Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Hampir keguguran.


__ADS_3

"Apa, hampir saja keguguran?" Renata yang terkejut menyentuh perutnya dengan perasaan sedih.


"Benar kak, Kau hampir saja keguguran tapi beruntung janin dalam rahim Kakak begitu kuat, kuat seperti bundanya,"


"kau benar Amara mungkin dia merasakan kalau ibunya sekarang sedang sendiri untuk itu dia tetap bertahan di sini apa aku salah untuk mempertahankannya juga?" Renata bertanya sambil menatap miring ke arah Amara yang duduk di samping tempat tidurnya.


"Tidak Kak, Kau tidak salah hanya saja, mungkin keadaan lah yang tidak tepat,"


"Amara Boleh kakak minta tolong padamu?," ucapnya dengan nada suara lemahnya.


"Apa itu Kak,?"


"Aku sangat merindukan Bara dan aku tidak tahu bagaimana kabarnya sekarang?"


"Kakak mau apa?"


"bawa kakak bertemu dengan Bara," pintanya. "Tapi Kak, Tolonglah Ra, Kakak benar-benar merindukannya, semalam pasti dia akan menangis karena kakak tak ada di di rumah apalagi pagi ini mungkin dia akan menangis mencariku, karena setiap pagi dia akan mencari ku."


"Kak,, sebaiknya Kakak fokus dengan kesehatan Kakak dan kandungan Kakak dulu baru kakak memikirkan tentang Bara, Bara itu anak yang kuat Kak, sama seperti kakak karena kakak yang mengajarkannya dan mendidiknya."


"Tapi tetap saja dia akan rapuh Kalau tidak ada bundanya.?"


"Aku tidak menyangka hati kakak semulia ini bahkan Bara itu bukanlah anak kandung kakak Tapi Kakak begitu mencintainya dan menyayanginya seperti anak kandung Kakak sendiri bahkan melebihi sedangkan suami kakak... Heh dimana dia di saat Kakak seperti ini? saat Kakak membutuhkannya apa dia pernah peduli kepada kakak,?"


"sudahlah aku tidak ingin membahas tentangnya lagi, lagi pula mereka akan segera menikah setelah dia kembali dari luar kota." "Apa, menikah tapi kak...?" Amara yang terkejut membulatkan matanya tak bisa lagi melanjutkan kalimatnya.


"Dia akan menikah kembali dengan mantan istri yang paling ia cintai,"


"mantan istri, jadi dia?"

__ADS_1


"Dia sangat mencintai Mantan istrinya itu Ra, karena keadaan lah membuat mereka terpisah," Ucap Renata sambil menarik nafas kasar.


"Dasar laki-laki memang semuanya Sama saja," Gerutu Amara.


"Lalu itu, Darandra? sudah termasuk suamimu juga kan?" kekeh Renata.


"Sudahlah Kak, kita ini adalah wanita-wanita berpenyakitan jadi tidak penting untuk memikirkan mereka yang tidak peduli lebih baik kita gunakan waktu yang tersisa ini untuk sesuatu yang akan membuat kita bahagia," ucap Amara sendu.


"Oh,, benarkah kau bisa berkata seperti itu? Aku tidak menyangka,"


"kakak kau..."


"Amara aku mengenalmu sudah lama dan aku tahu kau orang yang seperti apa, mulutmu boleh berkata seperti itu tapi tidak dengan hatimu, dan aku tahu rasa cintamu pada Darandra tidak akan pernah pudar selamanya, kakak melihat itu semua dari soratan matamu, Tatapan matamu tidak akan bisa membohongi kakak bahkan sekarang mungkin kau sedang merindukannya," sela Renata mengakhiri ucapnya.


"Kak aku..."


"Amara, Kakak di sini yang seharusnya meminta maaf padamu karena kakak yang membuatmu menjadi wanita yang berpenyakitan, kakak yang membuatmu sengaja kecelakaan, dan menyebabkanmu seperti ini, dan Tuhan sudah membalas semuanya, dengan apa yang kakak lakukan selama ini padamu, pada Jelita, dan juga Damara."


"Tapi itu semua kenyataannya kan Ra,?"


