
Hari ini keluarga kecil Yudha melakukan perjalanan ke Magelang untuk menghadiri wisuda Afwa di SMA Taruna Nusantara, mereka transit di hotel milik mereka sendiri yaitu DW Hotel.
"Bund acaranya kak Afwa besok jam berapa sih?" tanya Aryana yang terlihat bete.
"Jam delapan pagi makanya, kita nginap di hotel dulu biar kemrungsung (terburu-buru)," jawab sang bunda sambil mengeluarkan pakaian dari dalam koper.
"Afwa mana Na?"
"Paling di kamarnya bund, molor."
"Ya sudah, kamu juga istirahat sana, bentar lagi ayahmu selesai mandi!" pinta Yasmin.
"Halah bilang aja mau romantisan berdua," ucap Aryana kesal, lalu ia langsung berdiri dari duduknya dan keluar dari kamar bundanya.
Sesaat setelah Aryana keluar, Yudha keluar dari kamar mandi .
"Tadi ngobrol sama siapa, Bund?" tanya Yudha dengan hanya melilitkan handuk di pinggangnya sambil mengeringkan rambutnya yang masih basah.
"Tadi bunda ngobrol sama Aryana, dia tadi nanyain jam berapa besok wisudanya Afwa," jawab Yasmin.
Setelah mendengar jawaban Yasmin, Yudha mendekati sang istri lalu memeluknya dari belakang dan mencium pundak dan pipi istrinya.
"Ih ayah geli, pakai baju sana nanti masuk angin!" pinta Yasmin namun tak di hiraukan oleh sang suami, Yudha malah makin erat memeluk Yasmin.
"Sayang, aku kangen, main sebentar yuk!" ajak Yudha dengan suara parau yang sudah diliputi gairah.
"Tapi aku belum mandi lho masih bau keringat ini," ucap Yasmin mencoba menolak tapi sia-sia tangan Yudha sudah tak bisa dikondisikan bergerilya sampai menemukan puncak gunung yang menjadi favoritnya.
"Mas, ahh..., aku belum mandi dan pintunya belum di kunci," ucap Yasmin yang sepertinya sudah terpancing dengan tindakan sang suami. Meski tak muda lagi badan Yudha tetap bagus.
"Nggak usaha mandi, mas suka dengan wangi alami tubuhmu, membuatkan semakin ingin melahapmu," ucap Yudha kemudian ia berjalan menuju pintu dan menguncinya, setelah mengunci pintu Yudha langsung kembali memeluk tubuh istrinya dan menggendongnya ala bridal style ke tempat tidur.
Yasmin hanya pasrah dengan perlakuan pak tentara kesayangannya ini. Setelah membaca doa, satu per satu Yudha melepas kancing depan baju yang dipakai istrinya, setelah tanpa sehelai benangpun keduanya bergumul menuntaskan hasrat yang sudah tak terbendung.
"Mas..., kita sudah berumur sebentar lagi anak kita sudah ada yang mau nikah, masa liblido kamu rasanya nggak berkurang dari dulu," ucap Yasmin di sela kegiatan panas mereka.
"Untuk urusan ranjang dan kehangatan, bagi mas nggak mengenal kata berumur atau tua sayang," ucap Yudha sambil terus melancarkan aksinya di atas tubuh istrinya yang polos sampai mereka berdua mencapai puncak kenikmatan dan melakukan pelepasan bersama-sama.
"Terima kasih, Sayang, meski kamu sudah berumur kamu tetap hot di ranjang," ucap Yudha lalu mendaratkan ciuman di kening Yasmin lembut.
Yasmin yang sudah kelelahan hanya bisa tersenyum dan menganggukkan kepalanya, Yudha yang melihat istrinya kelelahan karena ulahnya segera memeluk istrinya ke dalam dekapannya. Tak lupa Yudha memasang alarm agar besok mereka tak terlambat menghadiri wisuda anak mereka Afwa. Tengah malam Yasmin terbangun, ia ingat saat melakukan adegan ranjang dengan suaminya ia belum mandi. Yasmin lalu bangun dari tidurnya dan segera membersihkan diri karena merasa tubuhnya sudah sangat lengket, setelah mandi ia kembali tidur di sebelah sang suami
Adzan subuh mulai terdengar, Yasmin pun mulai terbangun, sesaat ia mengingat kegiatan panasnya dengan sang suami semalam, ia pun tersenyum sambil memandang wajah tampan yang masih terlelap di sebelahnya. Yasmin mendaratkan ciuman di pipi suaminya.
