
"Bara, Bara, kamu harus segera berangkat sekolah,!" teriak Baron, setiap pagi ia akan sibuk memanggil Bara, yang tengah sibuk bermain dengan sang adiknya yaitu Cahaya.
"lya, Ayah sebentar lagi Bara akan pergi," sahutnya menjawab panggilan sang ayah, setelah mencium dengan gemas sang adik, Bara pun mengambil segala peralatan sekolah nya lalu ia pun bersiap-siap hendak kesekolah.
"Ayah, setelah pulang sekolah boleh tidak Bara bergi ketempat Bunda, Bara kangen sama Bunda Ayah, Bara boleh tidak beli bunga buat juga buat Bunda?"
"Tentu saja Boleh sayang, tapi Bara harus janji pada Ayah kalau bara tiba di sana jangan menangis, karena Bunda tidak suka Anak cowok yang cengeng."
"lya Ayah Bara janji Bara tidak akan menangis lagi, kalau ketempat Bunda lagi," ucarnya sangat meyakinkan.
"Baiklah jemputan mu sudah datang biar ayah mau mengurus Cahaya dulu, karena Ayah juga akan segera ke kantor,"
"lya Ayah Bara berangkat dulu," pamitnya menyalim tangan sang Ayah dan sang nenek yang tengah sibuk di dapur.
"Apa kau akan membawa cahaya kekantor lagi?"
"lya Iebih baik seperti itu, lagi pula aku sudah berjanji pada Renata tidak akan meninggalkan putriku lbu,"
"Tapi di luar sana banyak firus Baron, kasian Cahaya di usianya yang baru enam bulan kau harus membawanya bekerja,"
"lbu jangan khawatir, Cahaya selalu aku tempatkan di tempat steril kok, dia akan selalu ada di dekat ku, Karena kehadiran Cahaya setidaknya akan mengobati kerinduanku pada Renata, karena wajah mereka yang begitu mirip Bu," ujar Baron menatap sang ibu.
Sedangkan Bu, Sofia hanya bisa menarik nafas panjang melihat apa yang di lakukan Baron selama enam bulan ini, ia terus fokus bekerja sambil membawa putrinya yang sudah mulai gembul itu, tak ada kata lelah ia selalu mengurus keperluan sang Putri baik itu dari mengganti popok dan membuatkannya susu, walau tengah malam Baron akan terbangun dengan tangisan sang Putri kalau ia sudah haus, bukan nya ia tidak mampu menggaji Baby sitter, apa lagi sekarang ia sudah menjadi CEO di perusahaan yang ia bangun sendiri, dan itu juga berkat bantuan Damara dan Exel yang menanamkan modalnya di tempatnya, bahkan ia mendapatkan beberapa penawaran kerja sama dengan perusahaan asing, karena kinerja perusahaannya yang selalu dapat di andalkan, Namun ia hanya ingin menikmati rasanya menjadi orang tua sesungguhnya tanpa ingin mengabaikan kedua Putra dan Putrinya, Bahkan para karyawan di kantornya pun begitu salut melihat Baron begitu uletnya merawat sang Putri tercinta nya itu.
"Bagaimana hari ini Ray,? apa ada masalah dengan pertemuan dengan Tuan Brian,?" tanya Baron kepada asisten pribadinya yang bernama Raymond.
__ADS_1
"Tidak ada Tuan semuanya berjalan sesuai dengan rencana kita," Jawab Raymond memberikan informasinya.
"Dan ini Tuan hasil diskusi kami," timpalnya sambil menyodorkan sebuah File berwarna Coklat, Baron pun meraih lalu memeriksa setiap lembar kertas di tangan nya tersebut, Baron pun tersenyum lebar.
"Oke baiklah, melihat tata letaknya dan denahnya aku suka sesuai dengan harapanku,Oh..ya hari ini kosongkan waktu ku sedikit karena aku ingin pergi ke tempat Renata, karena Bara ingin ke tempat bundanya Aku ingin menemaninya ke sana Kasihan dia Sudah lama tidak pergi menjenguk bundanya."
"Baiklah, Tuan Saya akan berusaha mengosongkan beberapa schedule anda hari ini," Ujar Raymond.
"Terima kasih Ray, atas bantuanmu, Aku tidak tahu apa jadinya diriku ini jika kau tidak menghandle sebagian pekerjaan ku," ujarnya berdiri lalu menepuk pundak Raymond.
