Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Aku Merindukanmu Kak.


__ADS_3

Dara, dan Jelita Juga Damara keluar meninggalkan rumah sakit.


"Bagaimana kalau pulang Kakak kami antar?" Tawar Jelita.


Tapi Je, kakak bisa pulang sendiri kok lagi pula kakak tidak mau merepotkan kalian." Tolak Dara.


"Siapa yang merepotkan siapa Kak, kami kan hanya ingin mengantar Kakak pulang saja. Kakak kan juga sekarang sedang hamil besar aku takut kakak kenapa-kenapa. Bagaimana menurutmu sayang?" Jelita berbalik menatap suaminya.


"Iya benar seperti apa yang dikatakan jelita dan saya juga tidak mau jika terjadi apa-apa bagaimana kalau Tuan Exel marah kepada kami karena tidak mengantar kan istrinya pulang" terang Damara.


"Tuan, Exel? Jadi kau memanggil kakakku dengan sebutan Tuan Exel keluarga macam apa ini. Seharusnya kamu memanggil Kakakku itu dengan sebutan Kakak juga Biar bagaimanapun Kak Excel itu Kakak iparmu!"


"tapi sayang aku kan seumuran dengannya Bagaimana kalau aku panggil nama saja!"


"Ya sepertinya itu lebih bagus Bagaimana Kak Dara?"


"Bagus." Jawab Dara singkat.


"Kalau begitu ayo biarkan kami yang mengantar Kakak!" seru Jelita pada Dara. "Apakah Kak, Exel tahu kalau Kak Dara keluar Kenapa tidak memakai sopir?"


"Tidak! Kak Exel tidak tahu. Aku pergi setelah dia sudah pergi ke kantor. Semalam aku sudah berbicara dengannya. Tapi tetap saja dia tidak mengizinkanku untuk menemui Kak Randra karena dia bilang biar bagaimanapun ini adalah urusan mereka.


Tapi aku itu juga istrinya dan Kak Randra memang kakakku tapi kalau, Dia salah aku akan menegurnya. Biar bagaimanapun kami saudara kembar aku tidak ingin Kak, Randra melewati batasannya." Terang Dara panjang lebar.


"Aku juga heran kenapa Kak, Randra bisa setega itu." Ungkap Jelita bingung.


"Sudah jangan dibahas lagi.


Sayang kamu ingat. Kata Dokter tadi kan, kamu tidak boleh terlalu banyak berpikir, aku tidak mau kamu memikirkan masalah ini untuk itu. Aku tidak menceritakan semuanya kepadamu karena biar urusan ini menjadi urusan laki-laki benar seperti apa yang dikatakan Exel, biar ini menjadi urusan kami."


Dara dan Jelita pun mengangguk setuju dengan pendapat Damara.


:

__ADS_1


:


:


Sementara itu Darandra menghamburkan semua barang yang ada di depannya hingga membuat ruangannya sangat berantakan ia merasa sangat kesal pada dirinya karena telah membuat ke dua adiknya membencinya.


"Kalian tidak tau kenapa aku melakukan semua ini, dan untuk apa juga kalian harus mengetahui nya karena ini tidaklah penting.


Aku hanya ingin dia menjauh dan membenciku karena ini adalah jalan satu-satu nya membuatnya tidak mengganggu hidup ku lagi. Amara anak itu terus saja membuat masalah di dalam hidupku padahal aku sudah melarangnya untuk tidak menemui ku lagi."


Flashback on.


Tok..tok..tok..


"Masuk...!" seru Darandra saat mendengar pintu ruangannya di ketuk beberapa kali.


Sedangkan ia sendiri sibuk memeriksa data. Pasien yang selama beberapa bulan ini di tinggal keluar negri karena ia ikut merawat Amara hingga membuat pemulihannya lebih cepat dari yang di perkirakan.


Ceklek.


"Ada apa lagi kau datang kemari? bukankah aku melarangmu untuk bertemu lagi, tapi kenapa kau melanggar nya, dan bukankah kau sekarang sangat membenciku." Darandra berbicara masih dalam ke adaan tidak menatap siapa yang datang. Namun dari aroma tubuhnya ia sangat mengetahui siapa wanita itu gadis kecil yang manja yang selalu saja membuatnya repot.


