
"Je, Kak, Andranya mana kok tidak masuk?"
"Eh itu ee anu kak, dia buru-buru mau mengantar kak, Tasya, aku masuk dulu ya kak mau mandi." Pamit Amara segera.
"Ada apa sayang!" seru Damara yang tiba-tiba muncul mengagetkan Jelita.
"Sayang kamu membuatku kaget!" kesalnya
"Maaf aku tidak sengaja habis kamu serius sekali ada apa sih?"
"Itu Amara baru balik aku kira kak, Andra akan masuk tapi ternyata dia tidak mampir.
"Memangnya ada apa kamu seperti sangat menginginkan nya singgah hmm.
"Tidak ada apa-apa sayang sungguh auuw…sayang geli" Damara terus saja menggoda istrinya dengan terus menciumi ceruk leher istrinya itu.
Sedangkan Amara yang baru saja masuk langsung merebahkan dirinya di tempat tidur, tanpa ada niat untuk membersihkan tubuhnya.
Entah kenapa ia seharian ini benar-benar di buat kesal dengan Darandra, bagaimana tidak perjalanan nya yang ingin menemaninya mencari cincin tunangan malah, penuh dengan drama.
Bagaimana tidak di buat kesal dari banyak toko perhiasan, yang dia datangi semua tidak ada yang cocok hingga akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke toko yang pertama.
Drt...drt...drt...
Amara tersentak dari lamunan saat mendengar getaran telpon genggam nya.
"Ada apa lagi sih Kak, aku mau tidur aku capek!" ketusnya saat tau siapa yang menelponnya ya iyalah dia tahu karena yang membelikannya handphone baru adalah orang tengah menelponnya itu. Ia pun langsung memutuskan sambungan telepon nya. Lalu menon aktif teleponnya ia memilih untuk segera tidur. Membuat orang yang menelponnya menjadi kesal dan gusar.
"Sial, anak kecil ini rupanya ingin bermain-bermain denganku, tapi baiklah aku akan lihat sampai dimana kamu akan menghindari ku.
Bukankah tadi aku sudah bilang akan menelponnya setelah aku mengantar Tasya lalu kenapa dia menon aktifkan teleponnya. Awas kau Amara!" geramnya.
Dan begitu bangun dari tidurnya Amara baru mengaktifkan kembali gawainya. Dan begitu banyak pesan masuk, bernada ancaman, ya tentu saja dari orang yang ingin ia hindari, dan jauhi itu.
__ADS_1
"Kak, Andra sampai kapanpun aku tidak bisa melupakanmu, tapi kau memilihnya bukan aku lalu untuk apa kau selalu mengganggu ku membuatku jadi bingung" lirihnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dua minggu setelahnya acara pertunangan Darandra pun berjalan dengan lancar meski hanya di hadiri keluarga besarnya saja. karena itu permintaan dari Tasya sendiri yang tidak ingin pesta besar-besaran. Dan pernikahan nya akan di adakan setelah perjodohan Arya sudah selesai di bahas.
*
*
*
Tiga bulan kemudian.
Semua wajah nampak begitu tegang menunggu di depan sebuah ruangan, VIP yang sudah mereka siapkan jauh-jauh hari untuk persalinan, Dara.
"Sayang kenapa sakit sekali rasanya aku tidak kuat lagi" rengek Dara yang memang merasakan seluruh ototnya seperti ingin terlepas apa lagi pinggang nya seperti mau putus. Sedang Exel dengan gelisah menemani istrinya tidak bisa berbuat apa-apa. Apa lagi ini adalah pengalaman pertama terjadi di dalam hidupnya.
"Kamu boleh melakukan apa saja pada tubuh ku untuk mengurangi rasa sakitnya" bisik Exel dengan lembut karena hanya itu yang bisa ia lakukan untuk mengurangi rasa sakit istrinya.
"Maaf Nona' dan Tuan saya akan memeriksanya dulu sekarang sudah pembukaan keberapa agar kami pun bisa segera melakukan tindakan, tetap usahakan tarik nafas dalam-dalam, Dan hembuskan ini akan mampu mengurangi rasa sakit persalinan Anda insya Allah bisa lancar. Jelas sang Dokter.