"Kamu menggodaku di pagi hari ya sayang?" ucap Yudha dengan mata yang masih terpejam.
"Haish, gini amat ya punya suami anggota pasukan khusus di sentuh dikit aja langsung berasa," gerutu Yamin yang membuat Yudha membuka matanya dan langsung merengkuh Yasmin jatuh ke pelukannya.
"Ini insting seorang laki-laki sayang, bukan anggota pasukan khusus pun pasti juga memiliki insting kelaki-lakian yang sama," ucap Yudha sambil mencium pipi Yasmin gemas.
"Ih, dasar, yuk kita segera bangun dan bersuci nanti kita telat di acaranya Afwa, kan malu komandan pasukan sampai telat menghadiri wisuda putranya!" ajak Yasmin.
"Mandi bareng ya Yang, biar efisien!" ajak Yudha.
"Nggak, bukannya efisien malah molor!" tolak Yasmin kemudian bangun dari tempat tidur, ia memang harus mandi lagi meski tengah malam tadi ia sudah mandi agar tubuhnya lebih fresh.
Yasmin sudah faham karakter sang suami, setiap sang suami selesai tugas dengan jangka waktu sebentar atau lama, ia harus siap jadi bulan-bulanan sang suami di atas ranjang.
__ADS_1
Kemudian pasutri sudah selesai mandi kemudian melaksanakan shalat subuh berjamaah di kamar hotel. Setelah melaksanakan shalat subuh Yasmin menuju ke kamar anak-anaknya, apa mereka sudah bangun dan melaksanakan shalat subuh atau belum. Ternyata Aryana dan Afwi sudah bangun dan sudah melaksanakan shalat subuh, tinggal si bontot Azka yang masih terbuai di alam mimpi. Jika sudah begini sang ayah yang harus turun tangan karena mengejar waktu ke acara Afwa.
"Heh, ayo boy bangun!" pinta Yudha sambil menguncang-guncangkan tubuh Azka yang masih bergelung selimut.
"Ih Kak Afwi berisik, aku masih ngantuk pergi sana!" ucap Azka mengomel namun matanya masih terpejam, Azka mengira yang membangunkannya adalah sang kakak yang satu kamar dengannya.
"Dasar nih anak tidur nggak kira-kira, nggak ingat apa hari ini ada acara penting, dibangunin halus nggak bisa berarti harus dengan kekerasan, suka molor gini kok mau jadi tentara to Ka," umpat Yudha dalam hati.
"Azka bangun, kalau tidak, ayah lempar kamu dari hotel ini!" perintah Yudha dengan nada sedikit kasar, sehingga membuat Azka langsung bangun dan membuka matanya lebar.
"Ayah," ucap Azka cengo
"Iya kau pikir siapa?, ayo bangun lekas mandi dan shalat subuh waktumu lima belas menit dari sekarang!" perintah Yudha tegas membuat Azka langsung bangun dari duduknya dan masuk ke kamar mandi.
Yudha yang melihat tingkah putra bungsunya hanya geleng-geleng kepala, memang Azka sangat berbeda dengan ketiga kakak kembarnya, meski Azka cukup pintar walau tak sepintar kakak- kakak kembarnya tapi ndablegnya anak satu ini nggak ketulunggan, ia akan berubah jadi anak yang rajin dan disiplin hanya jika sang ayah di rumah, namun jika ayahnya sedang tugas apalagi dengan jangka waktu yang lama tak membuat Azka sedih justru ia akan merasa bebas.
Pukul enam pagi Yudha dan keluarganya sudah sarapan di restoran hotel, setelah acara sarapan selesai mereka langsung melucur ke tempat wisuda Afwa. Sampai di sekolah Afwa, hanya Yudha dan Yasmin yang masuk, ketiga anaknya yang lain menunggu di luar, karena merasa bosan Aryana, Afwi dan Azka keluar dari lokasi sekolah Afwa, mereka jalan-jalan di luar sekolah sambil menunggu prosesi wisuda sang kakak selesai.