"Aku kesini hanya untuk memastikan kalau Kakak jangan melakukan apapun dengan perusahaan kakak ku! karena aku tahu dia membangun perusahaannya dengan susah payah. Aku mau Kakak membatalkan surat perjanjian itu."


"Siapa kamu dan apa hak mu melarangku untuk melakukan itu! jika tidak ada urusan penting kau boleh pergi dari sini!" Usirnya kini menatap nya lang.


Namun Amara bergeming pada tempatnya.


Darandra bangkit dari duduk nya lalu berjalan mendekati Amara kemudian dia menarik tangan Amara dan menyeret nya ke pintu.


"Sekarang keluarlah!" dengan jari telunjuknya menunjuk ke arah pintu.


"Aku merindukanmu Kak tidak bisa kah kau menatapku sedikit saja, sebagai orang yang mencintai mu.!" Tangis nya memeluk tubuh Darandra.

__ADS_1


"Apa Kakak lupa dengan apa yang kita lakukan selama ini? kita sudah melewati semuanya selama tiga bulan ini kak!" cicitnya.


Deg.


"Apa-apaan ini Amara cukup, lepaskan aku!" Darandra segera membuka pintu lalu mendorong tubuh Amara, hingga membuat nya jatuh terduduk di lantai. Namun itu tidak membuat Darandra merasa iba, terbukti dari ia langsung menutup pintu dengan kasar.


"Kenapa anak itu selalu membuatku pusing Arrrgh..." teriaknya karena ntah kenapa ia tiba-tiba merasakan dadanya begitu sesak, saat mengingat raut wajah Amara yang di dorong nya keluar.


"Sial, aku harus melakukan sesuatu untuk membuatnya jauh dari hidupku!" Darandra pun meraih secarik kertas yang sudah di tanda tangani oleh Damara dan lengkap dengan poin-poin nya. Lalu ia pun tersenyum miring.


Flashback of.


Tok...tok...tok...


"Masuk!" seru Darandra yang masih berdiri menatap keluar jendela dengan kedua tangan yang berada di dalam saku celananya.


Ceklek.


"Hah..." Darandra menarik nafas kasar karena dia tau siapa yang datang menemuinya dari aroma tubuhnya yang sudah sangat familiar dengannya.


"Kau lagi. Untuk apa lagi kau dat_" Plak! satu tamparan mengenai wajahnya membuat kalimatnya terjeda. Darandra menyentuh wajah nya yang masih terasa panas akibat sebuah tamparan itu.


"Kau! berani-berani nya kau masuk ke ruangan ku lalu menamparku apa kau sudah bosan untuk hidup kenapa kau selalu datang membuat ke kacauan!" Darandra yang emosi menatap Amara penuh kebencian. Namun itu semua tidak membuat Amara ciut ataupun takut kepadanya. Amara malah semakin membalas tatapan itu dengan luapan emosi yang masih terpancar di wajahnya.


"Bukan kah aku sudah memperingatkan mu dan juga memohon pada mu untuk tidak mengganggu perusahaan kakakku tapi kenapa kau tega melakukannya!" teriak Amara yang masih terbakar emosi.


Deg.


Darandra terkejut melihat perubahan yang ada pada Amara dan hati kecilnya tidak menyukai itu.


Namun ia segera tersenyum miring untuk menutupi apa yang di sarakannya, bukankah ini lah yang di tunggu nya membuat Amara marah dan membuatnya pergi dari hidupnya, karena ia ingin segera melamar dan menikahi kekasihnya, namun jika Amara terus saja datang menggangunya maka bukan tidak mungkin Amara akan membuat semuanya kacau.


"Apa aku tidak salah dengar, kau mengatakan aku tega? bukankah itu adalah hal yang seharusnya ia bayar karena itu adalah hutang nya apa kau tau aku akan sangat menikmati kehancuran Kakakmu itu!" ucapnya sambil tersenyum miring.

__ADS_1


"Brengsek kau!" Baru saja Amara ingin melayangkan tangannya untuk kembali menampar Darandra namun dengan cepat Darandra menangkap tangannya itu.


"Lepaskan aku brengsek!"


__ADS_2