Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Aku mencintai Lisa


__ADS_3

"Tunggu dulu Renata!" Bukan Bu Sofia yang memanggil tetapi Baron.


"Baron kamu sudah pulang?" cicit Bu Sofia saat melihat Baron. Dan begitu juga dengan Renata la pun membalikkan punggungnya melihat ke arah Baron yang mendekat.


"Ibu,, lbu di sini juga?" tanya Baron sambil melangkah lalu menyalim tangan sang ibu.


"Iya,, lbu baru saja pulang setengah jam yang lalu, ibu sempat memasak, masakan kesukaan Renata, tapi sepertinya Renata Sedang Tidak selera makan. Apa kamu sakit nak ibu lihat dan perhatikan sepertinya wajahmu juga terlihat pucat?."


Mendengar apa yang dikatakan lbu Sofia membuat Renata gugup, dan salah tingkah


"Renata Tidak apa-apa kok, Bu. beneran Rena mungkin hanya sedikit capek saja. Dan Maaf, ya! bu, Renata benar-benar sudah kenyang. Nanti kalau Rena sudah lapar, Rena pasti akan makan masakan Ibu. Terima kasih Ibu sudah capek-capek memasak buat Renata." Peluk Renata sambil mengusap punggung lbu mertuanya.


"Ya,, sudah sana kamu istirahat saja! dan kamu Baron, apa kamu ingin makan juga?. Biar ibu yang melayanimu."


"Tidak,, Ibu, Baron juga sudah kenyang tadi sebelum pulang Baron sempat Makan di luar. Baron juga pengen banget istirahat Bu. Baron capek."


"Ya sudah kalau begitu biar makanannya Ibu simpan." Renata pun pamit pergi undur diri dan diikuti oleh Baron dari belakang.


"Ren, Tunggu dulu Ren! aku ingin berbicara serius padamu!" ucap Baron menarik tangan Renata dari belakang. Hingga membuat wajah mereka begitu dekat.


"Apa yang harus kita bicarakan Sayang, maksudku Baron, toh sekarang semuanya sudah berakhir kan? Kamu tidak usah capek-capek menjelaskan semuanya padaku, aku sudah tahu Posisiku di mana, dan aku tahu apa yang kau inginkan sekarang, kamu jangan khawatir masalah lbu, aku akan bicara pada lbu, tapi pelan-pelan. Kamu harus sabar, tidak perlu Terlalu buru-buru karena kamu tahu sendiri lbu itu seperti apa. Dia orangnya lembut tapi dia juga tegas persis sama seperti kamu." ucap Renata panjang kali lebar,dan Menatap lekat lelaki yang kini telah membuatnya mengandung benihnya itu.


"lstirahatlah,, aku akan siapkan baju untukmu. Aku juga akan beristirahat karena hari ini Aku merasa capek," Renata sengaja memberikan alasan tersebut karena ia tidak menginginkan Baron untuk membicarakan masalahnya bersama Lisa, cukup sekarang ia mengetahui apa yang diinginkan Baron, dan dia pun akan siap mundur jika baron sudah tidak menginginkan nya lagi.


"Aawwh...perutku! isssth…"

__ADS_1


"kamu Kenapa Ren?" tanya Baron gelisah saat melihat Renata meremas perutnya.


"Tidak,, aku tidak apa-apa. Hanya saja perutku terasa sakit, kau tahu sendiri kan kalau aku sedang ingin datang bulan pasti akan seperti ini" ucapnya lagi berbohong, dan Baron pun mengangguk karena dia mengingat kejadian yang sama sebulan yang lalu, Renata juga pernah mengalami seperti ini, membuatnya untuk percaya apa yang dikatakan Renata.


"Baiklah,, sekarang kamu tidur, dan aku akan membersihkan badanku dulu." Renata pun hanya mengangguk pelan dan menundukkan bokongnya di tempat tidur, namun Ia pun berusaha untuk kembali berdiri dan berjalan menuju lemari pakaian milik Baron, Ia pun mempersiapkan baju tidur untuk suaminya itu. Setelah menyiapkan semuanya Renata kembali duduk di tempat tidur.


"Ya Allah kenapa perutku tambah semakin sakit seperti ini? Kuatkan Aku dan janin dalam perutku ini ya Allah!" doa Renata dalam hati sambil terus meringis kesakitan.


