Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Kritis


__ADS_3

"Bagaimana keadaan Jelita? apa dia baik-baik saja?" begitu Dokter Rini keluar dari ruang pemeriksaan ia langsung di cecar pertanyaan dari Anggun yang dari tadi gelisah menunggu kabar tentang ke adaan sang Putri.


Dokter tidak langsung menjawab Ia menatap wajah gelisah yang terpancar dari kedua orangtua Jelita begitu pula dengan wajah Exel yang datar tidak bisa menyembunyikan sara gelisah nya.


"Begini Tan_"


"Tidaaak…kalian semua pasti bohong! kakak ku tidak mungkin pergi, kalian semua bohong padaku kan iya kan? ayo katakan padaku kalian semua bohong! kak Damara tidak mungkin pergi!" Suara teriakan histeris Amara menjeda kalimat Dokter Rini saat tangis pilu gadis itu memecah kesunyian di lorong rumah sakit dimana Daramara di tangani.


Semua yang mendengarkan teriakan itu hanya bisa membulatkan mata.


"Damara…!" cicit Dokter Rini dan Exel secara bersamaan, lalu mereka pun saling melempar pandangan, hingga tatapan Exel berpindah ke Anggun.


"Bunda aku dan Daddy kesana dulu kasian Amara dia sendirian dia pasti sangat


terpukul."


"Iya, iya pergilah Nak biarkan Bunda disini." Sahut Anggun menggangguk cepat.


"Aku ikut kalian biar aku yang menang kan Amara!" seru Darandra yang tiba-tiba saja muncul di tengah-tengah mereka.


Exel pun hanya mengangguk tanpa menjawab nya. Mereka bertiga pun segera menuju (IGD). Dimana Tim Dokter sedang berusaha berjuang menangani Damara Namun setelah lama bersusah payah seorang Dokter keluar untuk memberi tahu kan kalau nyawa Damara tidak bisa lagi di selamatkan.


"Am-ma-ra…" Ucapan Darandra tersendat saat ingin menyerukan nama Amara namun hal yang tak terduga harus terjadi tepat di depan matanya, tangannya mengepal saat melihat Amara di perlakukan lembut oleh Danu, lelaki itu memeluk dan mengusap rambut Amara yang hanya sebahu itu.


"Amara aku mohon tenangkan dirimu, kita pasti bisa melewati semuanya dengan baik, aku mohon kita sama-sama berdoa semoga Damara di berikan ke ajaiban" Danu nampak terus memberikan support nya pada Amara tanpa menyadari kehadiran ketiga orang di dekat mereka.

__ADS_1


"Tapi Kak, aku, aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain Kak, Dama bagaimana aku akan menjalani hidupku kedepannya, hiks hiks hiks"


"Masih ada aku Ra…! mam-maksudku kami." Ucap Darandra gugup saat menyadari Exel dan Rafa menatap nya dengan tatapan aneh. Amara dan Danu pun berbalik ke arah sumber suara dan ternyata sudah ada Dad. Rafa, Exel, dan juga Dokter Darandra, keduanya langsung mengurai pelukan mereka.


"Maafkan kami jika kami tidak menyadari ke hadiran kalian." Ujar Danu merasa tak enak hati.


"Tidak apa-apa kami sangat mengerti dengan situasinya, Nak kamu jangan takut kami juga masih di sini bersama mu benar seperti apa yang di katakan Darandra tadi." Sela Rafa mengusap lembut kepala Amara.


Sarangkan Amara bukannya diam malah semakin mengencangkan suara tangisnya membuat semuanya saling menatap binggung. Namun tak lama kemudian Amara pun menyadari dirinya sedang di perhatikan. Dengan cepat menyeka air matanya.


"Maafkan aku tapi bolehkah aku memanggimu Daddy dan memelukmu?" ucap Amara di sela isak tangisnya.


"Bukannya menjawab Rafa langsung meraih tubuh mungil gadis di depannya, yang sudah menjadi adik ipar Putrinya tersebut.


