Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Kebohongan Damara


__ADS_3

"Maaf jika Anda menunggu lamaTuan perkenalkan ini istri saya dan ini A_"


"Kau, kau...!" Ucap Jelita dan Damara terkejut secara bersamaan hingga membuat Exel menjeda kalimatnya. Di saat Jelita tak pernah berharap untuk berjumpa lagi dengannya dan begitu bodohnya dia pernah berdoa berjodoh dengan pria yang tak punya hati itu.


Begitupun dengan Damara ia menganggap pasti akan ada kesialan yang akan di dapatinya jika berjumpa dengan wanita yang di anggap nya sebagai pembawa sial itu.


"Kenapa kalian berdua terdiam saja apakah kalian sudah saling mengenal?"


"Kak_kami maksud saya, saya mengenalnya dan saya sangat mencintainya Tuan, tapi. Untuk beberapa hari ini dia menghindari saya hanya karena masalah sepele." Damara terpaksa berbohong untuk memuluskan rencananya.


Berbeda dengan Jelita ia meremas ujung pakaiannya menahan amarahnya saat mendengar kebohongan Damara namun ia tak bisa berbuat apa-apa ia hanya bisa menyimpan amarahnya dalam hati.


Tak mungkinkan dia mengamuk menjambak rambut lelaki yang begitu menyebalkan menurutnya. Di acara sang kakak yang penuh dengan rona kebahagian itu. Dan Damara pun melihat amarah yang begitu besar dari sorot mata wanita di depannya itu. Dan itu berhasil membuatnya menyeringai.


"Oh...rupanya seperti itu lebih baik kalian selesai kan masalah kalian dengan hati yang lapang saling memaafkan itu jauh lebih baik iya kan sayang..." ucap Exel menasehati, sedang Dara yang di tanya hanya mengangguk tersenyum sambil menatap lekat Jelita yang tampaknya sudah berkeringat dingin.


"Perkenalkan ini istri saya Dara Tuan" ujar Exel memperkenalkan sang istri


"Dara...!" ucap Dara sambil menangkup kedua tangannya begitupun sebaliknya dengan Damara.


"Damara...!" sedang Jelita yang melihat Damara menangkup kan tangannya merasa heran biasanya laki-laki langsung menjulurkan tangannya jika ingin berkenalan tapi dia ikut menangkup kan tangannya.


"Apa dia alergi terhadap wanita? tidak! buktinya saja si brengsek ini melakukan nya dengan penuh nafsu!" kesalnya dalam hati di saat mengingat kejadian itu.


"Maaf jika kami tak sempat datang di hari meninggal nya Grandma Anda tapi, kami turut berbela sungkawa" Ungkap Exel tulus.


"Tidak apa Tuan semuanya sudah takdir" Damara berucap sambil menatap tajam ke arak Jelita. Namun jelita hanya cuek bebek.


"Maaf aku kesana dulu!" sela Jelita yang langsung berlalu pergi begitu saja. Meninggalkan Exel, Dara dan Juga Damara. Exel hanya menatap punggung sang adik ntah apa yang terjadi antara adiknya dan Damara.


Ia tak ingin terlalu ikut campur biarkanlah mereka yang menyelesaikan masalahnya sendiri toh mereka sudah dewasa sudah bisa saling intropeksi diri. Exel pun memilih untuk tidak memperkenalkan Jelita sebagai adiknya karena ia yakin Damara pasti sudah mengetahui semuanya dari Jelita.


"Sebaiknya Anda jangan memanggil ku dengan sebutan Tuan mungkin kita seumuran panggil saja namaku Exel"


"Dan Anda juga bisa hanya memanggil saya dengan sebutan nama saja mungkin itu akan lebih membuat kita akrab." Balas Damara


"Okei Broders nikmati semuanya dan jangan lupa untuk menyelesaikan semua masalah mu itu, jangan membiarkan semuanya larut dalam kecewa karena itu tidak asyik kawan." ucap Exel sambil menepuk pundak Damara seolah memberikan support.

__ADS_1


"Silahkan nikmati pestanya jika kau membutuhkan ku aku ada di sana!" ujar Exel sambil menunjuk sebuah tempat di mana sang istri sudah berada di sana.


Damara hanya mengangguk dan tersenyum tanda mengerti, ia pun hanya menatap kepergian Exel yang memilih mendekati istrinya karena acara inti sudah selesai kini acara santai saja. Ada yang bertemu teman lama ada juga yang asyik makan.


