
Setelah selesai mengisi perutnya di pagi buta Dara pun pamit untuk tidur karena ia benar-benar mengantuk dan ingin segera beristirahat. Sedang Anggun dan Sonya berinisiatif untuk pergi membeli kebutuhan pokok di sebuah Swlayan ternama.
"Apa tidak apa-apa kamu tinggal sendiri Nak?" Ujar Anggun. Begitu Dara hendak melangkah pergi.
"Tidak apa-apa Bun, lagian di sini banyak pelayan dan pengawal Daddy, yang berjaga di depan." Lanjutnya menimpali sedang Jelita sendiri Sudah berangkat ke kampusnya.
"Baiklah jaga dirimu dan beristirahatlah mungkin kami kembali agak sore jadi kalau kamu butuh sesuatu bilang saja sama Bibi."
"Iya Bunda selamat berbelanja Mommy juga jangan terlalu capek kasian kan dedek baby!" ujarnya menatap Sonya.
"Iya sayang! dah pergilah istirahat." serunya di angguki Dara sambil naik ke lantai dua dan tak perlu menunggu waktu lama lagi Dara sudah berkelana di dunia mimpinya. Entah karena capek dan mengantuknya atau mungkin karena ia sedang merindukan Exel sampai-sampai ia bermimpi di peluk sang suami dengan hangat dan nyaman.
Membuatnya semakin terlena dalam tidur dan nggan untuk bangun. Dan saat dirinya merasa haus ia berusaha untuk membuka mata yang masih terasa berat dan enggan terbuka itu. Namun saat ia ingin bangkit ia terkejut dan membulatkan matanya saat merasakan sebuah tangan melingkar di pinggang memeluknya dari belakang, apa lagi di tambah kamar yang minim pencahayaan dan ditambah ia yang baru setengah sadar membuatnya tidak melihat dengan jelas orang yang tengah memeluknya itu. Apa lagi orang yang memeluknya hanya memakai boxer tampa memakai baju. Dara yang terkejut dan ketakutan ingin melepas tangan yang merengkuh pinggangnya itu namun tangan itu menariknya dan semakin erat memeluk tubuhnya bahkan hembusan nafas yang begitu hangat kini menerpa tengkuknya membuatnya semakin bergidik.
"Jangan banyak bergerak atau aku tidak akan bisa menahannya untuk tidak melakukannya!"
suara yang terdengar berat namun tegas itu seketika membuatnya tercekat suara yang ia rindukan namun sekaligus dia benci karena di waktu yang bersamaan ia merasa bahagia namun berbalut luka, karena apa yang di lakukan suaminya itu. Namun disisi lain ia sangat merindukannya, ntahlah Dara sendiri di buat binggung dengan perasaannya yang suka berubah-ubah. Ada saatnya ia ingin tegas namun sesaat kemudian ia berubah menjadi lemah. Sebenarnya ia ingin marah semarah-marahnya pada lelaki yang meninggalkannya begitu saja pergi keluar negri dengan wanita lain. Tapi rasa rindunya membuatnya tidak berdaya apa lagi tangan kekar itu kini mengelus perutnya yang masih rata.
"Apa dia Anakku?"
"Apa kau mencurigaiku!" Dara bukannya menjawab namun melempar sebuah pertanyaan dengan nada kesal. Exel menarik nafas panjang.
"Haaah...bisa tidak kamu hanya menjawab iya atau tidak tak perlu balik bertanya" kesalnya.
"Dan untuk apa kamu bertanya ini anakmu atau bukan, kamu bebas memilih mau mengakui atau tidak!" karena hanya orang-orang yang meragu yang akan mengajukan sebuah pertanyaan yang seharusnya tak usah di pertanyakan, tapi di pertanggungjawabkan."
Kesal Dara menimpali dengan posisi masih membelakangi Exel, karena Exel masih memeluk erat tubuhnya sedang dagunya di topang pundak sang istri.
__ADS_1
"Kemarilah...!" Exel membalikkan tubuh sang istri dengan posisi menghadapnya bahkan kini hidung mancung mereka pun saling bersentuhan.
"Maaf...maafkan aku, semua terjadi karena aku tidak menjelaskannya aku mungkin beberapa hari ini membuatmu sakit hati dan berprasangka buruk, semuanya terjadi begitu cepat." Exel pun mulai menceritakan rentetan kejadian yang dia alami dari awal dia mengalami kecelakaan hingga menyebabkan ia harus pergi ke luar negri untuk menyelesaikan semuanya dan Dara mendengar dengan seksama apa yang di tuturkan oleh suaminya itu tanpa ingin menjeda sedikitpun. Kini ia malah memeluk suaminya itu dengan begitu eratnya seperti orang yang akan takut kehilangan.
