
dan benar saja begitu pagi, Mereka pun sampai di tujuan, Baron langsung menghubungi nomor Renata namun sudah 10 kali dia menghubungi nomor tersebut Tak ada satupun jawaban dari Renata.
"CK,, Ke mana perginya sih wanita ini? dia selalu saja membuatku pusing, Bagaimana kalau aku menelpon Lisa saja, Mungkin dia tahu ke mana perginya Renata," dan ia pun akhirnya memutuskan untuk menghubungi Lisa, Baron terus berusaha untuk menelpon Lisa namun sama saja hasilnya nihil.
"Lisa pun tak bisa aku hubungi ke mana sih perginya mereka? Kenapa tak ada satupun yang mau mengangkat panggilanku? Awas saja kalau aku pulang akan kuberikan pelajaran mereka satu-satu," kesalnya
"Aku akan mencoba untuk menelpon Bi Ratih Baron Pun kembali mencari nomor asisten rumah tangganya untuk dihubungi.
"Halo Bi, apa Bibi ada di rumah?" tanya Baron begitu teleponnya tersambung.
"Bi apa boleh saya minta tolong ke bibi untuk memanggilkan Renata sebentar!"
Deg.
"Jadi semenjak saya pergi dia sudah tidak ada di rumah? lalu Lisa, Lisa juga tidak ada dari semalam? apa dia membawa Bara ikut serta dengannya? jadi Bara sama Bibi? Baiklah Bi, Saya akan berusaha menelpon lbu agar secepatnya kembali dan saya akan menelpon Renata juga, jaga Bara baik-baik ya Bi baik lah saya tutup dulu," Baron pun mengakhiri panggilannya baru saja bara ingin menelpon ibunya tiba-tiba teleponnya berdering.
"Lisa kau ke mana, Kenapa kau tidak ada di rumah dan meninggalkan Bara sendiri dengan Bi Ratih,?"
"Maafkan aku sayang aku lupa bilang sama kamu Kalau papa kemarin kena musibah, tidak mungkin kan aku membawa Bara ikut serta denganku?"
"Baiklah Maafkan aku sayang, Tapi sebaiknya kau pulang ke rumah dan jaga anak kita aku tidak mau dia kenapa-kenapa kau tahu sendiri kan Ibu kemarin tiba-tiba saja pergi setelah mengantar Bara karena ada saudaranya yang tiba-tiba meninggal,"
"Baiklah sayang kalau semuanya sudah selesai di sini aku akan segera kembali,"
__ADS_1
"Oke kamu tenang saja di sana, Jangan khawatir, aku akan mengurus anak kita dengan baik kok, dan satu lagi sayang yang harus kau tahu kemarin perempuan itu ma-maksudku..."
"Maksud kamu Renata Ada apa dengannya?" tanya Baron menjeda kalimat Lisa, dengan perasaan yang mulai tidak enak.
"Biar sajalah, aku tidak mau tahu," Ucapnya dengan berusaha menutup debaran di hatinya.
"Tapi aku harus tahu karena kemarin dia pergi bersama seorang lelaki."
"Apa? apa kamu tidak salah lihat?" Baron terkejut dengan mengepalkan tangannya menahan emosi yang sedang menguasainya.
"Aku yakin aku tidak salah lihat, tapi tunggu dulu, kenapa kau terkejut mendengarnya? Apakah kau ada sesuatu dengannya?" selidik Lisa.
"Tit-tidak sayang, maksudku tidak seperti itu, Kamu jangan salah paham dulu padaku," Baron berusaha menutup perasaannya.
