Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Sayang Kau menyakitinya.


__ADS_3

"Am, apa perasaan mu_"


"Kalian jangan khawatir aku dan kak Andra sekarang hanya teman biasa," Jawabnya cepat menjeda kalimat Jelita karena ia tau betul arah pertanyaan, kakak iparnya itu.


"Dan apa kalian lupa kalau kak Danu sudah menyatakan keinginan nya untuk Melamar ku juga. Tapi aku mau setelah selesai kuliah.


Karena bukan saja lamaran aku juga ingin langsung menikah." Ucap nya mantap penuh keyakinan, karena seminggu yang lalu Danu sudah mengutarakan keinginannya, ingin memiliki Amara. Namun sebenarnya sampai hari ini ia belum bisa menerima nya.


"Baiklah kalau begitu aku pergi dulu nanti Kak, Andra nya kelamaan menunggu." selanya kemudian lekas meninggalkan Damara dan Jelita yang masih saling menatap.


"Sayang apa Danu bisa membuatnya bahagia?" tanya Jelita tiba-tiba.


"Maksud kamu?"


"Maksudku apa kamu tidak melihat Amara bibirnya bisa berkata tidak tapi hati dan tatapan matanya itu tidak bisa berdusta."


"Iya aku tau. Aku juga melihatnya, tapi dengan berjalannya waktu dan memberikan kesempatan untuk hubungan yang baru bukan tidak mungkin dia akan melupakan Darandra sepenuhnya."


"Aku juga berharap sama seperti itu hanya saja kata orang kita tidak akan mudah melupakan cinta pertama kita."


"Itu kata orang tapi kata ku tidak, buktinya aku bisa melupakan cinta pertamaku. Dengan wanita brengsek itu." Kesalnya mengingat kembali kebodohannya yang telah mencintai wanita yang bernama Renata itu.


"Buktinya kamu juga masih mengingatnya." sindir Jelita


"Sayang tapi aku beda mengingat nya di dalam kebencian." Jelasnya memeluk Jelita dari belakang sedangkan sagunya berpangku pada pundak Jelita.


"Tapi ingat perbedaan benci dan cinta itu tipis lo!" Sahut Jelita lagi.


"Jadi kamu berharap aku akan kembali lagi padanya."


"Coba saja kalau kamu berani kalau tidak ingin aku memenggal nya dengan brutal!" Ujarnya sambil meraih sesuatu yang ada di balik celana Damara lalu mencengkeramnya kuat, sambil melepaskan pelukan sang suami lalu beranjak pergi.


"Auh…sayang kau menyakiti nya bagaimana bisa kamu melakukan ini padanya bagaimana kalau aku tidak bisa mengunjungi anak ku lagi."


"Dan aku tidak akan mengizinkanmu mengunjungi nya" cicit Jelita sambil berlalu. "Sayang yang benar saja, sayang kamu mau ke mana tunggu aku jangan lari nanti kamu jatuh." Dan benar saja Jelita yang terus berlari kecil menghindari Damara agar tidak bisa menangkap nya tiba-tiba terpeleset.


"Aaaaauu…!"


"Jelita…!"


Brugh.


"Apa kamu tidak apa-apa?" tanya Damara khawatir melihat Jelita masih memejamkan matanya dengan nafas yang dua kali lebih cepat.

__ADS_1


"Sayang aku_"


"Apa ada yang sakit?" Jelita hanya menggelengkan kepalanya cepat.


"Lain kali jangan seperti tadi, bagaimana jika anak ku kenapa-kenapa." Elusnya pada perut Jelita.


Deg.


"kenapa Aku merasa, kamu seolah-olah hanya memikirkan anak kita tapi tidak denganku."


Namun itu hanya dalam hati saja.


"Sayang apa kamu mendengar ku?" Damara yang khawatir dengan istri dan anak dalam kandungan Jelita segera membalikkan tubuhnya lalu mengangkat tubuh Jelita.


"Sayang kamu kenapa apa ada yang sakit? jawab aku jangan diam saja!" ucapnya benar-benar khawatir


"A-aku baik-balik saja maafkan aku."


"Tidak perlu meminta maaf, aku yang salah seharusnya aku yang meminta maaf, maaf kan aku yang salah bicara. Percaya padaku aku hanya mencintai mu hmm."