"Kak, kalau kak Afwa jadi masuk Akmil dan diterima, gimana nih nasib Kirana, kan tante Dinda nggak setuju Kirana nikah sama angkatan," ucap Aryana merasa iba dengan nasib percintaan kakak sulungnya.
"Tau lah, Dek, kakak nggak tahu, makanya kakak milih nggak punya pacar dulu, soalnya kakak nyadar diri kalau kakak masuk angkatan, kakak nggak akan bisa membahagiakan pacar kakak, nggak bisa kasih jaminan apapun karena belum menjadi pasangan yang sah," ucap Afwi sambil sesekali meminum tehnya.
Ya, Aryana, Afwi dan Azka memutuskan menunggu orang tua mereka di restoran dekat SMA Taruna. Afwi berbincang serius dengan Aryana sedangkan Azka sibuk memainkan game di hpnya jadi dia tidak terlalu perduli apa yang dibicarakan sang kakak.
"Semoga ada keajaiban yang bisa membuat tante Dinda luluh ya Kak, aku kasihan sama mereka, Kirana adalah cinta pertama kak Afwa dan kak Afwa cinta pertama Kirana," ucap Aryana sendu.
"Ya semoga aja, mereka memang berjodoh, sekuat apapun rintangan cinta mereka kalau Allah sudah mentakdirkan kak Afwa dan Kirana berjodoh orang lain bisa apa," ucap Afwi.
"Ih, kata-kata kakak seperti lagunya Denny Caknan, yang judulnya Tepung Kanji," ucap Aryana sambil tertawa dan pada saat itu entah kebetulan atau apa, di restoran itu memutar lagu Tepung Kanji.
Mas, aku pengen cerito
Tentang kita berdua
Wong tuwoku ora setuju
Orang tuaku tidak setuju
Yen kowe lan aku bersatu
Jika kamu dan aku bersatu
Kondomu marang aku
Katamu kepadaku
Kowe bakal berjuang
Kamu akan berjuang
Pangingatku marang sliramu
Pesanku pada dirimu
Ojo sampek salah dalan
Jangan sampai salah jalan
__ADS_1
Aku ra mundur, dek, teko atimu
Aku tidak mundur, dik, dari hatimu
Masio sakdanya ra ngrestuiku
Meskipun seluruh dunia tidak merestuiku
Koyo tepung kanji nong nduwur mejo
Seperti tepung kanji di atas meja
Yen Gusti ngrestui, wong tuwo biso opo
Jika Tuhan merestui, orang tua bisa apa
Genggemen tanganku kalau kamu ragu
Genggamlah tanganku kalau kamu ragu
Optimis wae, Gusti mboten sare
Optimis saja, Tuhan tidak tidur
"Lagunya yang ini, Dek?" tanya Afwi
"Yo, mugo-muga kak Afwa ora mundur merjuangke cintane Kirana karo njaluk pengestune tante Dinda (Ya, semoga kak Afwa tidak mundur memperjuangkan cintanya pada Kirana dan meminta restu tante Dinda)," ucap Aryana.
"Ya, semoga, Dek," sahut Afwi.
Tak lama terdengar ponsel Afwi berbunyi, nampak nomor sang ayah disana.
"Hallo, ada apa Yah?" tanya Afwi
"Kalian dimana, ini acaranya Afwa sudah selesai?" tanya Yudha diseberang telpon.
"Kami di restoran Jawa dekat SMA nya kak Afwa," jawab Afwi.
"Cepat balik kesini!" pinta Yudha.
"Iya, ayah, sabar kenapa," ucap Afwi kemudian menutup telponnya.
"Siapa kak, ayah?" tanya Aryana.
"Iya kita disuruh balik ke SMA Taruna katanya acaranya sudah selesai," jawab Afwi.
"Ya sudah yuk balik kasihan bunda nunggu, Azka ayo balik jangan main game terus!" ajak Aryana pada adiknya yang sedari tadi tak berhenti main game.
Akhirnya mereka bertiga kembali ke SMA Taruna untuk bergabung dengan orang tua dan kakaknya.
________________________________________
Maaf ya readers author nggak menggambarkan bagaimana suasana wisuda Afwa di SMA Taruna Nusantara karena author nggak tau seperti apa prosesinya, yang penting Afwa dah di wisuda gitu aja ya.
Please Like, Vote, Coment, Rate and Favorit
Thank You
__ADS_1
Bersambung...