Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Syarat.


__ADS_3

"Bagaimana istriku Rin?" tanya Damara gelisah.


Dokter Rini menarik nafas panjang sebelum membuka mulutnya untuk bicara.


"Dokter Rini apa kau tidak mendengar kalau aku sedang bertanya!"


"Aku mendengarnya tapi apa kau bisa sabar sedikit biarkan aku bernafas, walau aku seorang Dokter tapi aku juga manusia, sama sepertimu!" kesal Dokter Rini.


"Sebenarnya kehidupan seperti apa yang sedang kau jalani, apa kau tau istri mu sedang hamil tapi kenapa kau membuatnya stres, dan jika kau terus seperti ini kau akan membahayakan dirinya dan kandungannya faham!" Dokter Rini benar-benar kesal dengan apa yang di lakukan sahabatnya sekaligus Bosnya itu.


"Aku tidak sedang membuatnya stres tapi dia mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu" Damara pun terpaksa menceritakan kembali kejadian yang hingga saat ini membuatnya menyesal dan merasa bersalah. Dan belum lagi di tambah kejadian hari ini yang memicu amarah Jelita.


"Haaah…sudah ku duga kalau ini akan terjadi, lebih baik bawa dia pergi dari sini, dan setelah dia sadar berusahalah untuk meyakinkan nya dengan cinta mu Tuan."


*


*


Rumah Utama.


"Bagaimana Kak apa kak, Jelita belum juga bangun?"


"Belum karena Dokter Rini memberinya obat penenang. Ra, Aku minta tolong sama kamu untuk berusaha meyakinkan Jelita kalau aku tidak ada hubungannya dengan wanita ****** itu."


"Kakak tenang saja. Aku pasti akan membantu kakak untuk menjelaskan semuanya. Tapi ada syaratnya Kak" ucapnya sedikit ragu.


"Syarat, syarat apa lagi sih?" Damara menakutkan alisnya.


"Apa kamu butuh uang dari Kakak? apa uang yang selama ini Kakak kasih kamu kurang?" Amara mendengus kesal dengan kakaknya yang menilainya karena uang.


"Ini bukan tentang uang Kak, tapi Aku ingin melanjutkan kuliah di luar negeri saja."


"Apa keluar negeri? tidak kamu tidak boleh kesana, karena kakak tidak mau kakak tidak mau kamu kenapa-kenapa kamu itu perempuan kamu akan tinggal dengan siapa?"


"Aku itu sudah dewasa Kak, aku berani tinggal sendirian."


"Oh ya? kamu dewasa terus sifat manjamu itu?" Damara menarik nafas panjang. Karena ia yakin Amara pasti akan membuat banyak masalah disana kalau sampai ia pergi.


"Amara biar bagaimanapun Kakak tidak akan mengijinkanmu pergi titik tidak pakai koma."

__ADS_1


"Tapi Kak, aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari!" cicit Amara memutar tubuhnya karena melihat sang kakak berlalu pergi.


"Jika kamu bersikeras Kakak akan menikah kan mu dengan Danu biar dia yang akan menjagamu. Kamu boleh pergi ke mana saja yang kamu inginkan bersamanya" Ucap Damara melengang pergi tanpa menoleh.


"Aku kan sudah bilang kalau aku, Akan menikah setelah aku selesai kuliah, sekarang kenapa Kakak menyuruhku menikah dengannya!"


"Bukankah dia kekasihmu?"


"I-iya dia kekasih ku tapi_"


"Tapi kau masih mencintainya kan?"


"Kak…!" langkah Amara terhenti, saat mendengar apa yang di katakan Damara.


"Amara Kakak tau kepergianmu hanya untuk menghindarinya bukan?"


"Kak…"


"Tatap aku Amara!" tegas Damara.


"Jangan pernah sia-siakan Danu. Dia lelaki yang baik untukmu, lupakan Andra, karena dia akan segera menikah."


"Amara apa kau mendengar ku?" sentak Damara membuyarkan lamunan Amra.


"A-aku sudah mencobanya Kak, tapi tidak bisa, untuk itu biarkan aku pergi dari sini." Ucapnya dengan menunduk sedih.