"Dad, Kak, Dama...sudah tidak bisa tertolong lagi aku mohon katakan pada semua dokter untuk menyembuhkan Kakak ku aku mohon Dad," Amara menjatuhkan tubuhnya bersimpuh di depan kaki Dad. Rafa sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


Amara pun memperhatikan kemana arah pandangan mata Dad, Rafa.


"Kak, Andra boleh kita bicara empat mata sebentar?" pintanya, lalu segera di angguki oleh Darandra yang kini berjalan agak menjauh, yang di ikuti oleh Amara.


"Cepatlah bicara apa yang ingin kau katakan dan bicarakan padaku!" serunya pada Amara yang masih diam tanpa bicara sepatah katapun, Amara menatap sendu Darandra sesaat kemudian ia pun meraih tangan Darandra, membuat Darandra membulatkan matanya dengan sempurna, karena ini kali pertama Amara menyentuh tangannya semenjak kejadian pelecehan itu. Bahkan sejak saat itu Amara terkesan cuek dan terkesan irit bicara padanya, apa lagi di saat gadis di depan nya itu sudah dia ketahui menjalin hubungan yang serius dengan Danu Sanjaya. Seorang pengusaha muda sukses yang sangat kaya.


"Dokter, aku mohon tolong selamatkan Kak, Dama, dan aku janji akan mengikuti segala keinginan Anda Dokter, asalkan Kak, Dama, aku juga janji akan memenuhi permintaan mu waktu itu" Ucapnya menunduk dengan suara hampir tak terdengar.


Darandra yang mendengar permohonan Amara pun merasa terenyuh namun, sesaat kemudian ia menarik ujung bibirnya untuk tersenyum.

__ADS_1


"Apa kamu yakin akan mengikuti semua yang aku inginkan?" tanya Darandra dengan nada yang tidak percaya.


"Iya…!" sahut Amara cepat karena ia tau pasti apa yang Darandra inginkan darinya.


"Tapi Ra Kakakmu sudah tidak bisa di selamatkan Kamu dengarkan kata Dokter tadi menjelaskan kalau Damara sudah tidak Bernya_"


Plak…


"Cukup…! aku memintamu untuk menyelamatkan Kakak ku tidak untuk berkata seperti itu!" Teriaknya histeris memberikan tamparan pada wajah Darandra. Setelah itu Amara tiba-tiba saja terkulai beruntung dengan sigap Darandra menggendong tubuh nya, hingga tak jatuh membentur lantai


"Apa yang kau lakukan dan katakan padanya?" Geram Dad, Rafa.


"Tit_tidak ada Dad, dia hanya syok, Andra berusaha memberikannya pengertian agar dia bisa menerima kenyataan." Jawab Darandra gugup karena mendapat kan tatapan mematikan dari Dad, Rafa.


"Andra mau membawanya untuk di rawat dan di periksa dulu dan setelah it_"


Lagi-lagi ucapannya terjeda si saat melihat Dokter Rini tergopoh-gopoh dan beberapa Tim Dokter lainnya mendorong bankar milik Jelita.


"Jelita? ada apa dengan Jelita kenapa dia di bawa keruang operasi?" tanya Darandra dengan wajah terkejutnya.


"Jelita mengalami pendarahan hebat kita harus menyelamatkan bayinya satu-satunya jalan adalah operasi Cesar. karena keadaannya juga sangat kritis, dia hanya meminta di operasi di samping suaminya"


"Baiklah panggil semua tim dan kau talong bawa Amara dan jaga dia aku akan memanggil kan dokter untuk memeriksanya."


Serunya pada Danu sambil menyerah kan tubuh Amara kalau saja tidak sedang gawat ia juga tidak akan sudi jika Amara di sentuh oleh Danu. Tapi apa boleh buat mau tidak mau ia harus bertindak cepat. Sedangkan Dad, Rafa dan Exel nampak begitu panik terlebih lagi Anggun. Saat semua Tim dokter sudah mulai masuk keruang operasi.

__ADS_1


"Kak, Exel Kemarilah kau juga ikut masuk! kau harus membawa ini karena Jelita yang memintanya!" seru Darandra sambil menyerah kan sebuah Sebuah handycam.


__ADS_2