
Afwi dan Nayla sampai di rumah bertepatan dengan adzan magrib berkumandang. Afwi memasukkan motornya terlebih dahulu. Setelah memasukkan motornya ke dalam garasi, Afwi duduk sebentar di ruang tamu, di susul Nayla yang duduk di sebelahnya.
"Bener nih, abang nggak pernah nanggepin fans berat abang di sini?" tanya Nayla sedikit merajuk meski ia tahu seperti apa model suaminya itu.
"Dek, jangan mulai ya, kamu tahu hati abang hanya untuk kamu seorang, bahkan abang sudah jatuh cinta sama kamu saat abang masih jadi taruna Akpol, meski lulus Akpol abang tak pernah berhenti mencintaimu sampai abang minta tolong anak buah ayah di DW group untuk mencaritahu tentangmu, bahkan kepala tim IT DW group ikut turun gunung mencari tahu tentangmu dan memantau keadaanmu," jelas Afwi atas pertanyaan Nayla yang seolah tak percaya pada cintanya.
"Maaf, abang, Nay percaya seribu persen sama abang, dan Nay harap cinta dan kesetiaan abang hanya untuk Nay apapun keadaan abang nantinya karena yang pasti semakin nanti pangkat abang naik godaannya pasti juga akan semakin besar. Nay hanya takut saat Abang sudah di puncak karir yang cemerlang abang akan melupakan janji cinta kita," ucap Nayla meluapkan ketakutannya akan Afwi.
"Nay, Sayang, insyaAllah abang tak akan begitu, kamu selalu doakan abang agar selalu di jalan yang benar," ucap Afwi sambil membelai kepala Nayla yang tertutup hijab.
Setelah berbincang sebentar dengan Nayla, Afwi segera bersiap pergi ke masjid untuk shalat magrib, sedangkan Nayla menuju kamar untuk berganti pakaian dan melaksanakan shalat magrib di rumah.
Tak lama Afwi pulang dari masjid, ia langsung menuju kamarnya karena ia yakin kalau sang istri masih berada di dalam kamar.
Ceklek
Afwi mendapati sang istri sedang meletakkan mushaf Al-Quran di nakas.
"MasyaAllah istri Sholehah ku, habis baca Al-Quran ya," ucap Afwi yang di sambut senyum oleh Nayla.
"Iya, Bang, biar hati tenang, Abang lapar nggak?"
"Lapar dong, kamu masak, Dek?"
"Iya, tadi Nay masak, soto ayam."
"Ah dengar soto ayam abang jadi lapar, yuk kita makan!"
__ADS_1
Afwi merangkul sang istri keluar dari kamar menuju ruang makan. Sampai di ruang makan dengan telaten Nayla melayani dan menemani Afwi makan malam, Nayla banyak belajar dari sang ibu mertua bagaimana menservice semua kebutuhan sang suami. Hari-hari mereka berjalan dengan indah, namun tidak akan ada yang tahu ke depannya akan seberapa banyak ujian yang akan di terima Afwi dan Nayla. Untuk kasus Fabian, Afwi lebih memilih melakukannya dengan hati-hati karena ini menyangkut masalah rumah tangga Fabian, namun jika tak ditangani dengan serius bisa memperburuk citra instutisi dimana mereka bekerja sebagai abdi negara.
Beberapa hari kemudian, Afwi kembali memanggil Briptu Fabian setelah ia menemukan banyak bukti tentang perselingkuhan Fabian, untung Fabian baru sebatas pacaran biasa belum berhubungan intim seperti suami istri. Setelah urusan Fabian selesai, Afwi akan beralih ke penyelidikkan tentang Nikko yang ia curigai sebagai ayah biologis keponakan angkatnya yaitu Alesya.
"Briptu Fabian, kamu tahu kenapa saya panggil?" tanya Afwi dengan aura dingin yang menyeramkan.
"Siap, tidak," jawab Briptu Fabian.
"Lihat ini dan jelaskan pada saya!" perintah Afwi sambil menyodorkan ssbuah map pada Briptu Fabian.