Silakan Nona anda bersiap-siap karena pembukaannya sudah sempurna Ikuti arahan saya jika dalam hitungan ketiga Anda harus mengedan Oke nona Bagaimana Apakah Anda sudah siap?" Tanya sang dokter kepada Dara, Dara pun hanya mengangguk dengan pasrah baiklah satu dua tigaYa bagus Nona terus, Lagi dan terus Nona anda pasti bisa Dara terus mengumpulkan tenaganya untuk mengedan.
"Aaaahk...Dara mengeluarkan seluruh tenaganya yang tersisa, sambil mencengkram dengan kuat tangan suaminya.
"Aaaahk…"
Owe...owe...owe...!
Akhirnya seorang bayi tampan pun terlahir dengan selamat.
"Selamat Tuan Nona bayi Anda laki-laki dan sangat tampan puji sang dokter lalu menyerah kan sang bayi untuk di azani terlebih dahulu sebelum di bersihkan, Exel pun meraih putranya dengan perasaan haru, lalu ia pun mulai mengazani sang putra.
__ADS_1
Setelah selesai Exel kembali menyerah kan sang putra untuk segera di bersihkan.
Exel pun mendekati Dara yang juga sudah di pindahkan dan di bersihkan.
"Sayang terima kasih atas perjuangan mu selama ini, sekarang kita sudah menjadi orang tua." Ucap Exel yang terus mencium wajah istrinya itu dengan penuh cinta.
Dara pun tak bisa berkata-kata karena saking bahagianya. Hanya isak tangis bahagianya yang terdengar. Dia tak pernah menyangka akan menjadi seorang ibu, kesakitan yang ia rasakan saat akan melahirkan terbayar sudah, dengan sebuah kebahagiaan yang tidak terlukiskan.
"Hei sayang kamu kenapa?"
"Aku, aku hanya terlalu bahagia sayang," cicit nya.
"Terima kasih karena sudah menjadi Ayah dari putra ku, aku, aku mencintaimu Tuan Exel Richard Alfano," sela Dara di tengah isak bahagianya.
"Dan Aku juga sangat-sangat mencintai mu Dara Primaditha Anthony." Balas Exel sambil mengusap kedua mata istrinya dengan lembut yang masih saja menangis haru.
"Maaf, Tuan dan Nona silahkan anak Anda di susui dulu supaya Ibu dan bayinya semakin dekat" terang sang Dokter lalu menyerah kan bayi mungil yang masih merah itu, Exel pun membantu Dara untuk memberikan Asi pertamanya pada sang bayi"
"Lihatlah sayang dia sangat lahap sekali, sayang sisakan untuk Daddy juga jangan di habiskan." Bisiknya pada telinga sang bayi lalu mendapat cubitan dari Dara.
"Sayang sakit."
"Habis kamu sih ada-ada saja. Masak anaknya di ajak bicara seperti itu" kesal Dara menatap jengah.
"Sorry baby_" Namun ucapan Exel harus tertunda di saat semua keluarganya masuk untuk melihat kelahiran putra pertama mereka, mulai dari Dad Rafa, Bunda, Anggun Dad Anthony, dan mommy Cleo, juga ada dan jangan lupakan Jelita yang perutnya juga semakin membesar.
"Selamat Kak, bagaimana rasanya setelah menjadi seorang ibu?" Tanya Jelita begitu masuk menemui sang kakak dan bayinya.
"Nanti kamu juga akan merasakannya kok, dan itu tidak lama lagi. Sahut Dara sambil mengelus perut buncit Jelita,
"Kak, apa boleh aku mengendong nya?"
"Tentu saja boleh, kamu kan Aunty nya." Dara pun memberikan sang bayi kepada Jelita, dan dengan senang hati Jelita meraih lalu menciumnya dengan sangat gemas, semua yang berada di ruangan itu, nampak merasa sangat bahagia.
__ADS_1