
"Jelita, sedang apa kau disini?" tanya Darandra saat keluar Cafe, la tak sengaja melihat Jelita yang sedang bersama Baby Ar, dengan dua orang pengawalnya. Jelita berhenti dan menatap sinis, Kakak sepupu nya dan juga temannya itu.
"Aku datang kesini untuk melihat Pelakor dan Pebinor yang berkeliaran tak punya malu." Sarkas Jelita yang sudah tidak bisa menahan diri, membuat Tasya dan Darandra saling menatap lalu menatap ke arah Jelita lagi.
"Apa maksudmu Jelita,?" tanya Darandra sengit.
"Tidak ada, sebaiknya lupakan aku buru-buru karena baby Ar, juga seperti nya ingin segera pergi dari sini. Oh, ya, aku lupa Bagaimana Jika Auntie Cleo, dan Om Anthony tau!" setelah berucap Jelita pun pergi meninggalkan keduanya yang masih mantap kepergian Jelita dengan tatapan yang berbeda.
Jika Tasya menatapnya dengan tatapan kecewa karena sahabatnya itu sekarang pasti sangat membencinya, dengan sindiran pedas pasti yang di sengaja nya. Sedang akan Darandra menatapnya dengan tatapan khawatir jika Jelita menceritakan semua apa yang di lihatnya hari ini pada ke dua orang tuanya karena biar bagaimana pun kedua orang tuanya sangat mengajarkan bagaimana seharusnya bersikap pada wanita.
"Amara pasti ini gara-gara dia, Jelita jadi curiga dan menuduhku," geramnya mengepalkan tangannya.
"Sayang ayo kita pergi!" ajak Tasya mengandeng mesra tangan Darandra saat melihat sebuah mobil yang sangat di kenal nya berhenti di seberang jalan sana. Dan itu membuat Darandra terkejut dari lamunannya namun ia menurut saja.
"Kau kenapa? Sepertinya kau melihat seseorang,?" tanya Darandra sambil melirik ke Arah Tasya begitu duduk di sampingnya di dalam mobil.
"Aku tadi melihat Jhony," Jawab nya dengan wajah masamnya.
"Apa kau tak melihatnya tadi berhenti di seberang jalan,"
"Jhony maksudmu suamimu itu,?"
"Iya siapa lagi, apa Kau kira aku akan menghindari Johnny yang lain" kesal Tasya Darandra pun tak ingin banyak bertanya,la memilih untuk melajukan mobilnya pergi dari tempat tersebut.
"Amara Heh, Kau kenapa? bengong saja nanti kamu bisa kesambet tau," ledek Renata saat melihat Amara yang hanya tertegun menatap dua orang yang terlihat begitu mesra di depannya itu.
"Eh, kakak... aku tidak apa-apa Kak," jawabnya gugup karena kedapatan melamun.
"Jangan bilang kau sedang memikirkan suamimu bersama wanita tadi itu,? Aku kira kau sudah melepaskannya dan mengikhlaskannya, Amara dengarkan kakak, yang penting sekarang kau fokus pada kesembuhanmu dulu. Jangan memikirkan orang lain yang tidak memikirkanmu kau harus memikirkan dirimu sendiri karena jika tidak ada yang mau pedulikan dirimu Lalu siapa yang akan mempedulikanmu kalau bukan dirimu sendiri."
"Aku tahu itu Kak, aku tidak berpikir tentang mereka, tapi, aku hanya berpikir kenapa bukan aku saja yang mengidap penyakitmu Kak, biar aku cepat pergi dari dunia ini,"
"Amara jangan ngomong sembarangan! kau tahu Apa kau sadar dengan ucapanmu itu? ltu artinya kau menyalahkan takdir, ingat ya Amara, Allah tidak akan pernah salah dalam memilih takdir seseorang," Renata memeluk tubuh Amara yang kini sudah mulai bergetar karena menumpahkan tangis untuk mengurangi sesak di dadanya.
__ADS_1
"Kau itu wanita yang kuat, aku yakin kamu bisa melakukan, Aku harap kau juga bisa sembuh."
"Tapi aku takut,"
"kamu itu takut Bagaimana?" tanya Renata mengusap punggung wanita yang masih memeluknya erat itu.
"Jika aku melupakan semuanya, dan tidak mengingat semua nya,"
"Kau jangan takut ada aku Meski aku sudah tidak ada lagi di dunia ini aku akan melihatmu dari sana" tunjuk Renata ke atas langit.
