Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 125


__ADS_3

Di Singapura Fahmi berbahagia dengan keluarga kecilnya, meskipun Alesya buka anak kandung mereka tetapi Fahmi dan Aryana tak pernah membedakan kasih sayang mereka pada keempat buah hati mereka. Sedangkan di tanah air dua kakak laki-laki Aryana yaitu Afwa dan Afwi sudah selesai menempuh pendidikan di Akmil ataupun di Akpol. Pelantikan keduanya hanya di hadiri Yudha, Yasmin dan si bungsu Azka. meski sedikit kecewa karena Aryana tak bisa hadir di pelantikan mereka. Afwa dan Afwi bisa memakluminya apalagi setelah sang bunda memberi tahu bahwa sang adik sempat koma dan harus menjalani transplantasi jantung. Sekarang Afwa dan Afwi kebetulan bisa pulang dalam waktu yang bersaman.


"Afwa apa kamu sudah mengabari Kirana tentang penempatanmu?" tanya Yudha ketika mereka makan malam bersama di kediaman Yudha.


"Sudah, Yah, aku juga sudah menelpon om Raka," jawab Afwa.


"Lalu bagaimana kelanjutan hubunganmu dengan Kirana?" tanya Yasmin.


"Baik, bunda, tapi kami belum mengantongi restu dari tante Dinda," jawab Afwa dengan ekspresi datar namun Yasmin tahu bahwa putranya sedang bersedih.


"Bund, kenapa sih sahabat kamu itu keras kepala sekali, setiap orang punya jalan kematiannya sendiri-sendiri, yang jadi orang sipil saja yang mati muda juga banyak, yang selingkuh dari pasangannya juga banyak. Kami para prajurit memang kadang ada yang suka tebar pesona tapi begitu dapet yang klik bisa setia sampai mati," ujar Yudha.


"Ya tapi Dinda itu cuma takut Kirana kesepian kalau kalau nikah sama tentara sering ditinggal tugas, melahirkan sendiri, besarin anak sendiri, Dinda nggak mau Kirana merasakan hal yang sama dengan dirinya," ucap Yasmin menanggapi omongan suaminya.


"Tapi kalau Kirana bisa terima resiko itu, it's oke kan, yang menjalani pernikahan kan Kirana dan Afwa bukan Dinda," ucap Yudha dengan nada sedikit kesal


"Mungkin kalau kak Kirana, sakit dulu sampai koma, mungkin baru tante Dinda sadar," Seloroh Azka yang langsung mendapat lemparan sendok dari Afwa.


"Jangan sembarangan bicara kamu ya, doain kekasihku yang jelek-jelek!" ketus Afwa sambil menatap tajam sang adik bungsunya setelah melemparinya dengan sendok.


"Lho biasanya di film-film romantis juga gitu, seseorang itu akan sangat berarti jika sudah sakit keras atau bahkan meninggal, baru deh nyesel nangis-nangis sampai mata seperti mata panda," ucap Azka ceplas-ceplos dan apa yang apa yang dikatakan Azka itu semuanya benar.


Mendengar penuturan Azka semua orang ruang makan terdiam, terutama Yudha karena ia pernah merasakan di posisi itu, betapa ia sangat hancur ketika mendengar kecelakaan yang menimpa Yasmin di tambah kesalahannya yang tak mempercayai perkataan Yasmin karena pengaruh Claudia. Yudha tak meneruskan makan malamnya, ia langsung pergi meninggalkan meja makan lalu masuk ke ruang kerjanya.

__ADS_1


"Azka kamu sih ngomong nggak pakai filter, tuh ayah jadi marah kan!" ucap Afwi kesal dengan adiknya, cowok paling irit bicara di keluarga Yudha itu akhirnya berkomentar juga.


"Sudah-sudah, tak ada yang salah di sini, ayah mungkin hanya kepikiran tentang hubungan Afwa dan Kirana, kalian lanjutkan makan, bunda mau nyusul ayah di ruang kerja!" pinta Yasmin kemudian ia menyusul suaminya ke ruang kerja.


Yasmin perlahan membuka pintu ruang kerja suaminya, saat membuka pintu terlihat sang suami duduk termenung di sofa ruang kerjanya. Perlahan Yamin mendekati suaminya lalu duduk di sampingnya sambil memegang tangan Yudha.


"Apa yang mas pikirkan, kenapa meninggalkan meja makan begitu saja?" tanya Yasmin lembut, membuat Yudha langsung menatap istrinya lekat, tersirat luka dan penyesalan di sana


"Aku hanya ingat kisah kita, hampir dulu aku kehilanganmu karena kebodohanku, bahkan aku juga hampir kehilangan calon anak kita. Maafkan aku sayang," ucap Yudha sambil membelai wajah istrinya yang masih terlihat cantik meski sudah menyandang status sebagai oma.


