
"Apa yang kalian lakukan padaku? kenapa kalian tidak bisa membiarkan ku tidur dengan nyenyak!"
"Apa? Kau bilang kau tertidur dan kami mengganggu tidur nyenyakmu! heh, yang benar saja, apa kau tau. Kau itu baru saja bangkit dari kematian!" timpalnya dengan nada tak kalah sarkasnya.
Darandra bersama seluruh tim medisnya yang terkejut akibat Damara tiba-tiba saja bangun. terhenyak mendengar ucapan Damara yang dengan nada yang sedikit menyentak mereka semua.
"Apa? kau bilang Aku_" Sejenak ucapannya terjeda saat merasakan sakit di bagian wajahnya bahkan ia kini meraba kepalanya yang sudah dililit perban juga.
Belum selesai keterkejutannya ia pun di kejutkan oleh, Jelita yang terbaring di disampingnya lengkap dengan jarum infus' yang menempel di pergelangan tangannya itu.
"Tunggu dulu kalau aku kalian bilang bangkit dari kematian lalu, ada apa dengan istriku? apa aku dan dia sama-sama sudah ada di surga?"
"Aku kira otakmu itu sudah mulai tidak terbentuk dengan sempurna akibat kecelakaan itu. Lihat saja kau sedang berada di rumah sakit saja, kau sudah menganggap dirimu berada di surga." Sela Darandra dengan nada mengejek.
"Kecelakaan? rumah sakit?" Damara berusaha mengingat apa yang terjadi sebelumnya, dan ingatannya itu tiba-tiba saja berputar seperti kaset rusak, hingga membuatnya tersengal-sengal merasa susah untuk bernafas.
"Tuan! Tuan apakah Anda butuh sesuatu?" tanya Dokter Rini khawatir.
"Aku butuh air." Jawabnya dan Dokter Rini pun segera mengambilkan air yang berada di atas Nakas, lalu menyodorkannya pada Damara, Damara pun segera menyambar dan meminumnya hingga tandas.
"Apa kalian punya ponsel yang bisa aku pinjam dulu."
"Ini pakai saja punyaku Tuan." Sahut Dokter Rini lalu menyerahkan ponsel miliknya.
"Halo…Ren…kau dimana? bagus, segera cari mobil xxxx warna hitam dengan plat xxxx dan tangkap orangnya siapa pun itu hidup atau mati. Karena dia sudah dengan sengaja ingin mencelakai Istriku!" Damara mengetatkan rahangnya, mencengkram selang infus yang masih tertancap di tangannya lalu melepas nya begitu saja.
Namun sesaat kemudian tatapannya fokus kembali pada sosok wanita yang berbaring dengan tenang tepat berada di samping nya. Yang membuatnya terkejut adalah selang infus yang tertancap di tangan Jelita.
"Jelita sayang…Jelita buka matamu sayang katakan padaku apa yang terjadi pada Jelita?"
"Kamu tenang saja. Tidak ada yang terjadi pada nya dia hanya dalam pengaruh obat penenang." Dokter Darandra pun menceritakan semua yang terjadi dari awal kejadian hingga Proses operasi yang sempat membuat Jelita kritis karena detak jantungnya yang menurun.
__ADS_1
"Jad-jadi Anak ku su-sudah lahir dan aku sudah menjadi seorang Ayah?"
"Yah benar kami harus melakukan nya karena Jika tidak mungkin ke duanya tidak bisa tertolong lagi"sela dokter Rini.
"Lalu kenapa kami harus berada di satu ranjang yang sama?"
Semuanya saling menatap penuh dengan kekaguman.
"Aku kagum dengan cinta yang kau miliki bahkan kami semua iri melihat kekuatan cinta kalian berdua. Apa kau tau tadinya aku sudah mengumumkan kepada semua orang kalau nyawamu sudah tidak bisa tertolong." Jelas Dokter Arya.
"Dan keajaiban itu terjadi ketika Jelita meminta untuk di operasi di samping mu sambil menggenggam tanganmu secara tidak langsung la ingin kau juga menemaninya untuk melahirkan." Sambung Dokter Darandra.
