Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Andai aku bisa memelukmu


__ADS_3

Aku mengerti perasaanmu yang tak bisa untuk menerimaku kembali dan aku berharap kau juga mengerti perasaanku yang tak bisa berhenti untuk mencintaimu biarlah tetap seperti ini itu akan membuatku merasa jauh lebih baik. Dan aku tidak akan pernah memaksamu untuk menerimaku lagi tapi aku mohon jangan pernah menolak bantuanku jangan pernah merasa sendiri aku akan selalu ada untukmu kapanpun dan di manapun kamu inginkan."


Setelah mengutarakan semuanya Devan kembali menatap Dara yang juga sedang berbalik menatapnya dan mata mereka pun bertemu nampak oleh Devan semburat kesedihan masih terpancar di mata indah Dara membuat hatinya semakin terenyuh.


"Andai aku bisa memelukmu seperti dulu mungkin itu akan mengurangi kesedihanmu, tapi semoga dengan berjalannya waktu kamu bisa menerima semua dan melupakan apa yang terjadi hari ini dalam hidupmu Dara."


Gumam Devan dalam hati.


"Terima kasih Kak, aku tidak tau lagi harus dengan cara apa aku berterima kasih pada kakak, sejak kecil Kakak tak pernah membiarkan ku untuk bersedih dan terluka Kakak terus menjagaku, wanita yang memilikimu kelak pasti akan bahagia mendapat suami seperti kakak" ucap Dara sambil tersenyum getir dan itu berhasil membuyarkan lamunan Devan. Dan tidak ter mereka pun tiba.


"Ayo turun kita sudah sampai atau aku akan menggendongmu masuk!" seru Devan begitu tiba di Apartement milik Exel.


"Kak Kenapa kita harus kesini?" cicit Dara tanpa sadar.


"Lalu kita harus kemana apa kamu mau aku bawa ke Mansion Dad, Rafa dan kamu bisa tinggal dengan jelita atau kealamat Villa yang waktu itu?" tanya Devan dengan tatapan binggung.


"Tit-tidak usah Kak disini saja. Lagi pula aku takut Jelita tau tentang kehamilanku" terang Dara yang sedikit merutuki kebodohannya, karena yang Devan tau dia tinggal di Apartement. Sedang Villa Devan taunya hanyalah sementara.


"Lebih baik aku tinggal disini toh Exel tidak akan pernah kesini ini untuk sementara waktu aku akan mengihindarinya sebelum aku berpisah."


Fikirnya lalu melangkah dengan tenang sedang Devan mengiringi langkahnya di belakang Namun baru saja tangan Dara mengagapai handle pintu tiba-tiba saja teleponnya berdering Dara hanya terdiam menatap panggilan masuk tanpa ada ke ingin untuk menjawabnya.

__ADS_1


"Kenapa tidak di angkat siapa tau penting?" seru Devan karena melihat Dara hanya melihat lalu tidak memperdulikan panggilan masuk sampai 5 kali panggilan masuk Dara tak menggubrisnya.


"Aku rasa tidak ada yang penting, jika itu penting kenapa dia tidak pulang untuk menemuiku. Kenapa dia mesti menemui perempuan itu!" ketus Dara dari nada bicaranya sudah Devan pastikan kalau yang menelpon adalah Exel.


"Baiklah aku pulang dulu ini sudah malam jika ada sesuatu jangan sungkan untuk segera menghubungiku jaga dirimu dan dia baik-baik" ucap Devan sambil menatap perut Dara sedang Dara meraba perutnya yang masih rata.


"Terima kasih Kak karena sampai detik ini kau selalu ada untukku" balas Dara sambil tersenyum kecil.


"Sudah aku katakan jangan berterima kasih. Sekarang masuklah jangan lupa minum obat dan vitaminnya!" ujar Devan lagi dan hanya di angguki oleh Dara.


Setelah kepergian Devan Dara masuk kedalam tak ada siapapun sedang tadi dia sudah menelpon Bik Nany namun Bik Nany masih di kampung mungkin lusa baru bisa datang.