"Jadi Reno sudah menikah dan Jennifer adalah istrinya?" Dara mengangkat wajahnya lalu menatap lekat suaminya itu.
"Iya sayang dan sekarang giliran mu yang menceritakan semuanya padaku kenapa Devan mengantar mu kerumah sakit waktu itu?"
Dara kembali memeluk suaminya lalu kemudian menatapnya dengan begitu lekat sesaat kemudian ia terdengar menarik nafas panjang sebelum memulai membuka mulut. Darapun memulai ceritanya dan hal yang sama pun di lakukan Exel mendengar tanpa menjeda setiap kalimat yang Dara sampaikan hingga pada saat ia mengakhiri ceritanya.
Mereka pun saling menatap dan saling meminta maaf lalu mereka kembali saling memeluk dengan penuh cinta dan kerinduan.
"Tunggu dulu. Kenapa Aku lupa untuk menghukummu!" ujar Exel yang kini menatap lekat sang istri.
"Apa maksudmu ingin menghukum ku? aku kan sudah meminta maaf" tanya Dara dengan perasaan yang mulai tak enak.
"Aku tau itu. Dan aku sudah memaafkanmu tapi ada kesalahan yang tidak bisa aku maafkan." terang Exel yang kini sudah menyentuh dagu sang istri.
"Aku akan menjawabnya nanti setelah kau selesai dengan hukumanku!" tekannya.
"Tapi itu tetap saja tidak ad_uuump" suaranya pun tenggelam dalam sebuah tautan yang semula ia berusaha untuk menolaknya. Namun dengan kelihaian Exel ia pun memilih menikmati permainan suaminya itu. Apa lagi sebenarnya dia juga sangat merindukan semua sentuhan suaminya, tapi tidak mungkinkan dia yang akan memulai permainannya lebih dulu, nanti Exel jadi besar kepala lagi fikir nya.
"Apa kau menyukai nya?" sela Exel menjeda permainannya.
"Hmmm..."
Hanya itu yang keluar dari bibir Dara saat merasakan sensasi luar biasa karena tangan Exel tak tinggal diam terus memberikan sentuhan dan tekanan lembut di area sens..itif nya. Era...ngan demi era..ngan kini memenuhi ruangan yang kedap suara itu entah sudah berapa kali Exel membuat Dara ******* dengan permainannya kini saatnya ia akan melakukan tugas terakhirnya.
__ADS_1
Exel kembali mengungkung tubuh Dara karena dia akan segera melakukan penyatuannya. Namun saat ia begitu bersemangat ingin memasukan sang Junior yang sudah on tiba-tiba saja Dara menahan tubuhnya.
"Tunggu dulu!"
"Ada apa sayang...?" Ucapnya dengan suara berat. sambil menatap Dara dengan heran karena sudah menghentikan permainannya saat hasratnya sudah di ubun-ubun.
"Apa tidak apa-apa kalau kita melakukannya sekarang? aku takut akan menggangu Kenan Junior." Ujarnya sambil membalas tatapan mata suaminya yang kini sudah tertutup kabut gai..rah.
"Tidak apa-apa sayang aku sudah bertanya pada Dokter Heny yang pernah menanganimu dia bilang tidak apa-apa dan aku janji aku akan melakukan nya dengan sangat pelan."
"Owh...baiklah!" jawabnya sambil mengangguk.
"Apa boleh aku melakukannya sekarang?" tanya Exel lalu di angguki kembali oleh Dara. Exel pun sudah siap mengatur posisinya Namun saat akan mulai menyentuh Dara kembali menahan tubuhnya.
"Tunggu dulu!"
"Ada apa lagi sih sayang...?"
"Sayang apa boleh aku bertanya?"
"Hmmm..." Hanya itu yang keluar dari bibir Exel karena sudah dua kali ia gagal memasukkan ularnya kedalam sarang.
"Apa salahku yang tak bisa kau maafkan itu?"
"Sayang aku akan mengatakannya tapi setelah selesai menghukummu bukankah kau belum selesai aku hukum. Dan sekarang biarkan aku menyelesaikan tugas pentingku!" kesalnya karena Dara menghentikan kegiatanya hanya karena pertanyaan yang menurutnya tak penting itu.
Kini ia kembali untuk menyelesaikan tugas pentingnya dengan mengunkung tubuh Dara dengan sempurna. Hingga ia pun menekan sang Junior namun baru saja setengah perjalanan Dara kembali menahan tubuhnya.
__ADS_1
Namun kini ia tak lagi bertanya hanya sorot mata tajam yang ia berikan, membuat Dara dengan susah payah menahan salivanya.
"Kamu janji, harus melakukannya pelan-pelan aku takut kalau kau akan menyakitinya!" cicit Dara kembali.