Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 230. Indahnya Kebersamaan (END)


__ADS_3

Rumah Raka sangat ramai hari ini karena acara Aqiqahan Syakia mengundang banyak orang. Meski acara aqiqahan Syakia dilaksanakan di rumah Raka namun semua serba istimewa. Cucu dari putra sulung Presdir Dewantara group tentu tak akan kaleng-kaleng. Acara Aqiqahan Syakia diadakan dengan pengajian dan potong rambut. Ustad yang memberikan ceramah pun juga diambilkan ustad kenamaan. Hampir semua keluarga Dewantara dan Danuarta hadir termasuk Fahmi dan Aryana beserta anak-anaknya, ditambah keluarga besar Raka dan Dinda, juga rekan-rekan kerja Afwa di kesatuan.


"Kiran, ayo Nak bawa Syakia ke depan, pemotongan rambut mau segera dimulai!" ajak Yasmin yang masuk ke kamar menantunya.


"Iya, Bund, sebentar," ucap Kirana lalu perlahan bagun dari duduknya sambil mengendong Syakia.


Di depan Nayla sudah siap membawa baki yabg berisi gunting rambut dan air yang di tempatkan di wadah kecil tempat nanti guntingan rambut akan diletakkan. Sudah ada Yudha, Yasmin, Raka, Dinda, Afwa, Opa Dimas dan Ustad yang akan mengisi ceramah. Mereka bertujuh akan memotong rambut Syakia.


Satu persatu anggota keluarga yang sudah di tunjuk untuk memotong rambut Syakia, melakukan tugasnya di iringi lantunan shalawat badar yang mengalun dengan merdu membuat acara begitu khidmat. Seusai acara pemotongan rambut baby Syakia, dilanjutkan tausiyah yang bertemakan aqiqah. Papa dan mama Fahmi juga hadir di acara tersebut, keluarga besar Kirana dan Afwa bisa di katakan bisa hadir sembilan puluh persen.


Ke empat anak Fahmi pastinya menjadi rebutan para oma dan opa untuk memangku, tentu saja opa Dimas memilih Alesya yang dipangku karena ia sangat gemas dengan wajah dan mata anak itu, maka jadilah Aryana dan Fahmi pengangguran di malam aqiqahan Syakia.


"Sayang sepertinya, kita harus kasih adik buat triplet dan Alesya," ucap Fahmi dengan senyum dan tatapan penuh harap.


"Papa, apaan sih nggak jelas, banget, empat anak aja dah rempong kalau mbaknya cuti atau ijin, mau nambah lagi," ucap Aryana kesal.


"Soalnya kalau pulang ke Indonesia kita jadi pengangguran karena anak-anak sudah di kuasai para oma, opa dan tante mereka," ucap Fahmi dengan nada memelas.


"Bukannya nggak ingin punya anak lagi, tapi aku benar-benar mau fokuskan kasih sayang pada keempat anak kita," terang Aryana memberi pengertian.


"Aku ngerti, Sayang, tadi papa hanya bercanda saja, empat anak sudah cukup untuk papa, membayangkan hampir kehilanganmu dulu waktu melahirkan membuat aku tak akan memaksa kamu punya anak lagi."


"Terima kasih untuk pengertiannya, Pa tapi jika Allah memberi amanah lagi aku nggak akan menolak."


Keduanya menatap penuh cinta, tangan mereka saling menggenggam memberikan kekutan. Di sisi yang lain anggota keluarga mendengar tausiyah dengan tenang, mereka tak akan melewatkan moment ini, ustad kondang tanah air yang biasanya hanya bisa mereka lihat di televisi atau medsos, kini benar-benar hadir di hadapan mereka, begitu juga tamu-tamu yang lain, mereka sangat tertarik mendengarkan tausiyah dari ustad ternama tanah air. Keluarga Dewantara kalau mengelar hajatan apapun selalu sangat berkualitas dari segi apapun. Pukul setengah sebelas acara berakhir, semua tamu sudah beranjak pulang. Fahmi dan keluarganyapun juga ikut pulang ke hotel karena tak enak harus menginap di rumah Raka.


"Afwa selamat ya, kau harus sungguh-sungguh merawat anakmu dengan baik, kami pulang dulu," ucap Fahmi memberikan nasehat saat berpamitan.


"Siap pak dokter, Mas Fahmi tahu sendiri bagaimana perjuangan cintaku dan Kirana, jadi mana mungkin aku tak merawat putri kami dengan baik."


"Good," ucap Fahmi sambil menepuk pundak kakak iparnya.


"Kalian tak menginap disini?" tanya Raka yang muncul dari belakang Afwa.


"Tidak, Om, kami sudah boking hotel, kami tak mau merepotkan, anak-anak kami sering berisik takutnya menganggu Syakia," jawab Fahmi beralasan.


"Baiklah kalau begitu, tapi jangan lupa akan ada makan siang bersama di sini besok!" ucap Raka mengingatkan.


