Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode.150


__ADS_3

Nayla sudah kembali ke Semarang untuk melanjutkan skripsinya, ia ingin cepat-cepat lulus agar bisa fokus pada bisnis kulinernya. Saat ini Nayla sedang berada di gazebo kampusnya, ia merevisi beberapa bagian di bab empatnya. Gazebo di kampus Nayla memang disediakan untuk ruang diskusi atau mengerjakan tugas para mahasiswa, gazebo tersebut juga di lengkapi dengan peralatan listrik untuk mengisi daya pada laptop atau handphone, juga jaringan WiFi.


Nayla sangat serius mengerjakan revisinya sampai sebuah sapaan menghentikannya.


"Hai, Nay nggak kelihatan sebulan lebih, ngilang kemana sih?" tanya Fandi sang ketua BEM yang kece badai tapi doi masih kalah jauh dengan pesona Ipda Afwi.


"Aku ke Bandung nengok papa," jawan Nayla enteng lalu kembali menatap layar laptopnya.


"Kok nggak kasih tau?"


"Emang situ siapa perlu aku kasih tahu, urusin tuh fans garis keras kamu, nggak usah ngrecokin aku!" ketus Nayla, ia sebal dengan pria ganteng di depannya ini yang tak pernah berhenti mengganggunya.


"Efek cowok ganteng, Nay, nggak usah cemburu gitu, cinta dan sayangku hanya untuk kamu, Nay."


Mendengar ucapan Fandi yang lebih mirip gombalan, Nayla ingin sekali menendang sang ketua BEM ke planet mars agar tak mengganggunya lagi, namun ini tempat umum, ia harus jaga nama baiknya dan sang papa.


"Please, ya Fandi jangan gombal dan berhenti mengangguku!" ucap Nayla sebal namun tak membuat si ketua BEM beranjak dari tempat itu, baginya semakin Nayla kesal semakin menarik di matanya, Banyak mahasiswi yang mengantri menjadi kekasih sang ketua BEM namun tak ada yang di gubris oleh Fandi. Hatinya sudah mentok pada sosok Nayla.


"Oke-oke, aku akan pergi tapi besok kita akan jumpa lagi," ucap Fandi sambil melempar senyum termanisnya yang membuat Nayla semakin muak. Nayla tak suka dengan pria yang suka mengombal dengan kata-kata, Nayla bukanlah gadis yang mudah tergoda oleh paras tampan dan kaya.


Fandi dengan berat hati meninggalkan wanita yang sudah mencuri hatinya, entah apa kurangnya dia sehingga Nayla tak secuilpun merespon sikap manisnya selama ini, bahkan Fandi juga sudah mengungkapkan perasaannya pada Nayla, namun Nayla selalu menolaknya.


Di sisi kampus tersebut sepasang mata mengawasi interaksi Nayla dan Fandi, ia melapor pada sang bos dengan apa yang baru saja di lihatnya, foto dan video lengkap terkirim pada sang bos, tentu saja kiriman tersebut sang bos sangat resah.


"Terus awasi pria itu dan cari tahu semua tentangnya, jangan ada yang sampai terlewat!" titah sang bos dari seberang telepon.


Nayla membereskan barang-barangnya, ia akan melanjutkan di rumah saja, badannya sudah terasa sangat lelah sekarang, di tambah kedatangan Fandi tadi membuat moodnya jadi buruk menjadikan otaknya stuck nggak bisa berfikir lagi seperti author yang sedang kehilangan inspirasi untuk merangkai kata indah menarik minat para readers.


"Aku pulang saja, gara-gara playboy cap kadal itu aku jadi malas nerusin ngetik, huft... aku jadi merindukan bang Afwi ya. Ish nggak boleh, bang Afwi kan bukan apa-apaku, kenapa aku merindukannya," batin Nayla sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.


Nayla segera memasuki mobilnya yang berada di parkiran, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang setelah setengah jam perjalanan, Nayla sampai di rumah.


