Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Kedatangan Jelita


__ADS_3

"Selamat pagi semua!" sapa Renata pada seluruh karyawan dan rekan kerjanya di Cafe tersebut dengan wajah yang jauh lebih berseri dari biasanya.


"Selamat pagi Renata!" jawab rekan dan para karyawan di tempat tersebut. Renata pun membalas nya dengan sebuah senyuman yang merekah, sambil menebarkan pandangannya, namun ia tak melihat kehadiran Amara di antara mereka.


"Apa ada yang melihat Amara,?" tanya Renata, namun semuanya menjawab dengan gelengan membuat Renata bingung sekaligus heran karena tidak biasanya Amara tidak datang untuk bekerja.


Renata pun segera mendail nomor Amara untuk mencari tau kabarnya, bagaimana.


"Kenapa telepon Amara tidak bisa di hubungi? apa terjadi sesuatu dengan nya?"


Baru saja Renata hendak berbalik namun tiba-tiba ia di peluk dari belakang oleh seseorang,


"Amara kau? Jelita kau juga ada di sini?"


"lya, tadi aku tidak sengaja mampir ketempat Amara dan dia mengajakku kesini, tidak apa-apakan aku mengganggu kegiatanmu hari ini?"


"Oh,, ya tidak apa-apa, kok aku malah senang kau bisa kemari maaf aku tidak bisa menyambut kedatangan mu dengan baik,"


"ltu tidak masalah Kok, aku senang bisa berjumpa dengan mu lagi disini,"


"Oh,, ya ayo mari aku akan mengajak mu duduk ke sana," ajak Renata.


"Amara ayo kok, malah bengong disitu,?" tegur Jelita, membuat Amara sadar dan terlihat gugup, membuat Jelita maupun Renata menatap ke arah tatapan Amara.


"Kak, Andra dan Tasya, Apa yang mereka lakukan disini? Amara apa perlu kita kesana geram Jelita yang melihat kemesraan ke duanya padahal mereka sudah mempunyai pasangan masing-masing.


"Tunggu Kak, kakak jangan lakukan itu, apa kakak, ingin terlihat bodoh, dan terlihat tidak punya harga diri di depan semuanya, lihat lah Kak, disini banyak orang." Jelita menyentuh kening Amara membuat Amara juga Renata menatap heran.


"Tidak demam," gumam Jelita.


"Siapa yang bilang aku demam Kak,?" tanya Amara polos. Jelita menarik nafas panjang, melihat sifat Adik iparnya yang berubah drastis di saat ia sudah menikah itu.


"Aku bangga padamu Am, kau benar-benar adik dari suamiku, kau bisa menahan diri saat melihat orang yang kau cintai bersama wanita lain, dia itu kakakku Amara, dan juga sahabatku, biarkan aku memberikan pelajaran padanya"

__ADS_1


"Sudahlah kak, jangan kau sia-siakan tenagamu hanya untuk mengurus sesuatu yang tidak penting, di sini aku yang salah, bukan mereka,"


"tapi itu tetap saja tidak bisa dibenarkan Amara, kau sudah menikah dengannya sedangkan Tasya juga sudah..."


"Kak, kita tidak tahu dengan siapa kita jatuh cinta, dan kita tidak tahu dengan siapa kita menikah, kita tidak bisa memilih takdir yang sudah digariskan, menerima semuanya dengan sabar dan ikhlas itu akan menjadi jalan yang lebih baik daripada menyesali dan menangisinya, Jangan pernah menyia-nyiakan waktu untuk menangisi orang yang tidak pernah memperdulikan kita, lebih baik menjalaninya dengan kesabaran itu akan membuat hati lebih tenang," Sela Amara panjang lebar menjeda kalimat Jelita. Walau ia sendiri sadar bagaimana perasaannya saat ini, di saat suaminya makan berdua sedang tadi dirumah Damara memilih pergi meninggalkan Amara di saat ia di tawari untuk sarapan bareng, dengan alasan buru-buru.


"Wow, kakak jadi bangga padamu, kamu sangat bijak sekali Amara, dan kamu betul-betul Amara ku yang sudah dewasa bukan Amara yang manja."


"Karena tak ada lagi orang tempat Amara bermanja Kak, jadi Amara harus berubah menjadi seperti ini."


"Amara, Maafkan kakak, karena tak bisa membantumu apapun apalagi untuk meminta Damara untuk menemuimu aku takut dia akan marah tapi akan aku coba untuk berbicara lagi." terang Jelita


"Kakak jangan melakukan apapun hingga waktunya tiba"


"Apa maksud omonganmu kakak tidak paham?"


"Sudahlah Kak, Ayo kita ke sana kasihan kakak Renata," Sela Amara kembali mengalihkan pembicaraannya, dan benar saja Jelita merasa tak enak hati pada Renata.