"InsyaAllah Om, tapi sorenya kami harus kembali ke Singapura."


"Tak apa yang penting kalian bisa menghadiri makan siang bersama, besok."


Setelah berpamitan Fahmi dan keluarganya meninggalkan rumah Raka, begitu juga keluarga yang lainnya. Mereka semua menginap di hotel DW group. Sengaja Yudha menyiapkan satu lantai hotelnya untuk menginap keluarganya.

__ADS_1


Sampai di hotel keluarga Yudha memasuki mereka masing-masing, begitu juga kamar yang ditempati Fahmi, dua kamar yang saling terhubung. Keempat anaknya tidur satu kamar sedangkan Fahmi dan Ariana tidur di kamar satunya lagi.


Keesokan paginya Yudha mengajak keluarga besarnya sarapan bersama di restoran hotel di bagian outdoor agar anak-anak lebih leluasa bermain


"Kalian Setelah ini mau kemana?" tanya Yudha


"Kami akan pulang ke Singapura setelah undangan makan siang bersama dari Om Raka," jawab Fahmi.


"Oh ya aku hampir lupa kalau Raka mengundang kita semua sama di rumahnya sebagai bentuk rasa terima kasihnya pada keluarga kita yang sudah membantu kelahiran Syakia mereka sangat berterima kasih ada kita jadi tak enak hati, pada hal aku sudah bilang padanya bahwa itu sudah kewajiban kita sebagai keluarga harus saling membantu, tapi kelihatannya Raka sangat sungkan sudah menerima banyak bantuan dari kita padahal aku merasa hal yang kita lakukan biasa saja," ucap Yudha mengutarakan perasaannya.


"Pemikirannya masing-masing orang itu beda, mungkin bagi Papa apa yang Papa lakukan biasa tapi menurut Raka itu berlebihan dan mungkin itu yang membuat ia merasa tidak enak menerima begitu banyak bantuan dari kita apalagi mengingat sikap Dinda selama ini terhadap Kirana dan Afwa tapi aku senang akhirnya Dinda bisa menerima pernikahan Afwa dan Kirana dengan ikhlas, dan memang seharusnya begitulah sikap seorang ibu yang selalu berusaha untuk berbuat yang terbaik demi kebahagiaan anak-anaknya bukan malah memusuhinya hanya karena sebuah masa lalu, tapi aku senang sekarang Dinda bisa bersikap lebih baik pada Afwa dan Kirana," ucap Yasmin menimpali.


"Ternyata kelahiran Syakia membawa hal yang hikmah dalam kehidupan rumah tangga Afwa dan Kirana," ucap opa Dimas


Setelah selesai sarapan anak-anak seperti Alesya , Arnan, Arsen dan juga sepupu mereka bermain di taman restauran. Semua sangat bergembira dengan kelahiran putri dari Alfa dan Kirana. Di sisi lain Nayla tampak sedikit murung setelah namun tentu saja dia berusaha perasaannya itu di bawah meja perlahan mengusap perutnya yang datar dan belum memberikan anda bahwa ia akan segera merasakan kebahagiaan seperti istri saudara kembar suaminya. Afwi yang menyadari perubahan raut wajah sang istri, ia menggenggam jari Nayla, Afwi mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh istrinya kemudian pamit meninggalkan meja makan dengan mengajak sang istri dengan alasan untuk membereskan pakaian mereka.


"Bunda, Opa, Oma, aku ijin pergi ke kamar dengan Nayla pakaian kami karena acara makan siang bersama dengan om Raka aku juga harus kembali ke Bandung Besok aku sudah harus berdinas lagi," ijin Afwi pada keluarganya.


"Tidak apa-apa, Nayla sepertinya masih juga terlihat lelah Istirahatlah dulu, papa tahu perjalanan Semarang Bandung cukup menyita waktu kalian apalagi mengingat pekerjaan Afwi yang cukup padat hari-hari ini," ucap Yudha memberikan ijin pada Afwi dan Nayla meninggalkan meja makan lebih dulu dan semua orang memakluminya.


Sampai di kamar mendudukkan istrinya di tepi ranjang, kemudian Ia juga duduk di tepi ranjang, Afwi membingkai wajah Nayla dengan kedua tangannya sambil menatap dua mata jernih milik Nayla.


"Abang tau Apa yang kamu pikirkan, Dek, udah Abang bilang dari dulu Jangan dibuat beban apalagi usia pernikahan kita baru berjalan belum ada 2 tahun masih banyak waktu untuk kita untuk bisa memiliki anak, aku dan Kak Afwa memang kembar tetapi jalan hidup dan takdir kami berbeda, termasuk juga masalah anak, kita juga sudah melakukan pemeriksaan. Kau tahu sendiri kan di dalam tubuh kita berdua tidak ada masalah apapun jadi ini hanya masalah waktu saja. Allah memberikan sesuatu pada hambanya di saat adanya itu ingin di saat yang benar-benar tepat orang hamba itu menerima dan anugerah, karena Allah Maha Mengetahui segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi. Allah ingin memberikan kita amanah seorang anak di saat yang benar-benar tepat sehingga bisa membawa amanat itu dengan baik sampai akhirat. Percayalah, Dek bahwa Allah yang paling tahu yang terbaik untuk hamba-Nya, jadi aku harap kamu lebih bersabar dan Jangan memikirkan masalah anak lagi, Abang nggak ingin melihat kamu bersedih seperti ini," ucap Afwi dengan penuh kelembutan.


