
Setelah menempuh perjalanan sekitar empat puluh lima menit akhirnya mobil yang dikendarai Fahmi sampai di rumah besarnya. Tak banyak yang berubah pada bagian luar rumah ini. Namun saat memasuki ruang tamu ada yang sedikit berbeda, ada beberapa ornamen khas Jawa yang terpasang, ada lima buah wayang yang menggambarkan sosok pandawa lima, juga lukisan batik yang bersebelahan dengan foto pernikahan Aryana dan Fahmi saat ijab qobul yang memakai adat Jawa. Membuat siapapun yang memasuki ruang tamu tersebut tahu bahwa sang tuan rumah berasal dari Indonesia.
"Wah-wah kamu menambahkan ornamen Jawa ke rumah kamu, Na?" tanya bunda Yasmin saat memasuki rumah menantunya dengan tatanan interior yang berbeda dengan saat terakhir ia ke rumah Aryana di Singapura.
"Iya, Bunda, aku yang request, biar berasa seperti di kampung halaman," jawab Aryana.
"Kamu memang benar-benar anak seorang prajurit, Nak, ayah bangga padamu," ucap Yudha sambil menepuk pundak Aryana penuh kebanggaan dan kebahagiaan.
Bagaimana Yudha tak bangga jika putri satu-satunya yang ia memiliki memiliki jiwa cinta tanah air, meski di negeri orang ia tak malu menunjukkan identitas bangsa dan kota tempat ia di lahirkan dan di besarkan. Aryana juga tak takut menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim memakai hijab meski menjadi kaum minoritas.
"Aku juga bangga memiliki istri seperti Aryana, Yah, jadi ayah jangan pernah meragukan ketulusanku mengambil alih tanggung jawab Aryana dari ayah," ucap Fahmi tulus menimpali perkataan ayah mertuanya.
Mendengar ucapan ketiga orang yang sangat ia sayangi hati Aryana menghangat, ia benar-benar merasa menjadi wanita yang paling bahagia di dunia sungguh nikmat Tuhanmu manakah yang kau dustakan?.
"Aku juga bangga dan bahagia memiliki suami dan orang tua yang sangat menyayangi dan mengerti diriku," ucap Aryana sambil memeluk lengan Fahmi sambil tersenyum ke arah ayah bundanya yang berdiri berdampingan.
"Sudah Sayang, ayo kita tunjukkan kamar ayah bunda!" ajak Fahmi pada Aryana agar mengantar ayah dan bunda ke kamar yang akan di tempati.
"Ini kamar ayah bunda, semoga kalian menyukainya jika ada yang kurang jangan sungkan bilang padaku atau Aryana!" pinta Fahmi sopan, sebenarnya kamar yang di persiapkan Fahmi sudah lebih dari cukup. Kamar yang besarnya hampir sama dengan kamarnya, ranjang king size, almari, sofa, kamar mandi dalam, lengkap dan kulkas kecil di dalam kamar.
"Ini sudah sangat bagus Fahmi, terima kasih," ucap Yasmin.
Yudha dan Yasmin kemudian memasuki kamar yang di sediakan Fahmi. Di dalam kamar Yasmin mulai membuka koper dan menyiapkan baju ganti untuk suaminya dan dirinya sendiri.
"Mas, mau mandi dulu?" tanya Yasmin.
Mendengar pertanyaan istrinya, Yudha justru mendekat kepada Yasmin dan langsung merengkuh pinggang istrinya.
"Kita mandi berdua ya, sepertinya akan lebih enak, hemat air dan efisien waktu," ucap Yudha dengan tatapan mesumnya, dan tentu saja itu membuat Yasmin jengah, di saat baru datang ke negeri orang bisa-bisanya pak suami kesayangannya ini meminta hal seperti itu, di rumah menantunya lagi.
"Mas..., kita ini sedang di rumah anak kita lebih tepatnya rumah menantu kita, bisa-bisanya mas berfikiran seperti itu, gak malu sama umur sudah mau jadi kakek juga," ucap Yasmin sambil mencebik kesal.
"Kenapa memangnya kalau kita sekarang sedang di rumah menantu kita dokter pedofil itu, dia tidak akan berani menganggu kita," ucap Yudha sambil mendaratkan kecupan-kecupan kecil di leher sang istri yang kini sudah tidak tertutup hijab.
"Aahhh..., mas..., jangan gini dong malu nanti kalau Fahmi dan Aryana tahu," ucap Yasmin terpaksa mengeluarkan ******* karena ulah suami mesumnya itu.
"Tenang, sayang tidak akan yang tahu, akan aku PHK si Fahmi itu jadi menantuku kalau berani menganggu kita."
