
"Dan jangan telat hari ini aku akan menemui mu!" Darandra agak sedikit berteriak, karena Amara sudah semakin menjauh darinya.
Darandra mendudukkan bokongnya di sabuah bangku di depan klinik nya itu. Sambil terus memikirkan wanitanya.
"Apa aku harus melakukan ini? aku masih binggung dengan diriku, di satu sisi aku menginginkan nya tapi di satu sisi aku juga sangat mencintai Tasya" Darandra hanya bisa mengusap kasar wajahnya. la merasa tidak mudah keluar dari masalahnya itu.
*
*
*
"Amara langsung pulang saja kak, sebaiknya Kakak juga istirahat jangan bekerja dulu."
"Baiklah dan kamu juga yang sabar ya semoga suatu saat suami kamu sadar dan membalas cintamu." Ucap Renata menyemangati karena di mobil tadi mereka sempat bertukar cerita tentang kehidupan rumah tangga mereka masing-masing.
"lya Kak, terima kasih."
"Apa kamu yakin tidak ingin singgah dulu lbu pasti senang ketemu kamu,"
"Lain kali saja Kak,"
"Baiklah Kakak masuk dulu, dan kamu hati-hati ya!" Ucap Renata kembali yang hanya di angguki oleh Amara sambil tersenyum.
"Jalan pak!" perintah Amara pada sang sopir taxi.
"Kita kemana lagi Neng?" tanya sang sopir kita ke taman kota aja pak, aku ingin kesana." Sang sopir pun hanya mengangguk meng iyakan.
Sedangkan Renata menatap mobil yang di tumpangi Amara hingga hilang di ujung jalan.
"Aku tidak pernah mengira kalau nasip percintaan kita ternyata tak jauh berbeda," lirihnya.
"Bunda...Bunda! Bunda cudah pulang Bala lindu cama Bunda." cicit Anak laki-laki berlari mendekat.
"Bunda? jadi sekarang Bara sudah bisa bilang Bunda ya bukan Unda lagi, anak Bunda memang pintar, Bagaimana kabarmu hari ini sayang?" Renata dengan gemas mencium wajah putranya yang gembul itu.
"Kabal Bala baik" ucap Bara dengan gaya imutnya membuat Renata semakin gemas.
Renata pun membawa masuk Bara dengan menggandeng tangan mungil itu, sedangkan bibirnya tidak putus-putus nya menyungging kan senyum. Namun pada saat ia memasuki ruang utama langkah kakinya seperti lemah tak mampu untuk menopang bobot tubuh nya. Di saat melihat adegan di depan matanya itu. Baron yang mengetahui kehadiran Renata segera mendekat dan menggandeng tangan seorang wanita cantik bersamanya.
Renata berjongkok dan membisikkan sesuatu di telinga Bara, Bara pun mengangguk dan belari masuk.
__ADS_1
Setelah Bara benar-benar tidak kelihatan Renata pun kembali berdiri dengan tegak.
"Hai ternyata kamu sudah pulang ini aku perkenalkan dia__" Baron menjeda kalimatnya sesaat, lalu menatap lembut pada wanita di sampingnya itu. Sedangkan jantung Renata berdegup sangat kencang.
"Dia Lisa..."
Deg.
Renata hampir saja jatuh Limbung kalau ia tidak kuat untuk menahan tubuhnya apa yang dia lihat dan dia dengar hari ini tidak pernah terlintas dalam benak dan pikirannya.
"Dia siapa Mas,?" tanya Lisa menatap Baron. "Did-dia-dia itu__"
"Saya adalah babysitter Bara" Sela Renata menjeda kalimat Baron.
"Oh,, aku kira kamu itu adalah istrinya Mas Baron, Soalnya kami akan segera menikah lagi, benarkan sayang?" Baron hanya tersenyum tipis sambil mengangguk kecil.
"Selamat,, ya! untuk kalian berdua yang sudah lama berpisah dan kalian akan bersatu kembali" Ucap Renata dengan suara sangau dan mata yang mulai berkaca-kaca sekuat nya dia menahan agar tak terlihat rapuh urat-urat di lehernya terlihat tegang dengan hidung yang mengembang mengempis karena menahan agar air matanya takbtumpah.
"Tuan sangat mencintai Anda, bahkan rumah ini saja Tuan bangun atas nama Anda, jadi mana mungkin suami Anda itu menikah lagi, benarkan Tuan.?" Baron hanya bisa tersenyum kaku, mendengar sindiran dari Renata itu.