"Kakak jangan bicara seperti itu kita kan belum tahu rahasia Tuhan itu seperti apa, walaupun dokter sudah mendiagnosis seperti itu,"
"Nah itu kamu tahu sendiri, Lalu kenapa kau mesti bersedih,?"
"Iya Kak, karena aku hanyalah manusia biasa yang punya rasa takut, kecewa dan kehilangan-Kehilangan orang-orang yang aku cintai... "
"Maaf ada yang mencari Amara," ucap seorang pegawai menjeda percakapan keduanya"
"Aku pamit kesana dulu kak,"
"Pergi lah temui dia," Amara pun bergegas meninggalkan kan Renata sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah satu minggu berada di luar Kota kini Damara, Baron sudah kembali ke kotanya sedangkan Exel, memilih tinggal bersama Reno, dan juga Rony untuk menyelesaikan permasalahan yang tersisa.
"Apa kau tak ingin singgah dulu,?"
"Terima kasih Tuan sebaiknya saya pulang kasihan Bara kalau di tinggal lama-lama," Ujar Baron menjawab pertanyaan Damara.
"Kau itu merindukan anakmu atau istrimu? aku tau kau beralasan saja mengatakan merindukan anakmu itu karena yang aku lihat selama di sana kau lebih banyak menyendiri dan termenung"
Deg.
__ADS_1
Baron terkejut mendengar perkataan Damara yang mengetahui apa yang si lalukannya selama di sana.
"Maafkan saya Tuan saya tidak bermaksud untuk, menolak tapi..."
"Aku faham apa maksudmu, untuk itu cepat lah sampai di rumah mungkin saat ini istrimu juga sedang menunggu," sela Damara menjeda kalimat Baron, Setelah Memastikan tidak ada tertinggal Damara pun segera turun karena dia juga sangat merindukan istri dan anak nya itu, walau setiap hari mereka telponan lewat video call.
Sementara itu Baron yang sudah jauh meninggalkan rumah Utama sempat berfikir ingin membawa buah tangan untuk istrinya itu.
'Aku tidak tau apa yang di suka Renata dan yang tidak di sukanya, tapi aku akan membelikannya bunga saja.'
Gumam Baron saat melintasi sebuah toko bunga.
"Permisi apa boleh aku memesan bunga untuk istriku?" pinta nya pada seorang penjual bunga.
"Tentu saja boleh Tuan, Anda boleh menunggu lima menit karena saya akan merangkai nya untuk Anda," Timpal sang penjual bunga tersebut, lalu menyilakan Baron untuk duduk di kursi khusus pelanggan.
"lni Tuan,, bunga pesanan Anda sudah selesai," ujar penjual bunga tersebut sambil menyerahkan sebuah Buket bunga kepada Baron.
"Kenapa ini ada coklatnya,?" tanya Baron saat melihat buket bunga yang di bingkai dengan berapa coklat yang berada di tengah nya.
"Apakah selama ini Tuan tidak pernah memberikan bunga kepada istri anda tanya penjual bunga itu menatap heran.
"Tidak Dan ini untuk pertama kalinya aku melakukan nya" ucapnya jujur karena semenjak menikah dengan Lisa pun tidak bisa memberikan Sebuah buket bunga pada istrinya itu, sang penjual bunga itu pun menarik nafas pelan.
"Tuan saya menambahkan coklat di tengahnya karena semua wanita menyukai coklat," Jelasnya lagi
"Benarkah? Baiklah, akan aku ambil yang ini," Baron pun segera membayar buket bunga yang dipesannya itu.
'Semoga kamu menyukainya Renata' ucapnya sambil menatap rangkaian bunga mawar merah yang berhiasi beberapa bungkus coklat di tengahnya itu.
Setelah sampai di halaman rumahnya Ia pun segera memarkirkan mobil Ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Renata, dan meminta maaf padanya. Entah mengapa selama pergi meninggalkan Renata selama satu minggu ini dia tak pernah bisa tenang dan terus saja memikirkan Renata tanpa mengingat Lisa sedikitpun, Apa lagi la sempat bermimpi buruk kalau Renata akan pergi jauh meninggalkan nya, Dan mulai saat itu ia merasa takut kehilangan akan Renata.
"Renata, kamu di mana sayang Aku sudah pulang!"
__ADS_1