
"Bagaimana keadaan Kak, Renata dokter?" tanya Amara khawatir, begitu Darandra keluar.
"Aku perlu bicara sama kamu sebentar."
"Ada apa dokter apa ini tentang Kak Renata.?" "Benar sekali Sepertinya dia sedang hamil dan usia kandungannya baru menginjak satu bulan"
"Mustahil? ini tidak mungkin dokter apa aku tidak salah dengar?"
"Apa kau meragukan kinerjaku sebagai seorang dokter."
"Tit-tidak Aku hanya tidak percaya. Bukankah selama ini Kak Renata sudah mengangkat kandungannya. Lalu kenapa dia bisa hamil?"
"ltu aku tidak tahu, kenapa kau menanyakan kepadaku? kau tanyakan saja pada temanmu itu, dan Kau habis Dari mana saja dengan pakaian seperti itu? dan lihat Penampilanmu itu sangat berantakan sekali."
"Aku sedang__"
"Maaf dokter, pasien Anda sudah sadar" ucap seorang perawat menjeda kalimat Amara Sebentar lagi aku ke sana. Kau belum menjawab pertanyaanku!"
"Sebaiknya kita segera menemui Kak Renata." Usul Amara, Darandra pun mengikuti langkah Amara.
Ceklek,
Suara pintu terbuka.
"Hai,, Kak Bagaimana keadaanmu? Bagaimana perasaanmu? Apakah kau merasa baik-baik saja?" rentetan pertanyaan keluar begitu saja dari bibir gadis tersebut.
"Amara kau? kenapa aku bisa berada di sini?" "Iya Kak, Kakak berada di salah satu klinik, kakak tadi ditemukan pingsan di jalan, untung Amara di tempat kejadian, Amara meminta bantuan pada orang-orang untuk membawa kakak kemari. Dan Selamat ya Kak ternyata kakak sebentar lagi akan menjadi seorang ibu,"
"Apa maksudmu Amara?" Kejut Renata tak lantas percaya begitu saja.
"lya kak, aku serius sebentar lagi kakak akan menjadi seorang ibu. Karena sekarang kakak sudah hamil dan kandungan kakak baru masuk di satu bulan." Ucap Amara sumringah memberi penjelasan.
"Ap-apa aku tidak salah dengar Amara?"
"Tidak Kak, Kakak tidak salah dengar" Renata pun meneteskan air mata bahagianya sambil mengusap perutnya yang masih rata, ia begitu terharu karena masih bisa diberi kepercayaan untuk memiliki seorang anak.
"Kak, Renata kenapa menangis?"
__ADS_1
"Amara,, Kakak sangat bahagia sekali."
"Sekarang kakak telepon suami kakak untuk menjemput kakak pasti dia akan bahagia mendengar kabar berita ini.
"Tidak! Amara, jangan…jangan… lakukan itu Aku tidak ingin siapapun mengetahuinya, cukup kau saja yang mengetahui kalau aku sedang hamil."
"Tapi kenapa Kak? Bukankah berita ini akan membuat suami kakak bahagia."
"Mungkin,, bagi sebagian orang jika saling mencintai, kehadiran anak itu akan membawa kebahagiaan untuk mereka, tapi tidak bagi diriku Amara, Mas Baron tidak pernah mencintaiku." Ucapnya sendu.
"Walau Sekarang aku merasakan bahwa aku sangat mencintainya, tapi dia tidak akan pernah mencintaiku Amara, dan orang yang tidak pernah mencintaimu mana mungkin dia menginginkan seorang anak lahir dari perutmu. Amara perjanjilah pada kakak, kau tidak akan menceritakan ini kepada siapapun Berjanjilah, Amara," Renata menggenggam erat tangan Amara, dengan tatapan penuh harap.
"Baiklah,, kak, aku berjanji tidak akan mengatakannya pada siapapun."
"Tapi bagaimana kalau Dokter__"
"Kamu tenang saja aku tidak akan mengatakannya tapi ada hal yang harus aku bicarakan Ini masalah kandungan Anda Sela Darandra yang tiba-tiba saja muncul di antara mereka.
"Kak, perkenalkan dia dokter Darandra yang memeriksa kakak."
"Iya Kak, dan kami sudah menikah"
"Apa? kamu sudah menikah tapi tidak memberi kabar sama kakak,"
"Panjang ceritanya Kak, sekarang bagaimana Kak, apa kakak mau aku antar pulang? biarkan aku yang akan mengantarkan Kakak pulang."
"Tidak usah repot-repot Amara, Kakak bisa pulang sendiri."