"Sudah pulang, Non?" tanya bik Sumi, art pilihan bunda Nana untuk menemani Nayla jika sedang pulang ke rumah besar.


"Iya, bik, aku mau ke kamar dulu bersih-bersih," jawab Nayla.


"Baik, Non, mau makan apa untuk makan malam?"


"Soto ayam saja bik, aku lagi pingin yang seger-seger, kalau bibi nggak sempat masak beli saja!"


"Iya, Non, siap."


Nayla langsung menuju kamarnya, ia meletakan tas dan buku-bukunya ke atas meja, Nayla lalu merebahkan tubuhnya sejenak ke atas tempat tidur, sekelebat wajah Afwi yang tersenyum manis padanya membuat bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman. Entah kenapa Nayla merindukan ngobrol dengan Afwi.


"Ah aku pasti sudah gila," batin Nayla merutuki pikirannya yang lancang memikirkan Afwi yang tak punya status istimewa dengannya.


Nayla segera bangun dan menuju kamar mandi, mungkin dengan mandi bisa merilekskan pikiran dan hatinya yang sedang gegana. Setelah mandi Nayla duduk di depan cermin menyisir rambutnya yang panjang, tiba-tiba ponsel Nayla berbunyi, terpampang nama Afwi di sana. Nayla memandang ponselnya dengan rasa tak percaya, ia begitu merindukan Afwi dan tanpa di duga Afwi menelponnya.

__ADS_1


Nayla


"Hallo, Assalamualaikum, abang!"


Afwi


"Waalaikumsalam, Dek, sedang apa?"


Nayla


"Baru pulang dari kampus, Bang, tadi ketemu dosen pembimbing konsultasi skripsi."


Afwi


"Lalu bagaimana hasilnya?"


Nayla


"Sedikit revisi, Bang di bab empat."


Afwi


"Nggak apa-apa, yang semangat, perjuangan mau jadi sarjana kan memang harus begitu, tapi kamu jangan capek-capek ya, jangan terlalu memaksakan diri."


Nayla


Afwi


"Iya, demi kamu aku pasti jaga kesehatan, kalau perlu bantuanku, jangan sungkan menghubungiku!"


Nayla


"Baik, Bang, Assalamualaikum."


Afwi


"Waalaikumsalam."


Begitu Afwi mengakhiri panggilan teleponnya, di seberang telepon Nayla langsung menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur sambil senyum-senyum sendiri tidak jelas.


"Apakah ini yang di namakan cinta, kenapa hatiku selalu berdebar setiap kali bicara dengan nya?" batin Nayla.


Sedangkan di Bandung, Afwi yang baru saja menelpon Nayla juga senyum-senyum sendiri, mengingat kata-kata Nayla yang mengingatkannya untuk makan dan jaga kesehatan membuat hatinya meleleh, pesan sederhana namun jika itu keluar dari mulut orang yang kita cintai rasanya akan sangat spesial. Seperti pepatah bilang kalau sedang jatuh cinta, tahi ayampun rasa coklat.


Keesokan harinya, Nayla kembali ke kampus untuk menghadap dosen pembimbing agar skripsinya cepat selesai. Semalaman Nayla berusaha agar cepat selesai dan bisa segera ke Bandung menyusul sang papa, apalagi di sana ada seseorang yang spesial di hatinya meski status mereka hanya sebatas teman.


Kali ini Nayla tersenyum senang saat keluar dari ruang dosen, bab empat dan lima sudah acc, tinggal mengurus pengajuan sidang skripsinya. Nayla berjalan menuju kantin kampus karena perutnya terasa lapar, saking kepikiran tentang skripsinya Nayla sampai tak selera untuk menyantap sarapan yang di buat bik Sumi, namun selera makannya mendadak hilang ketika sang ketua BEM tanpa ijin duduk di sebelah Nayla dengan jarak yang cukup dekat.