"Oh iya,, obat. Aku lupa kalau belum minum obat dan vitaminnya, mungkin dengan aku meminumnya akan sedikit baikan," gumamnya pada diri sendiri Renata pun segera mengambil air yang berada di atas Nakas lalu menumpahkannya ke dalam gelas, dan dengan cepat dia pun mengeluarkan beberapa obat di tangannya sebelum Baron keluar dari kamar mandi.


Dia pun dengan cepat meminum obat tersebut setelah semuanya beres dia kembali menyimpan obatnya di dalam laci yang tak dapat dilihat oleh siapapun.


Ceklek.


Suara pintu kamar mandi yang terbuka, Renata menatap tubuh yang hanya memakai balutan handuk di pinggangnya itu. Lama ia termenung memperhatikan prianya tanpa berkedip.


"A a aku...!" Gugup Renata saat aroma nafas segar Baron begitu dekat menerpa wajah nya.


"Kau kenapa? dan lihatlah wajahmu ini sudah bersemu merah, kau bilang saja padaku, kalau malam ini kau menginginkan aku. lya kan?" ucap Baron sambil terus memberikan sentuhan lembut di wajah Renata.


"Aku baru, aku hanya__ummp" ucapan Renata tenggelam dalam tautan Baron.


"Dengarkan aku, Renata. Sampai waktunya kita akan berpisah, Aku tetaplah milikmu.


Kau bisa melakukannya sesuka hatimu."

__ADS_1


"Tet-tapi tidak aku hanya__" kembali Baron menautkan bibirnya menyecap dengan lembut bibir yang sudah menjadi candu untuknya itu.


"Kau tau Renata, aku itu mencintai Lisa. Sangat-sangat Mencintainya, tapi entah mengapa tubuhmu ini selalu ingin membuatku gila seolah-olah Kau, adalah canduku. Tidak apa-apa kan kalau aku melakukannya sekarang. Anggap saja untuk kenangan perpisahan kita." Bisik Baron disaat menjeda tautanya itu.


Renata mengangguk lemah mendengar permintaan suaminya itu. Benar apa yang dikatakan Baron la harus memberikan kenangan yang terbaik untuk pria yang dicintainya itu, karena mungkin tak lama lagi ia akan berada di dunia ini, dia akan memberikan kenangan indah untuk suaminya itu sebelum dia benar-benar pergi meninggalkan Baron untuk selama-lamanya.


"Baron, Aku ingin bertanya sesuatu padamu." "Renata Aku tidak suka mendengar mu memanggil namaku apa lagi di saat kita sedang bercinta seperti ini, aku hanya suka kau manggilku sayang!"


"Baiklah, sayang, Apa boleh aku bertanya sesuatu padamu?"


"bertanyalah kalau aku bisa menjawabnya akan aku jawab."


"Begini bagaimana seandainya, ini Seandai nya saja ya, Seandainya Aku, ditakdirkan bisa hamil yang punya anak darimu bagaimana Apakah kau akan tetap menikah dengan Lisa? atau__"


"Untuk apa kau menanyakan kepadaku kalau kau sudah tahu sendiri jawabannya bagaimana!" ucap Baron menjeda kalimat Renata dengan kesal lalu la pun melangkah pergi meninggalkan Renata.


"Maafkan Aku, aku hanya__"


"Sudah cukup Renata! sudah berapa kali aku mengatakannya padamu. Aku tidak akan pernah ingin mempunyai anak dari orang yang tidak pernah aku cintai, dan kau tahu sendiri Lisa Adalah cintaku dan sekarang kami sudah bertemu dan kami akan menikah apa kau belum paham tentang semua itu!" hardik Baron menatap tajam. Kembali memotong ucapan Renata.


"Dan kau jangan pernah bermimpi untuk bisa hamil jika kandungan mu saja tidak ada!"


Deg.


Renata hanya bisa menunduk terdiam mendengar kata-kata yang terlontar keluar dari mulut Baron, dan itu membuatnya memantapkan hati untuk tidak akan pernah mengatakan kepada siapapun kalau dia tengah mengandung anak dari Baron. Biarlah dia menyimpan sendiri rahasianya hingga kelak ajal menjemputnya.

__ADS_1


"Maafkan,, Bunda sayang...Bunda sudah berusaha melakukan semuanya untukmu, tapi ternyata sia-sia saja. Yang Bunda takutkan hanya jika Bunda tiada. Bunda takut kau akan bernasip sama seperti Bunda, tak di terima di keluargamu sendiri, lalu siapa yang akan menjagamu. Bunda tidak akan pernah mau membuat hidupmu seperti hidup Bunda" lirih Renata mengusap perutnya yang masih rata.


__ADS_2