Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Ini Sudah Takdir.


__ADS_3

"Kak Renata?" baik Amara dan dokter David sama-sama terkejut, dan saling melepaskan pelukan.


"Kak, aku akan menjelaskan semuanya ke Kakak, maaf dokter aku akan keluar Dulu sebentar" Amara menatap ke arah Dokter David untuk meminta izin dan Dokter David hanya memberikan jawaban lewat sebuah anggukan.


"Senang deh, kak, bisa ketemu Kakak di sini" ucap amarah berbasa-basi.


"Amara kakak hanya butuh penjelasanmu Ada apa sebenarnya kau dengan dokter David? Apa kau juga suka bermain di belakang?" "Maksud kakak?"


"kamu jangan pura-pura tidak mengerti dengan apa yang kakak maksudkan Amara karena kamu bukan anak kecil lagi."


"Aku,, benar-benar Tidak tahu Kak. Apa kau berselingkuh dari suamimu?"


"Berselingkuh?"


"Ya...!"


"tentu saja Tidaklah Kak, masa aku harus berselingkuh."


Lalu ada apa kau lakukan dengan dokter David? Apa kau punya hubungan spesial?" selidik Renata.


"Kak,, aku ke sini hanya untuk periksa saja, tak lebih, kemarin aku masuk rumah sakit ini dan hari ini aku di izinkan pulang."


"Amara apa kamu? kamu mengatakan kamu juga di sini dari kemarin, kok bisa Ra, kamu ada di rumah sakit?"


"Iya kak,, kemarin itu Amara ada sedikit musibah Amara pun mulai menceritakan apa yang terjadi pada dirinya.


"Ya ampun,, Ra, Kok kamu tega banget sih melakukannya?"


"Iya mau bagaimana lagi sih Kak aku juga kesel masak seharian aku dikurung terus di kamar." Renata hanya bisa tertawa mendengar kekesalan Amara.


"Udahlah Ra, lelaki itu memang seperti itu nggak usah diambil hati."


"Oh ya! Kak gimana dengan anak Kakak siapa lagi namanya tadi dia__"


"Maksud kamu Bara?"


"Oh,, iya Bara"


"Tadi dia minta jalan-jalan ditemani suster sebentar karena Kakak masih merasa mual Bagaimana kandungan Kakak sehat-sehat saja,?"


"untuk saat ini baik-baik aja. Tapi kadang kala perut Kakak terasa sakit, untuk itulah kakak mau bertemu Dokter David."


"Kakak yang kuat ya, aku yakin Kakak itu wanita hebat pasti akan bisa melewati semua ini Bolehkah Kakak minta sesuatu padamu?"


"Apa itu Kak?"


"jika suatu saat kakak melahirkan anak ini, dan ternyata Mas Baron tidak menerimanya Apa kau mau membesarkan anakku ini.?" Renata menatap pada Amara.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Kau tahu penyakit yang ada dalam diri Kakak ini membuat nyawa kakak hanya Bertahan tinggal menghitung bulan,"


"ya Allah kak, itu tidak mungkin Kak, Kakak jangan bicara seperti itu kakak pasti bisa sembuh. Jadi Kak, baron belum tahu semuanya?"


"Tidak,, jangan...! Sudah berapa kali Kakak bilang tidak akan memberitahunya jadi dia sama sekali tidak tahu dan dia tak perlu tahu"


"Tapi Kakak__"


"Mas Baron akan menikah lagi, biar kan dia hidup bahagia dengan kehidupannya" ucap Renata menyela kalimat Amara.


"Kakak tak ingin mengganggunya, Kakak senang jika Bara juga senang karena suatu saat jika aku tiada, ada yang akan menjaga Bara dan Mas Baron, jadi Biarkanlah semuanya seperti ini.


"Tapi maaf Kak, aku benar-benar tidak bisa menjaga anak mu."


"Kenapa Ra,? Kamulah harapan kakak satu-satunya."


"Tidak! kak, karena, perlu Kakak tahu kecelakaan yang kita alami beberapa bulan lalu membuatku menderita gegar otak."


"Apa gegar otak?"


"Ya,, dan aku akan melupakan semua orang orang yang pernah aku cintai seperti kakak dan semuanya, jadi bagaimana bisa aku merawat anak Kakak kalau aku saja tidak tahu diriku seperti apa nantinya?"


"Apa maksud kamu Ra,?"


"Iya Kak dokter berkata seperti itu. Tapi aku mohon untuk tidak menceritakan pada siapapun apa yang aku alami, Aku tidak ingin mereka kasihan padaku hanya karena aku sakit, dan aku tak ingin jadi beban."