"Ayo Bunda Kita macuk!" ajak Bara sambil menarik tangan Renata.
"Habis Bunda lama sekali." Jawabnya dengan wajah cemberutnya.
"Ayah...!" teriak Bara menghambur ingin memeluk Baron namun tiba-tiba ia berhenti dan mundur disaat melihat seseorang di samping Ayahnya.
"Bara ayo sayang sama Ayah!"
"Tidak Bala mau cama Bunda, ayo Bunda macuk!" tegasnya pada Renata bahkan dia menarik masuk Bundanya.
"Bunda? Mas kamu mengajarkan anak kita memanggil baby sitter-nya sebagai Bunda!" "lya dengarkan aku dulu Sayang itu semua Bara yang memintanya, Aku tidak pernah menyuruhnya, mungkin karena selama ini dia tidak pernah merasakasih sayang Bundanya, tidak pernah pernah merasa mempunyai seorang Bunda."
"Lalu bagaimana nanti denganku Mas? dia bahkan tidak mengenalku. Apakah selama ini kau tidak pernah memperkenalkanku padanya.
"Sayang selama ini Bara ibu yang menjaga, sedangkan aku kamu tahu sendiri aku jarang bersamanya, karena aku sibuk untuk bekerja dan bekerja demi masa depan kita sayang"
"Baiklah aku minta maaf padamu tapi aku minta pecat wanita itu karena Bara hanya butuh lbu kandungnya bukan seorang penjaga.
"Iya aku akan bicarakan nanti dengannya sekarang Ayo aku antar kamu pulang aku tidak mau kalau lbu datang dia akan mengusirmu dan menjauhkan mu dari Bara.
"Baiklah Mas, lalu kapan kita akan menikah lagi?"
__ADS_1
"Yang pasti secepat nya karena aku mau kau mau kau mengambil hati lbu dulu. Agar lbu merestui kembali hubungan kita, bagaimana?"
"Okay,, baiklah aku akan melakukannya demi cinta kita"
"Terima kasih sayang, Ayo nanti kita terlambat."
Baron pun merangkul Lisa keluar dari rumahnya menuju mobil dan itu di saksikan langsung oleh Renata yang mengintip di balik jendela kamar.
"Bunda kenapa? kok Bunda menangis Ayah jahat ya cama Bunda?"
"Tidak sayang Bunda hanya kelilipan"
bohongnya.
"Mana cini Bala lihat" ucap Bara meminta bundanya untuk duduk.
"cini bial bala tiupkan ya Bunda." Bara pun memeriksa mata Renata lalu meniup-niupnya dengan lembut, Renata sangat merasa terharu dengan Perhatian Bara kepadanya Bagaimana tidak di saat dia terpuruk ada sosok Bara yang selalu membuatnya tertawa, nagaimana jika suatu saat ia benar-benar pergi meninggalkan Bara. Apakah ia sanggup untuk berpisah dari anak yang sangat ia sayangi itu.
"Cudah Bunda ya Mata Bunda cudah tidak kelip-klipan lagi, nanti kalau Bunda kelip-kelipan lagi. Panggil Bara aja bial Bala yang akan meniupnya" ucap comel Bara membuat Renata semakin gemes Ia pun memeluk Sang putra dengan penuh kasih sayang.
"Terima kasih anak bunda"
cama-cama Bunda Bara pun mencium seluruh wajah Renata dengan gemasnya Apa yang dilakukan Bara hari ini ternyata mampu mengobati rasa sakitnya.
Setelah capek bermain, akhirnya Bara pun tertidur lelap, Renata pun memindahkan Bara di kamarnya.
"lbu, ibu baru pulang?" tanya Renata saat melihat lbu mertuanya.
"lya nak Ini Ibu baru pulang suami kamu mana Apa dia belum pulang?"
"Belum Bu,"
"Lalu Bara ke mana?"
"Bara udah tidur Bu, baru saja Renata membawanya ke kamarnya"
"Oh ya Kamu makan gih sana Ibu masakan makanan kesukaanmu"
"Tapi Bu, Renata belum lapar." Jawab Renata manja. Ya dengan lbu mertuanya lah la bisa bersikap manja mungkin karena Bu Sofia juga menyayangi nya seperti anak sendiri.
"Tunggu dulu Renata!"
__ADS_1