Yudha terus saja menjelajahi bagian tubuh Yasmin, tangan nakalnya sudah menyusup dan bergerilya di balik blouse yang masih di kenakan sang istri. Sedang asyik-asyiknya mencumbu istrinya, terdengar ketukan pada pintu kamarnya.
"Ayah...Bunda..., makan dulu yuk!" panggil Aryana mengajak kedua orang tuanya untuk makan.
Mendengar suara putrinya yang otomatis menganggu kesenangannya, Yudha merasa sangat kesal terpaksa ia melepas panguta nya.
"Nah benar kan?" ucap Yasmin kesal
"Dasar Aryana, untung sayang kalau nggak, huh," ucap Yudha mengumpat kesal.
"Iya, sebentar, Nak, ayah sama bunda mau mandi dulu," sahut Yudha dari dalam kamar.
__ADS_1
"Sudah ah, Mas, sebaiknya kita memang harus mandi bareng, tapi hanya mandi lho ya, nggak ada acara lain!" pinta Yasmin mengingatkan.
"Baiklah, hanya mandi, aku tak mau Aryana dan calon cucu-cucu kita menunggu," ucap Yudha dengan seringai tipis yang tak hampir tak kentara.
Akhirnya Yudha dan Yasmin selesai mandi lalu segera berganti pakaian, meski Yudha sedikit modus dengan Yasmin di kamar mandi membuat Yasmin cemberut.
"Mas, ini ya sudah dibilangin hanya mandi masih aja tangannya bergerilya keman-mana, huh!"
"Halah nggak apa-apa icip-icip dikit, habis kalau lihat kamu naked seperti tadi senjataku langsung on secara otomatis, jadi jangan salahkan aku dong," ucap Yudha membela diri.
Sungguh di usiannya yang tak muda lagi rasanya gairahnya seolah tak berkurang sedikitpun, mungkin karena pola hidup sehat yang ia terapkan dalam hidupnya. Kebiasaannya saat menjadi prajurit masih mendarah daging sampai sekarang.
"Alasan aja kamu mas, ayo cepat kita keluar kasihan Fahmi dan Aryana!"
Fahmi dan Aryana ternyata sudah menunggu di meja makan, Yasmin jadi tidak enak dengan menantunya, berbeda dengan Yudha yang terlihat santai tanpa rasa bersalah.
"Maaf membuat kalian menunggu," ucap Yasmin tak enak.
"Tidak apa-apa, Bund, ayo makan!" ucap Aryana sambil mempersilahkan ayah dan bundanya mengambil makan lebih dulu.
"Kamu yang masak semua ini, Ana?" tanya sang ayah saat Yasmin selesai mengambilkan makanan di piring suaminya itu.
"Aku hanya bantu sedikit, selebihnya bibi Mey yang memasak," jawab Aryana jujur karena memang dia hanya mengarahkan saja dan mencicipi apa taste masakannya sudah pas atau belum.
"Ayah tenang saja, Aryana akan selalu jadi ratu di dalam hatiku dan ratu di rumah kami," ucap Fahmi yang sudah mengerti aura ayah mertuanya yang selalu sentimentil terhadapnya.
"Sudahlah, jangan bicara terus ayo segera makan!" ajak bunda Yasmin berusaha mencairkan suasana.
Setelah selesai makan Fahmi mengajak istri dan mertuanya berbincang di ruang tengah sambil menikmati puding jeruk yang di buat oleh Aryana sebelum berangkat ke bandara menjemput orang tuanya.
"Bagaimana kuliahmu, Nak, apa ada kesulitan selama kau hamil?" tanya Yudha membuka pembicaraan.
"Alhamdulillah tidak, Yah, dedeknya bisa di ajak kerjasama," jawab Aryana sambil tersenyum yang mengisyaratkan semua akan baik-baik saja.
"Syukurlah, tapi kamu harus berhati-hati kandunganmu masih rentan apalagi kau mengandung anak kembar," ucap Yudha menasehati Aryana.
"Iya ayah, aku akan menjaga kandunganku dengan baik, tapi bagaimana kabar Azka dan kakak kemabarku?"
"Azka baik, bahkan sangat baik sampai membuat bundamu pusing," sambar Yudha karena jika sudah menyangkut putra bungsunya itu ingin sekali ia segera memasukkan Azka ke asrama militer.
"Memang kenapa dengan Azka, Yah?" tanya Fahmi.
"Bagaimana tidak pusing, tiap hari baperin anak orang, sampai pak Didi security di rumah capek memberi alasan pada cewek-cewek yang cari Azka di rumah, alasannya macam-macam, ada yang mau pinjam buku, belajar kelompok dan... ah sudahlah pusing bunda," ujar Yasmin sambil memijit pelipisnya.
