
"Lalu siapa wanita itu jika dia memang bukan kekasih gelap mu?" tanya jelita dengan nada marahnya.
"Dia sekertaris ku sekaligus mereka teman masa kecilku, kami berpisah saat kami masih di Sekolah Menengah Atas. Dan semenjak Dua tahun lalu mereka bergabung denganku untuk memajukan perusahaan, apa sekarang sudah jelas?" tanya Damara menatap lekat sang istri.
"Lalu bagaimana dengan rekaman suara kalian?"
"Sudahlah jangan dibahas lagi sekarang ayo kita bersihkan badan dulu." ajak nya dan itu membuat Jelita kesal karena apa yang di dengar waktu itu sangat menjijikkan menurutnya, bagaimana tidak des..ahan seorang wanita dan lelaki yang sedang berbuat mesum begitu santer terdengar di gendang telinganya itu.
Karena melihat tidak ada pergerakan dari istrinya Damara duduk kembali di tepi ranjang dalam keadaan yang masih polos tanpa sehelai benang pun, sedang Jelita menutup dirinya dengan selimut sambil membelakangi Damara, Damara dengan pelan menyibak selimut lalu masuk kedalam sambil memeluk Jelita dari belakang.
"Sayang apa kau akan marah terus pada suamimu hanya karena masalah ini?" tanya Damara sambil mengecup tengkuk Jelita,Namun tetap saja Jelita diam tak memberi jawaban hingga Damara pun tersenyum jahil,
"Baiklah aku akan melihat sampai dimana kau akan mendiami suamimu ini." Ucap Damara sedang tangannya kembali tidak dapat di kondisikan menyentuh setiap titik sensitif yang ada pada diri Jelita, sedang Jelita dengan sekuat tenaga menahan diri agar tidak mengeluarkan suara karena ia merasa permainan suaminya kali ini semakin membuatnya menggila, walau ia sudah berusaha memberontak namun ia tak bisa lolos karena Damara kini menahan tubuhnya.
Setelah puas memberikan pemanasan, Damara kini melakukan penyatuaannya dari belakang dengan posisi sama-sama miring sedang tangannya Bermain di kedua bukit yang sudah menegang akibat perbuatan nya itu, Damara terus saja bermain di bawah sana hingga tangan Jelita tanpa sadar berusaha menekan pinggulnya seakan meminta lebih. Dan benar saja Jelita membalikkan wajahnya menatap kebelakang dan menatap Damara dengan tatapan memohon untuk segera di tuntaskan sedangkan kini Jelita meraih kepala suaminya agar mendekat ke wajahnya dan Jelita menautka bibirnya dengan bibir milik Damara lalu melu...matnya dengan rakus di saat sesuatu di bawah sana terus membuat nya menahan nafas karena sensasi yang luar biasa yang ia rasakan.
"Auhk..ahk...mmm...Dam..mar...akhirnya pertahanan nya pun goyah, membuat Damara tersenyum penuh kemenangan, dan ia pun tak berhenti di situ saja dengan terus saling ******* ia terus memompa membuat Jelita menjeda tautannya di saat ia mengeluarkan suara des..ahannya lalu ia akan melanjutkan tautannya kembali setelah itu. Membuat Damara bersemangat terus memberinya tekanan dari bawah sana, hingga
Damara memeluk erat tubuh Jelita, disaat mereka sama-sama merasakan sesuatu Yang sudah di ubun-ubun. Dan keduanya kembali mengerang panjang. Damara mengecup tengkuk istrinya dari belakang begitu pelepasan mereka selesai.
Damara membalikkan tubuh Jelita agar menatap ke arahnya, sedang tangannya mengapai benda pipih yang berada di atas Nakas yang tak jauh dari tempatnya itu. Lalu memberikannya pada Jelita.
"Apa ini?" tanya Jelita bingung tiba-tiba di sodorkan sebuah telepon genggam.
"Buka saja. Nanti kamu akan tau sendiri kok!"
"Kata sandinya?" tanya Jelita
__ADS_1
"Tanggal pernikahan kita" jawab Damara
"Ses-sejak kapan kau menulisnya.?"
"Di hari pernikahan kita dan foto ini? hah...kau kenapa kau tidak minta izin padaku itu sama saja kau mencuri dariku!"