Fabian langsung gemetar setelah tahu apa isi map tersebuat, bagi Afwi bukan hal yang sulit untuk mengungkap kasus Fabian ini
"Maaf, Pak," hanya dua kata yang keluar dari mulut Fabian.
"Kenapa kamu lakukan hal tidak bermoral seperti itu? apa yang kurang dari istri kamu? kulihat dari foto istri kamu di waktu acara Bhayangkari, dia cukup cantik bahkan lebih cantik daripada wanita kedumu itu?" tanya Afwi tegas.
"Kami menikah karena di jodohkan orang tua, saya tak mencintai istri saya," jawab Fabian.
"Sekarang saya ingin bertanya lagi dan jawab dengan jujur, kalau tidak aku tidak segan-segan menghancurkanmu! , setelah saya mengetahui perbuatanmu ini apa yang akan kamu lakukan? tetap mempertahankan selingkuhanmu itu atau berusaha memperbaiki, melupakan wanita itu dan kembali menjadi suami yang setia?"
Briptu Fabian hanya menunduk, ia bingung harus menjawab apa, di sisi lain ia sangat mencintai Salwa mantan kekasihnya sewaktu SMA, sedangkan di sisi lain ia juga tak ingin kasus perselingkuhannya terangkat di permukaan apalagi jika sampai Nania istri sahmya sampai tahu dan melaporkannya ke institusinya.
Afwi memandang kesal anak buahnya itu, sungguh laki-laki maruk, sudah tahu pekerjaan mereka melarang punya istri lebih dari satu, dan terikat banyak peraturan terutama soal rumah tangga, tidak bisa seperti maayarakat sipil biasa yang pekerjaannya diluar abdi negara. Bisa merenteng istri berapapun mereka mau tanpa terkendala masalah aturan menikah secara kedinasan. Betapa Afwi tidak kesal dari gelagat Fabian bisa dilihat bahwa ia tak ingin melepas wanita simpanannya tapi juga tak mau kehilangan istri sahnya.
"Bagainana Briptu Fabian? sudah memutuskan sesuatu? katakan keputusanmu sekarang karena saya tak punya banyak waktu mengurusi kebodohanmu!" perintah Afwi tegas membuat Fabian terkejut saking bingungnya.
Briptu Fabian masih diam membisu ia benar-benar bingung jika harus memberi keputusan sekarang, dan hal tersebut membuat Afwi makin meradang.
__ADS_1
"Briptu Fabian!
"Siap!"
"Dengarkan sekali ini, setelah itu terserah apa yang akan kau putuskan. Briptu Fabian! saat kamu melafalkan janji pernikahan atas mbak Nania dengan menyebut nama Tuhan, maka semua tanggung jawab mbak Nania berpindah padamu, malaikat ikut mengamini dan mendoakan pernikahan kalian, bahkan seluruh hewan di dunia baik dari yang kecil maupun yang besar semua mendoakan kebaikan untuk pernikahan kalian. Ikatan pernikahan itu sangat kuat biasa disebut Mitaqol golido, saking kuatnya ikatan ini bahkan perceraian yang di halalkan dalam agama kita dibenci oleh Allah. Lupakan kekasih gelapmu, belajarlah mencintai dan menerima segala kekurangan istrimu, insyaAllah jika kamu sungguh-sungguh Allah akan menumbuhkan perasaan cinta itu di hatimu!. Doa seorang istri sangat mustajab, karena setiap doanya untuk kebaikan suaminya akan selalu di ijabah oleh Allah, jika sampai istri kamu menangis karena sakit hati pada suaminya maka itu akan berakibat tidak baik bagi usaha suami menjemput rezeki dari Allah. Semakin kau bahagiakan istrimu, semakin kamu royal dengan istri dan anakmu maka rezeki mu semakin luas tak terbatas, tapi sekali saja kamu melakukan pengkhianatan pernikahan maka kamu sedang mengali lubang kehancuran bagi dirimu sendiri, apalagi kamu adalah seorang abdi negara, bisa jadi kamu di PTDH, dan jika itu sampai terjadi aku tak akan menjamin istrimu mau mempertahankan pernikahan, juga kekasihmu itu kemungkinan akan meninggalkanmu karena kamu sudah tak punya pekerjaan."jelas Afwi pamjang lebar menasehati Fabian.