"Anda tidak perlu berterima kasih kepada saya Tuan, karena itu sudah tugas saya, saya yang seharusnya yang berterima kasih kepada Anda yang sudah mengangkat Saya dari jalanan, menjadi Asisten pribadi Anda, Bahkan Anda sangat mempercayai saya Tuan." Ucap Raymond sambil menunduk.
"Maaf Taan Jika Anda pergi ke tempat Nyonya Renata Bagaimana dengan sang baby?" Tanya dia juga akan ikut denganku karena ini untuk pertama kalinya aku akan mengajaknya Apa kau sudah memesan bunga yang aku minta kepadaMu Ray,?"
"Sudah Tuan dan kemungkinan sebentar lagi akan tiba,"
"Semuanya akan saya lakukan sesuai dengan perintah Anda Tuan," ucap Remond kembali.
"Baiklah sekarang kau boleh pergi," Reymond pun hanya mengangguk hormat dan pamit meninggalkan tuannya itu, kini mata Baron tertuju pada sang Putri yang tengah asik mengoceh, setelah bangun dari tidurnya.
"Hei... Tuan Putri Ayah sudah bangun ya?... apa kamu senang hari ini kita akan pergi jalan-jalan ketempat Bunda, kita bawakan Bunda bunga kesukaannya ya, Bunda pasti senang," Ucap Baron mengajak sang Putri untuk mupakat.
"Bagaimana menurutmu apa kau setuju Jika Ayah dan Bunda itu adalah pasangan yang cocok dan serasi, lihatlah foto Ayah sama Bunda, Bundamu cantik dan kau sangat mirip sekali dengan nya," Baron memperlihatkan Fotonya bersama Renata, melalui layar telepon nya.
"Nanna nyanya," jawab Cahaya dengan celotehan khas bayinya lalu tertawa.
__ADS_1
'Sayang seandainya kau di sini kau pasti akan bahagia menyaksikan, tumbuh kembang Putri kita, dia sangat lucu dan menggemaskan sekali sama seperti mu, terima kasih karena telah memberikan aku seorang Putri cantik yang selalu menemani hari-hari ku, walau tanpamu, kemiripan wajah kalian bisa mengobati rasa rinduku selama ini, aku merindukanmu sayang tunggu aku, aku akan datang membawa putri kita, kau pasti menindukannya juga kan,?' Baron terus saja berbicara pada foto Renata yang berada di layar telepon nya itu, la pun terlihat menyeka sudut matanya yang tiba-tiba saja berair, karena mengingat kembali apa yang pernah di lakukannya pada Renata bahkan ia belum bisa membahagiakan wanitanya itu.
Tok...tok...tok...
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Baron, la pun segera menyeka air matanya yang tersisa karena ia tidak ingin ada orang lain yang akan melihatnya menangis, bisa jatuh nanti wibawanya.
"Masuklah tidak terkunci," Cicitnya menyuruh orang di balik pintu untuk masuk.
"Maaf Tuan bunga pesanan Anda sudah sampai, apa perlu saya membawanya ke mobil?" ujar Raymond sambil membawa, buket Bunga mawar berwarna merah dan putih itu.
"Simpan saja di situ biar aku yang membawanya turun," ujarnya
"Ayo sayang saatnya kita bertemu Bunda," ajak Baron pada Putrinya Cahaya, la menggendong Cahaya dalam dekapannya lalu bejalan keluar di ikuti Raymond yang membantu membawakan tas yang berisi perlengkapan Bayinya.
"Kita ke Rayan Medika pak,!" seru Baron pada sang sopir.
"Baik Tuan," sahut sang sopir lalu melajukan Mobilnya pelan, Menuju tempat yang di minta Tuannya itu.
Yang lagi setia nunggu Author up makasih ya dan jangan lupa ikuti cerita novel teman Author di bawah ini👇selamat membaca semoga terhibur.😍
Cinta akan menemukan pemiliknya. Sebuah ketidaksengajaan, keterpaksaan, dan perjodohan, bisa menjadi jalan untuk menyatukan dua hati yang berbeda.
Seorang gadis SMA bernama Aira, terjebak dalam sebuah pernikahan dengan seorang duda bernama Affan yang merupakan ayah sahabatnya, Faya.
__ADS_1
Mengapa pernikahan itu bisa terjadi?
Akankah pasangan beda usia itu bisa saling mencintai?