
Karena merasa di abaikan ketika Amara menatap ketempat lain membuat Darandra merasa kesal, ia mencengkram kuat lengan wanita yang selalu di anggapnya Anak kecil itu.
"Tatap aku Amara!"
"Tidak! sekarang keluarlah dari kamarku!" usirnya.
"Kalau aku tidak mau!"
"Maka biarkan aku yang keluar." Setelah berucap Amara pun benar-benar berbalik pergi namun kembali Darandra menarik nya hingga.
Bugh.
"Berani kau melangkah keluar dari kamar ini maka akan aku patahkan kakimu! akan ku buat kau tidak bisa berjalan lagi.!" Ancamnya masih mencengkram lengan Amara.
"Auh...sakit lepaskan aku brengsek! kau menyakiti ku!"
"Kau berani-beraninya kau mengatakan aku brengsek! Oh sekarang ternyata nyalimu besar juga ya!" Darandra mencoba untuk ******* bibir Amara namun dengan cepat Amara memberikan tamprannya.
Plak.
"Kau berani-beraninya kau menamparku!"
"Kenapa? apa kau juga akan menamparku juga silahkan aku tidak takut sudah cukup aku sudah muak dengan semuanya, aku sudah muak harus berpura-pura baik-baik saja di depanmu, kau ingin menjadikan aku istri sirrimu kan hanya karena kau butuh anak baiklah aku akan menurut tapi aku mohon menjauh lah dari hidupku!"
"Apa menjauh?" Darandra tersenyum miring mendengar kata-kata Jelita.
"Dengarkan aku, kau yang membuatku tidak bisa memiliki keturunan dari orang lain, dan kau akan menanggung resikonya selamanya, aku tidak akan melepaskan mu selama aku membutuhkan mu. Untuk itu sampai aku mendapatkan anak sampai saat itu kau tidak boleh pergi dari sisiku, dan jangan pernah mencoba memikirkan pria lain selain aku.!"
Darandra pun melepaskan cengkraman nya.
Lalu beranjak pergi.
"Kenapa? tidak boleh memikirkan pria lain aku berhak bahagia dengan caraku!
Dan Kenapa? kenapa kita tidak menikah secara sah saja. Bukankah itu jauh lebih baik!" teriak Amara, membuat Darandra menghentikan langkah nya.
"Menikah secara sah! aku tidak akan pernah melakukannya, Kau tau kenapa karena aku tidak mencintaimu!" ujarnya tanpa berbalik.
__ADS_1
Namun baru saja tangan nya ingin meraih handle pintu dia di kejutkan dengan suara seseorang yang jatuh.
Bugh.
"Amara...!" Darandra yang panik segera berlari mendekat.
"Amara…kau kenapa kau jangan bercanda Amara…Amara kau jangan menakutiku!" Darandra terus mengguncang tubuh Amara namun nihil Amara benar-benar tidak bergerak sedang wajahnya kini berubah pucat pasi.
"Amara…Amara kenapa Kak?" Cicit Jelita yang baru saja masuk.
"Aku juga tidak tau Jelita tiba-tiba saja dia sudah terjatuh, seperti ini." terangnya
"Bagaimana kalau kita bawa kerumah sakit Kak, aku takut kalau Amara kenapa-kenapa."
"Kamu jangan khawatir aku akan memeriksa nya."
Dan setelah menunggu kurang lebih satu jam akhirnya Amara memgerjap-ngerjapkan matanya tanda ia sudah sadar Namun ia begitu terkejut ketika membuka mata ia melihat sosok Darandra yang ketiduran sambil menggenggam tangan nya, Amara pun mengingat-ingat kejadian yang membuat nya pingsan.
Dan saat mengingat kejadian itu ia tanpa sadar menarik tangannya, lalu memegang kapadanya yang masih terasa sakit.
Sementara Darandra yang meredakan ada pergerakan segera membuka mata nya.
"Amara jawab aku jangan seperti ini kau akan membuatku khawatir!" seru Darandra kembali
dengan persaan cemas saat Amara terus menyentuh kepalanya.
"Sebaiknya kau pulang lah tidak usah menghkatirkan aku, aku sudah baik-baik saja."
