
Sebulan sudah berlalu sejak terakhir meninggalkan Negaranya baik Exel atau Reno semenjak dua minggu terakhir tidak pernah menelpon membuat Dara dan Jennifer merasa seperti ada sesuatu yang terjadi pada suami mereka masing-masing. Dara berusaha mencari tau lewat Reno namun Reno tak bisa di hubungi dan Ia pun memutuskan untuk mendatangi apartemen Reno semoga saja dia bisa mendapatkan petunjuk fikirnya.
Jennifer berjalan sambil memegang perutnya yang tiba-tiba terasa keram namun tiba-tiba saja tok tok tok. Suara ketukan pintu yang begitu kencang dan berulang ulang membuatnya terkejut sekaligus takut, tapi Ia berusaha untuk melangkah walau rasa sakit dan keramnya semakin terasa luar biasa sakitnya.
''Sayang Yang kuat ya Nak itu mungkin Ayah datang.'' lirihnya berjalan sambil terus memegangi perutnya dan dia pun menarik hendle pintu.
Ceklek.
Dan benar saja setelah pintu terbuka tampak sesosok tubuh laki-laki yang memunggunginya dia sangat mengenali siapa yang berdiri membelakanginya tepat di depan nya itu, sosok yang selama satu bulan Ia rindukan siapa lagi kalau bukan suaminya dengan melupakan rasa sakitnya Jennifer menghambur memeluk sang suami dari belakang sambil memejamkan matanya.
"Sayang aku takut sekali kalau kamu tidak akan pulang aku takut kau akan melupakanku dan anak kita aku merindukanmu dan aku sangat-sangat memcintaimu." ucap Jennifer sambil terus memejamkan mata menumpahkan segala kerinduan yang ada, sedang tangannya meraih tangan sang suami dan menyimpanya di perutnya.
"Sayang apa kau tau dia mulai nakal hari ini saja dia membuatku kesakitan." Adu Jennifer.
"Apa kau tidak merindukan kami? tanyanya lagi dengan mata yang masih tertutup. Dan semua adegan dari awal itu di saksikan oleh seseorang yang berdiri tak jau dari mereka dan ia berusaha mersembunyi sambil terus mendengar dan memperhatikan apa yang terjadi di depan matanya itu tidaklah nyata, ia berharap kalau ia sedang bermimpi. Ia berusaha menutup kuat mulutnya dengan kedua tangannya agar suara isak tangisnya tidak sampai keluar dan terdengar oleh orang yang ada di depannya.
"Sayang tentu saja aku merindukanmu dan Anak kita percayalah padaku aku hanya mencintai kalian berdua hanya kalian berdua" Ucap lelaki tersebut dan berbalik memeluk erat Jennifer dan di balas oleh Jennifer begitu erat walau ia merasa sedikit aneh dengan perubahan suara yang ia dengar.
"Maafkan aku jika aku terlambat" Dara yang semenjak tadi bersembunyi sudah tidak mampu lagi untuk mendengar dan melihat adegan di depan matanya itu ia memilih pergi dari pada harus sakit hati, yah Dara tiba di Apartement Reno bersamaan dengan kedatangan seorang laki-laki yang sudah tak asing lagi baginya karena laki-laki itulah yang menyebabkan ia sampai harus datang ke Apartement milik Reno kedatangannya ingin mencari tau dimana keberadaan suaminya malah membawanya melihat sesuatu yang tak pernah terlintas di hati dan fikirannya selama ini, hatinya begitu hancur dan saat ia menyaksikan orang yang ingin dia cari malah bersama wanita lain, sakit yang ia rasakan lebih sakit dari penyiksaan fisik yang selama ini Ia alami.
