
"Apa boleh aku masuk?" tanya Dara sekali lagi karena belum mendapat jawaban dari Amara dan Damara.
"Anda siapa?" lirik Amara balik bertanya karena heran kenapa bisa ada wanita cantik Namun sangat mirip dengan Darandra bagai pinang dibelah empat😀eh salah, di belah dua😁 masuk di ruangannya.
"Silahkan!" sahut Damara datar saat melihat siapa sebenarnya yang datang, Dara yang sudah mendapat izin masuk pun segera melangkah mendekati bankar Amara. Dan Damara pun mempersilakan Dara untuk duduk sedang ia sendiri memilih duduk di sofa panjang yang agak renggang dari tempat itu. Sedang matanya terus fokus pada gawainya.
"Senang bertemu dan berkenalan denganmu, perkenalkan aku Dara saudara kembar Darandra!" terang Dara menyodorkan tangannya dan di sambut senyum sumringah oleh Amara sambil menyebut namanya.
"Aku Amara aku juga senang bisa berkenalan dengan Anda" timpal Amara jujur.
"Tidak perlu se formal itu, panggil saja aku Dara, itu akan lebih enak di dengar, dan agar kita jauh lebih akrab. Oh ya! bagaimana keadaan mu sekarang? aku turut senang melihat mu sudah kembali sadar seperti ini," Dara yang ramah dan bertutur kata lembut dan sopan membuat Amara seperti mendapat teman baru apa lagi Dara orang nya enak di ajak bicara.
"Bagaimana kalau aku memanggil mu kakak saja, karena usia kita mungkin jauh berbeda" usul Amara.
"Mmm, okey boleh juga karena kamu juga seumuran adikku Jelita kamu mungkin juga mengenalnya, tapi tidak terlalu dekat, kamu tau aku dan Jelita bukan saudara kandung, tapi kami di besarkan oleh ibu yang sama, kasih sayang yang sama,"
"Tapi kenapa sifat kalian begitu jauh berbeda?" tanya Amara penasaran.
"Menurutku tidak ada yang berbeda kok mungkin cara Jelita saja yang belum kamu pahami dia sejak kecil memang suka berpakaian anak laki-laki, entahlah mungkin ia merasa nyaman dan Bunda juga selalu tersenyum saat melihat Jelita makai pakaian anak laki-laki, apalagi Jelita selalu bercita-cita selalu kuat seperti Daddy. Hingga kemanapun Daddy pergi ia selalu ikut. Oleh karena itu ia mempunyai sifat keras seperti Daddy."
Damara yang sibuk dengan gawainya mendengar dengan seksama apa yang di ceritakan Dara kepada adiknya itu.
"Pantas saja wanita itu jauh lebih berani daripada wanita-wanita yang lainnya, tapi bagiku dia tetaplah wanita yang lemah dan sangat mudah sekali menemukan kelemahannya dasar wanita bodoh, siapa pun dirimu dan bagaimanapun dirimu tidak akan pernah menghapus rasa dendam di hatiku, tunggu tidak lama lagi hari kehancuran mu!"
Damara mengepal kan tangannya bahkan saat mengingat kejadian malam itu yang begitu mudahnya ia berlaku lemah lembut kepada Jelita.
"Mulai saat ini aku tidak akan pernah berbuat hal bodoh seperti apa yang ku lakukan tempo hari saatnya aku akan membalasmu karena kau juga sudah membohongiku kau bilang tidak mencelakai Amara tapi sekarang kau tak bisa mengelak atas apa yang pernah kau lakukan pada adikku bahkan aku akan membuat hal yang kau lakukan pada adikku berbalik padamu."
__ADS_1
Geramnya mengepalkan tangan, ia pun segera bangkit dari duduknya dan menatap sang adik.
"Kakak keluar dulu mungkin nanti malam kakak kesini lagi silahkan kalian lanjut ngobrolnya!" ujarnya setelah berpamitan.
Dara dan Amara pun hanya mengangguk menatap kepergian Damara.
"Kalau begitu Kakak permisi mau pulang dulu ya! karena suami Kakak tadi Kakak suruh menunggu." Cicit Dara
"Jadi Kakak sudah menikah?"