"Maksudnya bagaimana sih aku kok gagal paham?" tanya Aryana masih binggung dengan cerita ayah dan bundanya.
Yasmin lalu memperjelas ceritanya tentang Azka yang di gandrungi banyak teman cewek, wajah Azka yang cukup tampan turunan dari sang ayah di tambah bodynya yang tegap dan bentuk tubuhnya yang bagus membuat para cewek berlomba mendekati Azka, meski Azka tidak pernah menangapi satupun teman cewek yang mendekatinya. Sikap Azka memang lebih supel dan smart dari pada dua kakak laki-lakinya membuat para cewek baper saat Azka bersikap baik pada mereka.
"Apa Azka sudah punya pacar, Bund?" tanya Aryana.
__ADS_1
"Belum, Azka sangat pemilih, dia ingin lebih fokus pada sekolahnya," jawab Bunda.
"Azka masih ingin jadi tentara, Bund?"
"Nggak tahu, sepertinya dia masih binggung," jawab bunda.
"Ya sudah lah bund, apapun cita-cita Azka kita dukung saja, tapi kalau aku sih pinginya Azka jangan terjun di dunia militer, nggak asyik ah masa ketiga saudara laki-lakiku berkostum loreng dan coklat," ucap Aryana sambil terkekeh.
"Kalau nasib cinta Afwa dan Kirana bagaimanna, Yah?" seloroh Fahmi dengan pertanyaan tentang Afwa.
Mendengar pertanyaan Fahmi, Yasmin tertunduk lesu sedangkan Yudha memasang muka datarnya seperti biasa, meski sebenarnya hatinya cukup prihatin dengan nasib percintaan anak sulungnya itu.
"Kalau Afwa, kami serahkan pada Allah saja, kami percaya jodoh seorang hamba itu tidak akan tertukar, ayah dan bunda hanya bisa berdoa semoga ada jalan keluar terbaik untuk Afwa dan Kirana," jawab Yasmin sendu.
"Kalau Kak Afwi bagaimana, apa sudah ada tanda-tanda?" tanya Aryana yang juga kepo dengan kisah asmara kakak keduanya itu.
"Sepertinya sudah," seloroh Yudha yang sukses membuat Yasmin, Fahmi dan Aryana terkejut.
"Apa?!" ucap Fahmi, Aryana dan Yasmin bersamaan.
"Sejak kapan ayah tahu, kenapa nggak kasih tahu bunda sih?" protes Yasmin.
"Baru satu bulan yang lalu ayah tahu, ayah tidak memberitahu bunda karena laporan dari anak buah ayah belum bisa memastikan Afwi punya hubungan khusus dengan gadis itu. Orangku hanya melaporkan setiap ada jam pesiar, Afwi tak pernah melewatkan pergi ke kedai lumpia tempat gadis itu berjualan."
"Apa!, gadis penjual lumpia?" lagi-lagi ketiga orang yang duduk bersama Yudha memekik kaget.
"Ayah serius dengan ucapan ayah, Afwi dekat dengan gadis penjual lumpia itu?" tanya Yasmin tak percaya.
"Kenapa bunda bertanya dengan mimik seperti itu, apa bunda malu jika nanti akhirnya kak Afwi mencintai gadis penjual lumpia itu, Bunda tidak setuju?" tanya Aryana yang menangkap makna lain dari sikap sang bunda.
"Bukan, bukan begitu, maksud bunda, bunda hanya syok saja dan penasaran dengan sosok gadis itu," jawab Bunda Yasmin.
"Gadis penjual lumpia itu bukan gadis sembarangan, ayah sudah menyelidiki latar belakangnya, kalian tahu kan, ayah selalu mengawasi semua sepak terjang anak-anak ayah dan juga menantu ayah," ucap Yudha sambil melirik ke arah Fahmi.
"Memang siapa sebenarnya gadis itu?" tanya Yasmin penasaran.
"Tapi jangan kasih tahu Afwi tentang hal ini, aku ingin tahu apa dia punya perasaan pada gadis itu, dan jika iya aku ingin dia berjuang untuk mendapatkan cintanya karena gadis ini punya karakter yang keras kepala dan menyukai kesederhanaan dan dia tak terlalu suka cowok militer!" pinta Yudha yang di setujui oleh Yasmin, Aryana dan Fahmi.
"Gadis penjual lumpia itu sebenarnya adalah putri tunggal dari Kombes Polisi Mahendra Bagaskara."
"Apa?!"
________________________________________
Woke, cerita Azka, Afwa dan Afwi sudah sedikit di singgung di sini ya
Please Like, Vote, Coment, Rate and Favorit
Thank You
__ADS_1
Bersambung....