Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 187. Persiapan ke Bandung


__ADS_3

Afwi dan Nayla masih tidur dengan nyenyak setelah mereguk nikmatnya surga dunia untuk pertama kali. Afwi masih memeluk posesif sang istri yang tidur di sampingnya. Nayla tiba-tiba menggeliat ia berusaha membuka matanya, ketika matanya terbuka terlihat wajah tampan suaminya berada tepat di hadapannya, Nayla menyunggingkan senyuman saat mengingat perlakuan suaminya semalam yang menggempur dirinya tanpa henti.


Tangan Nayla terulur membelai wajah suaminya, sungguh pahatan Tuhan yang luar biasa, ia tak pernah membayangkan akan jatuh cinta pada laki-laki yang memiliki profesi yang sangat ia benci. Selain itu sikap Afwi sangat bertolak belakang dengan sifatnya yang ramah dan ceria.


"Abang kenapa bisa setampan ini sih, bunda Yasmin ngidam apa ya dulu waktu hamil abang?" tanya Nayla dalam hati sambil jemarinya bermain menulusuri wajah tampan Afwi.


"Seneng ya mainin wajah abang?" ucap Afwi dengan mata yang masih terpejam.


Mendengar suara suaminya yang tiba-tiba membuat Nayla langsung menarik tangannya yang jahil bermain diatas wajah suaminya.


"Abang, sudah bangun?"


"Kenapa, kaget ya, makanya jangan suka menggoda abang, karena kamu sudah jahil dan mengusik tidur abang, maka kamu harus dihukum!" ucap Afwi lalu merubah posisi di atas sang istri, mereka berdua masih dengan posisi naked di balik selimut.


"Tapi, Bang, sebentar lagi subuh," ucap Nayla sambil melihat jam dinding yang tertempel di dinding kamarnya.


"Nggak apa-apa, abang akan gerak cepat tapi masih bisa memuaskan mu."


Afwi langsung melancarkan aksinya, mereguk kembali nikmatnya surga dunia, suara indah sang istri kembali terdengar, tak lama kemuadian terdengar suara erangan keduanya tanda puncak surga dunia telah dicapai. Tepat setelah sepasang pengantin baru itu menikmati surga dunia yang entah sudah berapa kali, terdengar adzan subuh. Nayla ingin segera bangun membersihkan diri karena ia sudah tak tahan dengan tubuhnya yang terasa gerah dan lengket. Namun saat bangun dari tempat tidur, Nayla merasakan sedikit perih di pangkal pahanya.


"Auww, kenapa perih gini sih," lirih Nayla tapi masih terdengar oleh Afwi.


"Sakit ya, Sayang?" tanya Afwi yang langsung memakai boxernya lalu mendekat pada sang istri.


"Ya, Abang, perih ini, apa semua pengantin baru seperti ini?" tanya Nayla membuat Afwi terkekeh geli.


"Sepertinya tidak semua merasakan perih, tergantung kondisi masing-masing orang, kamu merasakan ini perih karena punyamu masih ori, Sayang. Maaf ya abang sampai lupa diri saking nikmatnya, padahal tadi abang sudah cukup pemanasan lho."


"Terus gimana ini, Nay jalannya?"


"Abang gendong ya, tapi sebentar abang siapin air hangatnya dulu, biar perihmu sedikit hilang."


Afwi segera menuju kamar mandi menyiapkan air hangat di bath up untuk mandi sang istri, setelah di rasa cukup, Afwi kembali ke tempat tidur mengendong sang istri ke kamar mandi. Afwi dengan telaten membantu istrinya mandi, hanya mandi Afwi tidak melakukan hal nakal pada Nayla karena sang istri sudah merasa kelelahan karena ulahnya.


Selesai mandi dan berwudhu, Afwi dan Nayla melaksanakan shalat subuh berjamaah, setelah itu mereka pergi menuju rumah utama. Disana semua penghuni rumah juga sudah bangun, Nayla meminta ijin pada suaminya untuk ke dapur membantu bunda Nana menyiapkan sarapan. Afwi dengan senang hati mengizinkan Nayla. Di halaman depan tampak Pak Mahendra dan Dio sedang berolahraga ringan, Afwi segera menghampiri ayah mertua dan adik iparnya itu.


"Selamat pagi, Pa!" sapa Afwi.


Mendengar seseorang menyapanya, pak Mahendra membalikan tubuhnya, ia melihat menantunya sudah berdiri di belakangnya.