"Maafkan aku terlalu terbawa perasaan seharusnya Nay bisa membawa diri lebih baik lagi dan terima kasih atas semua perhatian dan pengertian abang sama Nay. Nay sangat bahagia memiliki di Abang nek janji akan lebih bersabar lagi," ucap Nayla menahan tangis.


Lalu mereka mulai membereskan barang-barang bawaan mereka setelah selesai Afwi dan Nayla duduk di balkon kamar hotel yang menunggu makan siang tiba. Di restoran hotel yang lain berbincang. Sebagai Yasmin pun merasa yang Afwi dan Nayla sembunyikan, feeling seorang ibu memang bisa di bohongi, namun ia hanya memendam dalam hati, ia akan menanyakannya nanti sendiri langsung pada Afwi.


Waktu terus berjalan, menjelang jam makan siang semua keluarga Yudha sudah bersiap ke rumah Raka untuk memenuhi undangan makan siang sebagai ucapan terima kasih. Pukul sebelas siang lebih lima belas menit rombongan Yudha sudah tiba di rumah Raka. Mereka langsung di arahkan masuk ke bagian samping rumah yang sudah tertata hidangan makan siang dengan menu masakan tradisional jawa, tentu semua sangat senang karena jarang sekali mereka menemukan makanan tradisional jawa di tempat tinggal mereka terutama Fahmi dan Aryana.


"Wah ini makanan favorit aku," pekik Aryana yang melihat urap dan ikan asin.


"Kita memang sengaja sediakan masakan tradisional sebagai pengobat rindu, aku senang kalian suka, untuk anak-anak ada ayam goreng bumbu dan sayur sop," ucap Dinda dengan ramah.


"Makasih ya Din, kami jadi merepotkan," ucap Yasmin sambil merangkul pundak sahabatnya.


"Sama-sama, Yas, apa yang kami suguhkan tak sebanding dengan semua bantuan kalian," ucap Dinda.


"Ah sudah-sudah, kalau ngobrol terus kapan makannya?" ucap Raka yang mempersilahkan tamunya segera makan, Afwa dan Kirana juga sudah ikut bergabung di acara makan siang bersama.


"Eh mana Syakia?" tanya Yasmin


"Tadi di gendong Nayla, katanya biar ketularan gitu," jawab Kirana membuat hati Yasmin tercubit, ia tahu bahwa Nayla juga sangat ingin segera mengandung.

__ADS_1


Acara makan siang bersama di rumah Raka terasa hangat, dan penuh keceriaan. Raka juga menyediakan satu set alat musik termasuk gitar, beserta satu orang pemain keyboard jika ada yang ingin membagikan suara emasnya.


"Ada yang mau nyanyi nggak ini?" tanya Raka.


"Azka tuh suruh nyanyi," celutuk Afwi.


"Ayo, Ka kamu nyanyi, katanya pernah jadi vokalis band waktu SMA," seloroh Aryana.


Azka yang ditodong berjamaah mau tak mau harus membagikan suara emasnya. Lagu Laskar Pelangi yang di pilih oleh Azka.


"Selamat siang semua keluargaku yang aku sayangi, kali ini saya akan menyanyikan sebuah lagu dan saya minta kalian semua ikut menyanyikan, oke?"


"Oke!" sahut semuanya.


Mimpi adalah kunci


Untuk kita menaklukkan dunia


Berlarilah tanpa lelah


Sampai engkau meraihnya


Laskar pelangi


Takkan terikat waktu


Bebaskan mimpimu di angkasa


Warnai bintang di jiwa


Menarilah dan terus tertawa


Walau dunia tak seindah surga


Bersyukurlah pada Yang Kuasa


Cinta kita di dunia


Selamanya


Hampir semua anggota keluarga ikut menyanyikan lagu Laskar pelangi yang cukup menggugah semangat dalam menjalani kehidupan. Nayla juga ikut bernyanyi sambil memangku baby Syakia, ia percaya bahwa suatu saat ia akan menjadi ibu yang hebat untuk anak-anaknya kelak, meski kisahnya masih di angan-angan sang author.


Live must go on, terus melangkah ke depan, menjalani semua ujian di dunia dengan sabar tanpa putus asa, tetap semangat dalam meraih mimpi di iringi rasa syukur pada Allah meski takdir-Nya tak sesuai dengan harapan manusia. Namun semua itu Allah lakukan karena Dia lah yang paling tahu yang terbaik bagi hamba-Nya.

__ADS_1


...END...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2