Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Menjadi teman spesial


__ADS_3

Setelah memakan bubur Ayam spesial kesukaanny hingga tandas Amara pun segera meminum obat yang juga di berikan oleh Darandra.


"Terima kasih kak!" cicitnya menatap lekat wajah yang selalu membuatnya berdebar itu.


"Kak, apa boleh aku minta sesuatu hari ini sama kamu?" tanyanya memberanikan diri.


"Apa itu?" tanya Darandra


"Temani aku malam ini disini ya!" pintanya dengan harap-harap cemas takut kalau Darandra menolak. padahal di dalam hatinya dia hanya ingin memastikan apakah perasaannya itu benar kalau Darandra itu membalas cintanya atau tidak.


"Sebenarnya aku ingin menanyakan hal itu dari tadi tapi aku takut kamu tak ingin aku temani apa lagi malam ini kebetulan aku tak ada tugas." Balas Darandra dan sontak membuat Amara langsung berbinar.


"Benarkah, Kakak mua menemaniku malam ini?" tanya Amara kembali ingin meyakinkan dirinya dan di jawab anggukan oleh Darandra.


Dan tanpa sadar Amara yang merasa begitu senang dan bahagia itu tiba-tiba saja memeluk tubuh Darandra yag memang tengah duduk di tepi ranjangnya itu..


"Terima kasih Kak,!" cicitnya Darandra yang di peluk tiba-tiba tak bisa menahan tubuhnya hingga membuat tubuhnya jatuh dengan posisi miring sedang Wajahnya jatuh tepat menimpa wajah Amara. Membuat hidung mereka bertemu.


Deg.


Jantung mereka berdua pun berdegup begitu kencang. Kedua pasang mata itu pun saling mengunci. Lama mereka saling menatap, dan tanpa sadar. Tangan Darandra membingkai wajah Amara yang terlihat begitu merona dan entah mengapa aroma tubuh Amara mampu membangkitkan gejolak dalam dirinya, dan entah sejak kapan ibu jarinya mengusap lembut bibir berwarna ping pucat itu, bahkan kini ia mulai berani mendekati bibir tersebut dan menempelkan bibirnya, Amara yang kaku sejak tadi hanya bisa memejamkan matanya karena dia sudah tidak kuat bertatapan terlalu lama dengan orang Yang sangat di cintainya itu dengan jarak yang sangat begitu dekat, Darandra mengigit lembut bibir Amara hingga membuatnya membuka sedikit bibirnya. Dan Itu membuat Darandra dengan leluasa mengexplor di dalamnya kedua bibir itu pun terus saling bertautan, sedang kedua tangan mereka membingkai untuk memperdalam tautannya.


Dan tautan itu lama-lama seperti menuntut karena kini ia pun beralih mennyecap ceruk leher Amara meninggal kan beberapa tanda merah di sana. Hingga hawa panas mulai terasa di ruangan tersebut, apa lagi saat tangan Darandra mulai menelusup masuk di balik baju yang di pakai Amara dan membelai dengan lembut dua gundukan yang masih kencang itu.


"Aahk..." Satu d3sahan lolos keluar membuat Amara begitu malu. Ia berusaha mengontrol otaknya yang mulai bleng, walau sebenarnya ia juga meminta lebih dari pada ini. Namun tetap saja ia takut akan murka dari sang Kakak.


"Kak, jangan sekarang! aku mohon!" pintanya dengan suara yang tertahan.


Dan itu mampu membuat Darandra tersadar dengan apa yang dilakukannya. Dengan cepat ia menarik diri atas tubuh Amara. Dan dengan perasaan malu ia menatap Amara yang hampir saja ia nodai, sedangkan dia juga merasa heran kenapa ia begitu bersemangat ingin melakukannya, padahal tidak ada ketertarikan, untuk ia mencintai Amara.


"****...Damn,! kenapa aku jadi sekacau ini begitu berdekatan dengannya? umpatnya dalam hati maafkan aku Tasya hampir saja aku menodai cinta kita. Umpatnya dalam hati.

__ADS_1


"Maafkan aku yang telah berbuat tidak senonoh padamu kau bisa menghukum ku dengan apa pun tapi aku mohon maafkan aku!" ucap nya dengan raut wajah yang benar-benar merasa bersalah.


