
"Darandra...aku mencintai mu Darandra"
Deg.
Seketika Jhony melepaskan tautannya saat mendengar Tasya menyebut nama lelaki lain di telinganya.
"Maaf..." lirihnya berlalu dan segera membuka pintu ia memilih untuk segera masuk ke ruangan Jelita.
Sedangkan Tasya masih berdiri mematung dengan apa yang dilakukannya barusan ia sebenarnya sengaja melakukan itu karena ia ingin membalas Jhony atas apa yang pernah ia lakukan, selama menjadi kekasihnya. Walau tak dapat ia pungkiri jantungnya masih berdegub kencang di saat merasakan pelukan Jhony yang jauh berbeda dengan pelukannya ketika ia masih bertunangan dulu.
Jhony melangkah mendekati Ranjang besi dimana Jelita masih setia menutup matanya,
Namun tak lama kemudian terdengar lenguhan dari Jelita membuat Jhony sigap segera memanggil Dokter.
Dan dokter pun segera masuk bersama dengan Tasya setelah diperiksa Jelita pun akhirnya benar-benar diizinkan untuk pulang.
"Jhony aku takut...wanita itu ingin membunuh ku dan Amara, Amara dia, dia_"
"Sudahlah Je, itu semua sudah berlalu sekarang dengarkan aku, Amara baik-baik saja, apa kau lupa kau yang merawatnya"
"Benar Je, apa kamu lupa disaat kamu memintaku menelpon Kak Darandra untuk mengurus Amara dan Kak Darandra sudah melakukan nya dan kamu benar Amara pun sadar dari komanya bahkan sekarang mungkin ia sudah sembuh dari penyakitnya itu, apa kamu tidak tau kepergian suami mu keluar negri untuk penyembuhan kaki Amara"
.
"Tidak..." jawab Jelita singkat juga bingung.
"Darimana kamu tau itu?" tanyanya lagi.
"Dari Kak Darandra yang ikut beberapa bulan ini ke sana" jawab Tasya lagi.
"Tapi kenapa aku tidak di beritahu?" ujar Jelita bingung.
"Apa? yang benar saja, Itu tidak mungkin, kamu itu istrinya, jadi kenapa dia tidak memberitahukan tujuan kepergiannya?" ungkap Tasya juga lebih bingung.
"Ntahlah Sya aku juga binggung." Lanjut Jelita lagi memilih diam.
"Ayo aku akan mengantarmu pulang!" ucap Jhony menyela setelah keduanya kembali terdiam dan hanya di angguki setuju oleh Jelita.
"Sya darimana kamu tahu aku di rawat di sini?" tanya Jelita menatap lekat sahabatnya itu sebelum Tatapannya pindah ke Jhony.
"Aku, aku tadi mengantar seseorang yang juga hampir aku tabrak. Oh ya ampun aku sudah lama meninggal kan Om itu aku keluar dulu mau mengecek keadaan nya" Cicitnya terkejut dan segera bergegas keluar.
__ADS_1
Sedang Jhony menarik nafas panjang melihat mantan kekasihnya tidak pernah lupa dengan penyakit lupa nya.
"Kau tau Jhon yang paling aku tidak suka dari Tasya adalah pelupa nya." Ucap Jelita sambil mendesah sedangkan Jhony hanya tersenyum tipis mengingat bagaimana dulu Tasya pernah lupa memakai sepatu saat mereka pergi ke pusat perbelanjaan, dan terpaksa ia harus menggendong Tasya turun dari mobil, membuatnya jadi pusat perhatian.
"Jhony...!"
"Ah, ya ada apa?" jawabnya tersadar
"Apa kau, bilang! ada apa? kau ini sangat menyebalkan! kau dan Tasya sama saja." Gerutunya kesal.
"Maafkan aku, aku hanya_"
"ya aku tau kamu hanya memikirkannya!" Sela Jelita membuat Jhony hanya menunduk.
"A-aku lapar, kau tau aku memanggil mu karena anakku bilang Uncle Johny aku lapar aku ingin segera pulang ke rumah Utama" cicitnya menirukan suara anak kecil. Membuat Jhony gemes dan mengacak-ngacak rambut Jelita.
"Ayo aku akan mengantar mu pulang!" ucapnya lalu meraih tangan Jelita untuk membantunya turun dari bankarnya.
Namun baru saja tangan itu ingin menyentuh.