Briptu Fabian mendengarkan dengan baik apa yang dikatakan atasnnya itu, pikirannya memflasback semua kenangan pernikahannya dengan Nania sang istri atas dasar perjodohan orang tuanya karena orang tua Nania banyak membantu kesulitan ekonomi keluarganya, apalagi saat ibu Fabian harus dioperasi karena kecelakaan, mama Nanialah yang mendonirkan darahnya bahkan orang tua Nania yang melunasi sisa biaya administrasi rumah sakit ibu Fabian. Betapa Nania adalah istri yang patuh, penuh cinta dan kasih sayang, bahkan Nania rela menggunakan pengahasilannya sendiri untuk membantu adik Fabian yang masih sekolah, juga kerelaan Nania yang harus beberapa tak bekerja karena ikut mengurus ayah Fabian yang di rawat di rumah sakit karena gejala stroke.
Afwi memberikan segelas air mineral pada Fabian agar anak buahnya yang nakal itu bisa sedikit tenang. Afwi lalu duduk di sebelah Fabian lalu menepuk bahu anak buahnya itu, lalu berkata, " Pikirkan baik-baik, jangan mengambil jalan yang salah, keberuntungan tak akan datang dua kali, dan penyesalan selalu datang terlambat. Seseorang akan sangat terlihat berharga dalam kehidupan kita saat kita sudah kehilangan."
Afwi bangkit dari duduknya kemudian mengambil satu map lagi dan sebuah flasdisk lalu diberikann kepada Fabian.
"Mungkin ini bisa membuatmu mempertahankan pernikahanmu, jangan kamu tukar berlian yang sudah kamu miliki dengan batu kali!" ucap Afwi.
Fabian mengambil map dan flasdiks yang diberikan Ipda Afwi padanya dengan tangan yang sedikit gemetar.
"Apa ini, Pak?"
"Lihat saja sampai selesai, setelah itu keputusan ada padamu, sekarang kau boleh keluar!"
Setelah memberi hormat dan berterima kasih Briptu Fabian keluar dari ruangan atasannya itu, ia menuju ruangannya dan mengambil swbuah kabel otg. Fabian menuju mushola dan duduk di pojok, ia memulai membuka map yang ternyata berisi informasi tentang Salwa wanita simpanannya dan hal itu benar-benar membuat Fabian terkejut. Fabian lalu menyambugkan flasdisk pemberian Afwi di ponselnya lewat kabel otg. Saat tahu apa isinya tangannya mengepal kuat, matanya memerah menahan amarah.
"Dasar ******, Nania maafkan aku, aku menyesal," tangis Fabian dalam hati yang disertai sebulir bening keluar dari matanya.
Sungguh ia sangat menyesal telah melakukan hal bodoh, ia harus berterima kasih pada sosok Afwi Shakta Yudhatama, sang atasan yang baru saja mereguk indahnya pernikahan belum dikarunia anak namun begitu baik dan bijaksana dalam memperhatikan anak buahnya dibalik sikap datar dan dinginnya. Fabian berjanji akan menjadi suami yang baik untuk istrinya dan sesegara mungkin ia akan mengakhiri hubungannya dengan Salwa dan memberikan pelajaran pada wanita kekasih gelapnya itu karena sudah berani mempermainkan diirinya.
Di ruangannya, Afwi duduk dan menyandarkan punggungnya di kursi, sesekali ia memejamkan matanya. Afwi merasa lelah hari ini, bukan karena dia habis berolahraga fisik mengelilingi lapangan tapi pikiran dan jiwanya yang harus menyelesaikan semua permasalahan di institusinya termasuk masalah Fabian. Semoga bukti-bukti yang ia berikan bisa membuka mata Fabian yang sedang katarak tak bisa membedakan mana batu berlian mana batu kali.
__ADS_1
"Aku merindukanmu, Sayang aku ingin cepat pulang dan memelukmu, hari ini sangat melelahkam bagiku," batin Afwi sambil memejamkan matanya, ia merindukan istri cantiknya di rumah.
_________________________________________