"Itu sudah jadi masa lalu, jangan diingat lagi, semua rumah tangga pasti ada ujiannya, hidup adalah perjuangan tanpa batas, hanya saat Allah mengambil kita kembali, saat itulah ujian kita di dunia akan berakhir," ucap Yasmin sambil tangannya masih menggenggam tangan sang suami.


Yudha lalu merengkuh Yasmin ke dalam pelukannya, Yudha mencium kening sang istri dengan penuh sayang. Meski usia mereka tak muda lagi namun rasa cinta mereka berdua justru semakin besar, saling melengkapi dan saling menguatkan.


"Aku hanya kepikiran tentang hubungan Afwa dan Kirana, kasihan anak itu, di suruh pindah ke lain hati juga nggak mau," ucap Yudha mengeluarkan uneg-unegnya.


"Iya juga ya, tapi mas nggak hanya kepikiran Afwa, namun juga kepikiran Afwi."


"Kenapa dengan Afwi?"


"Sayang, apa kau ingat, mas pernah cerita Afwi sepertinya menyukai seorang gadis yang ternyata putri tunggal Kombes Mahendra Bagaskara?"


"Iya, aku ingat, lalu kenapa dengan Afwi?"

__ADS_1


"Mas, sudah menyelediki putri Kombes Mahendra, gadis itu bernama Nayla dan sialnya gadis itu tak suka dengan laki-laki yang berprofesi sebagai polisi, dia seperti trauma dengan masa kecilnya yang sering di tinggal tugas oleh papanya, maka jadilah Nayla gadis anti punya pasangan berbau militer. Padahal Afwi kan seorang polisi, jadi intinya kedua putra kita harus berjuang maksimal untuk mendapatkan wanita pujaan mereka," ucap Yudha dengan nada sendu.


Yasmin yang mendengar penuturan suaminya merasa sangat sedih kenapa kisah cinta anak-anaknya sangat rumit, dulu Aryana dan Fahmi sekarang Afwa dan Kirana, lalu Afwi dan Kayla. Yasmin hanya bisa diam dalam kesedihan, ibu mana yang tak sedih melihat kehidupan cinta putranya penuh liku seolah meniti jalan terjal yang tak berujung.


"Lalu apa yang harus kita lakukan, Mas, aku nggak bisa melihat anak-anakku seperti ini?" tanya Yasmin sendu.


"Kita tak bisa berbuat apapun, kecuali mendoakan yang terbaik untuk anak-anak kita, percayalah jika Kirana jodoh Afwa sekeras apapun Dinda tak merestui, Afwa dan Kirana pasti akan bersama, begitu juga dengan Afwi dan Kayla, kita serahkan semua padan Allah, ucap Yudha pada sang istri yang masih nyaman bersandar di dada bidangnya.


"Kau benar, Mas, seperti kata pepatah, jika sesuatu itu di takdirkan menjadi milikmu maka apapun yang terjadi ia akan menjadi milikmu begitu juga sebaliknya jika sesuatu itu tidak ditakdirkan menjadi milikmu maka sekeras apapun dia berusaha, sesuatu itu tak akan pernah jadi miliknya," ucap Yasmin yang mirip dengan seorang penyair membuat Yudha terkekeh mendengarnya.


"Kamu seperti penyair saja, Sayang," ucap Yudha sambil mencapit hidung Yasmin gemas.


Jika Yudha dan Yasmin saling mencurahkan isi hati mereka juga uneg-uneg mereka, maka di ruang makan, ketiga anak laki-lakinya justru malah ribut.


"Heh, Azka tanggung jawab kamu, ayah jadi marah gitu!" ucap Afwa yang ikut-ikutan Afwi menyalahkan Azka.


"Lho-lho kenapa aku jadi tersangka, seharusnya kalian menerapkan asas praduga tak bersalah, aku hanya bicara apa yang ada di otakku, mana tahu bisa membuat ayah marah. Tapi bener 'kan kataku seseorang akan terasa sangat berarti jika ia sudah tidak ada di sisi kita, entah orang itu kabur, hilang ataupun meninggal dunia.


Mendengar perkataan Azka, Afwa dan Afwi menjadi diam, pikiran Afwa dan Afwi tertuju pada wanita pujaan mereka masing-masing, bisakah mereka bersatu dengan wanita pujaan mereka tanpa menyakiti siapapun.


___________________________________________


Selamat Menunaikan Ibadah puasa ya readers🙏🙏, author usahakan bisa up setiap hari di bulan Ramadhan ini, doakan author selalu sehat ya, yang kemarin kangen Afwa dan Afwi, sudah aku kabulkan ya

__ADS_1


Please like, vote, coment, Rate and Favorit


Thank You


__ADS_2