Bercengkrama, sedang tempat yang di pilih memang lebih banyak mengusung tema outdoor agar para tamu yang masih muda bisa santai menikmati pesta yang menyatu dengan alam tersebut, apa lagi Exel memang sangat menyukai tempat yang banyak bernuansa alam, terbukti dari setiap bangunan yang ia tempati pasti lebih banyak taman dan penghijauannya bahkan ia pun membangun sungai buatan dan air terjun buatan di sekitar halaman Villanya.


Damara tak henti-hentinya menebar pandangan kesegala penjuru seperti nya dia sedang mencari seseorang.


"Sial, kenapa aku harus mencarinya dan mengharapkannya hadir di depanku." gerutunya.


Hingga matanya menatap seseorang dari kejauhan dengan begitu bahagia memeluk seorang pria dan mereka nampak begitu akrabnya bahkan sang pria berulang kali mengacak-ngacak rambut sang wanita itu.


"Dasar wanita murahan, ternyata tujuanmu hadir di pesta hanya untuk tebar pesona!" geramnya mengepal kan tangan.


*


"Ayo Kakak akan memperkenalkan mu dengan seseorang pasti kamu akan senang berkenalan dengan nya karena kalian seumuran!" Darandra menarik tangan Jelita dan membawanya ke sebuah tempat.


"Sayang ada yang ingin berjumpa denganmu!" seru Darandra begitu tiba di tempat yang di tujunya itu. Darandra meraih tangan seorang wanita yang di panggilnya sayang.


"Tasya...!" pekik Jelita


"Jelita...!" cicit Tasya


Mereka tidak pernah menyangka akan bisa bertemu di tempat ini.


"Jadi kau dan Kakak ku? tanyanya penuh selidik.


"Hmmm...aku tidak tau kalau dia kakak mu" Jawab Tasya menunduk.


"Hei, aku bertanya kau dan Kakak ku?"


"Aku mencintai nya dan dia mencintai ku" bukan Tasya yang menjawab tapi Darandra.


Sedang kan Tasya hanya menunduk malu.


"Sya kau kenapa dan ada apa dengan wajah mu ini?" goda Jelita sambil tersenyum saat melihat wajah sahabatnya yang begitu memerah.

__ADS_1


"Kau, apa yang kau lakukan? boleh tidak kamu jangan mengganggu kebahagiaan kami.!" ketus Darandra yang merasa kesal dengan adik sepupunya itu karena telah membuat orang yang di cintainya tak bisa berkutik.


"Baiklah aku pergi dulu. Jangan lupa kalian juga harus cepat menyusul!" teriak Jelita sambil terus berlalu tanpa menoleh.


"Maafkan aku jika Jelita membuatmu malu, sungguh aku tidak tau kalau kalian saling mengenal" ungkap Darandra penuh penyesalan.


"Tidak apa-apa Kak, aku sudah mengenal sifat jahilnya dari dulu. Karena kami pernah satu kelas dan juga satu tim aku sering bolos dan memanjat tembok dengan Jelita. Dan kami pun di hukum di depan kelas dan di suruh menyanyi." Kenang Tasya menceritakan masa lalunya.


"Aku tidak menyangka, Ternyata kamu dan Jelita pernah sejahil itu?"


"Dan apa kakak tau lagu kesukaan Jelita?" Tasya bertanya sambil melirik pria yang baru saja malam ini resmi menjadi kekasihnya itu.


"Tidak. Setauku Jelita tidak pandai menyanyi" ujar Darandra.


"Kakak salah bahkan saking sukanya sama lagu ini. Jelita jadi melupakan semua jenis lagu yang ada!" terang Tasya.


Darandra pun di buat penasaran dengan pernyataan kekasihnya itu karena baru kali ini ia akan mengetahui lagu kesukaan Adik Sepupunya itu.


"Lalu lagu apa yang kamu maksud?"


"Garuda Pancasila."


"Garuda Pancasila?"


"Iya, setiap terkena hukuman pasti dia akan menyanyikan lagu itu." kenang Tasya


"Pantas saja."


"Pantas apanya?"


"Pantas saja dia kuat seperti burung Garuda yang tangguh." Ucap Darandra mengingat sepupunya itu tak pernah mau mengalah bahkan tak ingin kalah jika dia merasa benar.


"Ayo aku akan mengantar mu pulang aku tidak mau kakak mu yang menyebalkan itu akan mengamuk."


"Berhenti lah mencelanya, apa kau lupa kalau dia itu kakak ku!" protes Tasya


"Iya maaf, tapi dia juga temanku yang paling menyebalkan!" terangnya sambil terkekeh dan melenggang pergi sambil menggenggam tangan Tasya dan berjalan berdampingan.

__ADS_1


__ADS_2