"Iya, apa kamu tidak lihat ini" Tunjuk Dara pada perutnya yang sudah membuncit.
"Selamat ya Kak, semoga Kakak dan Baby sehat selalu."
"Terima kasih do'anya, okei aku pergi dulu. Mungkin Kak Darandra akan menemanimu hingga kakak mu itu datang." Terang Dara sambil memeluk Amara.
"Hai...!" Sapa Darandra begitu berada di samping pembaringan Amara, sedang Amara berusaha untuk mencoba tersenyum walau senyumannya terasa kaku, saat ia mengingat pesan sang Kakak.
"Bagaimana perasaanmu sekarang? apa kau baik-baik saja? dan lihatlah aku bawa makanan kesukaanmu bukankah kau belum makan dari tadi, dan saatnya kau harus meminum obatmu dulu setelah itu beristirahatlah karena Dokter akan memeriksa mu lagi." Ucap Darandra panjang lebar.
"Sudahlah Kak Randra tidak usah bersusah payah aku bisa sendiri mengurus diriku terimakasih atas perhatianmu." Ujarnya menimpali, sedang Darandra sendiri hanya tersenyum mendengar nada penolakan dari Amara, tersebut. Menurutnya yang tidak seperti biasanya itu, biasanya dia akan bersikap manja dan terus saja mencari perhatian darinya.
"Baguslah kalau dia sudah bisa menjaga sikapnya jadi aku tidak perlu khawatir tentangnya."
Gumam Darandra dalam hati, sambil membuka bungkusan makanan yang di bawanya.
"Makanlah Aku sudah memasak makanan istimewa ini untuk mu dan bukankah kau menyukai makanan ini, dan ini special aku yang masak." Terang Darandra lagi.
__ADS_1
Deg.
"Apa Kak Randra bilang itu special untuk ku? apa aku salah jika mengaharap sedikit perhatian darinya, dan hanya sementara saja. Karena aku juga ingin merasakan di perhatikan oleh orang yang aku cintai, dan tidak ada salahnya aku memperjuangkan cintaku karena biar bagaimanapun Kak Darandra kan belum menikah,"
"Ara...!" Cicit Darandra membuyarkan lamunan Amara.
"Ara, panggilan itu kan, panggilan kesayangan dari Papi,?" lirihnya.
"Ara...! apa kau mendengar ku!"
"Yah...ada apa?"
"Kamu bilang ada apa? Hanya ada apa? dari tadi Kakak ngomong kamu tidak mendengarku.? Aku mengajakmu untuk makan, lalu minum obat, habis itu istirahatlah! karena besok ada Dokter special yang akan memeriksa kakimu. Aku sendiri yang mendatangkannya, aku harap kamu segera sembuh jadi aku mohon demi aku kau harus semangat untuk sembuh."
Darandra menggenggam erat jemari tangan Amara, untuk memberinya kekuatan, sedangkan Amara jangan di tanya jantungnya berdegup begitu kencang, hingga ia malu pada dirinya sendiri.
Perlahan Darandra membingkai wajah Amara dan menatapnya begitu lekat.
"Apakah Kamu mau berjanji padaku satu hal?"
"Apa itu Kak?"
"Kamu harus sembuh demi aku, jika kamu bisa sembuh maka apapun yang akan kamu minta akan ku penuhi." Ucapnya dengan tatapan yang serius.
"A-aku berjanji pada Kakak kalau aku akan sembuh." Amara berucap tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah tampan Darandra.
Karena ini kali pertama ia begitu dekat dengan orang yang ia cintai selama ini, selama ini ia sudah berusaha mengejar-ngejar Darandra namun dengan berbagai alasan Darandra selalu menghindarinya, dan dia tidak akan Menyia-nyiakan kesempatan kali ini.
__ADS_1
Mungkin saja sekarang Darandra sudah sadar bahwa dialah yang di cintai bukan gadis yang di lihatnya itu. Karena jika Darandra sudah punya kekasih tidak mungkin ia mau untuk datang, menemuinya. Bahkan saat sadar dari koma hal yang Pertama kali di lihatnya adalah wajah orang yang sangat di cintainya itu.