Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Biarkan seperti ini dulu


__ADS_3

"Halo...Dok, bagaimana keadaan Jelita?" tanya Tasya begitu melihat seorang Dokter wanita keluar dari ruangan pemeriksaan Jelita.


"Maaf Nona Anda siapa nya dan mohon panggil kan suaminya Tuan Jhony karena dari tadi dia terus mengigau memanggil namanya, ada hal penting yang harus saya sampaikan pada nya ini mengenai Nyonya Jelita." Terang sang Dokter panjang lebar.


"Tapi Dok saya juga temannya apa boleh saya menemuinya sekarang?" tanya Tasya lagi.


"Maaf, untuk sementara kami belum bisa mengizinkan siapa pun masuk sebelum kami berbicara langsung dengan suami beliau karena jangan sampai itu akan memperparah keadaan nya. Karena saya takut Nyonya Jelita mengalami syok berat." Terang sang Dokter lagi.


Tasya pun mengaguk mengerti lalu ia pun segera melangkah dan duduk di sebuah kursi sambil meraih telpon genggamnya.


"Apakah dia masih memakai nomor yang sama? gumam nya sambil menulis nomor Jhony, dan melakukan panggilan walau awalnya ia masih ragu namun setelah berfikir Jelita lebih membutuhkannya saat ini.


Tasya pun segera melakukan panggilan meski dengan hati yang berdebar, bukan karena dia takut tapi karena dia memang harus sudah siap dengan segala apa yang terjadi kedepannya karena bukan tidak mungkin dia akan selalu bertemu di tempat yang tak terduga seperti saat ini.


Tut...tut...tut


Tersambung...tapi tak di angkat.


"Ck, Kenapa tak di angkat sih!" gerutu nya sedikit merasa kesal.


Sementara itu Jhony yang baru saja ingin melajukan kendaraannya melihat siapa yang menelponnya. Seketika keningnya mengkerut dan matanya membulat saat melihat nama siapa yang terpampang di layar telponnya.


"Tasya apa ini tidak salah kenapa dia tiba-tiba menelpon ku?" gumam nya bertanya pada diri sendiri. Hingga panggilan ke tiga baru dia mengangkat telepon nya. Walau dengan tangan yang gemetar dan jantung yang masih berdebar.


"Hal..."


"Kamu kemana saja sih! kenapa dari tadi telponnya tak di angkat, apa kamu sengaja ingin membuatku kesal!" geram suara Tasya sebelum Jhony menyelesaikan kalimatnya.

__ADS_1


"Maaf aku kira itu bukan kamu, karena aku hanya berfikir tidak mungkin kamu menyimpan nomorku atau bahkan ingin mengingatnya" Sela Jhony yang membuat Tasya terdiam.


Deg.


"Tentu saja aku ingat karena nomor itu kan_" Tasya menjeda kalimatnya. Membuat Jhony bingung.


"Kenapa kamu diam! apa kamu sudah melupakan nya?" Tanya Jhony.


"Untuk apa aku mengingatnya karena apa yang sudah mati tidak akan bisa hidup lagi. Sedang apa yang sudah pergi tidak akan bisa kembali, ibarat layang putus tali benang begitulah sebuah hubungan jika sudah terlepas dari genggaman! Dokter membutuhkan mu!" setelah berucap Tasya pun segera memutuskan sepihak sambungan telponnya.


Karena berbicara dengan Jhony sama hal nya ia mengingat kejadian terakhir mereka bertemu dan ia pun masih trauma dengan semuanya.


Tapi beda hal nya dengan Jhonny ia masih menatap nanar telponnya yang baru saja mati.


"Maafkan aku Tasya, jika aku bisa mengulang kembali bahkan, di beri kesempatan terakhir bersamamu lagi maka aku tidak akan pernah menyakiti mu lagi." Lirih nya penuh rasa sesal.


Dan benar saja begitu tiba di dalam Dokter segera menjelaskan titik permasalahannya. Dan tentu saja Tasya pun ikut serta dengannya, mendengar semua penjelasan Dokter itu.


"Bagai mana Dokter, apa Jelita baik-baik saja?" tanya mereka kompak membuat sang dokter melirik ke duanya. Dan yang di lirik pun salah tingkah, namun sesaat kemudian sang Dokter tersenyum dan kembali fokus pada titik permasalahannya.


