
"Sekarang tidurlah ini sudah jam 03:00 dini hari kamu harus banyak istirahat!" Ucap Damara setelah selesai menyuapi Jelita, bukannya menjawab Jelita hanya menatap lekat pada lelaki di depannya itu, seperti ia ingin mengatakan sesuatu. Dan Damara pun melihat semua itu namun ia pura-pura cuek saja tanpa ingin bertanya terlebih dahulu, karena ia ingin memastikan apakah Jelita membutuhkan nya atau tidak
"Kau mau kemana tanya Jelita saat melihat Damara melangkah meninggalkan kamar tersebut.
"Aku fikir aku juga ingin istirahat jadi aku ingin segera tidur aku tidak mau kau merasa terganggu atas kehadiran ku disini. Untuk itu aku ingin segera pergi. Jika kau butuh sesuatu kau bisa memanggil ku aku tidur di dekat pintu kamar ini kok," Jelasnya lagi
"Bab-baguslah kalau kau mengerti, tap-tapi hah...ke-kenapa kau tidur di depan pintu?" tanya Jelita dengan wajah yang binggung, bukankah rumah utamnya itu sangat besar dan luas dan tentu saja mempunyai banyak kamar.
Tapi kenapa Damara malah memilih tidur di depan pintu kamarnya gila bukan? yah jawab memang iya, karena di saat orang sedang merasa jatuh cinta ia akan rela melakukan apa saja bahkan bisa berbuat di luar nalar manusia, ia rela mengorbankan dirinya hanya untuk orang yang sedang di cintainya, sama juga halnya seperti apa yang dilakukan Damara saat ini.
Demi membuktikan bahwa dia benar-benar tulus ingin mencintai Jelita ia pun rela tidur di depan pintu kamarnya sendiri walau hanya beralaskan sebuah karpet. Semua ia lakukan demi menjaga sang istri selama sakit karena Jelita tak mengizinkannya untuk tidur satu kamar jadi mau tidak mau ia melakukan hal gila tersebut.
"Kenapa kau diam tidak menjawab pertanyaan ku?" Ucapnya lagi saat melihat Damara hanya diam saja pada tempatnya
"Karena aku ingin selalu dekat denganmu!" jawabnya sambil melangkah meninggalkan kamar tersebut.
"Tut-tunggu dulu sekarang kau mau kemana?" cicitnya lagi saat melihat Damara memilih berlalu.
"Apa kau tak mendengar kalau aku mengantuk dan hendak tidur" jelasnya lagi hendak berlalu.
"Tunggu dulu!"
"Ada apa lagi apa kau ingin aku antar ke toilet?"
"Tit-tidak aku...aku ingin kau tidur disini, dikamar ini?" jawabnya cepat sambil menundukkan kepalanya.
"Tapi bukankah kau_"
__ADS_1
"Hanya malam ini saja!" selanya cepat menjeda kalimat Damara.
"Baiklah aku akan menemanimu cepatlah aku sangat mengantuk huam..." Damara pura-pura menguap padahal di dalam hatinya sedang bersorak gembira karena bisa tidur kembali di samping sang istrinya itu.
"Tunggu kamu mau kemana?" tanya Jelita di saat melihat Damara melangkah ke tepi pembaringan.
"Tentu saja mau tidur." Jawabnya penuh semangat.
"Siapa yang mengizinkan mu tidur di situ, kau harus tidur di sana! Ucap Jelita menunjuk sebuah Sofa yang ada di kamar itu.
"Tat-tapi sayang badanku tidak akan muat kalau tidur di tempat itu." Rajuknya
"Ya sudah tidur saja di lantai." Ketus Jelita lalu segera menutup tubuhnya dengan selimut
Sedangkan Damara mendengus kesal karena apa yang ia rasakan sekarang tidak sesuai dengan ekspektasinya.
Damara terus bergumam sambil menatap punggung istrinya karena posisi Jelita saat ini sedang memunggunginya.