__ADS_1
Dara berlari sekuat tenaganya sambil menangis hingga tanpa sadar kini Ia sudah berada di jalan raya dengan terik panas mata hari yang menyengat namun ia tidak memperdulikannya. Ia terus ingin berlari sejauh mungkin untuk meluapkan rasa kecewanya tanpa memperdulikan orang-orang di sekelilingnya yang menatapnya aneh. Hingga pada akhirnya kepalanya tiba-tiba terasa sakit dan berdenyut. Dara memegang kepalanya sedang pandangannya mulai memudar dan berkunang-kunang membuatnya tak kuat untuk melanjutkan langkahnya dan sesaat kemudian bruk.
Beruntung seseorang datang tepat waktu menahan tubuh Dara hingga membuatnya tak jadi membentur trotoar jalan.
"Dara-Dara kamu kenapa buka matamu Dara ini aku Devan!" teriak sang penolong ternyata adalah Devan sambil terus mengguncang tubuh Dara agar segera sadar dan Ia pun memilih membawa Dara masuk di mobilnya dan segera membawanya kerumah sakit, terdekat setelah melihat Dara yang begitu pucat.
*
*
*
"Tut-Tuan apa maksud Anda! dan dimana Reno?" pekik Jennifer terkejut menyadari siapa yang dia peluk dan memeluknya.
"Tuan apa kau berubah bisu sekarang? Katakan diman_"
"Reno sudah tiada!" Exel menjeda kalimat Jennifer dengan satu kata yang mampu membungkamnya bahkan ia seperti membisu dan sesaat kemudian bruk Jennifer jatuh terkulai untung saja Exel dengan cekatan menahan tubuhnya.
"Jennifer kau ken_" suara Exel tercekat saat melihat sesuatu yang berwarna merah mengalir di sela paha menuju kaki Jennifer.
__ADS_1
Dengan sigap Exel pun segera membopong tubuh Jennifer lalu membawanya kedalam mobil setelah membaringkan Jennifer dengan benar serta memasangkan safety belt dan dia pun segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi Ia takut akan terjadi sesuatu pada Jennifer dan bayinya.
Dan sesampainya di rumah sakit semua petugas kesehatan di buat panik karena teriakan Exel yang menggelegar memanggil Dokter.
"Tuan Exel Anda kenapa berteriak ini rumah sakit bukan kuburan Anda bisa membuat semua pasien saya jantungan dengan teriakan Anda!"
"Aku tidak perduli sekarang segera tangani dia selamatkan dia dan bayinya jika kalian tak bisa menyelamatkannya maka aku akan menghancurkan rumah sakit ini!"
melihat kemarahan dan kepanikan Exel membuat Dokter David dan timnya segera bertindak dia tak ingin mengambil resiko dengan ancaman Exel kali ini.
Dokter David mendorong bangkar dimana tubuh Jennifer sedang terbaring lemah tak berdaya, sedangkan Exel hanya di perbolehkan menunggu di luar.
"Siapa sebenarnya wanita ini kenapa Exel begitu panik dengan keadaanya dan kalau dia pendarahan berarti dia sedang hamil."
Dokter David terus bertanya dalam hati karena Ia tak mungkin langsung bertanya pada Exel bisa-bisa nanti dia dikatakan lambe turah lagi, tapi kalau tidak bertanya maka jiwa keponya pasti akan penasaran, apa lagi yang Ia tahu Dara adalah istri sah nya Exel.
"Dokter semuanya baik-baik saja. pendarahannya pun sudah berhenti dan Alhamdulillah janinnya juga selamat hanya saja dia harus bed rets " jelas seorang rekan sesama Dokternya.
"Baiklah terima kasih Dokter Heny lebih baik Anda menjelaskannya pada Tuan Exel" Dokter Heny pun mengiakan dan segera keluar untuk menemui Exel.
__ADS_1
Dan benar saja begitu Dokter yang menangani Jennifer membuka pintu Exel segera bangkit dari duduknya yang semenjak tadi gelisah takut terjadi apa-apa dengan Jennifer.
"Bagaimana keadaannya Dokter apa dia baik-baik saja dan bagaimana dengan kandungannya?"