
"Uweek…Uweek…Uweek" Renata terus saja memuntahkan isi perut nya di pagi buta hingga yang tersisa hanya cairan kuning yang terasa pahit di tenggorokan. Tubuh nya yang begitu lemah tak bertenaga lagi, la hanya mampu menyandarkan tubuhnya di dinding kamar mandi.
"Nyonya Anda kenapa?" tanya seorang pelayan yang datang tergopoh-gopoh saat mendengar suara orang muntah di toilet pembantu.
"Aku tidak apa-apa Bi, Bi, boleh aku minta tolong, pada Bibi, aku mau istirahat di kamar Bibi, boleh?"
"Tapi Nya!"
"Untuk hari ini aja Bi, Mas Baron sedang tidur aku tidak mungkin mengganggu nya, dan satu lagi Bi, kalau ada siapa pun yang bertanya Rena dimana Bibi bilang saja tidak tau, dan jangan tanya kan orang rumah kalau Rena hari ini muntah-muntah, Rena tidak ingin orang rumah nanti khawatir."
"Baik Nya, saya akan melakukan apa yang Anda perintah kan." Ucap sang Bibi
Renata mencoba untuk membaringkan tubuhnya yang terasa lemah itu.
"Nyonya ini minuman yang Bibi, bikin buat Nyonya semoga Nyonya mualnya bisa hilang dan ini juga sarapannya biar Nyonya ada tenaga." Ucap Bi, Ratih menyodorkan baki yang berisi makanan,
"Terima kasih Bi, BIbi simpan saja nanti Rena makan."
"Baiklah Nya Bibi keluar dulu" pamit sang Bibi
Renata pun bangkit dan meraih gelas minuman yang berisi jahe dan perasan lemon itu. la meminumnya sedikit demi sedikit. Dan ia merasa sedikit lebih enak dari sebelum nya.
"Setelah merasa enakan ia pun mencoba untuk kembali membaringkan tubuhnya.
"Kamu yang kuat nak bersama Bunda disini" Usapnya pada perut yang masih rata.
*
Sementara itu di kamar, Baron yang baru bangun dari tidur memeraba tempat di sampingnya. la pun membuka mata nya lebar saat menyadari itu ada siapapun di sampingnya.
"Ren, Renata kamu dimana sayang?" Cicitnya memanggil sang Istri, kebiasaan ini lah yang sering memang la lakukan selama satu bulan jika bangun setiap pagi.
"Kamana pergi nya sih? mana bajuku belum di siapkan aku takut akan telat nanti ke kantor nya." Gumamnya
"Bi, Bi Ratih…!"
__ADS_1
"lya Tuan…!" Sahut Bi, Ratih yang datang tergopoh-gopoh.
"Bi, Renata kemana kenapa dia tidak menyiapkan pakaian ku?"
"Itu Tuan,, Nyonya tadi, E,anu itu tadi Nyonya bilang Baju Tuan ada di samping tempat tidur Anda dan sarapan Anda pun sudah siap." Ucap Bi, Ratih berusaha menghilangkan rasa gugup nya. Ia pun mengusap dadanya dengan lega beruntung tadi Renata sempat memberitahukan lebih dulu.
Apa Bibi tahu Kemana perginya Renata?" tanya Baron mungkin mungki Nyonya pergi kerja Tuan" Renata memang pernah meminta pada Baron untuk bekerja dan dia di terima kerja di sebuah Kafe.
"Tapi kenapa dia harus pergi pagi-pagi sekali Bukankah tempat kerjanya itu buka jam 09.00 Nah sekarang ini baru jam 06.00 pagi. Entahlah Tuan, mungkin nyonya ada keperluan mendadak kalau begitu saya pergi dulu Tuan karena banyak yang harus selesaikan di belakang." Pamit Bi, Ratih.
"Oke Bi, terima kasih."
"Ayah Ayah Bunda mana!" teriak Bara mencari sang Bunda.
Bunda mungkin sudah pergi kerja Sayang, ada apa memangnya. Bukankah kamu akan berangkat sekolah sama nenek kok kamu mencari Bunda sih?"