"Amara…!"


"kak…!"


"Hah…baiklah aku akan memikirkannya nanti, sekarang aku mau masalah ku ini selesai dulu." Ucapnya mengalah untuk berdebat.


"Apa aku boleh memelukmu!" serunya saat Damara melanjutkan langkah kakinya.


"Kemarilah…!" seru Damara berbalik, Amara pun segera memeluk sang Kakak."


"Aku minta maaf jika membuatmu kesal, dan selalu merepotkan mu, tapi aku janji setelah aku pergi aku tidak pernah merepotkan Kakak lagi." Dengan mata yang sudah berkaca-kaca, Amara berucap, sedang Damara mengelus lembut kepala sang adik.


"Istirahatlah aku mau menemui Jelita dulu."

__ADS_1


Amara pun hanya mengaguk sambil mengurai pelukannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dan di sinilah la di samping wanita yang sangat di cintainya wanita yang di nikahinya karena sebuah ke salah fahaman yang lambat laun mengubah hidupnya menjadi lebih bermakna.


Drt…drt…drt…📲


Satu panggilan masuk di terimanya.


"Halo, bagaimana? kenapa bisa? baiklah cari wanita itu sampai ketemu jangan biarkan dia lolos.!" perintahnya pada orang yang di telepon.


"Sial, kenapa wanita itu bisa lolos? Awas kau Renata aku tidak akan pernah melepaskan mu!" Geramnya.


"Hmmnng..." suara lenguhan Jelita membuyar kan lamunan Damara la pun segera mendekat lalu duduk di tepi tempat tidur dimana Jelita yang masih terbaring dengan jarum infus di tangannya.


Jelita mengerjap-ngerjapkan matanya di saat rasa sakit mendominasi kepalanya. Dia melihat sekeliling dan berusah mengingat apa yang terjadi padanya.


"Sayang apa yang kau rasakan dimana yang sakit bilang padaku?" mendengar pertanyaan Damara membuat Jelita memundurkan tubuhnya.


"Jangan sentuh aku! aku membencimu! keluar kau dari sini!" Jelita berteriak histeris di saat Damara berusaha mendekati untuk menenangkannya.


"Sayang dengarkan aku, aku akan mengatakan semuanya padamu tentang semuanya tapi aku mohon tenangkan dirimu dulu."


"Tenang kau bilang! kau menyuruhku tenang setelah semuanya terjadi, setelah sekian lama masalah ini kau simpan, bahkan kau melakukan nya demi kesasihmu itu!" Jelita berusaha bangkit dari tempat tidurnya, bahkan jarum infus di tangannya di lepas dan di tarik begitu saja, jangan di tanya sakitnya.


Tapi lebih sakit rasa hatinya yang melihat langsung apa yang di lakukan Damara di depan matanya bersama orang yang di anggapnya sebagai, mantan.


"Pantas, pantas saja selama ini aku merasa kau hanya perhatian pada kandunganku bukan padaku, ternyata kau hanya menharapkan anak dariku bukan yang lain! hiks…hiks…hiks"


"Sayang apa selama ini masih kurang kasih sayang dan perhatian ku padamu apa kau tidak merasakan nya sama sekali bagaimana perasaan ku padamu!" Jelita hanya menarik sudut bibirnya mendengar ucapan Damara.


"Mungkin kalau sebelum aku melihat mendengar, bahkan sebelum ingatan ku kembali aku akan percaya pada mu tapi tidak untuk sekarang dan selamanya, sekarang antarkan aku pulang!" pintanya dengan sedikit, Menjauh karena lagi-lagi Damara berusaha untuk mendekatinya.


"Tidak! aku tidak akan pernah mengantar mu pulang, dan tidak akan mengantarmu kemanapun, tempatmu adalah di sini, dan rumahmu juga di sini." Damara terus saja berusaha untuk meyakinkan Jelita,


"Baiklah, jika kau tidak ingin mengantarku pulang, maka aku akan pulang sendiri, dan tunggu surat cerai kita, aku akan segera mengirim nya."


"Jelita jaga ucapanmu!"

__ADS_1


__ADS_2