Jelita pun hanya mengangguk dalam dekapan lembut suaminya yang membuat hati nya kembali terasa nyaman.


"Apa hari ini kamu tidak ke kantor?" tanya Jelita yang masih duduk di pangkuan suaminya itu.


Jelita yang di tatap menelan dengan susah payah salivanya, karena jika Damara memilih menemaninya hanya di rumah maka bukan tidak mungkin ia akan di mangsa seharian oleh suaminya itu.


"Sayang kamu kenapa?"


"Tidak apa-apa" jawab Jelita cepat sambil memegang tengkuknya. Membuat Damara mengerutkan alisnya.


"Sayang boleh aku turun?" tanya Jelita memberanikan diri.


"Kamu mau kemana?" bukannya menjawab Damara balik bertanya.


"A-Aku mau kekamar mau istirahat dulu sejenak." Ucapnya lalu turun dari pangkuan suaminya.


"Aaauuh…Sayang kau menyakiti nya!" pekik Damara.


"Ses-siapa itu? Ak-Aku tidak menyakiti siapa-siapa." Jawab Jelita gugup.


"Kemarilah!" panggil Damara Jelita pun mendekat dan Damara, pun segera meraih tangan Jelita, dan meletakkan pada miliknya.


"Kamu sudah membuatnya sakit jadi hari ini kamu harus merawatnya dengan benar." Ucap nya sambil tersenyum jahil.

__ADS_1


Glek.


Dengan susah payah Jelita menelan salivanya. Bahkan kini tubuhnya sudah dalam gendongan Damara.


"Sayang turunkan aku kita mau kemana?"


"Ya tentu saja kita mau ke kamar karena tugasmu harus merawatnya."


"Tap-tapi. A-Aku ummp" Suaranya hilang dalam tautan bibir Damara.


"Sayang…!"


"Hm…!"


"Apa sudah selesai, Aku capek mau istirahat dulu." Rengeknya manja.


"Tungu dulu lima menit lagi yang kencang sayang kalau tekananmu lemah seperti itu kapan kelar nya."


"Tapi aku benar-benar sudah tidak kuat, apa lagi keringatku sudah banyak begini" protesnya.


"Satu menit lagi yang kuat tekannya, ya, ya seperti itu bagus-bagus sekali oh nikmatnya"


"Tapi kakiku pegel, harus naik berdiri di atas seperti ini kenapa tidak memangil tukang pijit aja sih, dari pada aku yang naik menginjak-nginjak badan mu."


"Kemarilah!" Damara meraih tangan istrinya dan membaringkannya di samping nya.


"Dengarkan aku, pertama ini adalah hukuman karena kamu telah menyakitinya, dan yang kedua aku tidak mau tubuh ku di jamah, orang lain, kamu tau Amara saja tidak akan pernah mau memeluk ku kalau bukan aku yang memeluknya terlebih dahulu.


Dan yang ke tiga terima kasih, sekarang tidurlah biarkan aku yang memijit kaki mu."


"Tapi say_"


"Usst…! apa kamu mau aku menerkammu!"


"Tidak!"


"Kalau begitu diamlah nikmatilah sentuhan tanganku."


Dan benar saja Damara dengan lihainya memijat seluruh kaki milik Jelita hingga membuatnya kini mengeluarkan dengkuran halusnya.


Damara memperbaiki posisi tubuh sang istri lalu meraih selimut dan menyelimuti tubuh Jelita, di tatap nya wajah cantik yang semakin berisi semenjak dia hamil itu.


"Sayang, apa kamu tahu, kamu bukan yang pertama, tapi kamu adalah yang terakhir bagiku untuk selamanya, dan hatiku hingga saat ini masih takut jika suatu saat kamu mengetahui kejadian yang sebenarnya, aku takut kamu akan pergi meninggal kan aku dan tidak ingin memaafkan ku lagi." Damara memeluk erat sang istri seolah iya takut kehilangan.

__ADS_1


"Terima kasih sayang karena sudah mau mengandung anakku, aku sangat mencintai kalian berdua karena kalian adalah penyemangat ku, aku berjanji akan membuat kalian, bahagia, kamu jaga Bunda ya sayang jangan nakal." Ucapnya pada perut Jleita sambil mengelus lembut perut sang istri lalu mencium nya.


__ADS_2