambil memasang mimik serius seperti sedang memikirkan suatu masalah yang sulit.
"Memang bunyi chatnya apa?" tanya Dio penasaran.
"Intinya nih, abang minta maaf sama mbak, dan mbak harus percaya dia pria setia, nah yang bikin mbak agak aneh abang bilang untuk sementara ponsel abang Afwi akan sulit dihubungi, setelah kerjaannya selesai ia akan lamar mbak, untuk sementara waktu ponsel abang akan sulit dihubungi itu lho yang bikin aneh menurut perasaan mbak," jawab Nayla dengan wajah yang masih penasaran, ia merasa ada hal besar yang di sembunyikan oleh Afwi sang kekasih.
"Mungkin abang Afwi lagi ditugaskan di daerah yang susah sinyal di tambah kesibukan abang Afwi yang banyak, jadi nggak sempat dikit-dikit angkat telepon atau balas chat seperti anak abg yang kurang kerjaan chat sama teman cuma nanyain lagi dimana, sarapan apa, pakai baju apa, padahal tiap hari juga ketemu," ucap Dio memberi pendapat dengan membandingkan hubungan sang kakak dengan tingkah para abg yang lebay saat chat temannya hanya menanyakan hal yang penting biar di bilang keren.
"Tapi masa manajer hotel seminar, atau rapat di luar kota ke tempat yang terpencil dan susah sinyal, seperti tentara saja, kalau kelasnya manajer hotel itu kalau rapat atau ada pertemuan masalah kerjaan tempatnya bagus daerah perkotaan yang full sinyal semua jenis jaringan, bertempat di hotel berbintang," ucap Nayla dengan analisisnya.
"Apa mungkin abang Afwi berbohong tentang profesinya ya, tapi kalau iya buat apa abang berbohong sama mbak Nayla, atau jangan-jangan abang Afwi mengaku bekerja di Aryana Hotel hanya kamuflase, sebenarnya abang Afwi kerja yang nggak bener," gumam Dio dalam hati, ia tak bisa membayangkan jika apa yang ia pikirkan benar.
"Heh kok kamu malah melamun sih, Dio?" tegur Nayla sambil menepuk bahu adiknya yang terlihat melamun.
"Eh, nggak mbak," sangkal Dio.
"Engak gimana, pandangan kamu aja menerawang entah kemana."
"Ehmm..., aku sedang memikirkan perkataan mbak tentang keanehan pesan abang Afwi.
"Memang apa yang kamu pikirkan tentang hal itu?"
"Hampir sama dengan mbak Nay sih, sepertinya abang Afwi menyembunyikan sesuatu hal yang besar dari kita, tapi kira-kira apa, itu yang aku pikirkan," jawab Dio.
Nayla yang mendengar jawaban Dio pun tertegun, adiknya ternyata memikirkan hal yang sama dengannya.
__ADS_1
"Abang sebenarnya apa yang sedang kau sembunyikan dariku?" batin Nayla.
.
.
Di kediaman Adiguna, Afwi juga tengah berbincang-bincang dengan team setelah sarapan. Mereka harus semakin waspada karena hari persidangan semakin dekat.
"Pak Afwi ini laporan yang anda minta tentang tersangka kasus pembunuhan pengusaha batu bara yang telah menyeret nona Medina sebagai saksi kunci," ucap Denis sambil menyerahkan satu map dokumen kepada Afwi
Afwi membuka satu persatu lembar dokumen tersebut dan membacanya dengan teliti.
"Kasihan juga nona Medina, ia berada di tempat dan waktu yang salah," ucap Afwi kemudian menutup dokumen tersebut.
"Apa tersangka itu pikir, dengan melenyapkan Medina ia bisa terbebas dari hukuman begitu saja, memang di zaman fitnah ini banyak pejabat dan hukum yang bisa di beli dengan kekayaan, karena mereka pikir apa yang mereka lakukan tak akan diketahui oleh siapapun, para keparat itu bisa mengelabuhi siapapun dengan cara apapun untuk menutupi kejahatan yang telah mereka lakukan, tapi mereka lupa ada Allah yang tak pernah tidur dan tak pernah lupa melihat semua apapun yang mereka lakukan," ucap Afwi lalu meminum tehnya.
"Orang-orang seperti mana ingat Tuhan, Pak, yang penting tujuan mereka tercapai, urusan dosa dan masuk neraka urusan belakangan," celutuk Kikan.
"Tapi aku akan membuat mereka merasakan neraka dunia dulu sebelum neraka akhirat, aku yakin ada orang dalam yang membantu tersangka ini, dan orang dalam ini punya posisi yang cukup tinggi. Jujur aku benci jika benar ada oknum seperti ini, membuat citra instansi maupun kesatuan jadi makin dipandang buruk oleh masyarakat," ucap Afwi dengan nada suara yang menunjukkan kekesalan.
"Tapi InsyaAllah kita tidak begitu, Pak, kita abdi negara yang jujur rela berkorban demi nusa dan bangsa," ucap Samsul yang di iyakan oleh Denis dan Kikan.
"Bagus, saya harap kalian harus selalu jujur dalam bekerja, jadi abdi negara itu adalah pilihan kalian dan untuk itu kalian harus bertanggung jawab pada pekerjaan kalian dengan baik, kalau kalian nggak jujur dalam bekerja jatuhnya rezeki nggak akan barokah, jangan sampai menafkahi keluarga dengan uang haram, karena sesuatu yang di hasilkan dengan cara tidak benar maka hasilnya juga tidak akan baik. Kalau nenekku bilang kalau makan barang haram itu nggak akan jadi daging malah akan jadi penyakit yang menggerogoti tubuh, uang yang di hasilkan dari hal yang tidak baik, uangnya akan habis hanya untuk berobat, dan satu lagi jangan suka berhutang tapi tidak mau membayar, karena hal itu akan membuat kehidupan kita tak tenang dunia dan akhirat," ujar Afwi menasehati tiga anggotanya agar tetap berjalan di jalan kebenaran meski hal itu akan sangat sulit.
"Siap!" ucap ketiga anggotanya bersamaan, setelah itu mereka mengulum senyum.
Kikan, Samsul dan Denis sangat kagum dengan pembawaan dan sikap atasan mereka, dengan mengemban tugas bersama Ipda Afwi yang terkenal dingin dan irit bicara, mereka jadi lebih mengenal sosok Afwi yang tak hanya tegas, disiplin, berwibawa, pintar namun juga religius dan berakhlak baik di tengah kejamnya dunia yang penuh intrik dan tipu daya.
_________________________________________
Aku kalau hutang selalu bayar lho, Bang ✌️
Bentar lagi dokter Fahmi dan si istri kesayangan bakal hadir, see you...
Please Like, Vote, Komentar, Rate and Favorit
__ADS_1
Thank Yo