"Dokter cabul itu lagi? Dasar brengsek dia lagi, pasti akan aku berikan pelajaran untuk mereka Aku di sini begitu mengkhawatirkan nya sedangkan dia asyik Bersama lelaki itu, dan lihatlah baru sehari aku pergi kau sudah berbuat yang tidak- tidak, tapi terserah dia untuk apa juga aku memikirkannya tidak ada gunanya dan tidak penting juga, Dasar kau perempuan munafik kau bilang sangat mencintaiku kan tapi nyatanya secepat itu kau cari penggantiku,"
Baron mengepalkan kedua tangannya dengan erat bibirnya boleh berkata membencinya walaupun seribu kali ia terus berucap namun pada kenyataannya di Lubuk hatinya yang paling dalam terbersit ketidaksukaannya, denga apa yang di lakukan Renata menurut penglihatannya itu, tanpa di sadari kalau la sebenarnya sedang cemburu.
Namun karena gengsi dan egonyalah membuatnya Seperti ini, tak ingin mengakui Apa yang dirasakan di hatinya yang paling dalam.
Sementara itu di sebuah rumah sakit Renata mulai mengerjapkan matanya Iya melihat di sekelilingnya, sebuah ruangan yang di dominasi dengan warna putih, dengan aroma obat-obatan yang begitu menyengat penciuman, dan pergelangan yang tertusuk jarum infus.
"Ya, ampun ternyata aku berada di Rumah sakit, ta-tapi... Amara kenapa dia ada disini,?" Renata pun mulai mencoba mengingat kembali kepingan kejadian sebelum ia tak sadarkan diri, dan kembali air mata menetes di pelupuk matanya.
__ADS_1
"Kakak, kau sudah sadar kenapa tidak membangunkan ku? tunggu aku panggil kan dokter dulu," Amara pun bergegas keluar dan memanggil dokter David.
"Bagaimana keadaan Kak, Renata dokter,?" tanya Amara begitu dokter David selesai memeriksanya.
"Seperti yang sudah aku katakan kemarin, kita harus melakukan tindakan yang serius karena kangker sudah mulai menyebar di rahimnya kau tau jika kau mempertahankan bayimu maka nyawamu tidak akan bisa di selamatkan, dan kondisi tubuhmu akan semakin melemah dan menurun, kita bisa melakukan operasinya sekarang jika kau menginginkannya, kami akan mengangkat kandunganmu untuk memutus sel kanker yang sudah mulai menyebar di rahimmu,"
"Dan aku akan kehilangan bayi ku untuk selamanya dan aku tidak akan bisa hamil lagi kan dokter? kenapa, kenapa kau kejam sekali Dokter! kenapa kau akan membuatku kehilangan buah hatiku, apa kau tahu nyawa anakku jauh lebih penting dari nyawaku atau apapun itu, selama aku hidup aku tidak akan membiarkan apapun terjadi pada anakku, aku juga sudah berjanji pada Bara untuk memberikannya adik perempuan, sebaiknya kau pergi sekarang dokter atau aku yang akan pergi dari sini," Renata terpaksa memberikan ancaman.
"Kakak...." cicit Amara
"Kau, baiklah aku akan pergi Amara jaga dia, aku akan memberikan vitamin untuknya, agar
kandungannya kuat,"
"Terima kasih dokter," Ucap Amara dan Renata Saat dokter David melangkah pergi meninggalkan ruangan tersebut.
"Amara terima kasih kau masih berada di sini untuk Kakak, Aku tidak mau kehilangan bayi ku Amara, hanya dia yang aku punya sekarang ini, sejak kecil Kakak tidak punya siapa-siapa,
Amara, aku takut mereka akan mengambil anakku. Hiks...hiks...hiks,"
Renata terus menangis tersedu dalam dekapan Amara, sedangkan Amara berusaha menenangkan nya dengan menepuk-nepuk punggung Renata agar dia bisa sedikit lebih tenang karena jika dia tidak tenang maka akan berpengaruh juga pada kandungannya.
"Kak, percaya padaku aku akan membantumu untuk menyelamatkan bayimu tidak akan aku biarkan seseorang mengambil atau bahkan, memisahkan mu dengan bayimu, Apa Kak, Renata tau hari ini kakak hampir saja keguguran, itu kata dokter, tapi ternyata cabang bayi Kakak, ternyata sangat kuat, dia persis seperti bundanya,"
__ADS_1
"Apa? hampir ke guguran.?"