Amara hanya bisa tersenyum mendengar ucapan maaf dari pria itu.


"Baiklah aku akan menghukum mu Kakak harus berjanji akan selalu menemaniku untuk terapi terus terapi" pintanya.


"Hanya itu?" Darandra mengerutkan alisnya.


"Iya hanya itu dan tidak usah meminta maaf seperti itu. Walau kesalahan Kakak jauh lebih besar aku Amara akan selalu memaafkan Kakak." Ucapnya penuh semangat


"Terima kasih sudah memaafkan ku jadi mulai sekarang maukah kamu berteman denganku?" tanya Darandra membuat Amara kembali tersenyum.


"Kenapa kamu hanya tersenyum tak menjawab pertanyaan ku?" tanya Darandra binggung.


"Karena aku dari dulu kan sudah berteman dengan Kakak, apa Kakak lupa kalau kita pernah satu kampus" Ujar Amara mengingatkan.


"Oh iya, untung kamu mengingatkan aku, Aku hampir lupa," kelakarnya


"Teman spesial?"


"Iya teman spesial itu akan selalu berbagi suka suda memberi kebahagiaan untuk di rasakan bersama." Jawabnya menjelaskan


"Mmm-ide yang tidak buruk" celetuk Amara kemudian merekapun tertawa bersama. Dan setelah itu ia pun segera memberi kabar ke pada Damara agar tidak usah kembali kerumah sakit lagi, walau sempat di tolak oleh Damara, dengan berbagai macam alasan akhirnya mereka berusaha menjelaska hingga Damara pun memberikan izinnya.


"Kau harus semangat untuk sembuh mungkin satu minggu lagi kau boleh pulang kerumah." Terang Damara, waktu di telpon.


"Bagaimana, mam-maksudku Kakak akan berbaring di mana?" gagap Amara bertanya.


"Tentu saja disana!" tunjuknya kearah sofa panjang yang cukup hanya untuk dua orang saja.


"Apa Kakak yakin mau tidur di situ? Tentu saja yakin kalau tidak di situ terus mau tidur gimana lagi coba.?"

__ADS_1


"Bagaimana kalau di sampingku saja, tempat tidurku kan luas untuk 3 orang saja Mungkin cukup kalau badannya sebesar badanku."


Jangan heran kalau tempat tidur yang Amara tempati itu begitu luas Karena sekarang ia sedang dirawat di ruang VIP.


"Kakak jangan khawatir kita beri aja pembatas di tengahnya jika Kakak takut akan menyentuh ku."


"Tapi apakah benar-benar kamu tidak apa-apa?"


"Benar Aku tidak apa-apa daripada Kakak tidur di atas sofa yang hanya cukup untuk dua orang itu." Jawab Amara


"Kalau kakak tidur di sofa badan Kakak akan pegal-pegal, kalau udah gitu siapa yang akan menjagaku? Kekeh Amara memberikan sarannya.


*


*


*


Sementara itu malam yang Temaram, kini mulai pekat Damara terus saja melajukan kecepatan mobilnya, hingga di atas rata-rata, tujuannya kini kembali kerumah besarnya.


Setelah Amara sempat menelpon memberinya kabar untuk melarangnya datang ke Rumah Sakit, walau sebenarnya ia tak setuju namun demi kesembuhan sang adik ia pun terpaksa menyetujuinya. Dan kini tujuannya untuk menyiksa wanita bodoh yang sudah membodohinya, ia ingin memberikannya perhitungan.


30 menit ia baru sampai dihalaman yang begitu luas itu. la pun beranjak turun dari mobilnya, lalu ia melangkah masuk menuju ruang utama ia celingak celinguk seperti kucing yang sedang mencari tikus.


"Nak, Damara sudah pulang?" cicit Bi Sumi.


"Bibi kau mengagetkan ku!" gagapnya karena terkejut.


"Maaf kan Bibi nak!" serunya


"Bi kemana wanita itu?" tanya nya lagi penyapu keseluruh sudut ruangan.

__ADS_1


"Entahlah Nak, kami di sini dari tadi tidak melihatnya seharian ini." Jawab Bi Sum


__ADS_2