Ting.


Siapa sebenarnya yang mengirimkan pesan untuknya setelah mengetahui,


Siapa yang telah mengirim pesan untuknya Dara pun berlalu begitu saja tanpa ada keinginan untuk membuka pesan tersebut.


Dara masuk menuju dapur ingin membuat sesuatu untuk mengganjal perutnya karena tiba-tiba saja ia merasa sangat lapar Iya pun ingin segera minum obat dan vitaminnya, setelah itu ia ingin segera beristirahat karena badannya semua terasa capek dan pegal setelah seharian tak beristirahat. Setelah semua aktivitas dirasa sudah selesai Dara pun segera menuju lantai 2 dan memilih kamar di mana kamar itu adalah kamar milik suaminya.


Ceklek.

__ADS_1


Setelah membuka pintu kamar Ia pun melemparkan pandangan ke segala sudut ruangan masih teringat saat pertama kali ia masuk di tempat itu di saat itu dirinya sedang sakit karena perbuatan Exel dan kali ini juga dia masuk tempat yang sama di saat Exel menyakitinya namun kali ini bukan karena siksaan fisik, namun hatinya.


Dara melangkah dengan pelan dan segera masuk menuju bathroom karena ia merasa harus menyegarkan tubuhnya terlebih dahulu setelah mengisi bathub dengan air panas dan air dingin Ia pun segera berendam untuk merilexkan otot dan fikirannya.


Dan benar saja rasa penat dan pusingnya kini agak berkurang setelah berendam ntah sudah berapa lama ia di dalam bathub hingga ia pun sempat tertidur pulas Ia pun segera bangkit dan keluar hanya dengan memakai handuk sebagai kemben.


Ceklek.


Perlahan ia pun melangkah keluar namun langkah kakinya terhenti disaat Ia menyadari, kalau lampu kamarnya padam dan menyisakan lampu dinding yang remang-remang.


"Perasaanku aku tidak mematikan lampu kamar kenapa lampunya jadi begini? gumamnya bingung, dan tiba-tiba saja perasaannya jadi tidak enak Dara segera bergegas menuju tepian tempat tidurnya.


Dengan pelan Ia pun menarik selimut untuk menutup tubuhnya yang belum sempat memakai baju. namun tiba-tiba saja.


Bugh. belum selesai Hilang Rasa terkejutnya tiba-tiba saja ada sebuah tangan yang menarik menariknya dengan kuat sehingga membentur sebuah dada bidang.


"Ses-Siapa kau kek-Kenapa kau mam-masuk di kamarku lel-lepaskan aku!" pekik Dara meronta dan berusaha untuk melepaskan diri bukannya melepaskan Dara, tangan itu semakin erat menarik dan memeluknya bahkan kini mengungkung tubuhnya dan mengecup kedua matanya yang kini sudah mengeluarkan airmata akibat rasa takutnya. Bahkan handuk yang membelit tubuhnya kini melayang ntah kemana, Dara terus terisak dan memberontak sedangkan tubuhnya kini bergetar akibat rasa takutnya.


"Maafkan aku jika aku membuatmu takut aku melakukan semua ini karena akibat aku marah padamu kenapa kau tidak menjawab teleponku bahkan aku mengirimkan pesan tapi kenapa kau tidak membaca bahkan tidak membalasnya sama sekali.


Apa kau tidak merindukanku, atau kau mencoba untuk menghindariku? dan kenapa kau tak mengenaliku?" rentetan pertanyaan yang di tujukan kepada Dara membuat Dara tersentak saat mengetahui siapa pemilik suara tersebut orang yang memang sengaja Ia hindari karena telah membuatnya merasa sakit hati karena di hianati kini berada tepat di depannya bukan hanya di depannya namun benar-benar sedang mengungkung tubuhnya yang sudah polos tanpa sehelai benangpun itu.

__ADS_1


Sedang Exel yang merasa kesal karena tak juga mendapat jawaban dari sang istri kini menyecap bibir yang sudah lama ia rindukan itu.


__ADS_2