
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Darandra begitu melihat Amara duduk di depan pintu apartemennya.
"Ak-aku, Aku sedang menunggumu dari tadi." Gugup Amara berusaha untuk bangkit berdiri dari duduknya.
"Untuk apa kau menunggu ku? oh iya aku baru ingat sekarang ternya setatus kita sudah berubah aku suamimu dan kau istri ku." tunjuk nya pada diri sendiri dan pada Amara sambil tertawa.
Sedangkan Amara kini mulai di selimuti perasaan takut dia benar-benar melihat perubahan besar dalam diri Darandra.
"Kau mau kemana? kemarilah!"
"A-aku mau ke kamar mandi dulu aku ingin membersihkan tubuh ku" balas Amara
"Kemarilah!" serunya kembali karena la merasa tiba-tiba kepalanya sangat pening, namun Amara acuh, tak acuh, la tetap melangkah meninggal kan Darandra.
"Apa sekarang kau juga sudah mulai membantah ku, hah? lihat aku dan buka matamu lebar-lebar." Darandra menarik tubuh Amara hingga wajahnya begitu dekat, kau tau aku ingin memintamu secara baik-baik pada kakak mu yang brengsek itu, tapi kau datang menyerah kan dirimu dan mengacaukan hidupku. Ternyata kau orangnya tidak sabaran bermain-main denganku." Amara membuang wajahnya karena sungguh nafas Darandra saat ini sangat menyengat penciumannya. Dan membuatnya mual.
"Jawab aku bodoh! dan kenapa kau harus membuang tatapanmu, apa aku sekarang ini menjijikkan buatmu!"
"Ap-apa yang kau maksud? aku tidak pernah ingin berniat menikah denganmu karena aku tidak pernah bermimpi menjadi benalu di dalam hubungan orang lain" ucap Amara yang mulai terisak.
"Dan kau itu sedang mabuk tidurlah aku akan mengganti pakaian mu"
Amara melangkah meninggal kan Darandra yang memang merasakan pusing dan nyut-nyut di kepalanya itu. Sebenarnya la ingin marah besar malam ini pada Amara namun kepalanya yang sakit membuatnya harus menahan semuanya, mungkin karena la tidak terbiasa minum, hingga membuatnya cepat mabuk. la akhirnya mengurungkan niat nya untuk marah dan milih mengikuti apa yang akan di lakukan Amara.
Amara mulai membuka satu persatu pakaian yang di pakai lelaki yang baru tadi pagi menjadi suaminya itu. Dan dengan telaten ia pun membersihkan tubuh dan wajah memar Darandra.
"Aku berjanji akan mengganti semuanya, yang aku butuh hanya kesabaran mu saja."
Gumamnya dalam hati,
Amara pun segera menyelimuti tubuh Darandra yang masih polos itu. Di tatapnya wajah Darandra yang masih memar dengan pukulan kakaknya yang membabi buta itu.
__ADS_1
Amara mengingat betul kejadian tadi pagi yang membuatnya harus kena tampar dari sang kakak gelap mata.
Flashback on
"Amara darimana saja kamu? baru pulang pagi ini?" sentak Damara bertanya saat melihat adiknya itu baru tiba setelah semalaman adiknya itu menghilang di saat pestanya belum selesai.
Amara yang merasa bersalah hanya mampu untuk menunduk. Karena la tak mampu menatap tatapan tajam Damara yang seperti ingin menguliti tubuhnya itu.
"Kakak A-A-A aku Maafkan aku"
"Aku Bertanya dari mana kamu semalam, kamu pergi bersama Darandra kan.? Lalu kenapa kamu pulang pagi ini?" Amara yang bingung hanya bisa diam tidak tahu harus menjawab apa pada Kakak itu.
"Amara jangan diam saja!" teriak Damara meninggikan suaranya.
"Kakak aku hanya tidur di sana. Karena hujan aku tidak bisa pulang." Jawab Amara jujur dan spontan, karena la terus mendapatkan tekanan dari sang Kakak.
Plak.
"Hanya katamu. Lalu apa ini? dan di mana pakaian yang kau pakai semalam?!" Sentak Damara lagi merobek bagian depan baju yang di pakai Amara.
"Kakak…!"
"Sayang…!
teriak Amara dan Jelita yang secara bersamaan, Jelita yang tengah berada di kamar baby Ar, sangat terkejut mendengar suara teriakan Damara yang menggelegar.
"Ayo ikut aku lelaki brengsek itu harus bertanggung jawab menikahimu hari ini juga!" Damara terus menyeret tubuh Amara dengan kasar. Tanpa memperdulikan teriakan istri dan adiknya itu. Karena hati dan fikirannya kini sedang dikuasai oleh emosi nya sendiri.
Sedangkan Jelita pun bergegas menyusul suaminya setelah sebelumnya la menitipkan Baby Ar, kepada baby sitter nya.
Damara yang emosi menghempaskan tubuh Amara dengan kasar masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Bagaimana la tidak emosi di saat pesta belum selesai Amara menghilang begitu saja, dan dia dan Exel mencoba mencari tahu lewat Cctv yang ada, setelah melihat Amara masuk ke mobil dengan orang yang di kenal Damara menganggap nya hal biasa, namun di saat sang adik tidak pulang bahkan semalam la tidak tidur karena menunggu sang adik yang ternyata pulang pagi dan sendiri bahkan ada banyak tanda kepemilikan, membuat emosi yang di tahan semalaman pada akhir nya membuncah.
Flashback of
Pagi
Darandra mengerjap-mengerjap kan matanya
sesaat kemudian. la pun melihat sekelilingnya. la merasakan kalau kepalanya masih terasa berat, Namun matanya kini tertuju pada sebuah tangan yang sedang menggenggam tangannya begitu erat.
"Apa yang di lakukan anak ini disini?"
Gumamnya pelan.
"Astaga kenapa aku harus lupa terus sih kalau gadis ini kan sudah aku nikahi?"
Darandra menyentuh bibir dan pipi Amara yang ada bekas tangan dan warna yang membiru si sudut bibirnya itu.
"Kakak mu itu brengsek sekali, dan ini pasti sakit" ucapnya pelan sambil terus mengusap pipi Amara. Hingga terdengar suara lenguhan.
"Ng uuuh" Darandra dengan cepat menurunkan tangannya dan pura-pura tertidur.
"Ya Allah aku kesiangan" cicit Amara bergegas bangkit dari tidurnya yang setengah duduk di atas kursi. Amara segera masuk ke dalam bathroom Amara hanya mencuci muka dan menyikat gigi saja, lalu dia pun segera bergegas mencari dapur dan segera mencari bahan-bahan yang ia butuhkan untuk membuat minuman, dan sarapan pagi untuk sang suami.
"Yah hanya sisa ini saja. Semoga saja Darandra menyukainya Amara hanya menemukan sebutir telur dan dua keping roti tawar di dalam lemari pendingin. Ia pun segera membuat telur dadar yang akan dibikin sandwich untuk breakfast suaminya pagi ini.
Tdak lupa juga la merebus irisan jahe, madu, dan lemon, untuk minuman yang akan diberikan pada Darandra agar bisa mengurangi rasa mual, dan pusingnya yang semalam akibat minuman yang di minumnya. Setelah dirasa semua sudah lengkap tersaji, Ia pun segera menenteng Baki yang berisi makanan yang ia buat tadi, untuk dibawa masuk ke dalam bilik suaminya itu.
"Kemana perginya perasaan tadi dia sedang tidur cepat sekali kenapa dia cepat sekali menghilang?"
"Apa kau sedang mencari mencariku?"
__ADS_1