"Oh kamu, Fi, ayo olahraga ringan biar seger dan sehat, jangan cuma olah raga di kamar saja!" ajak pak Mahendra, namun perkataannya membuat wajah sang menantu bersemu merah.


"Eh iya, Pa," ucap Afwi lalu mengambil posisi pemanasan, kebetulan Afwi memakai setelah celana training dan kao ber krah warna putih.


Akhirnya tiga laki-laki di keluarga Bagaskara melakukan olah raga ringan, selesai olah raga mereka berbincang di teras rumah.


"Pa, nanti siang kami akan berangkat ke Bandung, dan dari Bandung nanti kami akan langsung ke kota K untuk persiapan ngunduh mantu," ucap Afwi memberitahu papa mertuanya tentang rencananya.


"Baiklah, tak apa, sampaikan salamku pada ayah dan bundamu, kami akan datang Jumat sore ke sana, soalnya papa masih banyak pekerjaan."


"Ya, Pa nanti aku sampaikan salam papa pada ayah dan bunda."

__ADS_1


Ketiga laki-laki beda generasi itu terus mengobrol sampai sebuah suara mengalihkan pandangan mereka.


"Abang, Papa, Dio! kalian disini, dicari kemana-mana ternyata di sini," gerutu Nayla.


"Memang ada apa kamu cari kami?" tanya pak Mahendra


"Itu sarapannya sudah siap, kalau dingin tak enak," jawab Nayla sambil pasang muka sedikit kesal.


"Ok, ayo kita segera sarapan biar tuan putri kita ini tidak ngambek lagi!" ajak pak Mahendra kemudian bangkit dari duduknya lalu merangkul pundak Nayla untuk masuk kedalam rumah.


Afwi yang melihat istrinya di rangkul sang ayah tidak merasa cemburu karena ia tahu bahwa ayah mertuanyalah cinta pertama Nayla. Dulu Afwi juga sering melihat Aryana di rangkul dan dipeluk oleh sang ayah dengan penuh kehangatan. Afwi dan Dio mengekor Nayla dan pak Mahendra masuk ke dalam rumah, dan sesekali Afwi berbicara pada Dio.


Sampai di ruang makan, terlihat bunda Nana sedang menata piring, melihat pak Mahendra dan keluarganya berjalan mendekat, bunda Nana tersenyum ke arah mereka.


"Kalian sudah kumpul rupanya , ayo segera sarapan nanti sotonya dingin tidak enak!" ajak bunda Nana.


Setelah mereka semua duduk, Nayla mengambilkan makanan untuk suaminya sedangkan bunda Nana mengambilkan untuk pak Mahendra. Suasana sudah persis seperti keluarga bahagia, apalagi bunda Nana yang terlihat seperti istri bagi pak Mahendra karena begitu telaten mengurus pak Mahendra dan keluarganya. Pemandangan menyejukan mata itu tak lepas dari pengamatan Afwi, berbagai pikiran aneh menghantui pikirannya melihat begitu tulusnya bunda Nana mengurus pak Mahendra.


"Wah sotonya enak sekali, siapa yang masak?" tanya Afwi setelah menelan beberapa suap soto.


"Bunda yang masak, aku cuma bantuin, Bang, jam terbangku belum sehebat bunda Nana," jawab Nayla sambil tersenyum.


"Yap benar, masakan bunda Nana selalu juara, makanya anak-anak panti meski lauk sederhana cuma sayur, tempe atau tahu, makannya selalu lahap," ucap Dio menimpali.


"Ah, kalian bisa saja, masakan bunda biasa aja, jangan lebay!" ucap bunda Nana merendah.


"Tapi, benar lho kata anak-anak, masakan kamu selalu enak, kalau begini terus makannya tiap hari aku bisa body prenagen," ucap pak Mahendra sambil tersenyum.


"Maksud kamu apa Afwi?" tanya pak Mahendra.


"Ya kan, papa duda dan bunda Nana janda, kalian sudah seperti pasangan suami istri yang harmonis, kenapa tak di halalin saja, kemarin pembaca ada yang memberikan usul begitu," jawab Afwi tanpa dosa.


Uhukk uhuk


Mendengar jawaban menantunya pak Mahendra langsung tersedak, sedangkan Nayla malah terlihat cengok, Dio dan bunda Nana hanya diam tak tahu harus berkta apa.


"Afwi kamu kalau bercanda jangan kebangetan ah, nggak lucu, papa dan bunda Nana sudah seperti saudara, jangan berfikir yang aneh-aneh" ucap pak Mahendra.