"Tidak Kak, Amara tidak merasa direpotkan kok, kakak harus aku antar pulang kalau tidak aku yang akan menyuruh suami kakak untuk menjemput kakak ke sini!" ancam Amara.
"Ya ya ya oke baiklah. Tapi sebelumnya bawa aku singgah ke kafe dulu yang ada di seberang jalan."
"Baiklah Kak,"
"Maaf Bagaimana kalau saya menjelaskan semuanya tentang sesuatu yang ada dalam diri Anda maksud saya, dengan kandungan anda." Sela Darandra lagi yang dari tadi hanya mendengar ocehan kedua wanita di depannya itu.
"Katakan saja dokter karena saya sudah mengetahui semuanya."
__ADS_1
"Apa jadi Anda sudah tau tapi kenapa Anda harus melakukan hal itu? Anda bisa membahayakan nyawa Anda!"
"Tidak apa-apa dokter toh, semua orang yang hidup pasti akan pergi jika sudah waktunya kita semua pasti akan mati." Amara yang mendengar ucapan Renata hanya bisa mengurutkan alisnya bingung, tidak mengerti apa yang dimaksudkan Renata.
"Tapi ini benar-benar akan membahayakan diri anda karena seharusnya anda menjalani kemoterapi, bukan dengan hamil seperti ini. bukan anda saja, tapi bayi atau janin Anda lemah, baik anda dan janin Anda pun ada dalam bahaya, untuk itu Anda harus mengkonsumsi beberapa resep obat dan vitamin yang akan saya berikan pada anda, Anda tinggal menembusnya di apotek nanti."
"Baiklah dokter, terima kasih apapun resikonya akan saya hadapi karena saya sudah siap untuk semua itu. Jika anak saya ikut dengan saya maka itu tidak apa-apa karena jika dia lahir ke dunia ini pun tak ada yang akan mengasihinya, dan aku tidak akan membiarkan anakku hidup terbengkalai seperti diriku. Apakah saya sudah boleh pulang sekarang dokter.?"
"Iya,, anda sudah boleh pulang tapi beristirahatlah dulu jangan terlalu capek karena ini adalah awal trimester kehamilan anda."
"Baiklah terima kasih banyak dokter, dan setidaknya kalian berdua juga menyusul karena kata orang anak itu adalah pengikat Cinta Kedua orang tuanya Dan selamat atas pernikahan kalian," Darandra hanya tersenyum tipis saat netranya bertemu dengan Amara, Namum dengan cepat Amara membuang wajahnya, ia memilih menatap ketempat lain.
"Ayo Kak, nanti kita telat" Sela Amara meraih tangan Renata lalu segera membawanya pergi Iya tidak ingin berlama-lama berada di depan Darandra,
"Anak itu benar-benar. Kenapa dia tidak pamit padaku menyebalkan sekali." Omel Darandra kesal karena merasa di acuhkan oleh Amara.
"Tunggu Amara!"
Amara yang baru saja hendak keluar mendengar suara teriakan Darandra Ia pun Berhenti sejenak untuk memastikan suara itu, dan benar saja Darandra menyusulnya di belakang.
"Bawalah mobilnya, setelah itu Cepatlah, kau pulang aku tidak ingin melihatmu keluyuran kemana-mana!" ucap nya sambil menyodorkan sebuah kunci.
"Tapi maaf sepertinya aku tidak membutuhkan mobil, aku mungkin akan naik taxi. Bagaimana menurutmu Kakak?" Tanya Amara menatap Renata.
"Kalau aku sih terserah kamu saja Amara" "Bisa tidak sekali ini saja, kamu tidak menolak bahkan berusaha untuk tidak menerima apa yang aku berikan,"
"Bukannya menolak, aku hanya tidak ingin terbiasa untuk dikasihani, aku hanya berharap sampai waktunya tiba kita tidak ada saling menyakiti, atau saling menyalahkan. Aku hanya ingin menjalani semuanya baik-baik saja. Tanpa ada keburukan di dalamnya, aku mohon mengertilah. Aku hanya ingin menjalani hari-hariku dengan tenang tanpa memikirkan hal-hal yang akan mengganggu hati dan pikiranku."
Deg.
Hati Darandra begitu tersentil mendapat sindiran telak dari Amara.
"Ya sudah terserah padamu tapi aku ingin menawarkan sesuatu, Apa kau mau menjadi asisten pribadiku? Kau harus menemani aku di sini, kamu jangan takut masalah gaji pasti aku akan memberikannya padamu, bagaimana?"
"Aku akan memikirkannya nanti"
"Jangan terlalu lama dipikirkan, karena kau sendiri nanti akan menyesal kalau menolak."
__ADS_1