"Dengar kan aku-aku tidak akan kamana-mana karena kau tau kita ada dimana sekarang? di rumah sakit" bisik Darandra dan benar saja Amara membulatkan matanya.
"S-siapa yang membawaku kemari dan dimana Kak Jelita?"
"Jelita ada di rumah dengan babynya apa kamu mau di jaga oleh baby Ar?
"Tit-tidak panggilkan suster saja, dan kau boleh pergi." Usir Amara kembali
"Apa kau mengusirku lagi calon suamimu dan orang yang paling kau cintai apa kau benar-benar tidak mau di temani oleh orang yang kau cintai.
__ADS_1
"Cinta? heh…mungkin itu dulu tapi aku sudah menghapusnya jadi jangan terlalu pede karena aku sudah sadar siapa yang berhak dan tidak berhak menerima cintaku" ucap Amara sambil tersenyum miring.
"Kau! baiklah jika kita berpisah nanti pastikan tidak ada yang kecewa dan terluka, kamu tenang saja begitu aku mendapat anak darimu kau boleh pergi mengejar cintamu." Entah mengapa seperti ada persaan tidak suka ketika mendengar Amara sudah tidak mencintainya. Darandra pun bangkit dari duduk nya. Lalu melangkah keluar.
"Kau mau kemana?"
"Tentu saja pergi bukankah tadi kau mengusirku. Atau sekarang kau sudah berubah fikiran?"
"T-tentu saja tidak kau boleh pergi sekarang tapi jangan lupa panggilkan suster kemari karena aku masih merasa lemas dan kepalaku juga semakin sakit." Tutur Amara yang memang terus saja memegangi kepalanya.
"Tunggu kau bilang kepalamu sakit? apa terasa sangat sakit?" Amara hanya memberi sebuah anggukan.
"Baiklah tunggu aku, akan aku panggilkan Dokter untuk memeriksamu." Dengan perasaan khawatir Darandra segera bergegas meninggalkan Amara. Dan tak lama kemudian dia kembali membawa seorang dokter.
"Silahkan dokter aku ingin dia di periksa betul-betul Periksa sampel darahnya dilakukan CT Scan pada kepalanya. dan aku harap secepatnya hasil tesnya keluar."
"Baik Dok…"
"Amara apa kau sedang tertidur Amara bangunlah aku membawakan dokter untuk mu, Amara…Amara kamu kenapa Amara…!"
"Sepertinya dia pingsan dokter. Sebaiknya kita lakukan pemeriksaannya besok saja.
"Baiklah Dok." jawab Darandra dengan mata yang tetap fokus melirik wajah pucat di depannya itu.
"Kalau begitu saya pergi dulu Dokter" Ucap sang Dokter tersebut pamit
"Yah silahkan"
Setelah dokter itu pergi Darandra masih fokus menatap wajah Amara yang terlihat semakin tirus.
"Apa yang terjadi padamu Amara yang tidak aku tahu apa yang coba kau sembunyikan dariku." Darandra kembali duduk di sisi ranjang Iya maraih tangan lemah wanita yang selama ini selalu mengejarnya hanya karena alasan. Wanita itu sangat mencintaiya, namun kini Amara tak pernah lagi mengejarnya semenjak penolakannya.
Beberapa bulan yang lalu dan entah mengapa Darandra tidak menyukai hal itu. Padahal selama ini Darandra hanya menganggap Amara adalah seorang anak kecil yang selalu mengganggunya saja.
namun Seiring berjalannya waktu Entah mengapa dia memiliki perasaan yang aneh yang susah untuk diungkapkannya sendiri, apalagi sejak Amara berusaha acuh padanya maka ia tidak menyukai hal itu, sebisanya ia akan mencari kesempatan atau bahkan mencari masalah agar bisa bersama dengan wanita yang di anggap nya biasa saja. Namun sanggup membuatnya melakukan apa saja tanpa ia sadari ia sudah bermain terlalu dalam, bahkan jatuh dalam permainannya sendiri.
Drt...Drt...Drt...📲
__ADS_1
Deg.
"Tasya Astaga kenpa aku bisa lupa kalau hari ini aku ada janji dengannya"