"Aku tidak mencuri, bahkan itu bayaran bagi orang yang hampir saja menabrak mobilku karena ugal-ugalan di jalan raya. Dan bukankah saat itu aku sudah mengatakan pada mu. Bahwa kau akan membayarnya lain kali, dan aku tidak akan melepas kan mu karena kau harus membayar semuanya hingga akhir hayat kita. Apa kau mau" Jelita hanya menggangguk tanda mengiakan.
"Hah, jelaskan pada ku ini apa? ya ampun ternyata kau juga suka menyimpan video seperti ini!"
"Dengarkan baik-baik suaranya."
"Hah...jaj-jadi_"
"Yah apa kau mengerti sekarang kalau semuanya itu bohong!" ujar Damara
"Itu bagus untuk mu lihatlah setelah itu kau boleh mencobanya denganku." Ucapnya sambil menyeringai.
"Kau...!" Jelita memukul dada bidang suaminya itu wajahnya pun memerah menahan malu.
Damara pun segera mengangkat tubuh Jelita, lau segera membawanya masuk kedalam Bhatroom. Setelah selesai seperti biasa Damara akan memakaikan baju untuk istrinya itu lalu mengambil hairdryer' untuk mengeringkan rambut panjang Jelita.
Mereka pun segera kembali ke tempat tidur.
"Ayo makan aku tau kamu pasti lapar tadi aku sempat menyuruh Bi Sumi membuatkan makanan kesukaanmu, setelah itu kau bisa tidur kembali karena kau pasti capek." Ujar Damara.
"Tapi aku mau di suapi!" rengeknya manja dan benar saja kini Damara pun menyuapinya dengan sangat telaten hingga makanannya benar-benar tandas tak bersisa. Setelah ia mendengar dengkuran halus sang istri ia pun segera beranjak karena tiba-tiba telponnya berdering.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Aku kan sudah mengatakannya pada kalian untuk meyakinkan mereka! iya aku tau itu tidak mudah tapi tidak ada salahnya kan kita mencobanya" ujar Damara dengan tegas.
"Rony, aku mau kamu handle semuanya! biarkan aku yang akan bertemu dengan Tuan Exel, aku tau dia pasti akan marah besar pada ku tapi ini adalah satu-satu nya jalan untuk kita."
"Baiklah Tuan" sahut Rony dari seberang" kemudian sambungan pun terputus.
Damara menarik nafas dalam-dalam lalu menghempasnya secara kasar. Ia menatap sekilas istrinya yang masih terlelap dalam tidurnya itu.
Damara duduk di tepi ranjang tangannya menyibak anak rambut yang menjuntai menutupi wajah istrinya itu.
"Jelita aku akan melakukan apapun demi dirimu meski itu akan mengorbankan segala apa yang ada pada diriku." Damara mengecup pucuk kepala sang istri, setelah itu ia pun pembangkit dan melangkah keluar meninggalkan kamar tersebut kini ia pun berjalan menuruni anak tangga.
"Siti..!" Panggilnya pada Siti yang kebetulan sedang berkutat di dapur.
"Ya Tuan saya!" jawab Siti sambil mendekat "Tolong temani istriku Jelita, nanti ketika dia sudah terbangun dari tidurnya, dan ingat tanyakan kepadanya. Makanan apa yang ingin dia makan. Jika dia bertanya tentangku, katakan padanya aku sudah berangkat ke kantor."
"Baik Tuan Saya akan menyampaikan nya kepada Nona Jelita jawab Siti.
"Baiklah terima kasih Siti!" setelah berucap
Damara pun melangkah pergi meninggalkan Siti yang tengah sibuk dengan pemikirannya sendiri karena ajaib nya Damara mengucapkan kata terimakasih pada nya dan yang masih terus jadi pertanyaan nya sejak kapan Tuan nya itu dan Jelita menikah.
Damara pun segera melajukan mobilnya menuju tempat yang sudah dijanjikan.
Sementara itu di kediamannya Exel terlihat begitu geram.
__ADS_1
"Apa sih sebenarnya yang diinginkan Anak itu kenapa dia tega melakukan semua ini! Awas saja jika bertemu aku akan menghajar mu." Geram nya.