Bukannya nyenyak yang di dapatnya tapi ia benar-benar tersiksa dan tidak bisa terpejam, ia terus mengatur posisi tidurnya biar terasa enak, namun bukannya enak, badannya malah terasa sakit dan kaku karena dipaksa terus melengkung akibatnya ia akan duduk untuk meluruskan badannya sesaat setelah itu ia akan berbaring kembali.
"Sayang apa kau sudah tertidur?" cicit Damara
"Sayang boleh ya aku tidur di sampingmu!" Cicitnya lagi namun tetap tak ada jawaban perlahan ia pun memberanikan diri untuk naik ketempat tidur dan tidur di samping Jelita.
Dan sungguh di luar dugaannya baru saja Ia merentangkan diri di atas tempat tidur Jelita tiba-tiba berbalik dan memeluk tubuhnya.
"Aku takut, aku takut!" igau jelita Damara langsung membalas pelukan sang istri saat melihat Jelita seperti orang Yang ketakutan walau dengan mata yang asih terpejam setia terpejam.
__ADS_1
"Aku di sini. Aku akan terus berada di sampingmu kau tidak usah merasa takut aku akan selalu ada untukmu ucapnya lembut lalu memberanikan diri mencium lembut wajah istrinya yang sedang tertidur pulas itu Tepat pukul 06.00 pagi Damara baru bisa memejamkan matanya lagi sambil tangannya terus memeluk tubuh Jelita.
Jelita sendiri kini semakin dalam masuk terbawa mimpi kerana dirinya merasa semakin nyaman dan hangat, sedangkan kepalanya tanpa sadar, pindah ke lengan kekar milik Damara.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kak, kak Damar buka pintunya!" Teriak seorang gadis yang sedang duduk di kursi rodanya namun tetap saja tak ada jawaban.
Membuat sang gadis semakin kesal dan ingin menggedor kembali pintu kamar Damara.
"Nona Amara lebih baik Anda pergi istirahat karena Tuan juga nampaknya baru tertidur pukul 06:00 pagi tadi Nona" Jelas Asisten Damara kepada gadis yang sebenarnya adalah Amara. Ya setelah satu minggu, semenjak dia di nyatakan bangun dari koma nya, ia pun boleh di izinkan pulang, setelah menyelesaikan serangkaian pemeriksaan, pada perkembangan kesembuhannya serta perkembangan masalah kakinya.
Dan bukan tanpa alasan kenapa Amara langsung ingin menemui kakaknya itu, ia sebenarnya ingin marah dan ingin protes kenapa kakaknya itu tidak menjemputnya tapi kenapa ia menyuruh asisten pribadinya itu untuk menjemputnya, dan alasan kenapa karena semalam ia kecapean mengurus istrinya.
Untuk itulah Amara ingin mengamuk dan memaki perempuan yang sudah membuat kakaknya lupa tentang tanggung jawabnya pada dirinya.
"Awas! saja kau perempuan J4l4ng aku akan membuat perhitungan denganmu hari ini juga. Kau sudah berani merebut kakakku dariku, aku tidak akan membuatmu hidup dengan tenang. Aku pasti akan segera membalas mu."
Geramnya dalam hati Dan memilih segera beranjak dari pintu kamar Damara. Amara pun memilih untuk segera merebahkan dirinya dan itu atas bantuan Rony.
"Apa Anda butuh sesuatu Nona?"
"Tidak ada silahkan kamu keluar dan tolong panggilkan Siti untuk datang segera!" Ucap nya memberikan perintah. Dan Rony pun segera beranjak dari ruangan tersebut dan segera turun untuk mencari keberadaan Siti.
Tak lama kemudian Siti pun datang dengan tergopoh-gopoh.
"Ada apa Non, apa Anda butuh sesuatu biar Siti yang mengurus semua kebutuhan Anda" Cecar Siti begitu berada di depan Amara.
__ADS_1
"Untuk saat ini aku belum membutuhkan sesuatu, aku hanya ingin istirahat dulu karena aku akan mengumpulkan tenagaku karena setelah ini mungkin akan ada kekacauan." Terangnya lalu memilih segera tidur meninggal kan Siti yang masih bingung.