
Damara mengepalkan tangannya karena ia berfikir kalau Jelita keluar rumah tanpa izinnya, apa lagi ini sudah malam.
Bayangan Jelita yang pulang bersama lelaki lain tempo hari kini berkelebat di fikiran nya.
Damara mendengus kesal, dan memilih masuk di kamarnya sebelum memutuskan untuk mencari Jelita, Ia memilih segera masuk ke dalam bathroom untuk mendinginkan emosinya yang kini sudah memuncak. Hanya 15 menit ia di dalam kamar mandi karena otak nya terus berfikir kalau Jelita belum pulang, ia segera bangkit dari dalam bathub, tangannya menyambar handuk dan membelitkannya pada tubuhnya.
Dan segera meraih handle pintu kamar mandi lalu menuju bersegera menuju walk inclosed.
Setelah rapi ia pun menyambar kunci mobil, ingin segera mencari keberadaan Jelita. Ia melihat jam mewah yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Sudah pukul 09:30 kemana anak itu pergi? Awas saja jika aku menemukan mu!" geramnya lalu keluar dari kamarnya.
"Bi aku keluar mau mencari Jelita karena ini sudah malam takutnya nanti dia kenapa-kenapa!" pamitnya pada Bi sumi,
"Kalian boleh pergi tidur jangan lupa matikan lampu yang tak terpakai." Sambunya lagi mengingatkan pada semua ART nya.
Bi, Sum hanya mengaguk mendengar apa yang di sampaikan Tuannya itu.
"Bi, apa Bibi tidak merasa aneh pada sikap Tua?" celetuk Siti tiba-tiba.
"Aneh kenapa maksudmu Ti?" tanya Bi Sumi bingung dengan logat jawa nya yang medok. Sedang Siti hanya nyengir melihat kebingungan di raut wajah Bi, Sumi.
"E ya lah bocah iki di takoni(anak ini di tanya) malah senyam-senyum, weslah(ya udah)Bibi mau masuk tidur aja." Ujarnya hendak berlalu pergi tapi di tahan oleh Siti.
"Opo menneh Ti?(apa lagi Ti?) Bibi udah ngantuk good kenek!" seru Bi Sum berlalu membuat Siti tak mampu menahan tawanya.
"Bibi...bukan good kenek, tapi goodnight!" teriak Siti.
__ADS_1
"Suka-suka gue dong mau bilang ape aje ye sirik lu ye!" timpal Bi, Sum juga agak sedikit berteriak karena ia sudah agak menjauh sambil melambaikan tangannya tanpa menoleh kebelakang. Membuat Siti ingin terus tertawa dengan tingkah kocak Bi Sum itu.
"Yang lain pada kemana Ti?" tanya seseorang yang baru saja tiba di belakangnya. Membuat Siti yang tengah asyik terlonjak kaget dan berteriak.
"Ha-han-hantu...se-se-setan...!" Pekiknya spontan karena begitu terkejut.
"Siti...! lihat aku, aku bukan hantu Aku Je-li-ta!"
seru Jelita mengeja namanya dan Siti pun membuka matanya dan melihat siapa yang berada di depannya itu.
"Hah-hah-hah ternyata benar ini kamu Jelita, maaf aku mengira kamu itu hantu." Ujar Siti bernafas lega saat melihat Jelita yang berdiri dengan wajah pucatnya.
"Tapi kenapa juga wajahmu pucat kayak hantu apa kamu sedang sakit?" tanya Siti karena memang Jelita terlihat sangat pucat.
Ya, saat Tadi di gudang yang ia tempati sebagai tempat ternyaman untuk ia beristirahat Jelita tiba-tiba saja merasakan perutnya panas dan sakit seperti di remas keringat dingin pun mulai bercucuran membasahi tubuhnya.
"Ya ampun sekarang sudah jam berapa haaa hampir pukul 22 malam jadi aku tertidur seharian pantas saja maag-ku kambuh. Sebaiknya aku segera cari obat biar tidak tambah parah."
Jelita pun hanya mencuci wajahnya saja ia meraih sweaternya lalu bergegas keluar.
"Apa dia sudah pulang? aku mau pamit, tapi bagaimana kalau dia marah pada ku kalau aku naik ke atas" Gumamnya pelan menatap lantai dua di mana kamar suami kontraknya itu berada.
"Tidak lebih baik aku menelponnya saja."
Jelita pun melakukan panggilan namun sudah lima kali panggilan tak ada yang menjawab telpon nya.
Hingga ia pun mendengar suara kekehan Siti dari jauh.
__ADS_1
"Itu Siti pasti dia belum tidur." Jelita pun bergegas ke sumber suara dan benar saja Siti yang lagi asyik tak begitu mengetahui kehadiran Jelita yang berada di depan nya hingga dia menyapa Siti yang terkejut pun menganggap nya hantu.
"Apa Tuan ada Ti?" tanya Jelita menyelidik.
"Tidak tadi Tuan....oh iya tadi Tuan mencarimu kelihatannya beliau sangat marah sekali karena kamu tidak ada di rumah. makanya Tuan keluar untuk mencarimu." Terang Siti panjang lebar.
"Mencari ku yang benar saja, untuk apa dia mencariku apa dia takut aku kabur?"
"Yah kamu benar sekali Jelita Tuan berfikir kamu mungkin kabur, karena mungkin hutang mu pada Tuan, terlalu banyak, hingga Tuan takut kamu tak membayar hutangmu padanya kalau tidak untuk apa dia mencarimu padahal kamu juga hanya perawat adiknya Tuan." Tutur Siti lagi panjang lebar.
"Yah kau benar sekali Siti aku mungkin punya hutang yang banyak padanya, aku pergi dulu ke apotek ya kalau Tuan tiba bilang padanya aku mau beli obat!" Serunya menepuk pundak Siti lalu segera pergi hanya dengan memakai stelan baju tidurnya.
Setelah memesan Obat yang dia butuhkan ia pun segera beranjak ingin segera pulang ia menyursuri zebra cross untuk menyeberang jalan karena sang sopir taksi online telah stand by menunggunya dari tadi.
"Ayo pak kita jalan!" seru Jelita pada sang sopir yang nampak sibuk dengan gawainya.
"Maafkan saya Non, saya tidak bisa mengantarkan Nona tiba-tiba anak saya sakit ini pesan dari istri saya, saya harus segera pulang karena harus membawanya kerumah sakit. Anda bisa cari taksi yang lain Nona sekali lagi maafkan saya" Ucap sang sopir merasa bersalah namun dia juga tidak tau harus berbuat apa.
"Sudah tidak apa-apa pak Saya akan turun bapak pulang saja kasihan anak bapak dan ini bayarannya pak." Jelita memberikan beberapa lembar uang kertas warna merah pada sang sopir.
"Tapi Non saya kan sudah meng cancel nya jadi Nona tidak perlu membayar nya dan juga ini terlalu banyak" tolak sang sopir.
"Tidak apa-apa pak anggap ini rezeki anaknya bapak jadi di terima aja pak ya!" setelah berucap Jelita bergegas turun karena dia tak ingin mendapat penolakan dari sang sopir taksi. sang sopir sendiri menatap nanar uang yang ada di tangannya sambil berdoa untuk kebaikan orang yang telah membantunya itu.
Baru saja beberapa meter Jelita berjalan tiba-tiba saja sebuah mobil sport berwarna merah berhenti dan membunyikan klakson membuat Jelita terperanjat.
"Kau..!" Cicit Jelita saat melihat siapa yang turun dari mobil itu.
__ADS_1