Sungguh polisi berpangkat Kombes itu, benar-benar tak menyangka menantunya mempunyai pikiran aneh seperti itu.


"Sudah-sudah, ayo teruskan makannya nanti dingin tak enak!" ajak Bunda Nana menengahi pembicaraan yang aneh itu.


Mereka pun kemudian melanjutkan sarapan, sudah tak ada lagi oborolan aneh seperti tadi


Selesai sarapan, Afwi dan Nayla kembali ke paviliun untuk mempersiapkan keberangkatan bulan madu tipis-tipis ke Bandung.


"Abang tadi kenapa sih ngomong seperti itu?" tanya Nayla setelah mereka sampai di paviliun.


"Abang hanya mengamati betapa tulusnya bunda Nana mengurus kamu dan keluargamu, Dek," jawab Afwi santai.


"Abang sok tahu, seperti paranormal saja!"

__ADS_1


"Abang bukannya sok tahu, instingku sebagai laki-laki dan sebagai seorang polisi bisa merasakan bahwa bunda Nana itu tulus, nggak ada salahnya kalau bunda Nana menikah dengan papa."


"Sejak pernikahan kedua papa yang gagal, papa nggak mau nikah lagi, beliau hanya akan fokus padaku dan pekerjaan."


"Tapi sekarang kamu sudah nikah, Dek, kamu bakalan tinggal terpisah dengan papa, siapa coba yang akan ngurus papa?"


"Udah ah, Bang jangan bicarakan itu lagi, aku jadi nggak mood bulan madu," kesal Nayla.


"Ya maaf deh, abang nggak bicarakan itu lagi, angap saja abang nggak ngomong apapun tadi," ucap Afwi mengalah daripada rencananya gagal total.


"Kita mau naik apa kesana, Bang?"


"Pakai pesawat komersial saja, semalam abang sudah pesen tiketnya, sampai bandara nanti Revanda akan kirim orang buat jemput kita dan langsung ke villa milik dokter pedofil itu."


"Mendengar kata dokter pedofil, Nayla mengerutkan keningnya, dalam benaknya ada pertanyaan siapa itu dokter pedofil terdengar megerikan.


"Dokter pedofil siapa maksud, Abang?"


"Ya adik ipar abang lah, siapa lagi kalau bukan dokter Fahmi Arya Pratama."


"Kok bisa sih abang sebut adik ipar sendiri begitu?"


"Biarin, aku suka memberi julukan itu, lebih asyik kedengarannya."


"By the way, aku salut lho sama Aryana, nikah muda dengan laki-laki yang usianya jauh di atasnya."l


"Namanya juga jodoh, kaya kita ini lho, Dek, nggak nyangka gara-gara temenin teman beli lumpia bisa ketemu sama kamu, padahal waktu itu kamu lagi goreng lumpia dengan memakai aproon dan rambut di kucir kuda."


"Iih yang bener Bang kok nggak pernah cerita sih? padahal aku waktu itu kusam lho, pakaian seadanya, tanpa make-up, nggak ada cantik-cantiknya."


"Justru itu yang membuat abang jatuh cinta pada pandangan pertama, asli, natural."


"Masa sih? mungkin mata abang sedang bermasalah waktu lihat Nay jualan lumpia dengan pakaian biasa begitu, biasanya cowok tertarik sama cewek tuh di hajatan, pesta, di mall, lha ini orang lagi goreng lumpia di depan kompor dibilang nenarik."


"Ya itu tadi abang bilang, Dek, jodoh tak akam kemana, itu sebabnya jodoh adalah salah satu rahasia Allah. Lagi pula mungkin ini turunan dari keluargaku, dapat jodoh dengan cara yang unik penuh rintangan dan ujian."


"Unik?" beo Nayla.


"Kalau kisah cinta keluargaku yang unik aku ceritakan tak akan habis satu novel, nanti readers bisa bosan, kasihan juga yang nulis."


"Tapi, Nay penasaran, Abang, cerita dong!"


"Kapan-kapan saja ya ceritanya, kita akan mengukir kisah cinta kita sendiri agar lebih unik," ucap Afwi kemudian pergi ke kamar untuk membereskan barang-barangnya yang akan di bawa ke Bandung.


Nayla dengan muka cemberut mengekor suaminya ke dalam kamar, ia masih sangat penasaran sekali dengan kisah cinta keluarga sang suami.


_________________________________________


Please Like, Vote, Komentar, Rate and Favorit


Thank You

__ADS_1


__ADS_2