"Begini Tuan, dan Nona sang pasien nampak pernah mengalami trauma yang berat untuk itu ia berusaha melupakan apa yang pernah di alaminya ketika tertidur alam bawah sadarnya akan menghapus semua memori yang ada di otak nya untuk itu dia akan seperti orang yang amnesia tapi ini berlaku hanya untuk kejadian buruk yang menimpanya saja.


Dan yang lainnya, tetap saja seperti hari-hari biasa seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Tapi_"


"Tapi kenapa Dok!" Tanya mereka lagi secara bersama menjeda kalimat sang Dokter, membuat kedua nya saling pandang dengan tatapan yang berbeda. Jika Tasya menatap dengan tatapan kebencian beda halnya dengan Jhony yang menatapnya dengan tatapan penuh arti.


"Tapi sangat di sayang kan jika Anda membawa nya melihat tempat kejadian buruk yang menimpanya tersebut maka dia akan merasa lebih terguncang lagi, beruntung kandungan nya sangat kuat hingga tidak terjadi apa-apa pada janin nya" Ucap sang Dokter lalu dia pun mengakhiri penjelasannya.

__ADS_1


"Tapi apa Jelita boleh pulang Dokter?" tanya Jhony pada sang dokter.


"Tentu saja boleh tapi pasti kan untuk beberapa hari ini dia tidak boleh sendiri dulu dia harus tetap di dampingi dan tetap di ajak bicara agar fikiran nya tidak fokus ke kejadian tersebut." Lanjut sang Dokter


mereka pun mengaguk mengerti dan meminta izin untuk menemui Jelita.


"Apa kamu akan masuk duluan?" tanya Tasya melirik Jhony sesaat.


"Kita masuk bersama saja aku tau kamu juga pasti ingin segera menemuinya." Tawar Jhony dan di angguki Tasya meski ia masih ragu.


"Apa kamu tau kejadian apa yang berusaha untuk di lupakan oleh Jelita jangan bilang kalau kejadian itu tentangmu makanya dia mengigau memanggil namamu menurut Dokter seperti itu.!" Sinis Tasya


"Untuk apa aku harus berbuat jahat pada nya sedang Jelita dalam beberapa bulan ini aman-aman saja bersama ku!" terang Jhony menatap intens, hingga membuat Tasya bergidik ngeri dan berusaha untuk menghindari nya.


Karena satu persatu bayangan kejadian masa lalunya dengan Jhony itu terus saja terputar si otaknya seperti kaset kusut.


Dan Jhony menyadari semua itu, dengan tangan kokohnya Jhony segera memberanikan diri menarik tubuh Tasya masuk kedalam pelukannya karena ia hanya ingin Tasya merasa aman dan nyaman di sampingnya, tidak merasa takut atau trauma atas apa yang ia lakukan dengan mantan kekasihnya itu. Tasya berusaha keras untuk memberontak namun kekuatan nya kalah dengan tenaga Jhony.


"Biarkan seperti ini dulu Sasa!"


Bisiknya lembut di telinga Tasya sambil menyebut panggilan kesayangan nya membuat Tasya tercekat lidah nya terasa kelu seketika untuk menjawab bahkan berkata ia tak mampu saat rasa hangat pelukan penuh Kasih yang di berikan Oleh Jhony.


Mampu membuatnya untuk terlena sesaat


"Sasa maaf kan aku maafkan semua kesalahan ku padamu, aku berjanji tidak akan menyakiti mu lagi, tapi aku mohon beri aku kesempatan untuk yang terakhir kalinya" Ucap nya membingkai wajah Tasya menatap kedalam manik mata indah nya, sedang ibu jarinya mengelus lembut bibir yang dulu selalu memberikannya sebuah kecupan manis, yah walau hanya sebuah kecupan di pipi.


Perlahan Jhony mencoba untuk mengecup bibir tersebut dan tidak ada penolakan dari Tasya bahkan dia seperti menikmati nya terlihat dari cara ia membalas meski masih kaku.

__ADS_1


"Darandra..." lirihnya tiba-tiba.


__ADS_2