"Maafkan Aku Ren, jadi membuatmu menunggu," ucap Jelita tak enak hati. "Sudahlah, itu sama sekali sudah tidak penting, aku tidak apa-apa kok, yang penting sekarang kamu tau Amara itu sekarang seperti apa,"


"Ayo kita ke sana kasihan juga Baby Boy mu Sepertinya dia kehausan Timpal Renata dan tatapannya menatap baby Ar," Jelita pun menganggukkan kepala dan mengikuti langkah Renata ke sebuah tempat yang jauh lebih nyaman dan tenang.


"Aku akan memesankan menu makanan untuk kalian tapi aku tak tahu makanan kesukaan mu?"


"Kalau aku sih suka semua makanan karena aku bukanlah orang yang pilih-pilih"


"baiklah, kalau kau Amara kau pesan apa?" "Aku minuman saja kak, karena tadi di rumah aku juga sempat masak aku merasa masih kenyang" Renata pun segera memesankan makanan untuk mereka makan, dan merekapun makan dengan tenang tanpa bersuara.


"Ren, Apa kau yakin akan mempertahankan kandunganmu,?" tanya Jelita di sela-sela selesai memakan hidangan yang di depannya.


"Maafkan Aku, Amara sudah menceritakan semuanya aku minta maaf karena baru mengetahuinya, aku ucapkan selamat atas kehamilanmu aku sangat-sangat terlambat mengetahuinya," tera Jelita kembali meresa tak enak hati.


"Sudahlah, tidak apa-apa, lagi pula tidak ada yang mengetahui jika aku hamil kecuali Amara dan Dokter Darandra, Mas Restu dan juga Dokter David, Mas Baron saja tidak mengetahui tentang kehamilanku ini, aku memang sengaja menyuruh samua orang untuk tutup mulut, dan apapun resikonya aku akan tetap mempertahankan bayi ini karena dia adalah darah dagingku, dia adalah hasil buah cintaku dan Mas Baron, dan aku sangat yakin ingin mempertahankannya,"

__ADS_1


"Tapi, Bagaimana denganmu? kenapa aku takut terjadi sesuatu padamu," ucap Jelita dengan nada khawatirnya sambil menggenggam tangan Renata sambil menatapnya.


"Dengarkan Aku Rena, jika ada apa-apa kau boleh menghubungiku, kau tidak perlu sungkan padaku, aku juga akan selalu ada untukmu."


"Terima kasih Jelita, terima kasih setelah apa yang aku lakukan padamu selama ini dengan Damara, berusaha untuk memisahkanmu dengan Damara, tapi kau masih sebaik ini padaku aku tidak tahu dan tidak bisa membalas kebaikanmu ini Jelita, Aku berharap. Hanya kepada Tuhan agar bisa membalas semua kebaikanmu itu, apa Boleh aku memelukmu Jelita?"


"tentu saja tapi jangan memelukku dengan perasaan ya, Aku takut kau akan jatuh cinta padaku," kekeh Jelita tertawa membuat Renata menyunggingkan senyumnya.


"Kau ini ada-ada saja, aku masih normal tau," Timpal Renata lagi.


"Lalu bagaimana dengan penyakitmu Apa kata dokter?" tanya Jelita kembali si saat mengurai pelukannya.


"sebenarnya menurut dokter Waktuku tinggal beberapa bulan lagi,"


"apa,? Yang benar saja, tidak Renata kau harus sembuh, aku yakin kau bisa sembuh, tapi Bagaimana kau bisa sembuh kalau kau mempertahankan kandunganmu?" Jelita pun binggung sendiri.


"Jelita Dengarkan Aku, Aku hidup mungkin untuk menjalani takdir ini dan jika takdirku sudah berakhir maka aku akan kembali padanya, jadi kau tak perlu khawatir, aku sudah siap untuk semuanya, karena itu kau tidak perlu khawatir, lebih baik kita hadapi semua kenyataan ini karena dengan menjalaninya akan membuat hati dan pikiran kita tenang." Jelita hanya bisa menarik nafas panjang,


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai...hai...hai...🤗sambil nunggu Author up jangan lupa untuk membaca Novel teman aku yang di bawah ini👇 ya! di jamin pasti seru dan terhibur...😍



Blurb:


Adelia, menerima perjodohan dengan Andra. Seseorang yang tidak dikenalnya sama sekali. Dia mau menerima perjodohan itu setelah putus dari Bram yang kedapatan tidur dengan Bella.


Andra, ingin balas dendam kepada Citra yang sudah mengkhianati dirinya hanya untuk menikah dengan pengusaha kaya, yang bernama Candra. Kakeknya berjanji akan memberikan semua harta kekayaannya, jika dia menikahi Adelia.


Siapa sangka saat mereka memulai kehidupan rumah tangga, malah bertetangga dengan para mantan.


Apakah mereka akan kembali ke mantan masing-masing?

__ADS_1


Atau malah jatuh cinta pada pasangannya saat ini?


__ADS_2