"Hei..kak ini sudah takdir jadi berhentilah menyalahkan diri sendiri." Timpal Amara


"Haaah" Renata menarik nafas panjang."Kenapa nasib selalu mempermainkan kita, kau dan kakak, Tak ada bedanya mencintai suami yang tak mencintaimu, dan akan meninggalkan mereka dalam kenangan kita masing-masing."


"Jika Kakak akan pergi ke perut bumi, dari dunia ini untuk membawa Kenangan tentang mereka"


"Dan aku akan pergi menghilangkan kenangan tentang mereka, tak akan ada lagi kenangan yang tersisa tentang semuanya. Bukankah itu sama saja dengan aku mati." Amara dan Renata pun saling berpelukan dan saling menangisi nasip mereka."


"Bunda kenapa Bunda menangis" cicit Bara yang baru saja tiba mendekati bundanya.


"Bunda tidak menangis sayang bunda hanya kelilipan bohongnya.


"telus Tante ini?"


"Iya perkenalkan ini Auntie Amara"


"Hai anak ganteng perkenalkan nama Auntie Amara"


"Bala" balas Bara dengan suara Comelnya. "Kak anakmu ganteng banget dan lucu lagi" ucap Amara dengan begitu sumringahnya saat melihat kelucuan yang selalu ditampakkan oleh Bara.

__ADS_1


"Bara Kenapa dengan pakaianmu?"


"tidak apa-apa Bunda Bara tadi terjatuh"


"jatuh? terjatuh di mana sayang yang sakit Mana yang sakit mana sayang?" Renata begitu panik memeriksa seluruh tubuh putranya itu namun Tak adapun Tak ada satupun goresan yang ia dapat pada tubuh anaknya itu"


"Cudah Bunda Bala tidak apa-apa Bunda peliksa aja cendili aku tidak apa-apa Bunda" Bara terus meyakinkan Renata kalau dia baik-baik saja.


"Kau tau sayang Bunda menyuruh mu keluar jalan-jalan dengan suster, agar kamu tak merasa bosan apa kau tau Bunda sangat khawatir kalau Bara seperti ini."


"Bara kenapa?"


"Sayang, ini dia katanya habis jatuh,"


"Apa ada yang sakit sayang?"


"Tidak Ayah, Bala baik-baik saja." Baron berjongkok untuk memeriksa tubuh putranya itu.


"Tadi Bara pergi dengan siapa?"


"Pelawat Ayah"


"Lalu kau, apa yang kau lakukan di sini? kenapa meninggal kan Bara dengan perawat? bukan kah kau tahu kalau Bara baru saja habis di operasi."


"Maafkan aku sayang, tadi aku hanya ingin menemui Dokter David sebentar" terang Renata tanpa sadar.


"Keterlaluan kamu!" sinis Baron, la pun membawa Bara dalam gendongan nya lalu pergi begitu saja meninggalkan Renata tanpa sepatah kata pun.


"Sayang tunggu! Ra, Kakak pergi dulu ya!" Amara hanya mengangguk setelah Renata menjauh la pun juga bergegas beranjak pergi meninggalkan tempat itu.


"Amara apa kau ingin pulang denganku?"


"Tidak! terima kasih Dokter aku bisa pulang sendiri lagi pula aku mau ke klinik suamiku dulu."


"Baiklah kalau begitu aku duluan jaga dirimu baik-baik." Amara hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. Setelah mobil yang di tumpangi Dokter David menjauh dari pandangannya la pun segera memesan taxi online, dan segera meluncur memuju klinik, suaminya itu la ingin bertanya kenapa Darandra tidak menjemput bahkan menjenguknya.


"Turun di depan situ Pak, yang ada Kliniknya!" seru Amara pada sang sopir.


"Baik Neng.!" timpal sang Sopir. Namun baru saja kakinya akan berpijak di tanah tiba-tiba saja, la di suguhkan dengan sebuah pemandangan yang tak di inginkannya. Tangannya kini mengepal,


"Pak antar saya ke danau!"


"Tapi Neng bukankah tadi Neng mau turun?" tanya sopir heran.


"Tidak jadi pak!" sang sopir pun akhirnya mengikuti apa yang di inginkan Amara.


Dan di sinilah la menangis meluapkan segala rasa sakit yang ada di hatinya, bagaimana tidak dengan mata kepalanya sendiri la melihat Darandra menggendong tubuh Tasya ala, bridal style dan membawanya masuk ke klinik.

__ADS_1


"Mungkin sebaiknya aku memang harus melupakan semuanya, agar aku tidak lagi merasakan sakitnya mencintaimu Kak, dan di saat semuanya hilang dari memori ku, di saat itu aku akan mengangapmu sebagai orang asing. Tak akan ada lagi rasa cinta dan kenangan bersamamu."


"Amara kau sedang apa di sini kenapa kau menangis?"


__ADS_2