"Ayah,, apa Ayah itu lupa. Bukankah cetiap hali Bunda akan melapikan bajuku dulu dan akan membelikan aku ciumannya dan pelukannya cebelum belangkat cekolah" Terang Bara dengan bersemangat. Baron tersenyum sambil mengusap lembut kepala sang anak.
"Sini biar ayah saja yang melakukannya. Ayah juga mau pergi kerja nih, Ayah buru-buru." "Tidak mau ayah, ayah itu laki-laki aku kan anak laki-laki, jadi anak laki-laki itu hanya halus dicium cama bundanya dulu balu boleh cama ayahnya," Tolak Bara mundur.
"Memangnya celama ini ayah pelnah mencium Bala kalau Bala belangkat cekolah Ayah kan hanya cibuk terus pelgi kelja" kesal Bara mengerucut kan bibirnya, sedangkan kedua tangannya bersedekap di depan dada, layaknya lagak orang dewasa yang tengah marah, Baron merasa tersentil dan apa yang diucapkan Putranya itu. Ia pun berjongkok, mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan tubuh Sang putra,"
"Ayah,, Ayah minta maaf sama kamu. Jika selama ini Ayah lebih banyak di luar daripada menemanimu dirumah tapi Ayah janji Ayah akan menemani Bara lagi, Ayah akan berusaha selalu ada untuk Bara." Ucapnya memeluk sang Putra.
"Ayah,, Bala tidak mau di peluk Ayah Bala mau di peluk Bunda aja" Rengek Bara kemudian menangis. Membuat Baron binggung harus bagaimana membujuk anaknya.
"Bara kenapa Baron? kamu kalau tidak bisa ngurus anak jangan di bikin nangis Ayo sayang sama Nenek kita berangkat yuk."
"Tapi Nek Bunda?"
"Iya mungkin Bundanya sibuk jadi tidak sempat pamit, dan Bunda juga buru-buru mungkin ingin masuk kerjanya karena takut nanti Bosnya marah. Bara kan anak laki-laki jadi tidak boleh__"
"Cenggeng" sahut Bara menimpali
"Nah itu Bara tau!"
__ADS_1
"Iya Nenek Bunda yang bilang kalau anak laki-laki halus kuat kalena kalau Bala punya adik Bala yang akan menjaganya."
"Memangnya Bara minta Adik sama Bunda?"
"Iya Nek, Bala minta Adik pelempuan bial bica cayang cama Bala juga, cepelti Bunda cayang cama Bala."
"Okey baiklah sekarang saatnya Bara berangkat karena Bara udah rapi ayo pamit sama Ayah dulu!"
"Ayah Bala pamit berangkat dulu ya! Bala minta maaf juga Ayah." Bara memeluk sang ayah dengan sangat erat lalu ia pun melambaikan tangannya.
Bara menatap kepergian sang putra hingga suara celotehnya benar-benar menghilang.
"Apakah sedalam itu sara cinta nya pada Renata, bagaimana kalau kami berpisah dan Lisa? Oh,, Astaga Aku lupa untuk menelponnya, jangan sampai dia marah lagi." Baron bergegas merapikan kemejanya, lalu segera berlari keluar.
"Tuan sarapan Anda!" Cicit sang Bibi, memanggil Baron.
"Aku sudah terlambat Bi, nanti saja aku makan di kantor!"
"Tuan-Tuan baru sehari Nyonya menghilang tapi Tuan sudah seperti itu, bagaimana kalau Nyonya tidak ada?" Bi Ratih hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Ya ampun Nyonya!" Bi, Ratih segera berlari kebelakang untuk segera menemui Renata.
"Nyonya, Nyonya ya ampun Nya maafkan Bibi, ya Bibi, lupa habis ini gara-gara Tuan dan den Bara jadi Bibi lama." Ucap Bi Ratih merasa bersalah.
"Sudah tidak apa-apa Bi mana obatnya Bi,"
"lni Nya" Bi Ratih pun memberikan botol berisi obat dan vitamin milik Renata."
"Bi, bagaimana Bara hri ini?"
"Den Bara menangis tak ingin di peluk Ayahnya dia hanya ingin hanya Nyonya" terang Bi, Ratih.
"Bara…! Bi, aku mau pergi dulu"
"Tapi Nya!"
__ADS_1