"Tunggu lepaskan istriku biar aku yang membawa istri ku pulang seru Damara yang tiba-tiba saja muncul di balik pintu membuat Jhony dan Jelita menatap ke arah sumber suara. Jelita yang melihat kedatangan Damara dan Amara merasa terkejut, Sedang Jhony melangkah dengan kesal kearah Damara.
Bugh.
Satu bogeman mentah di layangkan Jhony ke wajah Damara, membuat Damara tersungkur kelantai namun dengan cepat ia bangkit dan membalas pukulan Jhony.
hingga membuat mereka saling membalas pukulan. Jelita dan Amara berusaha melerainya.
"Hentikan Jhon! hentikan Damara!" Cicit Jelita menahan tangan Jhony yang ingin melayangkan pukulannya ke wajah Damara. Dan begitupun dengan Amara menahan tangan kakaknya.
"Biarkan aku menghajar laki-laki brengsek ini Jelita! dia harus di berikan pelajaran karena telah membuatmu menderita!" Geram Jhony.
"Lepaskan aku Amara karena lelaki ini selalu mendekati istriku!" ucap Damara tak kalah geram apa lagi saat tangan Jelita menggenggam erat tangan Jhony membuatnya panas dan sekuat tenaga ia menghempaskan tangan Amara dan melayangkan pukulannya pada Jhony,
"Kakak jangan...!" teriak Amara dan.
Bugh.
"Jelita...!" Jerit Amara saat melihat jelita menghalangi Damara untuk menghajar Jhony. Jelita tersungkur ke lantai saat pukulan Damara mengenai punggung.
"Auh sakit...!" Jelita pun memegang perutnya yang tiba-tiba saja terasa keram.
__ADS_1
"Jelita...!" pekik Damara, Jhony dan juga Amara.
Damara dan Jhony pun segera mendekat namun Amara dengan sigap menahan Jhony.
"Aku mohon biarkan Kakakku menyelesaikan masalahnya." Ujarnya menarik tangan Jhony, Jhony hanya bisa menarik nafas panjang. Sedangkan Damara meraih tubuh istrinya.
"Sayang maafkan aku, aku tidak sengaja, aku mohon maafkan aku!" cicitnya memeluk sang istri yang sudah menangis sambil memegang perutnya.
"Jelita apa kau baik-baik saja?" teriak Jhony
Dan ingin mendekat.
"Jhon biarkan Kakak ku yang mengurus istrinya!" Sela Amara lagi.
"Aku hanya khawatir dengan kandungan Jelita" Jelasnya. Hingga membuat Amara dan Damara membulat kan matanya.
"Ka-kamu Ha-hamil...?" Kejut Damara dan Amara secara bersamaan.
Damara pun menatap Jelita kembali yang nampak terlihat pucat.
"Sayang kamu_"
"Damar...perutku sakit sekali" lirih Jelita dengan air mata yang masih membasahi wajahnya.
"Jelita berdarah Kak!" Cicit Amara saat matanya menatap pankal paha Jelita yang berwarna merah.
"Dokter-dokter...!" teriak Jhony berlari keluar, memanggil sang Dokter. Sang dokter pun segera masuk untuk memeriksa Jelita,
"Kalian silahkan keluar dulu!" seru sang Dokter. Membuat ketiganya terpaksa keluar.
Sedangkan Damara nampak begitu gelisah, ia juga merasa bersalah tidak bisa mengontrol emosinya hingga membuat orang yang di sayangnya kembali terluka.
Jhony yang mengerti kekhawatiran Damara mencoba untuk mendekat dan mengusap pundaknya.
"Maafkan aku seharusnya ini tidak terjadi. Aku hanya khawatir dengan Jelita, karena semenjak kepergianmu tanpa berita membuatnya lupa untuk ceria, kadang ia menangis sendiri dan tersenyum sendiri, bahkan aku sering membawanya ke panti asuhan untuk menghilangkan rasa jenuhnya.
Bertemu dengan anak-anak panti sedikit membuatnya bisa melupakan mu sejenak. Hinga pada suatu hari dia pingsan." Jelas Jhony memulai ceritanya.
"Apa Jellita pingsan? lalu apa yang terjadi?" tanya Damara penasaran.
"Yang terjadi adalah dia hamil, dan yang membuatnya bingung dia bertanya pada ku siapa yang menghamilinya. Karena dia takut kalau suaminya akan meninggalkan nya, karena kehamilannya itu!"
__ADS_1