Damara yang mendengar penuturan dan keterangan dari pada tim Dokter merasa terharu, dengan mata yang berkaca-kaca ia mengecup pucuk kepala sang istri.
"Terima kasih sudah mau berjuang untuk melahirkan anak untukku dan aku sangat mencintai mu." Damara menyibak selimut yang menutupi tubuh Jelita lalu mengelus perut yang tadinya untuk tempat tinggal sang Bayi Ia pun mengecup perut sang istri dengan penuh cinta.
Dan para Dokter yang menyaksikan pun terhanyut dalam perasaan masing-masing
"Putra kalian baik-baik saja dan untuk sementara ini akan di rawat di inkubator dulu karena melihat usia kandungan Jelita yang belum genap sembilan bulan." Jawab Dokter Darandra.
"Sebaiknya kau istirahat dulu karena biar bagaimanapun kau masih butuh stamina yang fit untuk menjaga mereka berdua" lanjut dokter Darandra, dan semua tim dokter pun pamit lalu semuanya meninggalkan ruangan tersebut, hanya menyisakan Damara Dan Jelita saja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Sayang katakan pada Bunda bagaimana adikmu? apa bayinya Sehat dan Damara kapan kita akan membawanya pulang?"
Darandra mengerutkan alisnya di saat dirinya di brondong semua pertanyaan dari Anggun,
"Bunda Alhamdulillah Jelita dan putranya selamat, meski putranya untuk saat ini di rawat dulu di inkubator, karena Bunda tau sendrikan kalau kandungan Jelita masih belum cukup umur, dan Damara kemungkinan akan pulang Jika Jelita juga sudah keluar dari rumah sakit."
Jelas Darandra memberikan keterangannya
__ADS_1
"Apa kau sudah gila! kenapa jasad Damara akan di bawa pulang setelah Jelita keluar dari rumah sakit,? bukankah sebaiknya kita harus segera mengubur nya?"
"Ya Allah Bun Damarakan tidak meninggal, malah sekarang dia sehat wal afiat di dalam ruangan nya, oh iya kalian jangan mengganggu nya dulu biarkan mereka berdua di dalam lebih baik Kalian menjenguk bayinya saja." Setelah berucap Darandra pun membungkuk hormat dan segera meninggalkan Anggun yang masih binggung dengan ucapannya.
"Mas, Mas, anak itu kenapa? apa yang di katakan nya tadi? dia bilang Damara tidak meninggal itu berarti_"
"Itu berarti menantumu itu masih hidup sayang" sahut Rafa menjeda kalimat Anggun
"Hah…kalau itu aku tau!" kesal Anggun.
"Itu benar Bun Damara masih hidup mungkin saja dia hanya mati suri, sekarang Bunda mau menemui cucu Bunda atau masih tetap di sini saja?." Lanjut Exel lagi.
"Oh…Iya Bunda hampir lupa Bunda mau kesana dulu. Bunda mau melihat cucu kedua Bunda ayo sayang apa kamu mau disini menunggu?" ajaknya penuh semangat pada Rafa yang masih saja diam di tempatnya.
"Bunda…!" teriak seseorang memanggilnya.
"Dara…! kau kenapa kemari Baby Kenan?"
"Kamu tenang saja sayang ada Mommy Cleo kok di rumah" Sahut Dara menimpali suaminya.
"Bunda aku ikut Bunda ya!"
"Ayo sayang temani Bunda karena kalau sama mereka tidak seru, yang ada si baby nanti takut melihat wajah datar mereka berdua." Ledek Anggun membuat Dara hanya terkekeh.
"Sayang jangan lama-lama!" seru Exel namun tak mendapatkan jawaban dari Dara yang terus berlalu menjauh dari pandangan nya.
"Aku kira hanya Daddy yang, akan bernasib seperti ini tapi ternyata kau juga mewarisi nasip Daddy, dan Bunda mu itu menurunkan sifatnya kepada istrimu." Kelakarnya Keduanya pun terkekeh bersama.
''Dan keduanya sudah membuat kita bertekuk lutut karena cintanya bukankah itu benar Dad?" Timpal Exel
"Yah kau benar sekali Nak!"
__ADS_1