"Kak, Amara mohon Jangan pikirkan yang tidak-tidak, semuanya sudah kehendak Tuhan ini sudah takdirnya Kak, jadi kita tidak bisa menolaknya, Kakak hanyalah perantara saja."


"Aku tidak menyangka kalau kau bisa berkata sebijak itu, padahal suamimu sendiri menganggap, Kau adalah anak kecil yang manja yang selalu bertingkah aneh dan berbuat yang aneh-aneh."


"Seiring berjalannya waktu samua manusia pasti bisa berubah, ngomong-ngomong Amara mau ambil sarapan untuk kakak ya, Kakak di sini aja dulu kasihan ponakanku dalam sini dia pasti kelaparan," Amara berucap sambil mengelus perut Renata.


"Oke baiklah Auntie tapi yang cepat ya! jangan lama-lama,!" ucap Renata menirukan suara anak kecil Amara pun hanya bisa terkekeh geli mendengarnya.


*

__ADS_1


Setelah 3 hari mendapat perawatan di rumah sakit, Renata pun diizinkan untuk pulang. "sekarang kakak mau pulang ke mana?" "Antarkan Kakak ke tempat Bara, Kakak sudah sangat rindu padanya, kakak hanya ingin melihatnya sekilas saja,"


"Baiklah,, Kak, tapi kita jangan lama-lama ya! karena kakak harus istirahat."


"lya,, baiklah tuan Putri" timpal Renata sambil tersenyum.


"Oh ya, Kak, aku lupa bicara sama kakak, kakak tahu nggak,? Bos Cafe tempat kita bekerja itu hari ini akan datang, katanya sebentar lagi dia mau balik ke Singapur, tapi mungkin hanya untuk sesaat sih karena dia akan menetap di sini, menurut kabar dia itu duda Kak, punya anak dua dan istrinya sudah meninggal,"


"Lalu, apa masalahnya kalau dia duda? kenapa kau harus menceritakan semua itu pada kakak?" selidik Renata.


"Ya tidak apa-apa sih Kak, Dia kan bos kita setidaknya Kakak juga tahu dan kenal siapa dia yang sebenarnya."


"Ya baiklah, baiklah tuan putri setelah kamu mengantarkan Kakak bertemu Bara nanti juga kita akan singgah ke cafe sebentar, karena kakak ingin bertemu langsung dengan bosnya untuk meminta izin karena beberapa hari tidak bisa masuk kerja, dan Bagaimana perasaanmu selama kerja di sana? Apakah kau sudah bisa menghandle semua?"


"Sip Kak, Kakak tenang saja walaupun Amara baru bekerja seperti itu, tapi Amara tahu kok apa yang harus Amara kerjakan, dan Amara janji tidak akan pernah membuat kekacauan" "Kakak percaya kok padamu 100% malah, Ya udah ayo kita sudah sampai di depan sekolahnya Bara, itu Bara di sana," tunjuk Renata begitu turun dari mobil Melihat Bara yang terus berlarian bersama kawan-kawan sebayanya."


"Ya ampun Bara hati-hati nak,!" teriak Renata begitu melihat Bara terjatuh sedangkan lututnya mengeluarkan darah, namun begitu Renata ingin mendekat dia melihat sosok anak perempuan berusia 6 tahun datang menolong Bara.


"Reva itu kan Reva?" gumam Renata


"Apa kakak mengenalnya?"


"lya dia anak mantan suamai Kakak," Amara pun hanya menggangguk mendengar penjelasan Renata.


"Sini biar aku obati lukanya nanti kalau tidak diobati bisa infeksi, tapi dibersihkan dulu ya lukanya biar steril," ucap Reva, Reva meraih sebuah kota kecil yang tersimpan di dalam bagh nya.


"Auuu... kau mau apa nenek cihil kau menyakiti ku ini pelih cekali," melihat Bara yang kesakitan membuat Renata ingin lari mendekat namun langkahnya tertahan oleh Amara, Renata menatap ke arah Amara, sedang Amara hanya bisa memberikan gelengannya agar Renata cukup melihat dari jauh saja.


"Tapi Ra,?"

__ADS_1


"Apa Kakak lupa, kalau Bara harus melupakan Kakak?"


__ADS_2