__ADS_1


"Hallo cantik, makan sendirian saja?" sapa Fandi pasang tampang ramah.


"Iya!" ketus Nayla sambil meminum es teh yabg barusan ia pesan.


"Jangan galak-galak dong cantik, ntar hilang lho cantiknya," ucap Fandi yang membuat Nayla semakin kehilangan selera makan.


"Bu, baksonya nggak jadi, ini saya bayar es tehnya saja," ucap Nayla pada ibu pemilik kantin kemudian berlalu begitu saja dari kantin tersebut, tak lupa Nayla meninggalkan uang lima ribu rupiah di meja untuk membayar es teh yang sudah ia minum.


Melihat Nayla langsung keluar dari kantin, Fandi langsung menyusul Nayla dan berusaha meraih tangan gadis pujaannya.


"Nay, tunggu!" ucap Fandi yang berhasil menyusul Nayla dan meraih tangannya.


Nayla yang merasa ada seseorang meraih tangganya menjadi sangar terkejut.


"Fandi!, apa-apaan sih kamu, lepas!" pinta Nayla sambil mengibaskan tangannya yang berhasil di cekal oleh Fandi.


"Aku mau bicara, Nay," ucap Fandi.


"Bicara apa sih sampai ngejar aku, dan membuat selera makanku jadi hilang," kesal Nayla dengan sikap pria ganteng di hadapannya ini.


"Nay, aku sungguh-sungguh dengan perasaanku, dengan apa aku harus membuktikannya padamu?"


"Kau tak perlu membuktikan apapun padaku Fandi, aku tak punya perasaan apapun padamu kecuali perasaan sebagai teman tidak lebih." ucap Nayla penuh penekanan agar pria di depannya ini mengerti perasaannya.


"Apa kurangnya aku, Nay?"


"Kamu nggak kurang apapun, Fandi, hanya saja aku tak punya perasaan apapun padamu. Hanya itu, mengertilah perasaan itu tak dapat di paksakan. Aku melihatmu sebagai laki-laki yang nyaris sempurna, tapi sayangnya aku hanya mengangapmu teman. Saat bertemu denganmu perasaanku biasa saja, tak ada debaran yang bisa membuatku jungkir balik dan juga tak ada perasaan merindu saat jauh!"


"Tapi kita bisa mencobanya, Nay, cinta akan tumbuh karena terbiasa!" pinta Fandi dengan wajah memelas.


"Sebelumnya terima kasih Fandi, kau sudah memiliki perasaan istimewa padaku dan kau juga sudah berani mengungkapkan itu padaku, tapi maaf aku tak bisa menerimamu, karena sudah ada laki-laki yang bisa membuatku berdebar dan merindu saat kami berjauhan."


"Siapa laki-laki itu, Nay?" tanya Fandi dengan tangan terkepal seakan tak terima ada laki-laki yang sudah berhasil membuat Nayla jatuh cinta.


"Kau tak perlu tahu, terima kasih sudah mencintaiku, kau berhak mendapatkan wanita yang lebih baik dari diriku, permisi," ucap Nayla yang langsung meninggalkan Fandi yang berdiri mematung dengan tatapan nanar melihat punggung gadis incaranya yang semakin pergi menjauh.


Di Bandung, Afwi baru saja menerima laporan dari anak buahnya yang mengawasi, Nayla, hatinya bergemuruh, sejuta tanya menari dalam benaknya.


"Siapa laki-laki yang sudah berhasil membuat hatimu berdebar dan merindu, Dek?, abang cemburu," gumam Afwi dalam hati


_________________________________________


Andai kau tahu, Bang Afwi?


Maaf readers baru sempat up karena acara saya di bulan Juni sangat padat, menyita waktu, tenaga dan pikiran 🙏


Please, Like, Vote, Komentar, Rate and Hadiah

__ADS_1


Thank You


__ADS_2